Ruang Tunggu
Pundak Pertama β’ 1,229 kata
Dua hari kemudian, Bagas berdiri di bilik las nomor tujuh dengan topeng sudah turun β tetapi tangannya bergetar.
Tangan yang disebut Pak Bambang jujur. Tangan yang dua hari lalu mantap menandatangani surat utang. Hari ini tangan itu bergetar seperti daun, karena pikirannya berada dua ratus kilometer jauhnya: di ruang tunggu rumah sakit kota, di samping Bapak yang pagi ini sedang di-CT scan.
Ponselnya tersimpan di loker. Setiap istirahat ia berlari memeriksanya.
Pesan-pesan dari Ibu berdatangan seperti tetesan air:
"Sudah daftar, Nak. Antre nomor 14."
"Bapak disuruh puasa dari semalam. Beliau lapar tapi tidak berani protes. Ibu yang protes."
"Bapak masuk ruangan, Nak. Doakan."
Pesan terakhir masuk pukul sembilan pagi. Sekarang pukul sepuluh, dan tidak ada kabar lagi. Bagas menatap sambungan las di depannya β maniknya bergelombang, tidak rapi. Jelek. Memalukan.
"Bagas."
Ia mengangkat topengnya. Pak Bambang berdiri di belakangnya, menatap hasil kerjanya.
"Tanganmu tidak jujur hari ini," kata Pak Bambang.
Bagas menunduk. "Maaf, Pak. Bapak saya... hari ini CT scan-nya."
Pak Bambang diam lama. Lalu β di luar dugaan β ia menarik sebuah bangku kecil dan duduk di samping bilik las. Duduk. Pak Bambang tidak pernah duduk di bengkel.
"Dulu, waktu istri saya sakit," katanya pelan, "saya juga begitu. Tangan saya β tangan yang sudah mengelas dua puluh tahun β bergetar seperti tangan anak magang. Saya marah pada diri sendiri. Saya pikir: kamu profesional, kamu harus bisa memisahkan."
Ia menatap api las yang sudah padam di bilik Bagas.
"Tidak bisa," lanjutnya. "Ternyata tidak bisa. Dan itu bukan kegagalan. Itu tandanya kamu manusia."
Bagas menatap lelaki itu, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Api tidak menunggu orang yang pikirannya di tempat lain," kata Pak Bambang, berdiri kembali. "Tetapi kabur juga bukan jawaban. Jadi begini: satu sambungan. Pelan-pelan. Anggap setiap manik las itu doa untuk bapakmu."
Ia berjalan pergi, meninggalkan Bagas dengan bangku kecil yang masih hangat.
Bagas menurunkan topengnya. Dunia menyempit menjadi titik cahaya biru-putih.
Satu sambungan. Pelan-pelan.
Ia mengelas seperti tidak pernah mengelas sebelumnya β bukan dengan kecepatan, bukan dengan teknik, tetapi dengan seluruh hatinya yang sedang menunggu kabar. Setiap manik las ia iringi dengan doa yang tidak terucap: untuk Bapak, untuk Ibu, untuk hasil yang baik.
Ketika ia mengangkat topengnya empat puluh menit kemudian, di hadapannya tergeletak sambungan paling rapi yang pernah ia buat. Maniknya tersusun seperti tasbih β satu demi satu, sabar, utuh.
Pak Bambang lewat, berhenti, memeriksa. Lama.
"Doa yang rapi," katanya β dan berjalan pergi. Tetapi Bagas melihatnya: sudut bibir lelaki itu terangkat sedikit. Sedikit sekali. Tetapi itu adalah senyum pertama Pak Bambang yang pernah ia lihat.
Malam itu, telepon yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Bukan dari Ibu β dari Bapak sendiri.
Bagas menatap layar ponselnya lama sebelum mengangkat. Nama "Bapak" menyala. Jantungnya berdebar sampai ke tenggorokan.
"Halo? Pak?"
"Bagas." Suara bapaknya terdengar lelah β lebih tua dari yang Bagas ingat. "Kamu sehat?"
"Sehat, Pak. Bapak... Bapak bagaimana? CT scan-nya sudah?"
"Sudah. Hasilnya besok." Bapak terdiam sebentar. "Bagas... Bapak menelepon bukan soal itu."
Bagas duduk tegak di tepi ranjang. Di sekelilingnya, kamar nomor tujuh mendadak terasa terlalu sunyi β Wahyu dan Yoga pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing, memberi ruang.
"Bapak minta maaf, Nak."
"Pak, janganβ"
"Dengar dulu." Napas Bapak terdengar berat di seberang. "Bapak tahu kamu pinjam uang untuk Bapak. Ibumu cerita. Bapak... Bapak malu, Nak. Seharusnya Bapak yang memberimu, bukan kamu yang..."
"Pakβ"
"Dulu Bapak juga anak pertama." Suara Bapak pelan, seperti membuka kotak yang sudah lama dikunci. "Waktu kakekmu sakit β kakekmu yang belum pernah kamu kenal β Bapak berhenti sekolah. Kelas dua SMA. Bapak tidak menyesal, Nak. Tetapi Bapak selalu bertanya-tanya, diam-diam, kalau malam: jadi apa Bapak kalau waktu itu Bapak selesai?"
Bagas mencengkeram ponselnya. Di kepalanya, sesuatu bergeser β seperti fondasi rumah yang selama ini ia kira batu, ternyata menyimpan ruang bawah tanah.
