β€Ή
16. Harga Sebuah Nama

Harga Sebuah Nama

Kos Nomor 13 β€’ 1,446 kata

Ilustrasi Harga Sebuah Nama

Aku keluar dari mulut sumur seperti orang yang dilahirkan kembali β€” basah, gemetar, dan menjerit tanpa suara.

Fajar dan Sari menyeretku keluar dari lingkaran garam β€” melewati garis putih itu, yang bergetar tapi tidak putus β€” dan membantingku ke tanah berumput. Tanganku mencakar tali di pinggangku, melepaskannya. Napasku tersengal. Bau melati menempel di kulitku, di bajuku, di paru-paruku, seolah aku berendam di dalamnya.

"Dim! Dimas! Lu enggak apa-apa?" Fajar menampar pipiku pelan, panik.

Aku tidak menjawabnya. Mataku terkunci pada satu pemandangan:

Bu Sarmi berdiri di tepi lingkaran garam. Berdiri. Tidak lagi duduk bersila dengan tenang. Dia berdiri menghadap sumur, sarungnya terlepas dari bahunya jatuh ke tanah, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Dan dari mulut sumur β€” dari kegelapan yang baru saja kutinggalkan β€” sesuatu naik.

Bukan Lasmi yang cantik. Bukan pula sepenuhnya yang mengerikan. Yang naik adalah kolom β€” pusaran air hitam, rambut basah, dan kelopak melati yang berputar pelan, setinggi dua meter, melayang di atas bibir sumur. Bau melati yang membusuk menghantam halaman belakang seperti gelombang. Lampu-lampu kos berkedip. Anjing-anjing di kejauhan melolong serempak, lalu diam β€” seolah suara mereka diputus.

"LASMI!"

Bu Sarmi mengucapkannya lagi. Lebih keras. Dadanya membusung. Suaranya β€” suara ibu-ibu biasa yang biasa menagih uang kos dan menawar di pasar β€” malam ini terdengar seperti lonceng. Setiap suku kata menghantam udara.

Kolom itu tersentak β€” seperti anjing yang rantainya disentak. Pusarannya melambat. Dari dalamnya, wajah itu terbentuk: Lasmi, yang mengerikan, mulutnya menganga, matanya melotot.

"KAMU BERANI MEMANGGILKU, SARMI?" Suaranya datang dari segala arah β€” dari sumur, dari tanah, dari dalam kepalaku sendiri. "KAMU YANG MENUTUP MULUTMU TUJUH TAHUN LALU! KAMU YANG MENDENGAR ANAK ITU BERTERIAK DAN MEMILIH TIDUR!"

"Aku tahu!" teriak Bu Sarmi. Air matanya mengalir, tapi suaranya tidak goyah. "Aku dengar Nisa malam itu! Aku berdiri di tangga dan aku dengar dia memanggil-manggil! Dan aku β€” aku takut! Aku takut skandal! Aku takut kos ini sepi! Aku tutup pintuku dan aku bilang ke semua orang dia pulang kampung!"

Dia melangkah maju β€” kakinya kini tepat di garis garam. Sari menjerit: "BU! JANGAN KELUAR LINGKARAN!"

Bu Sarmi tidak mendengarkan. Atau mendengar dan memilih tidak peduli. "Tujuh tahun aku hidup dengan itu, Lasmi! Tujuh tahun aku dengar dia di kamar tujuh, di kaset itu, di sumur ini! Jadi ambil aku! Aku yang diam! Aku yang bersalah! Lepaskan anak-anak ini β€” ambil aku sebagai pengganti!"

Keheningan.

Kolom itu berhenti berputar. Wajah Lasmi di dalamnya... tersenyum. Senyum sabar yang mengerikan itu kembali.

"Baik," bisiknya β€” dan bisikan itu terdengar seperti air surut dari pantai. "Keluar dari lingkaranmu, Sarmi. Sebut namaku sekali lagi β€” dari luar garis itu β€” dan aku ambil kamu. Anak-anak ini bebas. Janji."

Bu Sarmi mengangkat kakinya.

"JANGAN!"

Aku tidak tahu aku bisa berteriak sekeras itu. Tenggorokanku robek. Aku merangkak maju, Fajar menahanku, tapi aku meronta β€” aku harus bicara. Nisa menahan Lasmi tujuh tahun dengan tubuhnya yang semakin tipis. Nisa membisikkan kebenaran padaku di dasar sumur. Dan kebenaran itu kini membakar mulutku.

