Tiga Kata
Pundak Pertama • 1,406 kata
Malam itu aku tidak tidur. Bukan karena kasur kosku yang tipis, bukan karena suara motor yang sesekali lewat di gang, tapi karena tiga kata yang belum kuucapkan itu berputar-putar di kepalaku seperti kipas angin tua yang tidak mau berhenti — pelan, berisik, dan tidak memberi jeda.
Tiga kata. Apa yang bisa begitu penting sampai Ibu tidak mau mengatakannya lewat telepon? Apa yang bisa begitu berat sampai Nenek menyembunyikannya di bawah kain alas sebuah kotak kayu selama bertahun-tahun?
Pukul empat pagi aku menyerah. Aku bangun, mengambil air wudu, dan shalat tahajud di sudut kamarku yang sempit — sama seperti malam sebelum operasi sepupuku. Dalam sujud yang panjang, aku tidak meminta apa-apa untuk diriku sendiri. Aku hanya berkata dalam hati: beri aku kesabaran sampai pagi, dan beri Ibu keselamatan di jalan besok.
Menjelang pukul tujuh, aku sudah mandi dan berpakaian rapi. Kemeja putih yang biasa kupakai ke kantor — meskipun cutiku masih tersisa dua hari. Di meja kecil, kertas janji dari Pak Tomo tergeletak di samping buku catatanku yang berisi salinan surat Nenek. Aku melipat kertas janji itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dompet, di tempat yang dulu biasa kutaruh foto Bapak.
Lalu aku berangkat. Bukan ke rumah sakit, bukan ke kantor — ke sudut jalan tempat papan nama kayu yang catnya sudah mengelupas itu berdiri: “Sutomo Antik — Jual Beli Barang Antik & Kuno”.
Pak Tomo sudah membuka tokonya ketika aku tiba. Beliau sedang menyapu halaman kecil di depan toko, dan ketika melihatku datang, beliau tersenyum — senyum orang yang sudah menduga.
“Mas Bagas,” sapanya, menyandarkan sapu ke dinding. “Saya tahu Mas akan datang pagi ini. Semalam saya tidak bisa tidur juga.”
“Pak Tomo tahu?”
“Bude Mas menelepon saya tadi malam,” kata beliau sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya ke dalam. “Katanya Ibu Mas menemukan surat yang kedua. Dan katanya... Mas pasti datang ke sini pagi ini untuk mendengar sisanya.” Beliau terkekeh pelan. “Bude Mas kenal Mas lebih baik dari Mas kira.”
Kami duduk di ruang belakang — meja kayu yang sama, dua kursi yang sama, jendela kecil yang menghadap kebun pisang. Istri Pak Tomo — perempuan paruh baya yang kemarin hanya kulihat sekilas — datang menghidangkan dua cangkir teh melati, lalu pergi dengan senyum ramah. Aroma melati memenuhi ruangan, dan untuk sesaat aku merasa seperti pulang ke rumah yang tidak pernah kumiliki di kota ini.
“Kemarin cerita saya terpotong,” kata Pak Tomo, menyeruput tehnya perlahan. “Waktu itu saya masih muda, dan saya bertanya kepada beliau — kepada Nenek Mas — satu pertanyaan yang bodoh.”
“Pertanyaan apa, Pak?”
Pak Tomo tersenyum mengenang, matanya menerawang ke masa dua puluh tahun silam.
“Waktu itu kios saya masih di pasar lama. Kecil, pengap, atapnya bocor kalau hujan. Suatu sore, seorang perempuan tua datang — jalannya pelan tapi tegap, matanya tajam. Beliau meletakkan dua buah gelang di atas meja saya. Sepasang. Persis sama. Lalu beliau berkata: ‘Tomo, perbaiki pengait yang ini. Longgar.’”
Beliau menunjuk gelang yang kemarin ditunjukkannya padaku — gelang Nenek, yang kini tersimpan di lemari besi di sudut ruangan.