"Jangan ulangi Bapak, Nak," kata bapaknya. "Kamu jangan berhenti untuk Bapak. Apapun hasil CT scan besok β apapun β Bapak sudah siap. Yang Bapak belum siap: anak Bapak berhenti di tengah jalan."
Air mata Bagas jatuh ke layar ponsel. Ia menghapusnya cepat-cepat dengan punggung tangan.
"Pak..."
"Selesaikan, Bagas. Itu saja pesan Bapak."
Sambungan terputus. Bagas duduk lama di tepi ranjang, ponsel masih menempel di telinga, mendengarkan nada sibuk yang tidak tersambung ke siapa pun β persis seperti dua malam lalu, ketika Ibu menelepon. Bedanya: malam ini, dadanya terasa penuh. Bukan ringan. Penuh β seperti sawah yang baru diairi.
"Gas?" Wahyu mengulurkan segelas air putih. Tidak bertanya apa-apa. Tidak perlu.
Keesokan harinya adalah hari terpanjang kedua dalam hidup Bagas β setelah malam terpanjang dua hari lalu.
Ia mengelas dengan tangan yang mantap, tetapi setiap bel istirahat ia berlari ke loker. Tidak ada pesan. Tidak ada pesan. Tidak adaβ
Pukul tiga sore, ponselnya bergetar.
Ibu menelepon. Suaranya bergetar β tetapi di balik getar itu ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang terdengar seperti tawa yang ditahan.
"Nak..."
"Bu? Bu, hasilnya bagaimana?"
"Tidak ada tumor, Nak. Tidak ada pendarahan." Isak ibunya pecah β isak lega yang tidak ditahan-tahan lagi. "Kata dokter, tekanan darah Bapak tinggi, saraf lehernya kejepit, ketegangan menahun. Harus minum obat, harus istirahat, tidak boleh angkat berat. Kata dokter..." ia tertawa di tengah tangisnya, "kata dokter, untung cepat diperiksa. Kalau dibiarkan, bisa stroke."
Bagas bersandar ke dinding loker. Kakinya lemas.
"Bapak... Bapak sekarang?"
"Tidur. Pertama kalinya dalam berbulan-bulan beliau tidur tanpa mengerang, Nak."
Sambungan terputus. Bagas berdiri lama di depan lokernya yang terbuka. Lalu ia berjalan β bukan ke bilik las, bukan ke kelas β ke belakang asrama, ke tempat jemuran yang sepi. Di sana, ia menangis.
Bukan tangis yang keras. Tangis yang diam, bahu berguncang, air mata jatuh ke tanah semen β tangis lega yang sudah ditahan terlalu lama oleh seorang anak pertama yang selalu disuruh kuat.
"Aku tahu kamu di sini."
Wahyu duduk di sampingnya, menyodorkan tisu. Tidak bertanya. Tidak menasihati. Hanya duduk.
"Nangis aja, Gas," katanya akhirnya. "Tapi jangan di depan Yoga. Nanti dia ikut nangis, repot. Air matanya mahal β dia anak kontraktor."
Bagas tertawa di tengah tangisnya β tawa yang aneh dan jujur dan melegakan.
Malam itu, Bagas menyerahkan surat utang yang sudah ia tulis β satu untuk Wahyu, satu untuk Yoga. Yoga menerima lipatannya, memasukkannya ke dompet dengan hati-hati.
"Aku simpan," katanya. "Biar kamu ingat kamu punya saudara."
Wahyu melipat kertasnya, memasukkannya ke saku. "Ibuku bilang: utang uang bisa lunas, utang budi jangan diniatkan lunas."
"Terus aku harus bayar pakai apa?" tanya Bagas.
"Pakai jadi orang yang selesai," kata Wahyu. "Itu kata bapakmu, kan?"
Keesokan paginya, Pak Bambang memanggil Bagas ke kantornya lagi. Kali ini bukan soal pabrik.
"Mereka ambil anak peringkat satu," kata Pak Bambang. "Tetapi mereka titip pesan untukmu: lulusan terbaik program ini selalu diterima. Dengan sertifikat nasional di tangan, gajinya bukan dua koma delapan lagi."
Bagas menatapnya. "Berapa, Pak?"
"Tiga setengah. Minimal."
Tiga setengah juta. Angka itu tidak menghantam seperti palu godam β kali ini ia mendarat seperti anak tangga. Tangga yang harus ia naiki satu per satu, dengan cara yang benar.
"Jadilah lulusan terbaik itu," kata Pak Bambang.
"Siap, Pak."
Malam itu, Bagas tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam seminggu. Bapak baik-baik saja. Program berlanjut. Utang tercatat. Jalan terbentang β sulit, tetapi jelas.
Pukul sepuluh malam, ponselnya bergetar di bawah bantal.
Ibu menelepon. Suaranya berbeda. Ragu-ragu. Seperti orang yang membuka pintu yang tidak ingin dibuka β persis seperti malam ia menelepon soal CT scan.
"Nak..."
"Iya, Bu? Bapak kenapa? Bapak baik-baik saja kan?"
"Bapak baik-baik saja, Nak. Bukan soal Bapak." Ibunya terdiam lama. Terlalu lama. "Nak... Ibu sudah lama mau cerita. Soal gelang nenekmu."
Bagas duduk tegak. Kantuknya hilang seketika.
"Kenapa, Bu? Gelangnya kenapa?"
Hening. Lalu suara ibunya β pelan, hati-hati, hampir berbisik:
"Gelang itu... sebenarnya tidak Ibu jual ke orang lain."