"Bu! Nama itu tali DUA ARAH!" teriakku. "Nisa bilang ke aku di bawah! Kalau Ibu nyebut namanya dari luar lingkaran, Ibu terikat ke dia β€” Ibu jadi miliknya! Tapi kalau Ibu nyebut dari DALAM lingkaran β€” dia yang terikat ke Ibu! Ibu yang pegang talinya, Bu! Bukan dia!"

Bu Sarmi membeku. Kakinya yang terangkat menggantung di udara, di atas garis garam.

Kolom itu meraung. Pusarannya berputar liar, kelopak-kelopak melati beterbangan seperti lebah marah. "DIAM! ANAK ITU BOHONG! NISA BOHONG SEPERTI DULU DIA BOHONG BILANG AKAN MENOLONGKU!"

"Nisa tidak bohong!" Aku bangkit berdiri β€” kakiku gemetar, tapi aku berdiri. "Dia menahan Ibu β€” menahan kamu, Lasmi β€” tujuh tahun di bawah sana sampai tubuhnya tinggal asap! Dia yang menata tulang-tulangnya sendiri biar tidak jadi sepertimu! Dan dia bilang β€” "

Aku menatap Bu Sarmi. Mata kami bertemu di atas garis garam yang bergetar.

"Dia bilang Ibu bisa melepaskannya, Bu. Bukan dengan jadi pengganti. Dengan melepaskan. Ibu pegang namanya sekarang. Ibu yang manggil. Jadi Ibu yang bisa nyuruh dia pergi."

Wajah Lasmi berubah. Senyum sabarnya retak β€” dan untuk pertama kalinya malam ini, aku melihat sesuatu yang baru di wajahnya.

Takut.

"Sarmi, jangan dengarkan dia," desisnya, manisnya kembali dipaksakan. "Kamu mau anak-anak ini selamat, kan? Keluar saja. Satu langkah. Aku janjiβ€”"

"Kamu janji apa?" potong Bu Sarmi pelan.

Dia menurunkan kakinya. Kembali ke dalam lingkaran. Duduk bersila β€” perlahan, dengan martabat yang aneh, seperti ratu yang kembali ke singgasananya. Dia mengambil sarungnya yang jatuh, menyelimutkan lagi ke bahunya. Lalu dia menatap lurus ke wajah Lasmi di dalam kolom itu.

"Lasmi," katanya β€” dan kali ini bukan teriakan. Bukan lonceng. Hanya suara seorang perempuan tua yang lelah, yang akhirnya jujur. "Aku memanggilmu dengan namamu. Kamu harus datang β€” dan kamu sudah datang. Itu aturannya, dan aku memakainya."

Kolom itu bergetar. "Sarmiβ€”"

"Diam. Sekarang dengarkan aku." Bu Sarmi menarik napas panjang β€” bau melati masuk ke paru-parunya, tapi dia tidak batuk. "Empat puluh tiga tahun kamu di bawah sana. Enam perempuan kamu ambil. Nisa β€” anak itu β€” kamu siksa tujuh tahun. Semua karena kamu tidak mau sendirian."

Air matanya jatuh ke garis garam. Garam itu mendesis pelan di tempat air mata itu jatuh β€” tapi tidak putus.

"Aku tidak bisa mengembalikan mereka. Aku tidak bisa mengembalikan kamu yang sembilan belas tahun. Yang bisa aku lakukan..." Dia menatapku sekilas β€” lalu Sari β€” lalu Fajar. "...yang bisa aku lakukan adalah ini: aku melepaskanmu."

Dia mengangkat kedua tangannya β€” telapak terbuka ke arah kolom itu.

"Dengan nama yang sama aku memanggilmu β€” Lasmi β€” dengan nama yang sama aku melepaskanmu. Tidak ada lagi pengganti. Tidak ada lagi panggilan. Kembali ke air. Diam. Pergi."

Pada kata terakhir itu, sesuatu pecah di udara.

Bukan suara. Lebih dalam dari suara β€” seperti tali raksasa yang diputus, getarannya merambat lewat tulang-tulangku, lewat tanah, lewat sumur itu sendiri. Kolom itu melengkung β€” membungkuk β€” seperti dipukul dari dalam. Wajah Lasmi di dalamnya berubah-ubah dengan liar: cantik, mengerikan, muda, tua, marah, sedih, marah lagi β€”

Lalu dia menjerit.

