Malam Jumat
Kos Nomor 13 β’ 1,420 kata
Senin pagi, Sari pulang dari kampung β dan Dimas menceritakan semuanya di tangga.
Bukan di kamar, bukan di ruang tamu. Di tangga β tempat netral, tempat terang, tempat suara shower dari lantai dua terdengar paling samar. Sari mendengarkan tanpa menyela, ransel masih di bahunya, wajahnya semakin pucat setiap Dimas membuka mulut.
Ketika Dimas sampai pada bagian kaset β pada suara yang menyebut namanya dari rekaman tujuh tahun lalu β Sari memejamkan mata.
"Nenekku benar," bisiknya.
"Nenekmu bilang apa, Sar? Yang lengkap. Aku butuh yang lengkap sekarang."
Sari duduk di anak tangga. "Nenekku yang ngajarin soal garam. Tapi dia juga bilang: garam cuma menahan dia."
"Nisa."
"Nisa." Sari menatap Dimas. "Arwah yang kesepian, yang mengetuk mencari orang yang mau menyahut β itu bisa ditahan garam. Tapi yang memanggil..." Dia menelan ludah. "Nenek bilang: penunggu itu lebih tua dari kos ini. Lebih tua dari jalan ini. Dia tidak mengetuk. Dia tidak butuh pintu. Dia hanya datang β malam Jumat β dan dia mengambil yang menyahut."
Dimas duduk di sampingnya. Tangga semen itu dingin melalui celananya.
"Nisa dengar dia," lanjut Sari pelan. "Berminggu-minggu, setiap malam Jumat. Nisa ketakutan sampai..." Dia tidak menyelesaikan. Tidak perlu. "Dan sekarang Nisa β arwahnya β kejebak di pola yang sama. Nenek bilang: korban yang tidak sempat pergi akan mengulang. Nisa mengetuk sekarang, seperti dulu dia diketuk."
"Korban yang jadi umpan," kata Dimas.
Sari mengangguk. "Makanya garam tidak cukup buat kamu lagi. Kamu bukan cuma diketuk Nisa. Kamu dikenal sama yang memanggil. Dia sebut namamu, Dimas. Dari kaset tujuh tahun lalu. Kamu paham artinya?"
Dimas paham. Dia paham sejak semalam, dan pemahaman itu membuatnya tidak tidur: suara itu tidak belajar namanya kemarin. Suara itu sudah tahu β atau tahu bahwa dia akan tahu. Waktu tidak berlaku untuknya seperti untuk mereka.
"Terus aku harus gimana?" tanyanya β dan dia benci betapa kecil suaranya.
Sari menatapnya lama. "Nenekku juga bilang satu hal lagi. Tentang yang mengetuk."
"Apa?"
"Yang mengetuk mencari orang yang mau menyahut. Kalau yang menyahut adalah orang yang benar β yang dia tunggu β ketukannya berhenti."
Dimas menatapnya. "Orang yang benar?"
"Nisa tidak mengetuk sembarang pintu, Dimas. Dia mengetuk pintumu. Dia memanggil namamu. Karena kamu yang baca buku hariannya. Kamu yang dengar." Sari mencengkeram lengannya β jari-jarinya dingin, seperti malam itu di lorong. "Dia tidak butuh pendengar sembarang. Dia butuh ibunya. Tujuh tahun dia menunggu ibunya naik. Ibunya tidak naik-naik."
Dan di sanalah β di tangga semen yang dingin, Senin pagi yang terik β rencana itu terbentuk. Gila. Gegabah. Jenis rencana yang hanya dibuat oleh orang muda yang sudah tidak punya pilihan yang waras.
"Malam Jumat," kata Dimas. "Kita tidak sembunyi. Kita sahut. Tapi bukan aku yang menyahut."
Sari menatapnya. "Bu Sarmi."
"Dia menunggu ibunya tujuh tahun. Kita kasih dia ibunya."
Siangnya, Fajar pulang dari warnet β kantong mata tebal, baju bau rokok dan AC β dan Dimas menceritakan semuanya untuk ketiga kalinya. Fajar mendengarkan sambil duduk di kasur Dimas, dan ketika selesai, dia berkata: "Gue pindah akhir bulan."
