Nomor Empat Belas
Pundak Pertama β’ 1,423 kata
Bus berangkat sebelum subuh, dan Bude sudah menunggu di teras dengan sebungkus nasi dan sebotol teh manis.
"Buat di jalan," katanya, menyelipkan bungkusan itu ke tasku. Tangannya dingin. "Telepon Bude kalau sudah sampai. Jangan lupa makan. Jangan naik ojek yang ugal-ugalan."
"Bude cerewet," godaku, tapi suaraku serak.
"Bude sayang," balasnya, dan kami berpelukan lama. Di bahunya yang kecil itu, aku mencium bau minyak kayu putih dan bau dapur β bau rumah.
Sepupuku sudah menunggu dengan motornya di depan pagar, mesin menyala, asap knalpot mengepul di udara subuh yang dingin. Sama seperti kemarin sore saat ia menjemputku di terminal β hanya saja kali ini arahnya sebaliknya.
Sebelum naik motor, aku menengok ke kamar Nenek.
Ia tidur. Napasnya pelan dan teratur. Di meja samping tempat tidurnya, tumpukan surat berikat rafia itu diam seperti gundukan salju. Aku berjongkok di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya yang kecil dan dingin, dan berbisik:
"Nek, Bagas pergi dulu. Bagas mau... mengetuk pintu pelan-pelan."
Nenek menggumam dalam tidurnya. Tangannya meremas tanganku lemah sekali. Lalu, nyaris tidak terdengar:
"Hati-hati..."
Aku menahan napas sampai di teras.
Perjalanan ke terminal kecamatan hanya lima belas menit, tapi terasa seperti perpisahan yang panjang. Sepupuku tidak banyak bicara β ia tahu. Di terminal yang masih sepi, ia menepuk bahuku sekali, keras, seperti caranya berkata "jaga diri" tanpa kata-kata.
Bus ekonomi itu berangkat tepat saat azan subuh berkumandang dari masjid dekat terminal. Aku duduk di dekat jendela, nasi bungkus Bude di pangkuan, dan menatap kampung yang perlahan menghilang di balik kabut pagi.
Empat jam. Mungkin lima, kalau macet di pintu masuk kota.
Aku membuka nasi bungkus itu β nasi hangat, ayam goreng, sambal, lalapan. Makanan Bude selalu punya rasa yang tidak bisa kutiru: rasa rumah. Aku makan pelan-pelan, menatap sawah-sawah yang berganti menjadi permukiman, permukiman yang berganti menjadi ruko-ruko.
Pikiranku melayang.
Sejak umur delapan belas tahun, aku adalah tiang penyangga. Transfer setiap bulan β tidak pernah telat, bahkan saat aku sendiri makan mie instan tiga hari berturut-turut di kos. Biaya atap Nenek. Biaya berobat Ibu waktu sakit tifus dua tahun lalu. Uang saku adik... tidak, aku anak pertama, tidak punya adik yang kusebut β tapi ada sepupu-sepupu yang kuliah dengan bantuanku diam-diam.
Aku tidak mengeluh. Sungguh. Setiap transfer yang kukirim adalah bukti bahwa aku berguna. Bahwa kepergianku ke kota tiga belas tahun lalu bukan kesia-siaan.
Tapi pagi ini, di bus yang berguncang ini, aku bertanya pada diriku sendiri untuk pertama kalinya: kapan terakhir kali aku melakukan sesuatu bukan karena kewajiban, tapi karena... hati?
Jawabannya menatapku dari dalam tas: amplop cokelat berisi foto 1974.
Aku teringat hari pertama aku merantau. Terminal yang sama β hanya saja waktu itu terminalnya lebih kecil, lebih kumuh. Aku delapan belas tahun, dengan tas ransel butut dan ijazah SMA yang masih bau tinta fotokopi. Ibu menangis di bahuku sampai kerudungnya basah. Dan Bude β Bude yang sama yang tadi pagi memelukku β menyelipkan kantong kain ke sakuku sambil berbisik: "Jangan dibuka di sini. Buka di bus."
Di dalam bus, kubuka kantong itu: uang kertas lusuh sejumlah... tidak banyak. Tapi ada selembar kertas kecil: "Jaga nama baik. Pulang kalau rindu. β Bude."
Uang itu habis dalam seminggu. Kertas itu kusimpan sampai sekarang, di dompetku, sudah menguning.
"Aku akan mengubah nasib keluarga ini," kataku pada diriku sendiri waktu itu, menatap kota yang mendekat dari jendela bus.
Tiga belas tahun kemudian, aku menatap kota yang sama dari jendela bus yang berbeda, dan bertanya: apakah aku sudah mengubahnya? Atau aku hanya menjadi mesin transfer yang berjalan?
Bus berhenti di terminal kota tepat pukul sembilan pagi.
Kota ini tidak terlalu besar β kota kabupaten, jalan utamanya satu, sisanya gang-gang. Tapi bagiku yang tumbuh di kampung, tiga belas tahun lalu kota ini terasa seperti Jakarta. Sekarang ia terasa... kecil. Atau mungkin aku yang membesar.
Aku bertanya ke tukang ojek pangkalan tentang Jl. Kenanga.
"Kenanga? Sekarang namanya Jalan Merdeka, Mas," katanya. "Diganti tahun delapan puluhan. Mau ke nomor berapa?"
"Nomor 14."
Tukang ojek itu tertawa. "Wah, nomor-nomor lama sudah tidak dipakai, Mas. Tapi lokasinya sekitar... deretan ruko dekat pasar. Saya antar?"
Aku naik. Sepuluh menit kemudian, aku berdiri di depan deretan ruko cat warna-warni yang persis seperti diceritakan Bude. Di salah satunya β cat hijau pudar β ada plang: "TOKO KELONTONG SUMBER REJEKI".
