β€Ή
97. Yang Belajar Mendengarkan

Yang Belajar Mendengarkan

Kos Nomor 13 β€’ 1,266 kata

Ilustrasi Yang Belajar Mendengarkan

Malamnya kami berkumpul di warung, seperti biasa, semua lampu menyala. Tapi ada yang berbeda. Buku catatan itu masih tertutup di tengah meja, di bawah lampu paling terang, dan tidak ada yang menyentuhnya sejak kami pulang dari sumur. Kami duduk mengelilinginya seperti orang yang duduk mengelilingi sesuatu yang sedang tidur, dan tidak ingin membangunkannya dengan cara yang salah.

Bude Ratna yang membuka pembicaraan. "Kita rangkum dulu, supaya tidak ada yang salah paham," katanya. "Yang kita dengar siang tadi: pendengar itu bukan orang. Ia tempat yang belajar menjadi pendengar. Ia mendengarkan dengan cara meniru suara orang yang ia dengar. Ia menyimpan semua cerita yang pernah ia dengar, dan ia tidak tahu cara melepaskan. Anak muda itu terjebak bukan karena ceritanya belum selesai, tapi karena ia diingat terus-menerus oleh sesuatu yang tidak pernah berhenti mengingat."

Tegar mengangguk. "Dan perempuan tua Kamar 7 juga pernah didengar olehnya. Jadi ceritanya lengkap, tapi ia tetap tinggal. Lengkap tidak sama dengan bebas."

Kirana menambahkan, pelan, "Dan anak muda itu meniru perempuan tua itu karena ia pikir dengan meniru cerita yang lengkap, ia akan ikut lengkap. Padahal yang ia tiru bukan cuma ceritanya. Ia meniru cara pendengar itu bekerja: meniru supaya diingat."

Aku mendengarkan mereka, dan semakin mereka merangkum, semakin jelas satu hal yang belum kami ucapkan: kalau pendengar itu belajar dengan mendengarkan, maka setiap kali kami mendengarkan suara muda itu, kami juga sedang mengajarinya sesuatu. Siang tadi kami mendengarkannya dengan sabar, berempat, di tempat terang. Kami pikir kami sedang menolong. Tapi mungkin kami juga sedang memberinya pelajaran baru: bahwa ada pendengar lain selain sumur, pendengar yang bisa pergi, yang bisa berhenti, yang bisa pulang. Dan pelajaran itu bisa jadi hal yang paling berbahaya, atau paling membebaskan, tergantung siapa yang memakainya.

Aku mengatakannya keras-keras, karena pikiran yang tidak diucapkan di rumah ini cenderung menjadi bisikan di tempat lain. "Kita harus hati-hati," kataku. "Setiap kali kita mendengarkan, kita mengajari. Sumur itu belajar menjadi pendengar dari orang-orang yang datang dan bercerita. Anak muda itu belajar meniru dari perempuan tua itu. Dan kita, tanpa sadar, sedang mengajari anak muda itu cara didengarkan oleh orang yang bisa melepaskan. Itu bagus, kalau ia memakainya untuk pergi. Tapi kalau sumur ikut belajar dari kita lewat dia, maka sumur juga akan belajar cara baru untuk menyimpan."

Bude Ratna menatapku lama. "Kamu benar. Dan itu artinya aturan kita harus ditambah. Bukan cuma siang terang dan berempat dan suara sendiri. Mulai sekarang, kita juga tidak bercerita tentang diri kita sendiri di dekat sumur. Kita mendengarkan, tapi kita tidak menyerahkan cerita kita. Karena cerita yang sudah didengar olehnya, tidak lagi hanya milik kita."

Kami semua setuju. Aturan baru itu terasa masuk akal, seperti kunci tambahan pada pintu yang sudah lama kami kunci. Tapi sebelum ketenangan itu sempat mengendap, Tegar mengingatkan satu hal yang membuat kami semua diam lagi. "Kita juga harus sepakat soal buku itu," katanya, sambil menatap sampul buku yang tertutup di tengah meja. "Buku itu sudah dibaca oleh air. Kita tidak bisa berpura-pura tidak. Jadi mulai sekarang, buku itu bukan catatan pribadi lagi. Ia barang bersama. Tidak ada yang membukanya sendirian, tidak ada yang menulis di dalamnya sendirian, dan kalau ada halaman yang basah lagi, kita lihat berempat, di tempat terang, seperti malam ini." Bude Ratna mengangguk dan menambahkan, "Dan kalau ada kalimat baru yang bukan tulisan kita, kita tidak menghapusnya. Menghapus itu juga cara menjawab. Kita biarkan, kita catat tanggalnya, dan kita bawa ke sumur siang hari, untuk ditanyakan langsung kepada pemilik suara." Kirana menelan ludah, lalu bertanya, "Kalau pemilik suara itu tidak mau mengakui tulisan itu?" Bude Ratna tersenyum tipis, senyum yang tidak menenangkan tapi juga tidak menakut-nakuti. "Maka kita akan tahu satu hal lagi: bahwa yang menulis di buku kita bukan cuma dia. Dan itu juga jawaban." Kami mengangguk, satu per satu, dan untuk sesaat kesepakatan itu terasa seperti pagar baru yang cukup kuat. Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama. Kirana, yang sejak tadi memegang gelas tehnya tanpa meminumnya, tiba-tiba meletakkan gelas itu dengan sangat pelan dan berkata, "Ada yang aneh dengan air di warung."