"Jarβ"
"Tapi gue enggak ninggalin lo sendirian, Dim." Fajar menatapnya β dan untuk pertama kalinya Dimas melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah temannya yang selalu santai. "Tapi tiap malam Jumat gue tidur di warnet. Titik. Gue sayang nyawa gue."
"Gue ngerti."
"Rencana lo gila." Fajar mengacak rambutnya. "Tapi..." Dia menghela napas. "Nisa itu... dia cuma anak yang pengin didenger ibunya, kan? Kalau rencana gila lo berhasil..." Dia tidak menyelesaikan. Dia tidak perlu.
Bagian tersulit: meyakinkan Bu Sarmi.
Mereka melakukannya Selasa malam, di ruang tamu β Dimas, Sari, dan Bu Sarmi. Fajar menolak ikut rapat ("Gue dukung dari warnet," katanya, setengah bercanda, setengah tidak). Dimas menjelaskan rencananya. Sari menjelaskan ajaran neneknya. Bu Sarmi mendengarkan dengan wajah batu.
Ketika mereka selesai, keheningan panjang.
"Tidak," kata Bu Sarmi akhirnya.
"Buβ"
"Kamu tidak paham, Dimas." Suaranya bergetar β marah atau takut, Dimas tidak bisa bedakan. "Sekali dia tahu namamu β sekali kamu menyahut β dia mengikutimu. Itu yang Mbah Suro bilang. Kalau Ibu berdiri di depan kamar itu malam Jumat dan dia memanggil nama Ibuβ"
"Dia sudah tahu nama Ibu, Bu." Dimas mencondongkan tubuh. "Tujuh tahun dia memanggil nama anak Ibu di rumah Ibu. Nama Ibu pasti sudah dia tahu sejak sebelum Nisa lahir. Ibu tidak bisa sembunyi dari sesuatu yang lebih tua dari jalan ini."
Bu Sarmi menatapnya β lalu menatap Sari, yang mengangguk pelan.
"Lagian," kata Dimas, pelan, "Nisa bilang ke aku: sampaikan aku tidak marah. Dia tidak marah, Bu. Dia cuma... menunggu. Tujuh tahun menunggu ibunya naik. Ibu membersihkan kamarnya setiap beberapa hari β tapi Ibu tidak pernah masuk dan bicara ke dia. Jumat ini, Bu. Naik. Bicara."
Air mata mulai mengalir di wajah Bu Sarmi β diam-diam, seperti Minggu lalu.
"Kalau dia memanggil namaku..." bisiknya.
"Kami di sana. Aku, Sari, Fajar di bawah. Garam di mana-mana."
"Garam tidak menahannya," kata Bu Sarmi β dia ingat ajaran Sari. Lalu, pelan: "Tapi Ibu sudah tua, Dimas. Ibu sudah tidak punya apa-apa lagi selain kesempatan ini." Dia menyeka wajahnya dengan punggung tangan, dan topeng ibu kos itu β untuk pertama kalinya β dia lepas sendiri, sukarela. "Jumat. Ibu naik."
Rabu dan Kamis berlalu seperti mimpi buruk yang kabur.
Setiap malam, bau melati semakin kuat β seolah dia tahu. Seolah dia menunggu juga. Dimas hampir tidak tidur; setiap dia memejamkan mata dia mendengar desis kaset itu, suara Nisa yang muda dan gugup: dengerin baik-baik... β lalu suara yang lain, yang basah, yang sabar, yang menyebut namanya dari tujuh tahun yang lalu.
Dia mulai menulis buku harian. Bukan karena dia mau β tangannya seperti bergerak sendiri, malam-malam, di bawah cahaya HP. Kamis. Besok malam Jumat. Aku takut. Tapi Nisa lebih takut tujuh tahun. Dia menatap tulisannya sendiri dan merinding: tinta yang rapi dan bulat. Seperti tulisan Nisa.
Jumat pagi, kos itu sunyi dengan cara yang baru. Bu Sarmi membersihkan kamar tujuh untuk terakhir kalinya β Dimas mendengarnya berbicara pelan dari dalam sana, dan kali ini dia bisa menangkap kata-katanya: "Nanti malam Ibu naik, Nduk. Ibu janji."