Jantungku berdegup kencang. Ini dia. Tanah di mana dulu berdiri rumah nomor 14. Tanah di mana Yati pernah tinggal.
Aku masuk. Bau khas toko kelontong menyambutku: sabun, kopi, minyak tanah, plastik. Di balik etalase kaca, seorang bapak tua β mungkin tujuh puluhan β duduk di kursi plastik, menonton TV kecil yang menayangkan sinetron.
"Permisi, Pak," sapaku. "Boleh tanya-tanya?"
Bapak itu menoleh. "Mau beli apa, Mas?"
"Bukan beli, Pak. Saya mencari... orang yang dulu tinggal di sini. Sudah lama sekali."
Aku mengeluarkan foto 1974 dari amplopnya β dengan tangan yang gemetar, kusodorkan pada bapak itu.
Ia memicingkan mata, mendekatkan foto itu ke wajahnya. "Waduh... foto lama sekali ini." Ia menatap lama. "Ini... siapa, Mas?"
"Kemungkinan besar, salah satunya bernama Yati, Pak. Dulu tinggal di rumah nomor 14, di tanah ini, sebelum jadi ruko."
Bapak itu mengerutkan kening, berpikir keras. Lalu matanya melebar sedikit. "Yati? Bu Yati?" Ia mengangguk-angguk pelan. "Saya masih kecil waktu itu, Mas. Tapi saya ingat... dulu di sini memang ada rumah kayu besar. Keluarganya... pindah. Sudah puluhan tahun lalu."
"Pindah ke mana, Pak?"
"Ke ujung kota, kalau tidak salah. Kampung Sengon, dekat makam tua." Ia menunjuk ke arah timur. "Naik angkot jurusan terminal lama, turun di perempatan makam, tanya saja rumah Bu Yati. Orang sana kenal."
Tanganku gemetar saat menyelipkan kembali foto itu ke amplop. Kampung Sengon β sama persis dengan catatan Bude lima belas tahun lalu.
"Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama, Mas." Ia menatapku penasaran. "Mas ini... keluarganya?"
"Cucunya," kataku. "Cucu dari kakaknya."
Bapak itu mengangguk, dan ada sesuatu di matanya β pengertian, atau mungkin kasihan. "Semoga ketemu, Mas."
Angkot jurusan terminal lama penuh sesak. Aku berdiri bergantungan, tas di dada, amplop di saku dalam jaket β di tempat paling aman. Di luar, langit yang tadi cerah mulai menggelap. Gerimis mulai turun saat angkot berhenti di perempatan makam tua.
Kampung Sengon. Gang-gang sempit di antara rumah-rumah tua. Bau tanah basah. Suara ayam. Seorang ibu yang sedang menjemur pakaian menunjuk saat kutanya rumah Bu Yati: "Lurus, belok kiri di pohon jambu. Rumah cat biru, pintunya kayu."
Rumah cat biru. Catnya sudah mengelupas di sana-sini, memperlihatkan kayu di bawahnya yang menghitam dimakan usia. Pintu kayu yang lapuk. Di teras kecil, ada pot-pot tanaman yang dirawat dengan teliti β seseorang yang tinggal di sini masih peduli pada keindahan.
Hujan mulai deras. Aku berteduh di emperan kecil dan mengetuk pintu.
Sekali. Sunyi.
Dua kali, lebih keras. Terdengar langkah kaki di dalam β pelan, terseret.
Pintu terbuka sedikit. Seorang perempuan paruh baya β mungkin lima puluhan β mengintip dari celah. Wajahnya waspada.
"Cari siapa?" tanyanya.
Tenggorokanku kering. "Permisi, Bu... saya mencari Bu Yati."
"Untuk apa?"
Aku menelan ludah. Hujan berderai di atap seng emperan. "Saya Bagas. Nenek saya..." β aku berhenti sejenak, memilih kata-kata β "...kakak kandungnya Ibu Yati."
Perempuan itu diam. Celah pintu tidak bergerak.
Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan foto 1974 dari amplopnya. Kertas foto itu sudah lemas dimakan usia, tapi dua perempuan muda di dalamnya masih tersenyum β Nenek dengan sanggul rapi, Yati dengan kepang dua dan tawa yang hampir terdengar.
Aku menyodorkannya ke celah pintu.
Perempuan itu menatap foto itu. Lama. Wajah waspadanya perlahan berubah β seperti es yang retak.
"Ibu sudah meninggal," katanya pelan. "Tiga tahun lalu."
Dadaku sesak. Udara hujan yang dingin tiba-tiba terasa menyesakkan. Tiga tahun. Nenek menulis surat setiap Jumat sampai dua tahun lalu β ke alamat yang salah β untuk adik yang sudah... tidak ada.
"Tapi..." Perempuan itu menatapku β benar-benar menatapku sekarang, "sebelum pergi, Ibu titip sesuatu. Katanya, kalau suatu hari ada yang datang membawa foto ini..." Suaranya bergetar. "Berikan."
"Tunggu di sini."
Ia menghilang ke dalam rumah, membiarkan pintu terbuka sedikit. Aku berdiri di emperan kecil itu, hujan menderas di sekelilingku, jantungku berdegup begitu kencang sampai aku bisa mendengarnya mengalahkan suara hujan.
Langkah kaki kembali. Perempuan itu muncul dengan sebuah kotak kayu kecil di tangannya β gelap dimakan usia, ukurannya tidak lebih besar dari kotak sepatu anak-anak. Ia mengulurkannya padaku dengan kedua tangan, seperti menyerahkan sesuatu yang suci.
Aku menerimanya dengan kedua tanganku.
Kotak itu ringan. Terlalu ringan untuk menyimpan puluhan tahun.
Jariku berhenti di tutupnya.