Lampu-Lampu Kampung
Pundak Pertama β’ 1,549 kata
Nomor tidak dikenal itu ternyata Nadia.
"Mas! Ponselku mati! Ini ponsel satpam kantor! Aku di gerbang terminal β tahan busnya, Mas, tahan!"
Aku berteriak ke kondektur: "Tunggu! Teman saya datang! Satu menit!"
Kondektur mendengus, tapi mesin tetap menyala β menunggu. Di terminal seperti ini, satu menit adalah mata uang.
Lalu ia muncul β berlari di antara genangan, ransel di punggung, rambut lepek menempel di dahi, sepatunya basah kuyup. Ia melambai seperti orang terdampar melihat kapal.
"Dapat!" seruku, dan seluruh penumpang bus menoleh.
Nadia naik dengan napas tersengal, duduk di kursi sebelahku, dan baru bisa bicara setelah bus benar-benar bergerak. "Maaf, Mas... laporannya... Pak Dharma..."
"Pak Dharma sengaja," kataku yakin. "Beliau mau kita ketinggalan bus biar... ya, biar ada cerita."
Ia tertawa, lalu menyandarkan kepala ke jendela. Di luar, lampu-lampu kota berkejaran mundur.
"Mas," katanya pelan setelah beberapa lama, "ibumu galak nggak?"
"Galak," kataku. "Tapi cuma sama aku."
"Nenekmu?"
"Nenekku... Nenekku orang paling lembut yang pernah kutemui. Tapi jangan kaget kalau beliau nangis. Beliau nangis melulu seminggu ini."
"Bude? Dimas?"
"Bude juru masak terbaik di kampung β jangan pernah bilang masakan ibumu lebih enak, itu pantangan. Dimas..." aku terkekeh, "Dimas adikku yang paling usil sedunia. Tapi dia pundak kedua. Kalau aku nggak ada, dia yang gantiin."
"Keluargamu hangat ya, Mas."
"Hangat," kataku. "Kadang terlalu hangat sampai sumuk."
Bus melaju di jalan tol. Hujan mengetuk-ngetuk kaca. Nadia bercerita tentang ayahnya β tentang lututnya yang bengkak seminggu ini tapi beliau tetap memaksa menyetir, tentang ibunya yang mengomel tiap telepon, tentang adiknya yang lagi ujian keperawatan.
"Ayahku itu keras kepala, Mas. Katanya truknya nggak bisa jalan sendiri."
"Kamu kirim tanggal satu, ayahmu yang nunggu," kataku. "Kalian sekeluarga kalender berjalan."
"Mas merantau tiga belas tahun," kata Nadia pelan. "Nggak capek?"
"Capek," kataku jujur. "Tapi tiap tanggal lima, Ibu telepon. Suaranya... kayak habis menang lotre. Itu obat capeknya."
"Ibumu jualan apa sekarang, Mas?"
"Masih di pasar. Bude bantu. Dimas yang antar-jemput barang β dia pundak kedua. Waktu aku nggak bisa pulang, dia yang gantiin. Dulu waktu kecil dia tukang nangis, sekarang... ya, masih, tapi diam-diam."
Nadia tersenyum dalam gelap. "Keluarga Mas saling jaga ya."
"Saling jaga," ulangku. Kata itu terasa hangat di lidah. "Iya. Saling jaga."
Ia tertawa kecil, lalu menguap. "Mas, aku ngantuk..."
"Tidur aja."
Tidak sampai sepuluh menit, kepalanya miring β lalu jatuh pelan ke bahuku.
Aku membeku. Seluruh tubuhku menjadi patung. Napasnya hangat di leherku, rambutnya harum sampo yang tidak kukenal mereknya.
Satu jam. Bahuku kebas. Tanganku kesemutan. Aku tidak bergerak sedikit pun.
Tiga belas tahun pundak ini memikul kiriman tanggal lima. Malam ini, untuk pertama kalinya, pundak ini dipakai untuk bersandar. Dan rasanya... tidak berat sama sekali. Malah ringan β seperti akhirnya pundak ini tahu untuk apa ia diciptakan.