Nduk. Panggilan sayang yang tujuh tahun tidak diucapkan.
Sore harinya mereka bersiap. Garis garam di setiap ambang pintu β tebal, tidak terputus. Senter. HP dengan nomor satu sama lain di layar. Fajar β yang bersumpah tidur di warnet β ternyata pulang juga, pucat tapi ada: "Gue di tangga bawah. Kalau ada apa-apa gue gedor pintu tetangga."
Pukul 22.30, mereka naik. Dimas, Bu Sarmi, Sari. Fajar di tangga bawah, senter di tangan, doa di mulut.
Lorong lantai dua: lebih gelap dari biasanya, lebih dingin. Melati β menunggu. Plat nomor 7, catnya pudar, tampak seperti mata yang mengawasi.
Mereka berdiri di depan pintu itu. Bu Sarmi di tengah β kecil, tua, dengan mukena yang dia pakai seperti baju zirah. Dimas di kirinya, garam segenggam di saku. Sari di kanannya, tasbih neneknya melilit jari.
Pukul 23.00.
Dari dalam: suara shower, menyala. Lalu β ketukan. Dari dalam pintu.
Tok. Tok. Tok.
Pelan. Sabar. Tujuh tahun sabar.
Lalu suara Nisa β lembut, basah, tepat di balik pintu: "Dimas..."
Jantung Dimas menghantam tulang rusuknya. Dia melangkah maju β dan dengan suara yang dia paksa untuk tidak bergetar, dia berkata: "Bukan aku yang kamu tunggu, Nis."
Hening. Shower terus menyala.
Bu Sarmi maju selangkah. Tangannya yang tua dan berurat terangkat β tidak mengetuk, hanya menempel di pintu yang dingin.
"Nisa," katanya β dan suaranya retak pada suku kata pertama, tapi dia terus bicara. "Nduk. Ibu di sini."
Dari dalam: bunyi seperti napas yang tertahan.
"Ibu percaya," kata Bu Sarmi, air matanya jatuh ke garis garam di lantai. "Ibu dengar. Tujuh tahun Ibu dengar kamu mengetuk dan Ibu tidak membuka β maafkan Ibu. Ibu takut, Nduk. Ibu pengecut. Tapi malam ini Ibu naik. Ibu di sini."
"Bu..." Suara Nisa β kecil, seperti anak kecil. "Ibu... percaya?"
"Ibu percaya. Ibu selalu... Ibu seharusnya percaya dari dulu." Bu Sarmi terisak, dahinya menempel ke pintu. "Maafkan Ibu, Nduk. Maafkan Ibu."
Hening.
Lalu β suara shower berhenti.
Bukan melemah. Bukan dialihkan. Berhenti β seperti keran yang diputar dengan tegas. Keheningan yang mengikuti begitu total sampai Dimas bisa mendengar tetesan terakhir jatuh dari pipa: tes... tes... tes... β lalu tidak ada.
Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Tidak ada melati β bau itu memudar, seperti surut.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun: sunyi.
Bu Sarmi terisak pelan di pintu. Sari menggenggam tangan Dimas β dingin, gemetar. Dimas bernapas β dan udara terasa ringan, untuk pertama kalinya sejak dia menginjakkan kaki di kos ini.
Berhasil. Ya Tuhan, berhasil.
Lalu β dari dalam kamar tujuh β suara yang lain.
Bukan Nisa. Lebih tua. Basah. Hampir... geli. Seperti orang yang menonton pertunjukan yang menghibur dan akhirnya memutuskan untuk ikut bermain.
Suara itu memanggil, jelas, tanpa tergesa:
"Sarmi..."
Bu Sarmi membeku. Air matanya berhenti di tengah pipi.
"Itu..." bisiknya. "Itu bukan suara anakku."
Dimas menatapnya. "Terus suara siapa, Bu?"
Bu Sarmi menoleh ke Dimas β dan wajahnya adalah wajah orang yang baru saja mengenali sesuatu dari mimpi buruk yang paling dalam:
"Suara yang memanggil Nisa... malam itu."
Gagang pintu kamar tujuh berputar.
Sendiri.