β€Ή
1. 11 September 1995

11 September 1995

Pundak Pertama β€’ 2,056 kata

Ilustrasi 11 September 1995

Hujan rintik turun sejak subuh, membasahi jalan tanah di depan rumah papan beratap seng itu. Di dalam kamar yang hanya disekat kain gorden bunga-bunga, seorang perempuan muda mengepalkan tangannya kuat-kuat di tepi dipan kayu. Keringat membasahi pelipisnya, bercampur air mata yang tak sempat ia seka.

"Tarik napas... sekarang dorong, Mi! Dorong!"

Suara Bu Ratih, bidan desa, terdengar tegas namun menenangkan. Tangannya yang sudah puluhan tahun menolong persalinan bergerak cekatan.

Slamet berdiri di luar kamar, punggungnya menempel dinding bambu yang dingin. Tangannya yang biasa memegang cangkul dan palu kini gemetar tanpa bisa ia kendalikan. Pria tiga puluh tahun itu bolak-balik menatap pintu kamar, lalu menatap langit kelabu di celah atap. Di tangannya, sebatang rokok kretek sudah padam sejak tadi β€” ia lupa menghisapnya.

Tetangga mulai berdatangan. Bu Minah membawa seember air hangat. Pak Lurah mampir sebentar sebelum berangkat ke sawah, menepuk bahu Slamet. "Sabar, Met. Anak pertama memang begitu."

Lalu β€” tangisan itu pecah.

Keras. Melengking. Hidup.

Slamet membeku. Rokok jatuh dari jarinya ke tanah yang becek. Pintu kamar terbuka, dan Bu Ratih muncul dengan senyum lebar, menggendong buntalan kain batik.

"Selamat, Met. Laki-laki. Sehat, suaranya kencang."

Slamet menerima bayinya dengan tangan kaku, takut salah pegang. Bayi itu merah, kecil, wajahnya mengernyit β€” lalu matanya terbuka sedikit, menatap ayahnya seolah mengenali. Slamet tertawa, dan tanpa sadar air matanya jatuh ke pipi bayi itu.

"11 September 1995," bisiknya. "Kamu lahir hari Senin, Nak."

Di dalam kamar, Sutarmi terbaring lemah namun tersenyum. Ketika bayinya diletakkan di dadanya, ia mencium kening mungil itu lama sekali.

"Namanya siapa, Mi?" tanya Slamet, duduk di tepi dipan.

Sutarmi menatap langit-langit kamar yang rembes di satu sudut. Di luar, hujan mulai reda. Burung-burung kembali berkicau.

"Bagas," katanya pelan. "Bagas Pratama. Semoga dia jadi anak yang kuat."

Slamet mengangguk. Di kepalanya, ia sudah membayangkan: anak ini akan ia sekolahkan setinggi-tingginya. Anak ini tidak akan merasakan susahnya hidup seperti dirinya. Ia tidak tahu β€” tidak mungkin tahu β€” bahwa kelak justru anak inilah yang akan memikul semuanya.

Sore harinya, Slamet mengayuh sepeda ontelnya keliling kampung, membagikan kacang rebus dan teh manis dalam gelas-gelas plastik kepada siapa saja yang ia temui. Dadanya sesak oleh kebanggaan. "Anak saya lahir, Pak! Laki-laki!" katanya kepada setiap orang, bahkan kepada Pak Kumis, tukang tambal ban yang sebenarnya sudah tahu dari istrinya.

Malam itu, setelah semua tamu pulang, Slamet duduk di beranda. Di pangkuannya, Bagas tidur dengan damai, tangan mungilnya menggenggam jari ayahnya. Sutarmi keluar membawa dua cangkir teh hangat.

"Besok aku mulai kerja lagi," kata Slamet. "Pak Mandor bilang ada proyek bikin rumah di desa sebelah. Tiga minggu."

Sutarmi mengangguk. "Mesin jahitku juga sudah dibetulkan Pak Harto. Besok ada tetangga mau permak baju."

Mereka saling menatap, lalu tersenyum. Tidak ada kata-kata besar tentang masa depan. Tidak ada rencana muluk. Yang ada hanya dua orang muda yang saling percaya β€” dan bayi mungil di antara mereka yang tidur tanpa tahu apa-apa tentang dunia.

Di kejauhan, suara azan Isya mengalun dari musala. Lampu minyak di beranda bergoyang pelan tertiup angin. Slamet menatap wajah anaknya lama sekali.

