Cerita Gudang Gelap
Kos Nomor 13 β’ 1,219 kata
Saya tidak tidur setelah mendengar suara Tegar dari balik pintu kamar 7. Saya duduk di tepi kasur sampai azan subuh, memikirkan satu kemungkinan yang membuat perut saya dingin: kalau suara saya bisa diceritakan kembali dari kamar 7, maka suara Tegar pun bisa. Anak itu pernah bertanya di bibir sumur, dan pertanyaan itu adalah sejenis cerita juga, cerita kecil tentang rasa penasaran. Apakah antrean itu sudah mengambilnya juga, dan sekarang sedang menceritakan Tegar kepada siapa pun yang mau mendengar dari sisi lain? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, pagi ini saya harus memastikan Tegar baik-baik saja, dengan mata saya sendiri, bukan lewat kesimpulan.
Pagi itu saya pergi ke warung lebih awal dari biasanya. Tegar ada di sana, sedang menyusun botol-botol di rak dengan konsentrasi penuh, lidah sedikit terjulur seperti anak yang sedang mengerjakan tugas penting. Ia menyapa saya dengan ceria, bertanya apakah saya mau es seperti kemarin. Tidak ada yang aneh pada dirinya. Ia tidak tampak ketakutan, tidak tampak bingung, tidak tampak seperti anak yang suaranya baru saja terdengar dari kamar kosong semalam. Saya menghela napas lega, lalu duduk di bangku warung dan memperhatikannya bekerja. Kalau semalam memang suaranya, maka yang terdengar dari kamar 7 itu bukan Tegar yang sebenarnya. Itu gema, seperti cerita saya yang diceritakan kembali. Gema tidak mengambil anaknya. Gema hanya meminjam suaranya.
Siang harinya, ketika warung sepi dan Tegar sedang beristirahat di pagar, saya menghampirinya. Saya tidak berniat menakut-nakutinya. Saya hanya ingin ia tahu aturan mainnya, karena ia sudah dua kali datang ke sumur dan bertanya, dan di kos ini, datang dan bertanya dua kali berarti sudah setengah masuk ke dalam antrean. Saya duduk di sampingnya, mengayunkan kaki seperti dia, dan mulai dengan hal yang paling sederhana: sumur itu bukan sumur biasa, dan kamar 7 bukan kamar kosong biasa. Ada penjaga di antara keduanya, dan penjaga itu menjaga pintu yang punya dua sisi. Setiap cerita yang diceritakan di sumur akan didengar dari sisi lain, dan dari sisi lain itu cerita tersebut akan diceritakan kembali.
Tegar mendengarkan tanpa memotong, seperti dulu saat ia mendengarkan cerita tentang penjaga pintu. Ketika saya selesai, ia diam sebentar, lalu bertanya dengan nada yang sangat wajar, "Jadi kalau Mas bercerita, nanti cerita Mas diceritakan lagi di kamar itu?" Saya mengangguk. Ia mengangguk juga, lalu bertanya lagi, "Kalau aku bercerita, ceritaku juga begitu?" Saya mengangguk lagi, lebih pelan. Ia menatap sumur dari kejauhan, lalu berkata bahwa ia tidak keberatan, asal ceritanya bukan cerita yang menakutkan. Ia punya cerita sendiri, katanya, cerita tentang gudang belakang warung yang gelap, tempat ia pernah takut masuk sendirian untuk mengambil kardus, sampai akhirnya ia berani karena menghitung langkahnya sendiri, satu sampai dua puluh, dan ternyata gudang itu hanya gelap, tidak ada apa-apa di dalamnya.
Saya hampir melarangnya. Hampir. Mulut saya sudah terbuka untuk berkata jangan, tunggu dulu, biar saya yang bercerita saja. Tapi saya menahan diri, karena saya ingat apa yang dikatakan sosok di cermin: setiap cerita harus dibayar dengan cerita, dan antrean itu sedang bertanya siapa giliran berikutnya. Kalau saya terus menjadi satu-satunya yang bercerita, antrean itu tidak akan pernah berhenti mengetuk pintu kamar saya. Dan yang lebih penting, Tegar tidak dipaksa oleh siapa pun. Ia menawarkan ceritanya sendiri, cerita kecil tentang keberaniannya sendiri, bukan kenangan yang menyakitkan, bukan nama yang dilarang, bukan sesuatu yang akan hilang darinya dengan cara yang menyakitkan. Ia hanya ingin bercerita, seperti anak yang ingin menunjukkan bahwa ia sudah berani.