“Saya perbaiki sambil mengobrol. Dan karena saya masih muda dan bodoh, saya bertanya: ‘Buat apa dua gelang, Nek? Bukankah satu cukup?’” Pak Tomo tertawa kecil, malu pada dirinya yang dulu. “Nenek Mas tertawa. Tawanya renyah. Lalu beliau berkata sesuatu yang sampai hari ini tidak pernah saya lupakan.”
Beliau menatapku lekat-lekat.
“‘Tomo, kamu masih muda. Nanti kalau kamu sudah tua, kamu akan paham: manusia itu seperti gelang ini — selalu butuh pasangannya. Satu untuk anakku, satu untuk cucu pertamaku. Biar mereka ingat: mereka sepasang. Kalau yang satu jatuh, yang satu mengangkat. Kalau yang satu jauh, yang satu menunggu.’”
Tenggorokanku tercekat. Kata-kata itu — mereka sepasang — bergema di kepalaku, menyambung dengan tiga kata misterius Ibu yang belum kuketahui.
“Tapi bukan itu saja, Mas,” lanjut Pak Tomo. Beliau berdiri, berjalan ke lemari kayu di sudut ruangan, dan mengeluarkan sesuatu dari laci paling bawah — sebuah amplop tua yang sudah menguning, disegel dengan lak merah yang retak di sana-sini. “Hari itu, sebelum pulang, Nenek Mas menitipkan ini pada saya.”
Beliau meletakkan amplop itu di atas meja, di depanku. Di permukaannya, dengan tulisan tangan yang kukenali dari salinan surat Nenek di buku catatanku, tertulis: Untuk cucu pertamaku.
Tanganku gemetar ketika meraihnya.
“Beliau berpesan,” kata Pak Tomo pelan, “‘Simpan ini, Tomo. Kalau gelang ini kembali ke tokomu lewat jalan yang aneh, berikan amplop ini pada anak muda yang datang mencarinya. Jangan dibuka. Itu bukan untukmu.’ Saya menyimpannya, Mas. Dua puluh tahun lebih. Pindah dari pasar lama ke toko ini, amplop itu selalu ikut — di laci paling bawah, di tempat paling aman. Saya tidak pernah membukanya. Sampai hari ini.”
Aku menatap amplop itu lama. Lak merahnya retak, kertasnya rapuh — tapi segelnya masih utuh. Dua puluh tahun menunggu, dan pagi ini ia akhirnya sampai ke tanganku.
Dengan jari-jari yang gemetar, aku membuka segelnya perlahan. Di dalamnya ada selembar surat — dan sebuah kunci kecil dari kuningan, yang berkilau redup seperti menyimpan rahasia.
Aku membaca surat itu, dan suara Nenek — yang tidak pernah kudengar langsung selama bertahun-tahun — tiba-tiba terdengar begitu jelas di kepalaku:
“Cucuku yang pertama, Bagas. Kalau kamu membaca surat ini, berarti firasat Nenek benar: gelang itu berpindah tangan karena keadaan. Nenek tahu, Le — hidup tidak selalu baik pada orang baik. Kalau gelang itu sampai dijual, jangan bersedih, jangan menyalahkan siapa pun. Yang ikhlas melepas, akan diberi ganti yang lebih baik.
Tomo, penjaga toko ini, sudah Nenek titipi pesan sejak dua puluh tahun lalu: kalau gelang ini dijual karena keadaan, simpan satu tahun. Beri cucuku kesempatan menebusnya. Jangan beritahu siapa pun — kecuali dia datang sendiri, seperti kamu hari ini.
Dan kunci kecil ini, Le — kunci untuk laci rahasia di kotak kayu ibumu. Laci yang bahkan ibumu tidak tahu ada. Di dalamnya kusimpan foto masa mudaku, waktu aku masih memakai kedua gelang ini berpasang-pasang. Simpan baik-baik, Le. Biar kamu tahu wajahku... saat kamu berjuang menebusnya.