Pukul setengah sepuluh malam, bus berhenti di terminal kecil kotaku. Lampu neon berkedip, warung kopi masih buka.
Dimas sudah menunggu β dengan motor bebeknya yang mengkilap sampai memantulkan lampu, dan senyum usil yang tidak berubah sejak ia umur sepuluh.
"Mbak Nadia!" serunya. "Awas, joknya sobek dikit, tapi remnya pakem!"
"Dimas!" Aku memelototinya, tapi ia hanya terkekeh.
Dimas sudah memesan ojek langganan Bude untuk tas-tas kami. Aku membonceng Nadia β ia memegang ujung jaketku dengan malu-malu β dan kami beriringan menembus malam kampung yang dingin.
Perjalanan dari terminal ke rumah hanya lima belas menit, tapi rasanya seperti memasuki dunia lain. Jalanan kampung sepi, hanya suara jangkrik dan deru motor. Lampu-lampu rumah penduduk berpendar hangat di kegelapan, dan sesekali aroma kayu bakar tercium dari dapur-dapur yang masih menyala.
Nadia menatap sekeliling dengan mata berbinar. "Enak ya, Mas, di sini. Langitnya kelihatan."
"Di kota langitnya ketutup lampu," kataku. "Di sini langitnya... ya, langit beneran."
Dari kejauhan, kulihat lampu teras rumah menyala. Lampu yang sama yang kulihat setiap kali pulang β lampu yang tidak pernah dimatikan Ibu sampai aku benar-benar sampai.
Nenek berdiri di depan pintu. Begitu aku turun dari motor, beliau langsung memelukku β pelukan kecil yang gemetar.
Lalu beliau menoleh ke Nadia. Menatapnya lama β dari ujung rambut sampai ujung sepatu yang basah itu.
"Cantik..." bisiknya. Lalu air matanya jatuh. "Ya Allah... cantik..."
"Nek," Nadia menyalaminya, mencium tangannya. "Saya Nadia."
"Nduk..." Nenek memegang kedua pipinya. "Sini, masuk. Dingin di luar."
Di dalam, Bude muncul dari dapur dengan tangan belepotan tepung. "Sudah sampai! Ya ampun, cantiknya! Gas, kamu ini beruntung!"
"Bude!" protesku, dan semua orang tertawa.
Ibu keluar terakhir β ia memelukku lama, lalu menatap Nadia dengan mata yang berkaca-kaca. "Terima kasih sudah mau datang, Nduk."
"Terima kasih sudah bolehin datang, Bu."
Meja makan sudah penuh: nasi hangat mengepul, opor ayam kampung, sambal terasi, lalapan, kerupuk. Bude menolak semua bantuan β "Duduk! Kalian tamu!" β tapi Nadia tetap ikut mengangkat piring, dan Bude menatapnya dengan persetujuan seorang jenderal melihat prajurit baru.
Di tengah makan, interogasi kasih sayang khas Bude dimulai.
"Nduk Nadia, kamu asli mana?"
"Saya dari kota, Bude. Tapi ayah saya aslinya dari desa juga."
"Orang tuanya kerja apa?"
"Ayah supir truk antar kota, Bude. Ibu warung kelontong."
"Wah, bapaknya supir truk," kata Bude sambil menyendokkan opor tambahan ke piring Nadia. "Pantesan anaknya kuat. Anak supir truk itu mentalnya baja."
Nadia tertawa. "Ibu saya yang kuat, Bude. Saya mah... biasa aja."
"Nanti kalau sudah jadi bagian keluarga ini, makannya harus banyak," kata Bude. "Biar kuat. Apalagi kalau..."
"BUDE!" potongku dan Ibu serempak, dan meja makan meledak tertawa. Nadia menunduk, tapi senyumnya tidak hilang.
Makan malam itu riuh. Dimas bercerita tentang motornya yang habis dicuci tiga kali. Bude bercerita tentang ayam kampung yang susah ditangkap. Nenek sesekali mengusap air mata dengan ujung kerudungnya, lalu tertawa lagi.
Nadia tertawa lepas β tawa renyah yang kukenal dari kantor β dan aku melihat Ibu menatapnya, lalu menatapku, dengan senyum yang... menyimpan sesuatu.
