Isi Buku yang Membuka Sendiri
Kos Nomor 13 • 1,322 kata
Aku tidak bergerak. Bude Ratna tidak bergerak. Kirana, yang duduk di sebelahku, bahkan seperti lupa caranya bernapas. Di atas meja warung, di antara piring-piring yang tak disentuh dan gelas teh yang sudah dingin, buku catatan itu membuka sendiri. Sampulnya terangkat sepelan-pelan, seperti ada jari yang tak terlihat menyelip di bawahnya, dan halaman pertama terbuka dengan bunyi kertas yang terlalu keras untuk ruangan sesepi ini. Tidak ada angin. Pintu warung tertutup. Kipas angin di langit-langit mati sejak tadi sore. Tapi halaman itu bergerak juga, satu demi satu, seolah ada yang membacanya dari dalam, atau ada yang sedang menuliskannya dari dalam.
Bude Ratna mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali sebelum sempat menyentuh sampul. "Jangan," bisiknya. "Kalau dia yang membuka, biar dia yang menutup."
Aku menelan ludah. "Dia siapa, Bude?"
Bude tidak menjawab. Matanya tidak lepas dari buku itu. Halaman-halaman terus berbalik, pelan, teratur, seperti seseorang yang sedang mencari satu halaman tertentu. Dan di setiap halaman yang sempat kulihat sekilas, ada tulisan tangan. Bukan satu tulisan tangan. Banyak. Ada yang rapi dan miring ke kanan, ada yang besar-besar seperti tulisan anak kecil, ada yang gemetar seperti ditulis orang tua yang tangannya sudah tidak kuat memegang pena. Semuanya memenuhi halaman dari ujung ke ujung, tanpa jeda, tanpa judul, tanpa tanggal. Hanya cerita. Cerita-cerita yang tidak selesai.
"Ini buku catatan warung Bude?" tanyaku, suaraku sendiri terdengar asing di telingaku.
Bude menggeleng pelan. "Dulu iya. Buku utang. Siapa makan, siapa belum bayar, siapa nitip. Sudah bertahun-tahun tidak kupakai. Kusimpan di sini karena mejanya tidak pernah kupindah." Ia menunjuk rak di sudut warung dengan dagunya. "Tapi sejak sebulan lalu, tiap pagi buku ini sudah pindah sendiri ke atas meja. Dan isinya bertambah."
Kirana akhirnya bersuara, pelan sekali. "Bertambah bagaimana?"
"Bertambah cerita," kata Bude. "Cerita orang-orang yang pernah duduk di sini. Cerita orang-orang yang pernah lewat dekat sumur."
Halaman-halaman itu berhenti. Buku itu terbuka pada satu halaman di tengah, dan kali ini tidak bergerak lagi. Aku memberanikan diri menunduk sedikit untuk membaca. Tulisan di halaman itu rapi, hurufnya tegak, tintanya biru tua. Aku membaca baris pertama, dan tenggorokanku mengering.
"Pada malam pertama aku tidur di kamar tujuh, aku mendengar seseorang menangis di dalam dinding."
Itu kalimatku. Itu ceritaku. Kata-katanya persis seperti yang pernah kuceritakan pada Tegar di suatu malam, di depan kamar kos, ketika aku masih mengira suara di dinding hanyalah pipa tua. Aku tidak pernah menulisnya di mana pun. Aku tidak pernah menceritakannya pada Bude Ratna. Tapi di sini, di buku yang katanya sudah bertahun-tahun tidak dipakai, ceritaku tertulis rapi, lengkap, sampai ke kalimat terakhir yang bahkan aku sendiri sudah hampir lupa pernah kuucapkan.
"Aku tidak pernah menulis ini," kataku.
"Tidak ada yang menulisnya," jawab Bude. "Dia yang mendengarkan, lalu dia yang menuliskan. Buku ini bukan buku warung lagi, Dimas. Ini buku dia. Buku pendengar."
Aku membalik halaman dengan ujung jari, hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang bisa menggigit. Halaman berikutnya tertulis dengan tangan yang berbeda, hurufnya besar-besar dan miring. "Aku kehilangan suamiku di perantauan, dan aku tidak pernah tahu di mana kuburannya, jadi tiap malam aku bercerita padanya seolah dia masih di seberang meja." Halaman berikutnya lagi, tulisan anak kecil: "Aku takut gelap, tapi ibu bilang kalau aku cerita sama sumur, sumur akan menjaga ceritaku supaya tidak hilang." Halaman demi halaman, semuanya sama polanya. Setiap cerita dimulai di tengah-tengah, seperti lanjutan dari percakapan yang sudah lama berjalan. Dan setiap cerita berhenti di tengah kalimat, tanpa titik, tanpa akhir, seperti orang yang bercerita lalu tiba-tiba lupa ia sedang bicara dengan siapa, atau tiba-tiba sadar ada yang mendengarkan terlalu dekat.
"Kenapa semuanya tidak selesai?" tanya Kirana.
Bude menatap piring yang tadi ditutupnya, seolah takut piring itu akan bergerak juga. "Karena pendengar tidak pernah meminta akhir cerita. Dia hanya meminta cerita terus datang. Orang yang bercerita pada sumur, kalau tidak hati-hati, akan bercerita sampai lupa pulang. Sampai lupa siapa dirinya. Sampai ceritanya habis, dan yang tersisa hanya suaranya yang terus memanggil."
