β€Ή
47. Yang Ditagih

Yang Ditagih

Kos Nomor 13 β€’ 1,596 kata

Ilustrasi Yang Ditagih

Jam tiga pagi, bantal saya basah.

Saya terbangun bukan karena mimpi. Tidak ada mimpi β€” hanya rasa dingin yang merayap ke pipi kiri saya, dan bau itu: bau air sumur. Bau lumut, bau besi tua, bau pisang goreng gosong yang samar. Bau yang seharusnya sudah hilang kemarin malam, saat gembok itu berbunyi KLAK dan dunia meledak dalam sunyi.

Tangan saya gemetar saat meraih saklar lampu meja.

Cahaya kuning jatuh ke bantal saya β€” dan jantung saya berhenti.

Kain bantal itu basah. Bukan lembap keringat; basah kuyup, seperti habis dicelup ke dalam air hitam sumur, menetes ke seprai. Dan di atasnya β€” digambar dengan crayon merah, garis-garis goyang khas anak kecil β€” sosok tinggi memegang tangan sosok kecil.

Di bawah gambar itu, huruf-huruf goyang yang masih berkilat basah, seolah baru selesai digambar beberapa detik yang lalu:

ABANG JANJI

Lalu saya mendengarnya.

Dari bawah lantai kamar saya β€” dari sangat jauh, dari kedalaman yang seharusnya sudah terkunci rapat oleh gembok dua muka β€” terdengar suara. Sangat pelan. Hampir tidak ada. Tapi ada.

Suara saya sendiri. Sabar. Seperti tiga puluh tahun bukan apa-apa.

"Abang janji... Abang janji... Abang janji..."

Saya tidak berteriak. Tenggorokan saya terkunci. Saya meraih bantal itu dengan kedua tangan β€” dingin, menetes β€” dan saya memasukkannya ke dalam kantong plastik kresek, saya ikat mati, saya selipkan ke kolong tempat tidur, ke sudut paling gelap.

Lalu saya duduk di tepi kasur sampai azan Subuh, menatap lantai, mendengarkan suara itu mengulang janji saya dengan suara saya sendiri, sampai akhirnya β€” entah jam berapa β€” ia berhenti.

Bukan karena ia menyerah. Saya tahu itu. Ia berhenti karena ia tahu saya sudah dengar.

Saya memikirkan kata-kata terakhir Ibu Lastri di dalam sumur β€” diteriakkan di antara tarikan tali, dengan lampu minyak bergoyang liar: "Kamu memberinya janji, Nak! Ia akan MENAGIH! Janji yang diberikan di dalam sumur tidak hilang saat sumur dikunci!" Waktu itu saya pikir "menagih" artinya ia akan datang mengambil saya. Saya tidak pernah membayangkan menagih bisa berbentuk gambar crayon di bantal basah, dan suara saya sendiri yang mengulang-ulang utang saya seperti kasir yang sabar.

Di kolong tempat tidur, dalam kresek yang saya ikat mati, gambar itu menunggu. ABANG JANJI. Dua kata yang saya ucapkan dengan mata terpejam di dalam air hitam β€” kata-kata yang saya kira cuma umpan, cuma tipuan. Ternyata di tempat itu, kata-kata bukan sekadar bunyi. Kata-kata adalah benda. Dan benda yang diberikan tidak bisa diambil kembali.

Pagi harinya kos kami sarapan dalam diam yang berbeda dari kemarin. Kemarin diam kami adalah diam orang-orang yang selamat dari sesuatu. Pagi ini diam kami adalah diam orang-orang yang tahu sesuatu masih menunggu.

Bu Sarmi mengaduk sayur asem di dapur. Sesekali ia mengusap pipi dengan lengan bajunya, pura-pura kepedasan. Tidak ada yang menegur. Kami semua tahu ia tidak menangisi cabai.

Kursi Ibu Lastri kosong. Kursi kayu di ujung meja, yang selalu ia duduki sambil menyeruput kopi dan menertawakan lelucon garing Fajar β€” kosong. Saya tidak berani menatapnya terlalu lama.

