Suara dari Kamar Tujuh
Kos Nomor 13 β’ 1,200 kata
Pintu yang tidak pernah terbuka selama saya tinggal di kos ini kini bernyanyi β dan ia menyebut nama saya.
Saya berdiri mematung di ruang tamu, kaus saya masih basah oleh keringat dingin semalam. Di ujung koridor, di bawah pintu kamar 7 yang catnya mengelupas itu, cahaya kehijauan merembes tipis seperti air. Lagu anak-anak itu mengalun dari dalam β riang, fals di beberapa nada, persis seperti yang dinyanyikan Sari tadi malam di bibir sumur. Lalu suara anak kecil itu, manis dan sabar: "Bang... kamarnya dingin. Cobain masuk, Bang."
Tangan saya gemetar. Bukan karena takut saja β karena sebagian dari diri saya, sebagian yang bodoh dan baik hati, ingin menjawab. Ingin bilang, saya di sini, kamu nggak sendirian. Tapi saya ingat aturannya. Aturan yang menyelamatkan Sari tadi malam: jangan jawab panggilannya, jangan terima tawarannya. Tapi sebut namanya.
"Fajar," bisik saya, tidak berani mengeraskan suara. "Fajar, bangun."
Fajar terbangun di sofa dengan sentakan, rambutnya berdiri ke segala arah. "Apaanβ" Lalu ia mendengarnya. Nyanyian itu. Wajahnya yang biasanya penuh canda langsung mengeras. Ia meraih senter di meja β entah kenapa, senter sudah jadi barang wajib di kos ini, seperti sikat gigi.
Kami berdua berdiri di mulut koridor, tidak berani melangkah lebih dekat. Nyanyian itu berhenti. Sunyi satu detik. Dua detik. Lalu suara anak kecil itu lagi, kali ini lebih dekat, seolah bibirnya menempel di celah bawah pintu: "Bang Dimas..."
Darah saya seperti berhenti mengalir. Ia tahu nama saya. Bukan cuma "Bang" β nama lengkap saya.
"Jangan jawab," bisik Fajar cepat. "Dim, janganβ"
"Gue nggak jawab," kata saya. "Gue cuma..." Saya menelan ludah. Aturannya: sebut namanya. "Lasmi?"
Nyanyian itu terputus. Seperti benang digunting β persis seperti tadi malam.
Sunyi.
Lalu nyanyian itu mulai lagi. Tapi berbeda. Lebih cepat. Nadanya meleset ke mana-mana, riangnya dipaksakan, seperti kaset rusak yang diputar terlalu kencang. Bukan nyanyian anak kecil yang sedang bermain β ini nyanyian sesuatu yang berpura-pura jadi anak kecil dan tidak terlalu pandai melakukannya.
"Itu bukan Lasmi," kata Fajar pelan.
"Bukan," kata saya. Tenggorokan saya kering. "Lasmi yang asli nggak pernah ngajak gue masuk ke mana-mana. Dia malah nulis peringatan: jangan percaya nyanyiannya. Yang ini..." Saya menatap cahaya hijau di bawah pintu. "Yang ini ngemis terus supaya gue masuk."
Dari kamar Sari, terdengar langkah terburu-buru. Bu Sarmi muncul dengan mukena masih setengah terpasang, tasbih melilit jari-jarinya. Beliau melihat ke ujung koridor, melihat cahaya hijau itu β dan wajahnya berubah. Bukan takut biasa. Ini wajah orang yang melihat ketakutannya sendiri berjalan menghampiri.
"Jangan," kata beliau. Suaranya tajam seperti belum pernah saya dengar. "Jangan dekati pintu itu. Jangan jawab. Jangan..." Beliau berhenti, menatap saya. "Mas Dimas, kunci kamar itu ada sama saya. Dan pintu itu tidak akan dibuka."
"Belum?" tanya saya. Saya tidak tahu kenapa saya bilang "belum", bukan "tidak". Mungkin karena jauh di dalam, saya sudah tahu: cepat atau lambat, pintu itu harus dibuka.
Bu Sarmi menatap saya lama. "Belum," katanya akhirnya, pelan. "Nanti. Setelah magrib, kita kumpul. Saya... saya akan ceritakan semuanya." Beliau berbalik, tapi sempat berhenti. "Sampai saat itu: tidak ada yang sendirian di koridor. Tidak ada yang berhenti di depan pintu itu. Sepakat?"
"Sepakat," kata kami berdua.
Pagi itu berjalan dengan aneh. Matahari bersinar cerah, burung-burung berkicau, tukang sayur lewat depan kos sambil teriak seperti biasa. Dunia di luar berjalan normal, seolah tidak peduli bahwa di ujung koridor kos kami ada pintu yang bernyanyi memanggil nama orang.
Nyanyian itu berhenti tepat saat adzan dzuhur berkumandang. Cahaya hijau di bawah pintu padam seperti lilin ditiup. Fajar yang sejak pagi berjaga di ruang tamu β katanya "ronda", padahal jelas tidak berani mendekat β melapor dengan nada lega yang dipaksakan: "Mati, Dim. Lampunya mati. Lagunya juga."
"Istirahat," kata saya. "Dia juga butuh istirahat. Makhluk halus kan juga makhluk."
