Langkah Ketiga Puluh Satu
Pundak Pertama β’ 1,511 kata
Aku tidak tidur malam itu. Bukan karena tidak mengantuk β tubuhku lelah luar biasa β tapi karena setiap kali aku memejamkan mata, yang kulihat adalah wajah Pak Suryo di tepi tempat tidur, memegangi lututnya, dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh keras kepalanya.
Malam itu juga kami membawanya ke klinik terdekat yang buka dua puluh empat jam. Dokter jaga memeriksanya dengan senter dan tangan yang hati-hati, menekan lututnya dari berbagai sisi, menyuruhnya menekuk pelan-pelan, meluruskan pelan-pelan. Nadia menggenggam tanganku begitu erat sampai kukuku terasa di telapak tangannya β atau mungkin sebaliknya.
"Bukan patah, bukan geser," kata dokter akhirnya. "Kemungkinan besar ototnya kaget β kelelahan setelah latihan terlalu keras, ditambah satu gerakan salah waktu berdiri. Ini bengkak ringan. Obat antiradang, kompres dingin, istirahat total dua hari. Tidak boleh latihan dulu."
"Total?" tanya Pak Suryo. "Dok, besok tenda dipasang. Lusaβ"
"Lusa Bapak istirahat," potong dokter itu dengan tegas tapi ramah. "Kalau Bapak memaksa, yang bengkak ringan ini bisa jadi bengkak serius. Dan kalau bengkak serius, bukan cuma jalan ke pelaminan yang batal β jalan ke kamar mandi pun susah."
Ruangan klinik itu hening. Pak Suryo menatap lantai. Nadia menatapku. Aku menatap dokter, lalu mengangguk.
"Dua hari, Pak," kataku di perjalanan pulang. "Dua hari Bapak jadi raja. Makan diantar, jalan dilarang, latihan libur. Saya yang jadi pengawasnya."
"Pengawas kok galak," gerutu Pak Suryo, tapi ia tidak membantah β dan itu, justru itu, yang membuatku khawatir: Pak Suryo yang tidak membantah adalah Pak Suryo yang benar-benar takut.
Dua hari istirahat itu adalah dua hari terpanjang dalam tiga bulan ini. Tenda dipasang di halaman tanpa Pak Suryo yang mengawasi β ia hanya boleh melihat dari jendela, menggerutu karena posisi tenda "sedikit miring ke kiri," yang menurut ibunya Nadia sebenarnya lurus-lurus saja. Kursi plastik datang, ditata berderet. Ibu-ibu tetangga mulai datang membantu, membawa panci dan baskom, dan rumah itu berubah menjadi dapur besar yang sibuk dan hangat.
Aku membagi waktuku antara membantu persiapan dan menjaga Pak Suryo β dan di sela-sela itu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan kulihat: Nadia, di tengah semua kesibukan, duduk di samping ayahnya setiap kali ada jeda, membacakan daftar tamu, menanyakan pendapatnya soal susunan acara, membuatnya merasa tetap menjadi kepala keluarga walau sedang dilarang berjalan.
"Ayah, nanti pas ijab, ayah duduk di mana?" tanya Nadia.
"Di samping kamu, Nduk," kata Pak Suryo. "Di mana lagi?"
"Terus pas jalan ke depan?"
Pak Suryo diam sejenak. Lalu ia berkata, "Nduk, ayah janji satu hal: ayah akan jalan. Tapi kalau nanti di tengah jalan lutut ayah nggak kuat... kamu jangan berhenti. Kamu jalan terus. Ayah akan dorong kamu dari belakang β pakai tangan, pakai suara, pakai apa aja. Yang penting kamu sampai."
Nadia mengangguk sambil menahan tangis. Aku, yang berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan teh, menahan napas β karena aku tahu, kalimat itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah rencana cadangan seorang ayah yang sudah berdamai dengan kemungkinan terburuk, dan tetap memilih untuk mengantar anaknya dengan cara apa pun.