Tiga hari. Baru tiga hari ia turun ke sumur itu, dan kos ini sudah terasa seperti rumah yang ditinggal pemiliknya. Padahal secara teknis β€” secara kertas β€” Ibu Lastri masih pemilik kos. Bu Sarmi yang mengurus harian hanya pembantu yang digaji. Tapi tidak ada yang membahas itu. Tidak ada yang membahas ke mana perginya Ibu Lastri, atau bagaimana menjelaskannya kalau ada yang bertanya. Kami semua sepakat dalam diam: ia pergi. Ke mana, tidak penting. Yang penting ia tidak kembali β€” dan kami tahu kenapa.

Sari duduk membungkuk di depan buburnya yang tidak disentuh. Bel kecilnya tergeletak diam di samping piring. Sudah dua hari bel itu tidak berbunyi. Dulu bunyinya cerewet dan mengganggu; sekarang diamnya terasa seperti lubang.

"Kamu nggak makan, Sar?" tanya Bu Sarmi pelan.

Sari menggeleng. "Nanti, Bu."

Fajar tidak tidur semalaman β€” saya tahu dari matanya yang merah dan dari bungkus kopi instan yang menumpuk di tempat sampah. Ia menatap saya dari seberang meja, dan saya tahu ia tahu. Persahabatan empat tahun membuat kami bisa membaca kebohongan satu sama lain dari cara menyendok bubur.

"Lo nggak tidur ya?" katanya.

"Lumayan," bohong saya.

"Bohong lo jelek, Dim."

Setelah sarapan saya menarik Fajar ke kamar saya. Saya kunci pintu. Saya keluarkan kantong kresek dari kolong tempat tidur dan saya buka ikatannya di depan mukanya.

Fajar menatap gambar crayon itu lama. Rahangnya mengeras.

"Gue turun ke sumur kemarin," kata saya pelan. "Gue nggak cerita semuanya. Gue... gue janjiin sesuatu ke dia."

"Janjiin apa?"

Saya menelan ludah. "Waktu dia pegang kuncinya, dia minta tukeran. Kunci buat dia β€” gue buat dia. Gue bilang..." Suara saya mengecil. "'Ambil saya. Lepasin Ibu Lastri. Ambil saya sebagai gantinya.'"

Fajar menatap saya seperti saya baru saja mengaku membunuh orang. "LO JANJIIN NYAWA LO?!"

"Gue nipu dia, Jar!" Saya meremas rambut sendiri. "Gue minta kuncinya dulu, terus gue kunci gemboknya dari bawah! Dia nggak dapet apa-apa! Gue menang!"

"Menang?" Fajar menunjuk gambar di bantal basah itu. "INI kelihatan kayak menang buat lo?"

"Ibu Lastri bilang sebelum gue naik β€” " Suara saya pecah. "'Kamu memberinya janji, Nak. Ia akan MENAGIH. Janji yang diberikan di dalam sumur tidak hilang saat sumur dikunci.'"

Fajar terduduk di tepi kasur. Lama ia diam. Lalu: "Jadi... dia nagihnya gimana? Dia kan kekunci di bawah."

"Itu yang bikin gue takut," bisik saya. "Gue nggak tahu. Dan dia nggak perlu buru-buru. Tiga puluh tahun buat dia kayak kemarin sore."

Siang itu saya memberanikan diri menemui Ustadz Mahmud di musala kecil ujung gang. Saya bawa bantal itu β€” masih dalam kresek, masih basah, masih berbau sumur.

Ustadz menatap gambar ABANG JANJI itu lama sekali. Wajahnya yang sudah tua terlihat semakin tua.

"Ia menagih," katanya akhirnya.

"Ustadz, sumurnya kan sudah dikunci. Dari bawah juga. Gimana dia bisaβ€”"

"Dimas." Ustadz menatap saya lurus-lurus. "Kamu pikir kunci itu mengunci DIA? Kunci itu mengunci MULUTNYA. Tangannya. Tapi utang..." Ia mengetuk kresek itu pelan. "Utang tidak tinggal di dalam sumur. Utang tinggal di sini." Ia mengetuk dadanya sendiri. "Dan di sini." Ia mengetuk dahi saya β€” pelan, tapi saya tersentak.

"Terus dia nagihnya gimana, Ustadz?"

"Dia tidak bisa mengambil dengan paksa. Itu aturannya β€” aturan yang bahkan dia sendiri tidak bisa langgar." Ustadz menghela napas panjang. "Tapi ia bisa membuatmu MEMBERI. Itu keahliannya selama tiga puluh tahun. Ia tidak merampok, Dimas. Ia membuat orang MENYERAHKAN."