Nenek selalu bersamamu. Di setiap keputusan berat yang kamu ambil untuk keluargamu, Nenek ada di sana — di pundak pertamamu.”
Aku selesai membaca dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Kunci kuningan itu terasa hangat di genggamanku — atau mungkin tanganku sendiri yang gemetar.
“Pak...” suaraku serak. “Bagaimana gelang ini bisa sampai di tangan Bapak? Bude menjualnya ke juragan...”
Pak Tomo menghela napas panjang. “Kemarin sore, juragan itu datang ke tokoku. Dia ingin menjual gelang itu lagi — dengan harga lebih tinggi, tentu saja. Begitu kulihat pengaitnya...” beliau menatap gelang di lemari besi itu, “pengait yang pernah kuperbaiki dengan tanganku sendiri dua puluh tahun lalu... aku langsung tahu. Ini gelang Nenek.”
“Lalu?”
“Aku membelinya kembali, Mas. Dengan uangku sendiri.” Pak Tomo menyebutkan angka itu dengan tenang — lima juta rupiah. Lebih tinggi dari empat setengah juta yang diterima Bude, karena juragan itu tentu mengambil untung. “Kertas janji yang Mas pegang itu — satu tahun, Mas. Kalau dalam satu tahun Mas bisa menebusnya seharga itu, gelang ini pulang ke tangan Mas.”
Lima juta. Satu tahun.
Aku menghitung dalam hati — gajiku, kiriman rutin ke kampung, biaya kos, dan sisa yang bisa kutabung. Ketat. Sangat ketat. Tapi bukan tidak mungkin. Lembur, pekerjaan sampingan di akhir pekan, mengurangi jajan yang memang tidak pernah banyak. Bisa. Harus bisa.
“Terima kasih, Pak,” kataku, menunduk dalam. “Saya tidak tahu bagaimana membalas—”
“Tidak perlu,” potong Pak Tomo cepat, lalu tersenyum. “Nenek Mas sudah membayarnya, Mas — dua puluh tahun yang lalu, dengan kepercayaan. Saya cuma menjalankan titipan.” Beliau menuang teh lagi ke cangkirku. “Minum dulu. Teh melati tidak enak kalau dingin.”
Aku menyeruput teh itu perlahan. Hangat. Wangi. Menenangkan — seperti pelukan yang tidak terlihat.
Siang itu aku pulang ke kos dengan amplop tua, surat Nenek, dan kunci kuningan kecil di saku kemejaku. Benda-benda kecil yang beratnya melebihi apa pun yang pernah kubawa.
Sore harinya, aku duduk di tepi kasur, memandangi kunci itu di telapak tanganku. Kunci untuk laci rahasia yang bahkan Ibu tidak tahu ada. Besok pagi Ibu tiba — dengan gelang yang kedua, dengan kotak kayunya, dan dengan tiga kata yang belum kuketahui.
Dan saat aku sedang membayangkan wajah Ibu turun dari bus pagi itu, ponselku berdering.
“Halo, Le?” Suara Ibu — tapi kali ini terdengar... ramai. Seperti dari dalam kendaraan. “Ibu sudah di bus. Besok pagi sampai. Bude ikut.”
“Hati-hati di jalan, Bu. Gas jemput di terminal.”
“Iya, Le.” Ibu terdiam sejenak. “Le... sepupumu menelepon Bude tadi sore. Dia ingin bicara denganmu.”
Jantungku berdegup. “Kapan, Bu? Sekarang?”
“Besok, Le. Katanya...” suara Ibu merendah, “ada yang ingin dia katakan. Tentang malam sebelum operasi.”
Sambungan terputus, dan aku menatap ponselku lama. Malam sebelum operasi. Malam ketika aku begadang di rumah sakit, malam ketika Bude menangis di koridor, malam ketika semuanya terasa begitu rapuh dan tidak pasti.
Apa yang ingin dikatakan anak sembilan belas tahun itu... tentang malam itu?