Fajar menatap saya. "Lu masih bisa becanda dalam situasi kayak gini?"
"Kalau gue nggak becanda, gue nangis, Jar."
Kami makan mie rebus di ruang tamu β makan siang paling sunyi dalam sejarah kos ini. Sari duduk di sudut sofa, pergelangan tangannya yang memar sesekali digosoknya tanpa sadar. Memar berbentuk jari-jari kecil itu sudah menghitam di tepinya. Saya pura-pura tidak melihat, tapi perut saya mual setiap kali meliriknya.
"Sari," kata saya pelan. "Tadi malam... waktu kamu... di sana. Kamu ingat apa?"
Sari menatap mangkuk mienya lama. "Aku mimpi," katanya akhirnya. "Mimpi main di halaman belakang. Terus ada yang gandeng tanganku. Dingin." Ia mengangkat pergelangan tangannya. "Tapi anehnya, Dim. Yang gandeng aku... rasanya ada dua."
"Dua?"
"Satu dinginnya nyakitin. Kayak dicengkeram." Suaranya mengecil. "Satunya lagi... waktu adzan subuh... ada tangan kecil yang genggam tanganku sebentar. Lembut. Terus dilepas. Kayak..." Ia mencari kata. "Kayak pamit."
Fajar dan saya saling pandang. Lasmi. Lasmi yang asli β bahkan di tengah cengkeraman makhluk itu, dia masih sempat menggenggam tangan Sari. Memberi tahu: aku di sini, aku yang asli.
"Dia baik," bisik Sari. "Lasminya baik. Yang jahat... yang satunya."
Sore harinya saya memberanikan diri memeriksa sumur. Triplek penutup masih di tempatnya, ditindih besi tua. Kertas doa Bu Sarmi masih tertempel, tulisannya tegas meski kertasnya lemas oleh embun. Aman β untuk sekarang. Tapi saat saya berbalik, bulu kuduk saya berdiri: dari arah kos, dari jendela koridor, saya merasa... diperhatikan. Saya tidak menoleh. Saya jalan cepat masuk, dan baru bernapas lega setelah pintu belakang terkunci.
Menjelang magrib, Sari menjerit dari koridor.
Kami berlarian. Sari berdiri di tengah koridor, menunjuk ke ujung β ke depan pintu kamar 7. Di sana, berjejer rapi di lantai, basah dan menghadap pintu: sandal jepit kecil. Sepasang. Lengkap.
Sandal yang tadi pagi hilang dari bibir sumur.
"Jangan sentuh," kata Bu Sarmi cepat. Beliau sudah di sana, entah sejak kapan. Wajahnya pucat pasi. "Jangan ada yang menyentuh."
Dan saat itulah terdengar dari dalam kamar 7: tok. Tok. Tok. Tiga ketukan. Pelan. Sabar.
Lalu suara anak kecil itu, manis, tepat di balik pintu: "Bang... pintunya nggak dikunci dari dalam. Cobain buka, Bang."
Bohong. Pintu itu dikunci dari luar β kuncinya ada pada Bu Sarmi. Ia berbohong semanis mungkin, dan justru itu yang paling menakutkan: ia pikir kami sebodoh itu.
Bu Sarmi memejamkan mata. Tasbihnya bergerak cepat di antara jari-jarinya. "Dia sudah tidak sabar," bisik beliau.
Kami mundur perlahan ke ruang tamu, tidak ada yang berani membelakangi koridor. Sandal kecil itu tetap di sana, berjejer rapi, menunggu. Ketukan itu tidak berlanjut. Nyanyian tidak kembali. Hanya sunyi β sunyi yang penuh, yang menekan telinga.
Malam turun. Kami menyalakan semua lampu, seperti biasa. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, terang lampu tidak membuat kami merasa aman. Karena kami semua tahu: yang di dalam kamar 7 tidak takut pada lampu. Ia hanya menunggu. Dan ia sudah mulai mengetuk.
Dari kamar saya, saya berbaring menatap langit-langit, mendengarkan. Koridor sunyi. Terlalu sunyi. Lalu, tepat tengah malam, saya mendengarnya β bukan nyanyian, bukan ketukan. Suara gagang pintu. Gagang pintu kamar 7, berputar pelan dari dalam. Krek... krek... Seperti ada yang mencoba, sabar, berulang-ulang, memastikan kuncinya masih terkunci.
Lalu suara anak kecil itu, tepat di celah bawah pintu, berbisik ke koridor yang gelap: "Bang Dimas..."
Dari ruang tamu, suara Fajar berbisik pelan: "Dim... lu denger juga kan?"
"Iya," bisik saya balik. "Jangan jawab. Jangan keluar kamar."
"Gue nggak gila," katanya. Tapi suaranya bergetar β dan itu, entah kenapa, justru menenangkan saya. Setidaknya saya tidak sendirian dalam ketakutan ini.
Saya menutup mata. Saya tidak menjawab. Saya menggenggam tasbih pinjaman Bu Sarmi sampai jari-jari saya sakit. Dan saya berdoa β doa yang berantakan, doa anak kos yang tiga hari lalu masalah terbesarnya cuma telat bayar uang kos β semoga pagi cepat datang.