β€Ή
63. Tiga Bulan yang Dijalani

Tiga Bulan yang Dijalani

Pundak Pertama β€’ 1,585 kata

Ilustrasi Tiga Bulan yang Dijalani

Telepon itu β€” telepon dari ibu di bus menuju Jakarta β€” ternyata bukan kabar buruk yang kubayangkan sepanjang perjalanan. Begitu sampai kosan dan aku menelepon balik, ibu bercerita dengan suara yang sudah lebih tenang: adikku yang bungsu diterima kerja paruh waktu di sebuah toko fotokopi dekat kampusnya, dan atap rumah bagian dapur bocor setelah hujan tiga hari berturut-turut. Dua hal yang, kalau dipikir-pikir, memang urusan pundak pertama juga β€” hanya saja kali ini ukurannya masih bisa kupikul tanpa harus menjatuhkan yang lain.

"Atapnya biar ibu yang urus sama tukang, Gas," kata ibu. "Kamu fokus aja sama calon istrimu. Ibu cuma mau kamu tahu."

Aku tertawa lega β€” lega yang membuat mataku panas. "Bu, kalau atap bocor, bilang dari awal dong. Saya kira ada apa."

"Ibu kan bilang, nggak bisa di telepon," kata ibu, dan aku bisa mendengar senyumnya. "Soalnya kalau ibu bilang di telepon, kamu pasti langsung pesan tukang dari Jakarta. Padahal ibu masih bisa."

Malam itu aku tidur dengan perasaan yang sulit dijelaskan: di satu sisi ada keluarga baruku di Cirebon yang sedang belajar berjalan lagi, di sisi lain ada keluargaku sendiri yang belajar melepas sedikit bebannya dariku. Keduanya bergerak β€” pelan, tapi bergerak.

Dan begitulah tiga bulan itu dimulai.

Minggu pertama adalah minggu tongkat dan obat. Pak Suryo pulang ke rumah dengan jadwal yang ditempel adik Nadia di dinding dapur: obat pagi, obat siang, obat malam, kontrol dua minggu lagi, dan β€” yang ditulis dengan huruf paling besar β€” LATIHAN JALAN SETIAP SORE. Aku menelepon setiap malam, dan setiap malam jawabannya hampir sama: "Ayahmu hari ini jalan lima belas langkah, Mas," kata Nadia, "terus ngeluh tongkatnya berat, terus maksa jalan tanpa tongkat, terus dimarahin ibu."

Aku tertawa setiap kali mendengarnya. Pak Suryo memang begitu β€” orang yang menganggap tongkat sebagai penghinaan, bukan bantuan.

Akhir pekan pertama aku ke Cirebon. Latihan sore itu berlangsung di halaman rumah, di bawah pohon mangga yang sama β€” tempat truknya dulu parkir, tempat ia berpamitan dengan sahabat tiga puluh tahunnya. Pak Suryo berdiri dengan tongkat, ibunya Nadia di satu sisi, aku di sisi lain.

"Gas, lepas," katanya. "Saya mau coba tanpa dipegang."

"Pak, dokternya bilangβ€”"

"Dokternya di rumah sakit, saya di halaman saya sendiri," katanya, keras kepala seperti biasa.

Aku melepas peganganku β€” tapi tetap berdiri satu jengkal di belakangnya, tangan siap menangkap. Ia melangkah. Satu. Dua. Tiga. Langkah keempat, lututnya bergetar. Langkah kelima, ia terhuyung. Aku menangkap lengannya sebelum ia jatuh.

"Lihat, Pak," kataku, "bukan saya yang nggak percaya. Lutut Bapak yang belum percaya."

Pak Suryo menggerutu, tapi ia tertawa juga. "Keras kepala kamu nurun dari siapa, Gas?"

"Dari calon mertua saya, Pak."

Minggu kedua, ketiga, keempat berlalu dalam ritme yang mulai kukenal seperti lagu: kerja di Jakarta Senin sampai Jumat, telepon setiap malam, bus ke Cirebon Jumat malam, latihan dan persiapan Sabtu-Minggu, bus kembali Minggu malam. Di Jakarta, aku mulai menyisihkan uang dengan cara yang lebih disiplin dari sebelumnya β€” bukan karena Nadia memintanya, tapi karena aku tahu pernikahan sederhana pun tetap butuh biaya, dan aku tidak mau hari itu dibayar dengan utang baru.