Hari kedua istirahat, bengkaknya berkurang. Pak Suryo bisa menekuk lutut tanpa meringis. Dokter klinik yang kami telepon berkata, "Boleh latihan ringan besok pagi, tapi hanya sepuluh langkah, dan harus ada yang memegangi."
Sepuluh langkah. Dari gerbang ke teras, jaraknya sekitar empat puluh langkah. Tapi sepuluh langkah yang benar jauh lebih berharga daripada empat puluh langkah yang dipaksakan β itu yang kukatakan pada Pak Suryo pagi itu, sambil memeganginya di halaman yang kini sudah beratap tenda.
Ia berjalan sepuluh langkah. Pelan. Tegak. Tanpa meringis.
"Sepuluh langkah yang bagus, Pak," kataku.
"Sepuluh langkah yang menyebalkan," katanya, tapi senyumnya kembali β senyum Pak Suryo yang asli, yang keras kepala dan hidup.
Siang itu, sehari sebelum hari H, rumah itu sibuk seperti pasar pagi. Aku membantu mengangkat meja, menata kursi, memastikan kabel sound system tidak melintang di jalur jalan β jalur yang besok akan dilalui Pak Suryo dan Nadia. Setiap kali aku melihat jalur itu, dari gerbang menuju teras, jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Empat puluh langkah. Besok, empat puluh langkah itu adalah segalanya.
Sore harinya, Nadia menarikku ke samping rumah β ke tempat yang agak sepi, di antara jemuran dan pohon pisang.
"Mas," katanya, "aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
Ia menggenggam tanganku. "Apa pun yang terjadi besok β ayahku jalan sampai depan, atau ayahku harus berhenti di tengah dan aku jalan sendiri β aku tetap menikah dengan Mas. Janji ayahku itu bukan beban buatku. Itu... hadiah. Karena ayahku, sampai detik terakhir, masih berusaha mengantarku."
Aku mengangguk. "Aku tahu, Nad."
"Dan Mas," lanjutnya, matanya berkaca-kaca, "kalau besok ayahku berhenti di tengah jalan... Mas jemput aku ya. Mas jalan ke tengah, gandeng aku, dan kita jalan bareng ke depan. Bukan karena ayahku gagal β tapi karena kita semua, satu keluarga, yang mengantar aku."
Kalimat itu membuat dadaku sesak. Aku memeluknya β pelan, lama β di antara jemuran yang bergoyang ditiup angin sore.
"Besok," bisikku, "apa pun yang terjadi, kita jalan bareng. Bertiga. Berempat. Se-keluarga."
Malam sebelum hari H, rumah itu akhirnya tenang. Tenda sudah berdiri. Kursi sudah berderet. Di dapur, masakan untuk besok sudah setengah jadi, ditutup kain bersih. Ibunya Nadia tertidur di kursi sambil memegang tasbih. Adik Nadia tertidur di kamar dengan daftar tugas masih menempel di dahinya β ia tertidur sambil memeriksa daftar.
Aku dan Nadia duduk di teras β teras yang sama, di tempat yang sama dengan tiga bulan lalu, hanya saja kali ini bukan di rumah sakit, melainkan di rumah yang besok akan menjadi tempat kami menikah.
"Mas ingat nggak," kata Nadia pelan, "tiga bulan lalu, di teras rumah sakit, aku nanya: Mas mau nunggu?"
"Aku ingat."
"Dan Mas jawab..."
"Aku jawab: tiga bulan itu bukan penantian. Itu persiapan."
Nadia tersenyum. "Besok, persiapannya selesai."
"Besok," kataku, "persiapan yang lain dimulai. Yang seumur hidup."
Kami duduk diam cukup lama, mendengarkan suara jangkrik dan sesekali suara motor dari jalan raya. Di dalam rumah, Pak Suryo sudah tidur β tidur yang, semoga, cukup nyenyak untuk lututnya.