"Tidurlah yang nyenyak, Nak," bisiknya. "Bapak yang jaga."

---

Bagas tumbuh seperti anak-anak kampung lainnya: kurus, berkulit legam terbakar matahari, lututnya selalu penuh koreng bekas jatuh.

Rumah mereka kecil β€” dua kamar, satu ruang tengah yang merangkap ruang makan, dan dapur di belakang dengan tungku kayu. Tapi rumah itu selalu ramai oleh suara. Suara mesin jahit tua merk Singer milik ibunya: krek-krek-krek, ritmis, dari pagi sampai sore. Suara radio butut yang selalu disetel di stasiun dangdut. Dan suara ayahnya yang pulang kerja, selalu β€” selalu β€” memanggil dari pintu depan:

"Bagas! Bapak pulang! Sini, ada oleh-oleh!"

Oleh-oleh itu kadang hanya sebungkus kacang goreng. Kadang pisang. Kadang, kalau ayahnya dapat upah lebih, sebungkus martabak manis yang langsung diserbu bertiga β€” ayah, ibu, dan Bagas β€” duduk melingkar di tikar pandan.

Ayahnya memang kerja serabutan. Hari ini kuli bangunan, besok bantu panen, lusa jadi tukang ojek dengan motor bebek pinjaman. Tangannya kasar dan penuh kapalan, tapi pelukannya selalu hangat. Setiap malam, sebelum tidur, ayah selalu punya cerita: tentang mandor yang galak tapi baik hati, tentang temannya yang jatuh dari perancah tapi selamat karena nyangkut di tali, tentang mimpinya suatu hari punya rumah tembok.

"Kamu harus sekolah yang tinggi, Gas," kata ayah suatu malam, sambil mengusap kepala Bagas yang sudah mengantuk. "Biar nggak kayak Bapak. Biar tanganmu nggak kapalan kayak gini."

Bagas mengangguk setengah tidur. Ia tidak mengerti apa itu "sekolah tinggi". Yang ia tahu, sekolah itu tempat ia bisa main kelereng saat istirahat.

Ibunya penjahit. Tangannya lincah memainkan kain di bawah jarum mesin jahit. Kadang Bagas duduk di bawah meja, memperhatikan kaki ibunya mengayuh pedal, memperhatikan potongan-potongan kain perca jatuh ke lantai seperti daun-daun warna-warni. Dari kain perca itulah ibunya membuatkan Bagas celana pendek baru setiap lebaran β€” dijahit sendiri, dengan saku tambahan "biar bisa buat simpan kelereng", kata ibu sambil tersenyum.

Mereka miskin β€” Bagas baru paham kata itu bertahun-tahun kemudian. Waktu itu, yang ia tahu hanyalah: perutnya selalu kenyang, meski lauknya sering hanya tempe goreng dan sayur lodeh. Bajunya selalu bersih, meski tambalannya di mana-mana. Dan ia tidak pernah β€” tidak pernah β€” merasa kekurangan kasih sayang.

Hari-hari Bagas diisi hal-hal sederhana. Pagi: berangkat sekolah jalan kaki tiga kilometer, sepatunya yang kebesaran β€” warisan sepupu β€” berbunyi pletak-pletak di jalan tanah. Siang: main layangan di lapangan sampai senja, atau mandi di kali bersama teman-temannya, berlomba siapa paling lama menyelam. Sore: mengaji di musala, lalu pulang membantu ibu melipat jahitan.

Malam minggu adalah malam paling istimewa. Tetangga yang punya televisi β€” satu-satunya di RT itu β€” membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Anak-anak kampung duduk berdesakan di lantai tanah, menonton TV hitam putih 14 inci: Siapa Berani, Lenong Rumpi, atau film kartun yang suaranya kresek-kresek. Bagas selalu duduk paling depan, matanya berbinar. Ibunya membawakannya singkong rebus dalam kantong plastik. Itu adalah surga.

---

Bagas berumur tiga tahun ketika perut ibunya mulai membesar lagi.

"Kamu mau punya adik," kata ibu, mengelus kepala Bagas. "Senang?"

Bagas mengangguk, meski ia tidak sepenuhnya paham. Adik itu apa? Mainan baru?