Nadia menolak mentah-mentah saat aku mengirim uang pertama untuk tenda dan kursi.

"Mas, ini urusan keluargaku," katanya di telepon. "Ayahku yangβ€”"

"Nad," potongku, "kamu ingat janji di teras rumah sakit? Aku menyiapkan jalan. Menyiapkan jalan itu termasuk ini. Kamu urus ayahmu, aku urus biayanya β€” dan nanti, kalau kamu sudah jadi istriku, uang kita ya uang kita. Bukan uangku, bukan uangmu."

Hening di seberang. Lalu Nadia berkata pelan, "Mas, kamu ini... kalau ngomong selalu bikin aku nggak bisa bantah."

"Belajar dari ayahmu," kataku.

Persiapan pernikahan itu sendiri berjalan dengan cara yang paling Nadia banget: sederhana, rapi, dan penuh daftar. Daftar itu ditempel di kulkas rumahnya, ditulis tangan, dicoret satu per satu setiap kali selesai: tenda, kursi, masakan ibu-ibu tetangga, undangan yang dicetak di percetakan dekat pasar, baju pengantin yang dijahit penjahit langganan ibunya β€” bukan gaun mewah, tapi kebaya sederhana warna krem yang kata Nadia "biar ayahku gampang pegang tanganku, nggak ribet sama rok mengembang."

Aku tersenyum membaca pesan itu. Bahkan dalam memilih baju, Nadia memikirkan tangan ayahnya.

Bulan kedua membawa perubahan yang nyata. Pak Suryo sudah bisa berjalan dari teras ke gerbang tanpa tongkat β€” dua puluh langkah, pelan, tapi tanpa tongkat. Adik Nadia merekamnya dengan ponsel, dan video itu dikirim ke grup keluarga kecil kami. Aku menontonnya di sela jam kerja, di depan laptop kantor, dan harus pura-pura batuk agar rekan kerja tidak melihat mataku berkaca-kaca.

Di bulan kedua itu pula sesuatu yang lain berubah: ibunya Nadia mulai memanggilku bukan lagi "Gas" saja, melainkan "Nak Gas" β€” dan sekali, saat aku membantu mengangkat galon air di dapur mereka, ia berkata, "Nak, makasih ya. Rumah ini rasanya... lengkap lagi."

Kalimat itu menempel di kepalaku sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta malam itu. Lengkap lagi. Bukan lengkap karena truknya kembali β€” truk itu sudah pergi. Lengkap karena ada orang yang mau berdiri di tempat kosong itu, tanpa diminta, tanpa dihitung.

Tapi tiga bulan tidak pernah berjalan lurus. Selalu ada minggu yang menguji.

Minggu kesembilan β€” tiga minggu sebelum hari yang direncanakan β€” Pak Suryo demam. Bukan demam hebat, hanya demam ringan karena kecapekan: ia memaksa ikut ke pasar pagi bersama istrinya, jalan terlalu jauh, pulang dengan badan panas. Nadia meneleponku dengan suara panik.

"Mas, ayah demam. Tiga puluh delapan koma dua."

"Udah minum obat?"

"Udah. Ibu udah kompres. Tapi Mas, kalau ayah sakit lagi..."

Aku menenangkan Nadia sebaik-baiknya dari Jakarta, tapi malam itu aku tidak bisa tidur. Pukul dua pagi aku masih menatap langit-langit kosan, menghitung hari: dua puluh satu hari lagi. Dua puluh satu hari menuju halaman rumah di bawah pohon mangga. Kalau Pak Suryo sakit β€” kalau lututnya mundur lagi β€” maka janji yang kubuat di teras rumah sakit itu akan diuji dengan cara yang paling tidak kuinginkan: janji pertama, bahwa aku tetap menikahi Nadia walau ayahnya hanya bisa melihat dari kursi roda.

Keesokan paginya demamnya turun. Tapi kejadian itu meninggalkan sesuatu: ketakutan yang tidak kami ucapkan, tapi sama-sama kami rasakan. Sejak hari itu, latihan jalan Pak Suryo diawasi lebih ketat β€” adik Nadia mencatat setiap langkah di buku kecil, ibunya mengontrol jadwal istirahatnya seperti kepala perawat, dan aku, setiap akhir pekan, tidak lagi hanya memegangi lengannya, melainkan juga mengingatkannya bahwa istirahat adalah bagian dari latihan.