Sehabis makan, kami duduk di teras. Angin malam kampung sejuk, jangkrik bersahutan, langit bertabur bintang yang tidak pernah kulihat di kota.
Ibu duduk di sebelahku, pelan berkata: "Dia anak baik, Gas."
"Iya, Bu."
"Cara dia lihat kamu..." Ibu berhenti. "Kayak cara Ibu lihat ayahmu dulu."
Tenggorokanku tercekat. Ayah β yang pergi waktu aku kecil, yang hanya kukenal dari foto dan cerita.
"Dulu ayahmu juga begitu," kata Ibu pelan, menatap bintang. "Kalau ada maunya, diam dulu seminggu. Terus tiba-tiba pulang bawa... ya, bawa kejutan."
"Ini bukan kejutan, Bu. Ini..." aku mencari kata. "Ini aku, Bu. Yang sebenarnya."
Ibu menggenggam tanganku β tangan yang kasar karena pasar, tapi hangat. "Ibu tahu, Gas. Dari dulu Ibu tahu. Cuma nunggu kamu yang ngomong."
Dimas ikut duduk di teras sambil mengupas kacang. "Mbak Nadia," katanya tiba-tiba, "Mas Bagas itu dulu pernah nangis tiga hari gara-gara layangannya putus."
"Dimas!"
"Tapi sekarang dia nggak pernah nangis," lanjut Dimas, lebih pelan. Ia menatapku. "Padahal... ya, harusnya boleh. Makasih ya, Mas. Selama ini."
Tenggorokanku tercekat lagi. Dimas tidak pernah bicara seperti ini. "Le, ngapainβ"
"Biarin," kata Ibu, mengusap punggungku. "Sekali-sekali dengerin adikmu ngomong bener."
"Bu," kataku, "aku bawa kain Nenek."
Ibu menoleh. "Kain batik itu?"
"Aku mau tanya langsung ke Nenek. Buat apa sebenarnya kain itu disimpan."
Nenek, yang duduk di kursi goyang, mendengar. Aku mengambil tas dan mengeluarkan lipatan batik itu, menyerahkannya dengan kedua tangan.
Nenek menerimanya seperti menerima bayi. Jemarinya yang keriput mengusap motif parang yang pudar.
"Lima puluh tujuh tahun Nenek simpan," bisiknya. "Bukan karena sayang kainnya. Tapi karena Nenek mau ingat rasanya: takut, tapi jalan juga."
"Tahun 1968," katanya pelan, "Nenek pakai kain ini waktu pertama kali ketemu kakekmu. Umur Nenek dua puluh. Takutnya setengah mati β takut salah ngomong, takut nggak cocok, takut... ya, takut."
"Terus, Nek?"
"Nenek pakai juga," katanya sederhana. "Takut-takut dipakai juga."
Beliau menoleh ke Nadia. "Keberanian itu kayak kain, Nduk. Disimpan lama, dilipat rapi, tapi pas dipakai... anget."
Lalu, dengan suara bergetar, beliau berkata: "Nenek doakan kalian berani bahagia."
Lima kata yang sama dengan surat Yati. Doa yang sama, dari dua perempuan yang tidak saling kenal, untuk orang yang sama: aku.
Nadia menunduk, matanya berkaca. Ia menggenggam tangan Nenek. "Amin, Nek. Makasih."
Malam semakin larut. Satu per satu masuk kamar. Nadia di kamar tamu β kamar yang sudah dibersihkan Ibu sampai mengkilap. Aku di kamarku yang lama, di antara buku-buku kuliah yang tidak selesai dan poster tim bola yang warnanya sudah pudar.
Pukul sebelas malam, aku masih terjaga, menatap langit-langit kamar masa kecilku, memikirkan betapa... lengkapnya hari ini.
Lalu terdengar ketukan pelan di pintu.
Nadia berdiri di sana β wajahnya pucat, ponsel di tangan, matanya berkaca.
"Mas..." suaranya bergetar. "Ibuku barusan telepon."
"Kenapa? Ada apa?"
Ia menelan ludah. "Ayahku... ayahku masuk rumah sakit."