Ruang Tunggu
Pundak Pertama β’ 1,549 kata
Aku terbangun karena azan subuh dari musala rumah sakit. Leherku pegal β aku tertidur sambil duduk di kursi koridor, Nadia masih bersandar di bahuku dengan jaketku sebagai bantal. Suster lewat sambil tersenyum kecil melihat kami.
Nadia menggeliat bangun. "Jam berapa, Mas?"
"Setengah lima."
"Operasi jam tujuh." Ia langsung duduk tegak, sisa kantuknya hilang seketika. "Aku mau lihat ayah dulu."
Pak Suryo sudah bangun β dimandikan suster, dipasangi infus baru, wajahnya tegang. Rahasia semalam masih kusimpan rapat-rapat. Aku hanya menggenggam bahunya sebentar sebelum ia didorong ke ruang operasi.
"Jangan takut, Pak," bisikku.
Ia menatapku β dan di matanya ada rasa terima kasih karena aku tidak mengatakannya di depan anaknya.
Pintu ruang operasi tertutup. Lampu merah menyala.
Dan dimulailah bagian paling panjang dalam hidupku: menunggu.
Nadia duduk di bangku koridor, meremas-remas ujung kerudungnya. Ibunya datang jam enam β membawa baju ganti dan wajah yang sedikit lebih segar. Kami bertiga duduk berderet, tidak banyak bicara. Kadang diam adalah bahasa yang paling jujur.
Jam setengah tujuh, ponsel Nadia berdering. Ia mengangkat dengan wajah bingung.
"Halo? ... Dek? Kamu di mana? Kok rame?"
Wajahnya berubah. "APA? Kamu di terminal? Terminal mana? ... Cirebon?!"
Ibunya langsung menoleh. "Siapa, Nduk?"
Nadia menutup telepon dengan tangan gemetar. "Adek. Dia nekat naik bus malam ke sini. Udah sampai terminal Cirebon."
"Ya Allah, anak itu!" Ibunya berdiri panik. "Ujiannya gimana?"
"Katanya ujiannya dimajuin dosennya, udah selesai kemarin sore. Terus dia langsung ke terminal." Nadia menggeleng, antara kesal dan terharu. "Bocah."
Aku langsung berdiri. "Aku jemput. Terminalnya di mana?"
Nadia menatapku β lalu mengangguk. "Aku ikut. Ibu tunggu di sini ya, Bu. Operasi bentar lagi selesai."
Di terminal yang masih sepi pagi itu, kami menemukan adik Nadia β perempuan sembilan belas tahun dengan ransel besar dan mata sembab, duduk sendirian di bangku plastik. Begitu melihat kakaknya, ia langsung berlari dan memeluk.
"Kak! Ayah gimana?"
"Baru masuk ruang operasi, Dek." Nadia memeluk adiknya erat, lalu memukul pelan bahunya. "Kamu tuh ya! Disuruh di kos malah kabur!"
"Aku nggak bisa diem di kos, Kak! Kepikiran terus!" Adiknya menangis. Lalu ia menoleh padaku. "Ini... Mas Bagas?"
Aku mengangguk dan menyalaminya. "Namaku Bagas, Dek."
"Oh." Ia menatapku lama, lalu berbisik ke kakaknya β cukup keras sampai aku dengar β "Ganteng juga, Kak."
"Dek!" Nadia mencubit lengan adiknya. Aku tertawa β tawa pertama pagi itu, dan rasanya seperti jendela dibuka.
Di perjalanan kembali ke rumah sakit naik ojek online, adik Nadia bercerita: ia mengerjakan ujian dengan tangan gemetar, keluar ruangan langsung lari ke terminal, naik bus ekonomi sembilan jam. "Aku bawa bekal rendang kosan, Kak. Buat ayah. Eh, ayah kan nggak boleh makan dulu ya?"
"Belum, Dek. Nanti kalau udah boleh."
Kami tiba kembali jam delapan lewat. Lampu ruang operasi masih merah. Ibunya menunggu dengan cemas, dan begitu melihat anak bungsunya, langsung memeluk sambil menangis.