"Pak," kataku suatu sore, "jalan ke pelaminan itu bukan lomba lari. Bapak sampai di depan dengan selamat, itu menangnya."

Pak Suryo menatapku lama. Lalu ia berkata, "Kamu tahu, Gas? Dulu saya pikir, anak pertama itu bebannya berat. Sekarang saya lihat kamu, saya pikir... beban itu ternyata bisa dibagi. Dan yang membagi itu, ternyata, tidak mengurangi apa-apa dari yang pertama. Malah menambah."

Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk, karena kalau aku bicara, suaraku pasti bergetar.

Minggu kedua belas tiba β€” minggu terakhir. Undangan sudah disebar. Tenda sudah dipesan, akan dipasang dua hari sebelum acara. Kebaya Nadia sudah jadi, tergantung di kamar dengan plastik pelindungnya. Ibunya Nadia sudah memasak percobaan rendang dua kali β€” "biar hari H tidak gagal," katanya, padahal semua orang tahu rendangnya tidak pernah gagal.

Sabtu sore, sehari sebelum tenda dipasang, kami mengadakan latihan terakhir: bukan latihan jalan biasa, melainkan gladi bersih. Pak Suryo memakai batiknya, Nadia memakai kebaya sederhananya β€” bukan yang asli, tapi baju latihan yang mirip β€” dan mereka berjalan dari gerbang halaman menuju teras, tempat kursi pelaminan akan berdiri.

Aku berdiri di teras, menunggu, memerankan diriku sendiri di hari H. Ibunya Nadia memegang ponsel untuk merekam. Adik Nadia berdiri di sampingku, berbisik, "Kak, deg-degan ya?"

"Banget," bisikku balik.

Mereka mulai berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Sepuluh langkah. Pak Suryo berjalan pelan tapi tegak, tangannya memegang tangan Nadia dengan erat, seperti orang yang memegang sesuatu yang paling berharga dan tidak boleh jatuh.

Dua puluh langkah. Tiga puluh langkah. Mereka sampai di teras. Pak Suryo menyerahkan tangan Nadia kepadaku β€” dan di momen itu, ia berbisik, "Jaga dia, Gas. Seperti kamu jaga janji-janjimu."

Aku menggenggam tangan Nadia. "Selalu, Pak."

Semua orang tertawa dan bertepuk tangan. Ibunya Nadia menangis sambil merekam. Gladi bersih itu sempurna β€” terlalu sempurna, sampai-sampai aku lupa bahwa hidup jarang memberi gladi bersih yang semulus itu tanpa menagih sesuatu di belakangnya.

Malamnya, setelah semua orang tidur, aku keluar ke halaman sendirian. Di bawah pohon mangga, tempat besok tenda akan berdiri, aku berdiri lama. Di kepalaku, tiga bulan ini berputar seperti film: tongkat, obat, langkah pertama, demam, rendang percobaan, dan tangan seorang ayah yang belajar berjalan lagi demi mengantar anaknya.

Aku baru saja berbalik menuju rumah ketika kudengar suara dari dalam β€” suara ibunya Nadia, pelan, tapi jelas, memanggil nama Nadia dari kamar. Lalu suara Nadia menjawab, panik. Lalu suara adiknya.

Aku berlari masuk. Di kamar, Pak Suryo duduk di tepi tempat tidur, memegangi lutut kanannya dengan kedua tangan, wajahnya pucat. Di lantai, tongkatnya tergeletak β€” terjatuh.

"Ayah tadi mau ke kamar mandi sendiri," kata Nadia dengan suara gemetar. "Terus lututnya... lututnya bunyi, Mas. Terus ayah nggak bisa berdiri."

Pak Suryo menatapku. Di matanya, untuk pertama kalinya sejak tiga bulan ini, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat: ketakutan yang tidak bisa disembunyikan dengan keras kepala.

"Gas," katanya pelan, "lutut saya... kayaknya ada yang salah."

Dan di luar, di halaman yang besok akan dipasangi tenda, angin malam menggerakkan dedaunan pohon mangga β€” seolah-olah pohon itu pun sedang menunggu, apakah besok akan ada pernikahan di bawahnya, atau hanya sebuah halaman kosong.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!