Adik itu ternyata bukan mainan. Adik itu bayi perempuan mungil bernama Sinta, yang menangis sepanjang malam dan membuat ibu kurang tidur. Adik itu makhluk kecil yang merebut perhatian ibu β€” perhatian yang selama tiga tahun hanya milik Bagas seorang.

Awalnya Bagas cemburu. Ia pernah β€” sekali saja β€” mencubit pipi Sinta sampai merah, lalu menangis ketakutan sendiri karena merasa bersalah. Ibunya tidak marah. Ibunya hanya memeluknya erat dan berkata:

"Gas, kamu sekarang kakak. Kakak itu tugasnya menjaga. Sinta cuma punya kamu."

Kalimat itu menempel di kepala Bagas seperti perangko. Kamu sekarang kakak.

Sejak hari itu, Bagas berubah. Ia yang dulu selalu minta digendong, kini menawarkan punggungnya untuk menggendong Sinta β€” meski tubuhnya sendiri masih kecil. Ia yang dulu menangis kalau jatuh, kini menahan tangisnya supaya Sinta tidak ikut menangis. Ia belajar menyuapi Sinta bubur, belajar mengganti popok kain, belajar menidurkannya dengan lagu yang sama yang dulu dinyanyikan ibunya untuknya: Nina bobo, oh nina bobo...

Ayahnya memperhatikannya suatu sore. Bagas, umur empat tahun, sedang duduk di beranda mengajari Sinta β€” yang baru bisa merangkak β€” cara memegang sendok. Dengan sabar. Dengan telaten. Slamet menatap anaknya lama, lalu berbalik agar Bagas tidak melihat matanya berkaca-kaca.

"Anak itu..." katanya kepada Sutarmi malam harinya. "Dewasa sebelum waktunya, Mi."

---

Tahun 2001, ketika Bagas berumur enam tahun dan duduk di kelas satu SD, adik ketiganya lahir: laki-laki, diberi nama Dimas.

Keluarga kecil itu kini beranggotakan lima orang. Rumah papan itu terasa semakin sempit. Ayah semakin sering berangkat sebelum subuh dan pulang setelah magrib. Ibu semakin sering menjahit sampai larut malam, matanya sembab di bawah lampu teplok.

Bagas mulai mengerti. Ia mengerti kenapa ayahnya tidak pernah membeli baju baru β€” baju ayah selalu baju yang sama, yang warnanya sudah pudar. Ia mengerti kenapa ibunya selalu mengambil lauk paling sedikit β€” "Ibu sudah kenyang," katanya, padahal Bagas melihat ibu hanya makan nasi dengan kerupuk. Ia mengerti kenapa ia tidak pernah bisa minta mainan seperti teman-temannya.

Ia mengerti β€” dan ia tidak pernah protes.

Di sekolah, Bagas anak yang pendiam tapi rajin. Nilainya selalu bagus. Bu Guru pernah bertanya, "Bagas, kalau besar mau jadi apa?"

"Jadi orang kaya, Bu," jawab Bagas polos. Satu kelas tertawa. Tapi Bu Guru tidak tertawa. Ia menatap Bagas dengan lembut dan bertanya, "Kenapa mau jadi orang kaya?"

Bagas menunduk, memainkan ujung bajunya yang sudah tipis. "Biar Bapak nggak capek kerja. Biar Ibu bisa tidur siang. Biar Sinta sama Dimas bisa jajan kayak teman-teman."

Kelas hening. Bu Guru mengusap kepala Bagas. Malam itu, ia menceritakan jawaban itu kepada suaminya di rumah, dan keduanya terdiam lama.

---

Musim kemarau tahun 2002. Bagas berumur tujuh tahun.

Sudah tiga bulan ia menabung. Setiap hari, dari uang jajan lima ratus rupiah yang diberi ibu β€” yang sebenarnya ia tahu ibu memberikannya dengan berat hati β€” ia sisihkan dua ratus rupiah. Ia menyimpannya dalam kaleng bekas biskuit yang ia sembunyikan di bawah dipan.

Targetnya jelas: bola sepak plastik. Yang bagus, yang seperti punya Andi, anak Pak Lurah. Harganya lima belas ribu rupiah di toko kelontong depan gang. Ia sudah menghitung: kurang dua ribu lagi.

Sore itu, ia duduk di beranda, menuang isi kalengnya ke tikar dan menghitung dengan hati-hati. Tiga belas ribu. Dua ribu lagi. Seminggu lagi, pikirnya, seminggu lagi ia akan punya bola sendiri. Ia membayangkan dirinya menggiring bola di lapangan, teman-temannya bersorak.