"Nak... kamu kok kesini..."
"Bu..." Adiknya menangis di pelukan ibunya.
Aku melihat Nadia memandangi mereka β dan ada sesuatu di wajahnya. Lega. Seperti orang yang tadinya memikul sendirian, lalu tiba-tiba ada tangan lain yang ikut mengangkat.
Jam sembilan kurang seperempat, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar dengan masker masih terpasang, matanya tersenyum.
"Operasinya lancar," katanya. "Ligamennya sudah diperbaiki. Gula darah selama operasi terkontrol berkat tim penyakit dalam."
Ibunya Nadia langsung sujud syukur di koridor β tidak peduli lantai rumah sakit. Adiknya memeluk kakaknya sambil menangis. Nadia menatapku β dan aku mengangguk. Kami tidak perlu berkata apa-apa.
Pak Suryo dipindah ke ruang perawatan. Masih setengah sadar pengaruh bius, wajahnya pucat tapi napasnya teratur. Dokter penyakit dalam datang siang harinya β perempuan paruh baya yang tegas.
"Pak Suryo harus minum obat diabetes setiap hari, seumur hidup," katanya tanpa basa-basi. "Kontrol gula dua minggu sekali tiga bulan pertama. Makanan dijaga β nasi dikurangi, gorengan dikurangi, teh manis stop."
"Teh manis stop?!" Pak Suryo yang baru sadar setengah langsung protes lemah. "Dok, saya supir. Teh manis itu bahan bakar."
"Supir yang sudah tidak boleh nyetir jarak jauh," kata dokter tenang. "Bahan bakarnya ganti air putih."
Kami semua tertawa β termasuk Pak Suryo, pelan. Dokter itu tersenyum. "Bapak istirahat total tiga bulan. Setelah itu aktivitas ringan boleh. Menyetir jarak jauh β" ia menatap Pak Suryo lurus-lurus, "tidak lagi. Itu final."
Pak Suryo mengangguk pelan. Tidak protes. Mungkin bius masih bekerja. Mungkin juga ia sudah mulai menerima.
Siang itu, setelah Pak Suryo tertidur lagi, kami berkumpul di kantin rumah sakit β aku, Nadia, ibunya, adiknya, dan Slamet yang datang membawa kabar orderan. Di atas meja kantin yang lengket, di antara teh kotak dan gorengan, kami mengadakan rapat keluarga paling serius dalam hidup Nadia.
"Jadi gini," kata Nadia, membuka catatan di ponselnya. Ia sudah menelepon leasing tadi pagi β suaranya tegas seperti orang rapat kantor. "Cicilan truk tinggal sebelas bulan, per bulannya tiga juta empat ratus. Kalau truk disewakan ke Slametβ"
"Eh, Mbak, sayaβ" Slamet mengangkat tangan gugup.
"Denger dulu, Met," kata Nadia. "Kamu mau sewa truk ayahku? Kamu yang bawa, kamu yang cari orderan. Setor ke kami dua juta per bulan. Selisihnya β satu juta empat ratus β kami yang tutup."
Sunyi di meja itu. Ibunya menghitung dengan jari. Adiknya menatap kakaknya dengan kagum.
"Terus satu juta empat ratusnya dari mana, Nduk?" tanya ibunya pelan.
"Dari gajiku, Bu." Nadia menatapku. "Dan... kita lihat nanti. Mungkin aku ambil freelance tambahan."
Aku menatap perempuan di depanku ini β yang dua hari lalu menangis di bahuku di bus malam, yang kemarin gemetar menggenggam tanganku di depan ruangan dokter. Sekarang ia memimpin rapat keluarga dengan catatan di ponsel dan hitungan yang rapi.
Inilah pundak pertama yang baru. Dan ia tidak sedang belajar β ia sudah bisa.
"Atau," kata Slamet pelan, "ada opsi lain, Mbak."
Kami semua menoleh.
