Penghuni Kamar Tujuh
Kos Nomor 13 • 1,394 kata
Aku tidak tidur setelah kain itu terangkat. Aku duduk di kursi dekat pintu sampai fajar, dengan bel di genggaman, menatap kain penutup cermin yang sudah kembali diam seperti tidak pernah bergerak. Pagi datang dengan cahaya yang pucat dan suara warung yang dibuka, dan aku menyadari satu hal yang membuat perutku mual: semalam, untuk pertama kalinya, teror itu tidak datang dari kamar 7, dari sumur, atau dari lorong. Ia datang dari kamarku sendiri. Rumah ini sudah tidak lagi menunggu giliranku di tempat-tempat yang jauh. Ia sudah belajar masuk ke tempatku tidur.
Siang itu aku tidak menunggu Bude Ratna datang ke meja. Aku yang datang ke etalase, pada jam ketika warung sedang sepi, ketika hanya ada bunyi sendok di gelas dan kipas angin yang berputar pelan. Bude Ratna menatapku, dan dari caranya meletakkan lap di atas meja, aku tahu ia sudah menduga apa yang akan kutanyakan.
"Bude," kataku tanpa pembuka, "semalam suara itu hampir mengucapkan nama kecilku sampai selesai di kamar 7. Dan tengah malam tadi, kain penutup cermin di kamarku bergerak sendiri. Aku sudah memberikan ceritaku dengan senang kepada Tegar dan Kirana, seperti yang Bude bilang. Bude bilang hadiah tidak boleh ditagih lagi. Lalu kenapa rumah ini masih menagih?"
Bude Ratna diam lama. Ia menuang es teh ke dalam gelas tanpa kutanya, meletakkannya di depanku, lalu duduk di kursi seberang, sesuatu yang jarang ia lakukan pada jam buka warung. "Karena yang Bude bilang kemarin itu baru setengah aturan, Mas," katanya akhirnya. "Setengah yang enak didengar. Setengah yang lain tidak pernah Bude ceritakan, karena Bude kira Mas tidak akan sampai sejauh ini."
Ia menatap ke arah lorong kos, seperti memastikan tidak ada yang mendengarkan, lalu suaranya merendah.
"Kamar 7 dulu dihuni seorang perempuan tua, Mas. Namanya tidak penting, dan jangan Mas tanya, karena nama orang yang sudah tidak ada itu pun bisa dipakai rumah ini kalau disebut di tempat yang salah. Perempuan itu bukan pemilik kos. Ia penyewa paling lama. Ia tinggal di kamar itu puluhan tahun, sejak kos ini masih punya sumur yang dipakai bersama, bukan sumur yang ditutup seperti sekarang. Dan ia punya satu kebiasaan: setiap malam, ia bercerita kepada dinding kamarnya. Bukan kepada orang. Kepada dinding. Kepada kamar yang kosong."
Aku merasakan tengkukku dingin. "Kenapa ia bercerita kepada dinding?"
"Karena ia kehilangan anaknya," kata Bude Ratna, datar, seperti orang yang sudah terlalu sering mengulang kalimat itu di kepalanya. "Anaknya meninggal waktu kecil. Dan perempuan itu tidak pernah bisa menerima bahwa tidak ada lagi yang mendengarkan ceritanya tentang anak itu. Jadi ia bercerita kepada kamar. Bertahun-tahun. Sampai kamar itu hafal semua ceritanya, hafal suaranya, hafal caranya berhenti di tengah kalimat dan melanjutkan esok malam. Kamar yang terlalu lama didongengi akhirnya belajar satu hal: ia ingin ikut bercerita. Bukan mendengarkan lagi. Bercerita."
Bude Ratna menyeruput tehnya sendiri, lalu melanjutkan. "Waktu perempuan itu meninggal di kamar itu, tidak ada yang menemukan keanehan apa-apa. Kamarnya dibersihkan, disewakan lagi. Tapi penyewa berikutnya tidak betah. Mereka bilang, malam-malam mereka mendengar seseorang bercerita di kamar itu, padahal kamar itu kosong. Mereka bilang cerita itu selalu tentang seorang anak, dan ujungnya selalu berubah: anak itu tidak pulang, anak itu menjawab panggilan, anak itu membuka pintu. Pemilik kos waktu itu, bapaknya Bude, akhirnya mengunci kamar 7 dan tidak menyewakannya lagi. Tapi mengunci pintu tidak menghentikan cerita yang sudah hafal jalan keluarnya. Cerita itu pindah ke sumur. Lalu ke cermin. Lalu ke siapa pun yang bercerita di tempat yang salah."
"Tempat yang salah," ulangku. "Maksud Bude, bercerita kepada sesuatu yang tidak hidup."
Bude Ratna mengangguk. "Itu setengah aturannya, Mas. Setengah yang lain adalah soal nama. Nama kecil Mas itu bukan sekadar nama panggilan. Nama itu adalah cara ibu Mas memastikan bahwa yang datang adalah dia. Nama seperti itu, di rumah ini, hanya boleh diucapkan satu kali oleh suara yang bukan pemiliknya."