Lalu Sinta pulang sekolah.

Adiknya itu β€” umur empat tahun, masih TK β€” berjalan terseok-seok dengan wajah sembab. Seragamnya kotor. Di tangannya, tas kainnya robek di satu sisi.

"Kenapa, Dik?" Bagas menghampiri.

Sinta menangis. "Tas Sinta robek... teman-teman ketawa... katanya tas Sinta jelek..."

Bagas menatap tas kain itu. Jahitannya memang sudah lapuk. Ibunya pernah berjanji akan menjahitkan yang baru, tapi ibu terlalu sibuk dengan jahitan pesanan β€” jahitan orang lain selalu didahulukan, karena dari situlah uang datang.

Sinta menangis semakin keras, memeluk kakaknya. "Gas, Sinta malu..."

Bagas terdiam. Matanya beralih ke tumpukan uang receh di tikar. Tiga belas ribu. Bola sepak plastik. Tiga bulan menabung.

Ia menatap adiknya. Lalu menatap uangnya lagi.

Tangannya bergerak sebelum otaknya sempat protes. Ia mengambil semua uang itu, memasukkannya kembali ke kaleng, dan menyerahkannya kepada Sinta.

"Besok kita ke toko Bu Warni," katanya. "Kita beli tas baru. Yang ada gambar kelincinya, yang kamu suka itu."

Sinta berhenti menangis. Matanya membelalak. "Tapi... uang kakak buat bola..."

Bagas tersenyum β€” senyum yang dipaksakan, tapi tulus. "Bola bisa nanti. Tas kamu nggak bisa nunggu. Nanti teman-teman ketawa lagi."

Malam itu, setelah Sinta tidur dengan tas barunya dipeluk erat-erat, Bagas duduk sendirian di beranda. Langit bertabur bintang. Dari dalam rumah terdengar dengkuran halus ayahnya yang kelelahan, dan suara mesin jahit ibu yang masih bekerja.

Bagas menatap tangannya yang kosong. Tidak ada bola. Tiga bulan menabung, hilang dalam satu sore.

Anehnya, ia tidak sedih. Atau mungkin β€” ia terlalu muda untuk mengenali perasaan itu sebagai kesedihan. Yang ia rasakan hanyalah kehangatan samar di dadanya, seperti teh manis yang diminum perlahan.

Di dalam rumah, Sutarmi berhenti menjahit. Ia berdiri di ambang pintu, menatap punggung anak sulungnya yang kecil di beranda. Ia melihat semuanya tadi sore β€” ia melihat Bagas menyerahkan kalengnya. Tangannya gemetar. Ia ingin keluar, ingin memeluk anaknya, ingin berkata maafkan ibu, Nak, ibu tidak bisa membelikan kalian berdua.

Tapi ia tidak keluar. Ia hanya berdiri di sana, menggigit bibirnya sampai hampir berdarah, air mata jatuh tanpa suara ke lantai tanah.

Slamet terbangun dan menemukan istrinya seperti itu. Ia bertanya ada apa. Sutarmi hanya menggeleng dan berbisik:

"Anak kita, Pak... anak kita terlalu baik untuk dunia ini."

Di beranda, Bagas mendongak menatap bintang-bintang. Ia tidak tahu bahwa malam itu, tanpa ia sadari, sesuatu telah ditetapkan. Seperti jalan setapak di tengah hutan yang sekali diinjak akan semakin jelas, malam itu Bagas telah mengambil langkah pertamanya di sebuah jalan panjang β€” jalan seorang anak pertama yang akan selalu, selalu, mendahulukan orang lain sebelum dirinya sendiri.

Jalan seorang pundak.

Ia baru berumur tujuh tahun. Dan ia belum tahu apa-apa tentang beban yang menunggunya di depan sana: tentang ayah yang akan sakit, tentang ibu yang akan menua, tentang adik-adik yang akan tumbuh dan butuh biaya, tentang istri dan anaknya sendiri kelak, tentang mertua yang juga akan menjadi tanggungannya.

Malam itu, yang ia tahu hanyalah: Sinta tersenyum dalam tidurnya, memeluk tas barunya.

Dan itu sudah cukup.

Untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

Bagikan
β€Ή Sebelumnya Berikutnya β€Ί
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!