"Menyerahkan gimana?"

"Lewat kasihan." Suara Ustadz merendah. "Lewat sayang. Lewat rasa bersalah. Ibu Lastri memberinya suaranya sedikit demi sedikit β€” bukan karena dipaksa, tapi karena ia kasihan pada 'anak kecil' yang menangis di bawah sana. Kamu memberinya janjimu β€” bukan karena dipaksa, tapi karena kamu ingin menyelamatkan Ibu Lastri." Ia menatap saya dengan mata berkaca. "Kebaikanmu adalah pintu yang paling ia suka, Nak. Karena pintu itu selalu terbuka dari dalam."

Dingin menjalar di punggung saya.

"Jadi saya harus gimana?"

"Hidup dengan itu," kata Ustadz, mengutip kata-kata terakhir Ibu Lastri. "Dan jangan β€” dengar saya baik-baik β€” JANGAN pernah merasa kasihan padanya lagi. Kasihan adalah bahasa yang ia mengerti. Dan ia fasih sekali."

Malam itu saya tidak berniat tidur. Saya duduk bersandar di kepala tempat tidur, lampu menyala terang, jam di HP saya pantau terus. Pukul dua lebih lima puluh sembilan menit, saya menahan napas.

Pukul tiga tepat.

Sunyi.

Tidak ada suara dari bawah lantai kamar saya. Tidak ada gambar baru. Bantal pengganti saya kering.

Saya mengembuskan napas β€” lega yang baru setengah keluar β€” ketika saya menyadarinya:

Suara itu ada. Tapi bukan dari bawah lantai saya.

Dari koridor. Dari arah kamar Sari.

"Abang janji... Abang janji... Abang janji..."

Kali ini bukan suara saya. Kali ini suara anak kecil β€” suara aslinya, suara yang pertama kali bertanya "Abang mau lihat Lasmi?" β€” melantun pelan dari kamar Sari, berulang-ulang seperti lagu nina bobo yang rusak.

Darah saya surut dari wajah. Saya melompat dari kasur, menyambar linggis kecil yang saya sembunyikan di balik lemari β€” Fajar meminjamkannya kemarin, "buat jaga-jaga" β€” dan saya berlari ke koridor tanpa alas kaki.

Pintu kamar Sari tidak dikunci. Saya mendorongnya terbuka.

Sari terbaring di tempat tidurnya, selimut sampai dagu, mata TERPEJAM. Tidur. Tapi bibirnya bergerak-gerak, dan dari bibirnya yang tidur itu keluar suara anak kecil, jernih, berulang:

"Abang janji... Abang janji... Abang janji..."

Bel kecil di samping bantalnya diam. Tapi saya bersumpah β€” saya BERANI bersumpah β€” pendulum di dalamnya bergetar pelan, seperti menahan diri untuk tidak berbunyi.

"SARI!" Saya mengguncang bahunya. "Sari, bangun! BANGUN!"

Matanya terbuka β€” cokelat, normal, miliknya sendiri β€” dan langsung banjir air mata. "Dim? Kenapa... kenapa gue..."

"Mimpi apa?" Saya mencengkeram bahunya. Mungkin terlalu keras. "Lo mimpi apa, Sar?"

Ia terisak. "Anak kecil... baju basah... dia berdiri di kaki kasur gue..." Sari menatap saya dengan mata ketakutan yang belum pernah saya lihat. "Dia bilang... Abang udah janji. Dia nungguin di bawah. Dingin, katanya." Air matanya mengalir. "Kasian, Dim... dia kasian banget..."

Jantung saya mencelos.

Kasihan. Pintu yang selalu terbuka dari dalam.

"Sar, dengerin gue." Saya menangkup wajahnya dengan kedua tangan saya yang gemetar. "Apapun yang lo lihat, apapun yang lo dengar β€” JANGAN kasihan sama dia. Itu bukan anak kecil. Itu yang lapar. Ngerti?"

Sari mengangguk sambil menangis. Tapi kemudian β€” tangisnya melambat. Bibirnya melengkung, pelan, menjadi senyum kecil. Kepalanya miring β€” persis, SAMA PERSIS, seperti kemiringan kepala anak bergaun itu.

Dan dengan suara anak kecil, dari mulut Sari yang setengah tidur, ia berkata:

"Besok Abang turun, ya? Kan... janji."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!