Pagi hari H datang dengan cara yang paling biasa sekaligus paling luar biasa: azan subuh, bau masakan dari dapur, ibu-ibu tetangga yang datang lebih pagi dari ayam, dan Nadia yang berdandan di kamar dengan ibunya dan adiknya β sementara aku, di kamar sebelah, memakai batik dengan tangan yang sedikit gemetar, dibantu Pak Suryo yang... menunggu.
Ya β Pak Suryo menungguku di kamar itu. Ia duduk di kursi, memakai batik terbaiknya, tongkatnya bersandar di dinding β bukan karena ia akan memakainya, tapi karena, katanya, "tongkat ini saksi, Gas. Kalau lutut saya menyerah di tengah jalan, tongkat ini yang gantiin saya pegang tangan Nadia."
Aku menatapnya. "Pak, hari ini Bapak nggak boleh menyerah. Hari ini Bapak jalan."
"Insya Allah," katanya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menambahkan gurauan apa-apa. Ia hanya menatapku, lalu berkata, "Gas, terima kasih. Karena kamu, anak saya tidak perlu jadi pundak pertama sendirian lagi."
Aku tidak sempat menjawab β karena dari luar terdengar suara musik mulai dibunyikan, suara tamu mulai berdatangan, dan suara pembawa acara yang mengumumkan bahwa prosesi akan segera dimulai.
Kami berjalan ke pintu depan. Di gerbang halaman, di bawah pohon mangga, Nadia sudah berdiri β kebaya kremnya sederhana dan cantik, wajahnya tegang tapi bersinar. Ibunya mengusap pipinya sekali, lalu mundur. Adiknya memegang buket bunga kecil.
Pak Suryo berdiri di samping anaknya. Ia menarik napas panjang. Lalu ia mengulurkan lengannya, dan Nadia menyangkutkan tangannya di lengan ayahnya.
Aku berdiri di teras, di depan kursi pelaminan, menunggu β seperti yang sudah kulakukan selama tiga bulan ini, hanya saja kali ini bukan lagi menunggu jawaban, bukan lagi menunggu langkah pertama, bukan lagi menunggu kesembuhan. Kali ini aku menunggu seseorang yang berjalan ke arahku.
Musik mengalun. Semua tamu berdiri.
Pak Suryo melangkah. Satu langkah. Nadia melangkah bersamanya. Dua langkah. Tiga langkah. Langkah-langkah itu pelan, hati-hati, tapi tegak β dan setiap langkah terasa seperti tiga bulan yang dipadatkan menjadi satu detik.
Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Mereka melewati tengah halaman. Semua orang menahan napas. Ibunya Nadia memegang mulutnya dengan kedua tangan.
Tiga puluh langkah. Tinggal sepuluh langkah lagi menuju teras. Tinggal sepuluh langkah lagi menuju aku.
Dan tepat di langkah ketiga puluh satu β di tengah halaman, di depan semua tamu, di bawah tenda yang baru dipasang kemarin β lutut kanan Pak Suryo bergetar. Bukan getaran kecil. Getaran yang terlihat jelas, yang membuat langkahnya terhenti di udara, dan tubuhnya limbung ke samping.
Nadia mencengkeram lengan ayahnya. Semua tamu berseru tertahan. Ibunya Nadia berdiri dari kursinya.
Aku β tanpa berpikir, tanpa menunggu aba-aba, tanpa peduli pada susunan acara β sudah melangkah turun dari teras, berjalan cepat ke tengah halaman, ke arah mereka berdua.
Dan di sanalah chapter ini berhenti: di tengah halaman, dengan satu lutut yang bergetar, satu tangan anak perempuan yang mencengkeram lengan ayahnya, dan satu laki-laki yang sedang berlari kecil menuju mereka β belum sampai, belum tahu apakah ia akan sampai tepat waktu, dan belum tahu apakah tiga bulan persiapan ini akan berakhir dengan langkah terakhir yang sempurna, atau dengan sesuatu yang sama sekali berbeda.