Aku teringat wajah-wajah di permukaan air tadi. Wajah-wajah yang bibirnya bergerak tanpa suara dan menyebut namaku dengan suara pinjaman. Wajah-wajah yang pernah didengar. Aku teringat kata-kata Bude: yang berpindah hari ini adalah kebiasaan mendengarkan. Sumur telah belajar mendengarkan lewat anak muda itu, dan anak muda itu telah belajar memanggil lewat kami.
"Terus bayangan di tetes air itu, Bude?" kataku. "Seseorang yang duduk di bibir sumur, diam, hanya mendengarkan. Siapa dia?"
Bude menutup matanya sebentar. Lama. Ketika ia membukanya lagi, ada sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat: bukan takut, melainkan duka yang sudah sangat tua. "Itu pendengar yang pertama," katanya. "Bukan sumur itu sendiri. Sumur hanya lubang. Yang mendengarkan adalah yang pertama kali duduk di sana dan tidak pernah bangun lagi."
Kirana mengerutkan kening. "Maksud Bude, dia manusia?"
"Dulu manusia," kata Bude. "Anak kecil. Sudah lama sekali, sebelum kos ini ada, sebelum warung ini ada, sebelum jalan ini diaspal. Anak itu suka duduk di bibir sumur karena di rumahnya tidak ada yang mendengarkan. Ayahnya pergi, ibunya sibuk, adiknya masih bayi. Jadi ia bercerita pada sumur. Setiap hari. Tentang mainannya, tentang takutnya pada gelap, tentang ingin didengarkan. Dan sumur mendengarkan. Lama-lama sumur belajar. Lama-lama sumur ingin mendengarkan lebih banyak. Dan anak itu tidak pernah berhenti bercerita, sampai ceritanya habis, sampai suaranya habis, sampai yang tersisa hanya kebiasaan duduk dan mendengarkan."
Aku merinding. Bukan karena ceritanya seram. Karena ceritanya masuk akal. Terlalu masuk akal.
"Jadi bayangan itu anak itu?" tanyaku.
"Bayangan itu adalah yang tersisa darinya," kata Bude. "Bukan arwah. Bukan hantu seperti di film. Dia adalah kebiasaan. Kebiasaan mendengarkan yang sudah terlalu lama, sampai menjadi sesuatu yang bisa duduk, bisa menunggu, bisa memanggil. Dia menunggu cerita berikutnya datang kepadanya. Selalu begitu. Dan setiap orang yang bercerita padanya tanpa akhir, akan menjadi bagian dari penantian itu."
Buku di atas meja bergerak lagi. Halaman-halamannya berbalik sendiri, cepat, seperti seseorang yang sedang mencari halaman terakhir. Lalu berhenti. Halaman terakhir itu kosong, kecuali satu baris di tengahnya. Tulisan tangannya tidak kukenali, tapi anehnya terasa akrab, seperti tulisan yang pernah kulihat di cermin dalam mimpi. Satu baris itu berbunyi:
"Aku mendengarkan, maka aku ada."
Di bawah baris itu, ada nama. Namaku. Tertulis pelan, hati-hati, seperti seseorang yang sedang belajar mengeja.
Dimas.
Kirana meraih tanganku di bawah meja. Tangannya dingin. "Dimas," bisiknya. "Tutup bukunya."
Aku mengulurkan tangan. Sampul buku itu dingin, jauh lebih dingin dari udara malam. Saat jariku menyentuh sampul, aku mendengar sesuatu. Bukan suara dari buku itu. Bukan suara dari warung. Suara itu datang dari luar, dari arah kos, dari arah sumur. Suara anak kecil yang sedang bercerita, pelan, sendirian, di tengah malam, kepada sesuatu yang tidak terlihat.
Dan di tengah cerita itu, aku mendengar namaku disebut. Sekali. Dengan suara yang sangat kukenali, karena suara itu adalah suaraku sendiri saat masih kecil, suara yang sudah puluhan tahun tidak kudengar.
Bude Ratna berdiri. "Pulang," katanya, tegas, seperti perintah. "Sekarang. Jangan menoleh ke arah sumur. Jangan menjawab kalau ada yang memanggil. Sampai di kamar, kunci pintu. Dan Dimas—"
Ia berhenti. Menatapku lama.
"—jangan bercerita pada siapa pun malam ini. Apalagi pada dirimu sendiri. Dia mendengarkan dari mana saja sekarang. Bukan cuma dari sumur."
Kami berjalan pulang dalam gelap, bertiga, tanpa bicara. Di belakang kami, warung Bude Ratna gelap. Tapi sebelum kami berbelok ke gang kos, aku tidak tahan. Aku menoleh. Sekilas saja. Ke arah sumur.
Di bibir sumur, di bawah cahaya bulan yang tipis, ada seseorang yang duduk. Kecil. Diam. Kepalanya miring sedikit, seperti sedang mendengarkan cerita yang belum selesai. Ia tidak menatapku. Ia menatap ke arah kamar tujuh. Ke arah kamarku.
Dan saat aku menoleh kembali ke depan, aku mendengar buku catatan di warung itu menutup sendiri, dari jauh, dengan bunyi yang pelan dan pasti, seperti seseorang yang baru saja selesai mendengarkan.