Jeritan itu bukan suara tenggelam. Bukan kemarahan. Itu jeritan seorang anak perempuan sembilan belas tahun yang jatuh ke air dingin pada malam Jumat tahun 1983 β€” jeritan yang tertunda empat puluh tiga tahun, akhirnya keluar.

Kolom itu runtuh ke dalam sumur. Kelopak-kelopak melati beterbangan β€” ratusan, ribuan β€” lalu di udara, satu per satu, mereka membusuk: menghitam, mengering, hancur menjadi debu yang berbau lumpur. Bau melati itu β€” yang tujuh malam mencekik kami β€” pecah dan hilang, digantikan bau tanah basah biasa. Bau hujan. Bau normal.

Tutup kayu sumur β€” yang tergeser penuh sejak pukul setengah dua belas β€” bergerak sendiri. Pelan. Pasti. Duk. Menutup rapat lubang sumur.

Dari musala di ujung jalan, azan subuh berkumandang.

Kami berempat terduduk di halaman belakang yang basah oleh embun. Tidak ada yang bicara. Sari menangis tanpa suara. Fajar memegangi tali tambang yang masih terikat longgar di tanganku β€” dia tidak melepaskannya sejak tadi. Aku menatap sumur yang tertutup itu, menunggu β€” menunggu tutupnya bergeser lagi, menunggu bau itu kembali.

Tidak terjadi apa-apa. Hanya azan. Hanya embun. Hanya pagi yang datang seperti tidak terjadi apa-apa.

Bu Sarmi terkulai di dalam lingkaran garam. Kami merangkak masuk β€” garis garam itu kini terasa seperti garis biasa, tidak bergetar lagi β€” dan mengangkatnya. Dia bernapas. Jantungnya berdetak. Tapi ketika dia membuka mata dan mencoba bicara β€”

Hanya bisikan yang keluar.

"Bu?" Sari menggenggam tangannya. "Bu Sarmi?"

Bu Sarmi tersenyum β€” senyum lelah yang tulus, yang pertama kulihat sejak aku tinggal di kos ini. Dia berbisik, nyaris tak terdengar: "...lunas."

Harga sebuah nama. Dia memanggil dengan suaranya β€” dan suaranya yang diambil sebagai bayarannya. Bukan nyawanya. Bukan jiwanya. Hanya suaranya. Aku tidak tahu apakah itu murah atau mahal. Aku hanya tahu dia masih hidup, dan itu cukup. Malam ini, itu cukup.

Kami membopongnya masuk. Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam seminggu, kos nomor 13 terasa... sepi. Bukan sepi yang mengerikan. Sepi yang biasa. Sepi yang kosong.

Aku tidur sampai siang. Ketika terbangun, Sari mengetuk pintu kamarku dengan wajah pucat.

"Dimas," katanya. "Kamar tujuh."

Jantungku langsung berdentam. Kami naik berempat β€” aku, Sari, Fajar, dan Bu Sarmi yang berjalan pelan dengan berpegangan pada bahu Sari. Lorong lantai dua terang oleh matahari siang. Tidak ada bau melati. Tidak ada suara.

Pintu kamar tujuh β€” yang selalu terkunci, yang gagangnya pernah berputar sendiri tiga malam lalu β€” kini terbuka. Menganga beberapa senti, seperti undangan.

Fajar mendorongnya pelan. Engselnya tidak berderit.

Kamar itu bersih. Terlalu bersih. Tempat tidur rapi, seprai diganti, bantal ditegakkan β€” seperti kamar yang disiapkan untuk tamu. Debu tujuh tahun lenyap. Tidak ada sarang laba-laba. Tidak ada bau apek.

Dan di atas bantal, tersusun rapi:

Tujuh kelopak melati. Segar. Masih basah oleh embun.

Di sampingnya β€” sebuah kaset pita. Baru. Label kertasnya ditulis tangan β€” tulisan yang kukenali, yang kulihat di dasar sumur tadi malam:

untuk yang mau dengerin (2)

Tinta labelnya masih basah.

Kami berempat saling menatap. Bu Sarmi β€” dengan suaranya yang tinggal bisikan β€” berbisik satu kata yang membuat bulu kudukku berdiri:

"...Nisa?"

Dan dari dalam kamar tujuh yang kosong itu, dari sudut yang tidak terlihat, terdengar bunyi sangat pelan β€” bunyi yang kukenali dari dasar sumur:

Tes. Tes. Tes.

Tetesan air. Sabar. Menunggu.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!