Sore itu, sebelum magrib, kami pergi ke sumur bersama. Saya duduk di batu yang sama, Tegar berdiri di dekat bibir sumur dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya, seperti anak yang sedang bersiap maju ke depan kelas. Ia mulai bercerita dengan suara yang mula-mula kecil, lalu semakin mantap. Ia bercerita tentang gudang yang gelap, tentang kardus yang harus diambil, tentang langkah yang ia hitung satu per satu, dan tentang lega yang ia rasakan ketika sampai di pintu gudang dan cahaya warung menyambutnya lagi. Tidak ada hantu dalam ceritanya. Tidak ada pintu misterius. Hanya seorang anak yang takut gelap dan belajar bahwa gelap itu bisa dilewati dengan menghitung. Saya mendengarkan dengan dada yang sesak, bukan karena takut, melainkan karena saya tidak menyangka cerita sekecil itu bisa terasa begitu besar di tempat ini.
Ketika Tegar selesai, tidak terjadi apa-apa yang dramatis. Tidak ada angin yang bertiup tiba-tiba, tidak ada suara dari bawah sumur, tidak ada bayangan yang bergerak. Hanya bel di leher saya yang berdenting sekali, pelan dan jernih, seperti tanda terima yang sudah saya kenali. Tegar menoleh kepada saya dan tersenyum lega, seperti baru saja menyelesaikan tugas yang ia pilih sendiri. Saya mengacak rambutnya pelan dan berkata bahwa ceritanya bagus, dan itu bukan kebohongan. Ceritanya memang bagus, karena ia jujur dan tidak dibuat-buat.
Sebelum kami pulang, saya melakukan satu hal yang menurut saya wajib. Saya memberi tahu Tegar apa yang mungkin terjadi selanjutnya, dengan bahasa yang bisa dimengerti anak seusianya. Saya bilang, ceritanya sekarang sudah didengar dari sisi lain, dan mungkin suatu malam nanti ia akan mendengar ceritanya sendiri diceritakan kembali dari arah kamar 7. Saya bilang itu bukan hantu yang mengganggunya, melainkan cara tempat ini menyimpan cerita: setiap cerita yang diceritakan di sumur akan tinggal di sana dan diceritakan lagi, seperti lagu yang dinyanyikan ulang oleh orang lain. Tegar mengangguk, tidak takut, hanya penasaran. Ia bertanya apakah itu berarti ceritanya tidak akan hilang. Saya menjawab bahwa justru sebaliknya, ceritanya tidak akan hilang sama sekali, ia hanya berpindah tempat, dan itu mungkin hal yang baik untuk cerita tentang keberanian.
Di perjalanan kembali ke kos, ketika cahaya sore sudah menguning dan bayangan pohon pisang memanjang, saya melihat sosok di cermin kecil yang tergantung di dinding lorong luar. Bukan pantulan saya. Sosok itu memegang lampu minyak, apinya tenang, dan ia mengangguk pelan ke arah saya, satu anggukan yang jelas artinya: giliran ini diterima, dan aturannya tetap dijaga. Saya tidak berhenti berjalan. Saya hanya mengangguk balik, sekecil mungkin, agar tidak ada penghuni lain yang memperhatikan. Anggukan itu terasa seperti stempel pada sesuatu yang sudah selesai dengan benar, dan untuk pertama kalinya sejak kesepakatan itu dibuat, saya merasa bahwa saya tidak sedang menunda bencana, melainkan sedang menjalani tugas yang memang harus dijalani, dengan cara yang tidak merugikan siapa pun.
Kami pulang sebelum gelap, melewati lorong kos yang mulai diterangi lampu. Tegar berlari ke arah warung, melambaikan tangan, dan saya kembali ke kamar dengan perasaan yang campur aduk: lega karena giliran berikutnya sudah terisi dengan cara yang benar, dan was-was karena saya tidak tahu apa yang akan dilakukan antrean itu dengan cerita Tegar. Apakah cerita itu juga akan diceritakan kembali dari kamar 7, seperti cerita saya? Kemungkinan besar ya. Dan kalau ya, maka Tegar akan mendengar ceritanya sendiri dari tempat yang tidak seharusnya, sama seperti saya mendengar suara saya sendiri. Saya hanya berharap, ketika saat itu datang, ia sudah cukup mengerti untuk tidak takut.
Malamnya, saya berbaring dengan lampu menyala dan mendengarkan. Sekitar tengah malam, dari arah kamar 7, terdengar suara Tegar yang sedang bercerita tentang gudang gelap dan langkah yang dihitung satu sampai dua puluh. Saya memejamkan mata dan membiarkan cerita itu selesai, karena tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menghentikannya, dan tidak ada yang perlu saya hentikan. Cerita itu memang sudah menjadi milik sisi lain sekarang, dan ia diceritakan dengan nada yang sama persis seperti sore tadi.
Lalu cerita itu selesai. Hening sebentar. Dan dari balik pintu kamar 7, dengan suara anak perempuan yang belum pernah saya dengar sebelumnya, seseorang bertanya dengan sopan, "Mas, giliran aku kapan?"