"Pakde saya β punya armada kecil di Tegal. Dia lagi cari truk bekas buat nambah unit. Kalau truk Pak Suryo dijual ke dia..." Slamet menatapku, lalu Nadia. "Saya udah tanya kisarannya. Harganya nutup sisa cicilan, masih sisa sedikit. Terus Pakde saya mau saya yang bawa truk itu β jadi saya tetap kerja, gajinya malah naik karena armada resmi."
"Jual?" Ibunya terkejut. "Tapi ayahmu bilang jangan dijualβ"
"Ayah bilang jangan dijual waktu masih emosi, Bu," kata Nadia pelan. "Kita tanya lagi nanti. Dengan kepala dingin."
Aku diam cukup lama. Lalu aku bicara β bukan sebagai calon mantu yang ngatur, tapi sebagai orang yang pernah ada di posisi ini.
"Nad," kataku, "waktu bapakku meninggal, ibuku disodorin pilihan yang sama: pertahanin warung di pasar yang sepi, atau tutup dan mulai dari nol. Ibu milih pertahanin β tiga tahun. Tiga tahun kami makan seadanya demi gengsi 'punya usaha'." Aku menatapnya. "Kadang yang paling sayang sama kita itu bukan barangnya. Tapi keberanian buat ngelepas."
Nadia menatapku lama. Lalu mengangguk pelan.
Sore harinya, Pak Suryo sudah sadar penuh. Kami masuk bergantian β pertama ibunya dan adiknya. Dari luar aku mendengar adiknya menangis, "Ayah..." dan suara Pak Suryo yang serak, "Udah, udah, ayah nggak kemana-mana."
Lalu giliran Nadia. Aku menunggu di luar, memberi mereka ruang. Lima belas menit kemudian Nadia keluar β matanya merah, tapi wajahnya tenang.
"Udah aku ceritain semua, Mas. Soal gula, soal obat, soal..." ia menarik napas, "soal truk."
"Terus?"
"Katanya pikir-pikir dulu." Ia tersenyum tipis. "Itu bahasa ayahku buat 'aku udah mau tapi gengsi ngaku'."
Aku tertawa. "Kamu hafal banget."
"Anaknya, Mas."
Menjelang magrib, aku dan Nadia duduk di teras rumah sakit β tempat yang sama seperti semalam, tapi suasananya beda. Semalam kami menunggu kabar buruk. Malam ini kami menunggu kesembuhan.
"Mas," kata Nadia pelan, "tadi waktu rapat di kantin... aku ngerasa kayak Mas. Tiga belas tahun lalu."
"Maksudnya?"
"Waktu pertama kali Mas sadar Mas itu pundak pertama. Pasti rasanya kayak tadi β perut mual, kepala penuh angka, tapi nggak boleh kelihatan panik." Ia menatapku. "Berat ya, Mas?"
"Berat," kataku jujur β kalimat yang sama seperti semalam. "Tapi tadi aku lihat kamu... dan aku nggak khawatir sama sekali."
"Bohong."
"Beneran." Aku menggenggam tangannya. "Soalnya sekarang pundaknya ada dua. Kalau kamu capek, aku yang gantian. Kalau aku capek..." aku tersenyum, "aku sandaran ke kamu. Kayak semalam."
Ia bersandar di bahuku β sudah jadi kebiasaan, dua malam ini. "Mas, janji ya? Kita gantian terus. Jangan sampai satu pundak patah sendirian."
"Janji."
Kami duduk diam sampai azan magrib berkumandang. Lalu suster keluar tergesa-gesa.
"Mbak Nadia? Bapak Suryo sadar penuh. Katanya mau bicara. Sama Mbak."
Nadia langsung berdiri. Aku ikut masuk β tapi di depan pintu, ia menahanku pelan. "Biar aku dulu, Mas. Urusan ayah-anak."
Aku mengangguk dan menunggu di koridor. Lima menit. Sepuluh menit. Lalu pintu terbuka β Nadia keluar dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
"Mas," katanya pelan. "Ayah bilang..."
"Apa?"
Ia menatapku β matanya berkaca, suaranya bergetar.
"Jual aja, Nduk. Ayah udah nggak kuat."