Kami menoleh. Gelas teh Kirana masih penuh, tapi warnanya berubah. Tehnya tidak lagi cokelat pekat. Ia jernih, seperti air sumur, dan permukaannya beriak kecil padahal tidak ada yang menyentuhnya. Tegar mengangkat gelasnya sendiri. Sama. Air minumnya jernih dan beriak. Bude Ratna memeriksa teko. Air di dalam teko juga jernih, dan dari dalam teko terdengar bunyi yang sangat kecil, seperti air menetes rapi dan stabil, seperti seseorang menulis dengan air.

Tidak ada yang panik. Mungkin karena kami sudah terlalu sering panik, atau mungkin karena siang yang terang masih tersisa di kepala kami. Bude Ratna menuangkan sedikit air dari teko ke piring kecil, dan kami berempat menunduk melihatnya bersama, di bawah lampu terang, seperti yang sudah menjadi aturan kami: tidak ada yang melihat sendirian.

Di permukaan air di piring itu, ada wajah. Bukan wajah anak muda. Bukan wajah perempuan tua. Wajah itu lebih samar, seperti wajah yang terbentuk dari banyak wajah sekaligus, mata yang tidak bisa dipastikan milik siapa, bibir yang bergerak tanpa suara. Dan ketika bibir itu bergerak, air di semua gelas beriak bersamaan, seolah seluruh air di warung sedang mengucapkan hal yang sama.

Tegar berbisik, "Itu pendengarnya?"

Bude Ratna tidak menjawab langsung. Ia menatap wajah itu, lalu berkata dengan suara yang dijaga tetap tenang, "Bukan. Itu yang ia kumpulkan. Wajah-wajah yang pernah ia dengar, tercampur menjadi satu. Ia tidak punya wajah sendiri, karena ia hanya punya wajah orang-orang yang ia dengar."

Lalu wajah itu melakukan sesuatu yang membuat kami semua mundur: ia menatapku, dan bibirnya membentuk namaku. Bukan dengan suaraku. Dengan suara anak muda itu, yang terputus-putus, yang sedang belajar. Ia menyebut namaku dengan suara pinjaman, dan saat itu aku mengerti apa yang sebenarnya berpindah hari ini. Bukan air. Bukan buku. Bukan cerita. Yang berpindah adalah kebiasaan mendengarkan: sumur itu telah belajar mendengarkan lewat anak muda itu, dan anak muda itu telah belajar memanggil lewat kami. Sekarang pendengar itu tahu namaku, bukan dari sumur, tapi dari warung, dari tempat kami merasa paling aman.

Bude Ratna segera menutup piring itu dengan piring lain, dan riak di gelas-gelas berhenti. Air kembali menjadi air biasa, teh kembali menjadi teh, tapi tidak ada yang berani meminumnya. Kami tidak menyentuh gelas-gelas itu lagi malam itu, dan teko kami biarkan tertutup rapat sampai pagi, seperti benda yang sedang kami awasi bersama, karena kami tidak tahu apakah air yang sudah pernah beriak akan tetap diam kalau ditinggal sendirian dalam gelap. Kami duduk dalam diam, mendengarkan lampu warung yang berdengung pelan, dan aku sadar bahwa aturan baru kami datang terlambat satu hari: kami sudah bercerita tentang diri kami, bukan di dekat sumur, tapi di dalam buku yang pernah dibaca oleh air, dan di dalam percakapan siang tadi yang didengar oleh seseorang yang sedang belajar cara memanggil.

Kirana bertanya, dengan suara yang sangat kecil, "Jadi sekarang ia tahu kita semua?"

Aku ingin menjawab tidak. Aku ingin menjawab bahwa ia hanya tahu namaku. Tapi di atas meja, buku catatan itu, yang sejak tadi tertutup dan tidak disentuh siapa pun, bergerak sedikit. Bukan karena angin. Tidak ada angin di warung. Sampulnya terangkat sepelan-pelan, seperti ada yang membukanya dari dalam, dan dari sela sampul itu menetes satu tetes air, jernih, yang jatuh ke meja dengan bunyi yang rapi dan stabil, seperti titik terakhir dari sebuah kalimat yang belum selesai ditulis.

Dan di tetes air itu, sebelum mengering, aku melihat bayangan kecil yang bukan wajah siapa pun yang kukenal: bayangan seseorang yang sedang duduk di bibir sumur, lama, diam, hanya mendengarkan, menunggu cerita berikutnya datang kepadanya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!