Aku mengerutkan dahi. "Satu kali? Tapi semalam—"
"Semalam itu yang kedua," potong Bude Ratna, dan suaranya menjadi sangat pelan. "Yang pertama sudah terjadi, Mas, jauh sebelum Mas sadar. Waktu pertama kali Mas menulis cerita itu di kertas, dan kertas itu Mas tempel di kaca, atau Mas letakkan di dekat cermin. Rumah ini membaca nama itu. Itu ucapan pertama, meski bukan lewat mulut. Tulisan tetap panggilan, Mas ingat Bude pernah bilang begitu? Nah, semalam di kamar 7 itu ucapan kedua. Dan aturan rumah ini begini: nama yang diucapkan dua kali di rumah ini menjadi milik rumah. Bukan karena rumah itu jahat. Karena rumah ini mengira, kalau sesuatu dipanggil dua kali, berarti ia sedang dipanggil pulang."
Dadaku sesak. "Jadi kalau sampai terucap penuh untuk kedua kalinya—"
"Kalau terucap penuh, Mas akan dijawab," kata Bude Ratna. "Bukan Mas yang menjawab. Mas yang dijawab. Sesuatu akan datang dengan memakai nama itu, mengaku sebagai yang memanggil, dan meminta Mas membuka pintu. Karena anak yang menjawab panggilan, di cerita-cerita yang diceritakan ulang itu, selalu membuka pintu. Itu ujung yang diubah itu, Mas. Itu bukan sekadar ujung cerita. Itu petunjuk tentang apa yang akan terjadi."
Aku memikirkan semalam: suku kata pertama yang keluar dari celah pintu, lalu denting belku yang memotongnya. "Tapi semalam nama itu tidak terucap penuh," kataku. "Aku memotongnya dengan bel. Berarti ucapan kedua itu gagal?"
Bude Ratna menatap bel di leherku. "Bel itu bukan milik rumah ini, Mas. Bel itu milik cerita yang diterima dengan benar. Dentingnya memotong karena denting itu adalah suara pendengar yang hidup, bukan suara rumah. Tapi potongan itu tidak menghapus ucapan pertamanya, dan tidak menghapus bahwa rumah sudah tahu suku kata pertamanya. Rumah ini sekarang tahu awalnya. Ia hanya butuh satu malam lagi, satu celah lagi, untuk menyelesaikan sisanya."
Ia berhenti, lalu menambahkan sesuatu yang membuat tanganku berhenti memegang gelas. "Bude tahu aturan ini bukan dari buku, Mas. Bude tahu dari bapaknya Bude, yang dulu pemilik kos ini. Waktu Bude masih remaja, ada seorang penyewa di kamar 5, laki-laki pendiam yang bekerja malam. Suatu malam ia bercerita kepada Bude bahwa ada yang memanggil namanya dari lorong, dengan suara ibunya sendiri, padahal ibunya sudah meninggal bertahun-tahun. Bapaknya Bude melarang dia menjawab. Tapi laki-laki itu menjawab juga, karena ia rindu, Mas. Rindu itu yang dipakai rumah ini. Keesokan paginya, kamarnya kosong. Rapi. Ranjangnya dibuat. Barang-barangnya masih ada semua, seperti orang yang pergi hanya sebentar. Tapi ia tidak pernah kembali. Dan sejak malam itu, kadang-kadang, dari kamar 7 terdengar suaranya ikut bercerita, menceritakan cerita yang bukan miliknya, dengan ujung yang diubah."
Aku menelan ludah. "Jadi yang menjawab akan diambil?"
"Bude tidak tahu diambil ke mana," kata Bude Ratna jujur. "Bude hanya tahu ia tidak pernah terlihat lagi, dan suaranya masih ada di rumah ini. Karena itu Bude mengajari Tegar dan Kirana sejak kecil: jangan pernah menjawab panggilan dari tempat yang tidak kelihatan orangnya. Bukan karena panggilan itu pasti jahat. Karena sekali dijawab, rumah ini menganggap jawabannya sebagai izin."
Ia menatapku lama. "Mas sudah hampir menjawab semalam, bukan? Waktu menempelkan telinga ke pintu kamar 7. Mendengarkan terlalu lama itu hampir sama dengan menjawab, Mas. Pendengar yang terlalu lama diam di depan pintu akan dianggap setuju. Karena itu Bude lega Mas memukul bel dan menarik Tegar pergi. Bel itu menyelamatkan Mas dua kali: sekali karena memotong ucapan, sekali karena mengingatkan Mas bahwa Mas masih punya pendengar yang hidup."
"Dan ada satu hal lagi, Mas, yang Bude baru berani bilang sekarang. Aturan tentang nama yang diucapkan dua kali itu berlaku juga untuk nama anak-anak. Tegar dan Kirana sering dipanggil dari lorong pada malam hari, bukan oleh Bude, bukan oleh Mas. Selama ini mereka tidak menjawab, karena Bude sudah mengajari mereka sejak kecil: kalau ada yang memanggil dari tempat yang tidak kelihatan orangnya, jangan jawab, pura-pura tidur. Tapi semalam, Tegar berdiri di depan kamar 7 dan mendengarkan cerita Mas sampai hampir selesai. Ia sudah menjadi pendengar. Dan pendengar, Mas, bisa berubah menjadi yang dipanggil."
Sebelum aku sempat menjawab, dari arah lorong terdengar suara langkah kecil yang berlari. Kirana muncul di ambang warung, napasnya terengah, buku gambarnya tertinggal entah di mana, dan wajahnya pucat dengan cara yang tidak pernah kulihat sebelumnya, bahkan pada malam di sumur.
"Mas," katanya, dengan suara yang berusaha tidak bergetar dan gagal. "Tegar di depan kamar 7. Dia tidak mau pergi. Dia bilang ada yang manggil dia dari dalam, pakai suara Mas, dan suaranya bilang, ceritanya belum selesai."