Tiga Bulan, Satu Jawaban
Pundak Pertama β’ 1,395 kata
Aku masih berdiri di teras ketika pintu ruangan tertutup di belakang Nadia. Bintang-bintang di atas Cirebon tidak bergerak, tapi dadaku bergerak β naik turun seperti orang yang baru saja disuruh menjawab soal ujian yang jawabannya sudah ia ketahui sejak lama, tapi tetap saja tangannya gemetar memegang pensil.
Tiga bulan. Nadia bertanya apakah aku mau menunggu tiga bulan.
Aku tersenyum sendiri dalam gelap, persis seperti kalimat terakhir yang kupikirkan sebelum ia dipanggil masuk: setelah tiga belas tahun memikul sendirian, apa sih artinya tiga bulan menunggu β kalau yang ditunggu adalah seseorang yang mau memikul bersamaku?
Tapi senyum itu tidak bertahan lama. Karena di balik pertanyaan Nadia ada pertanyaan lain yang tidak ia ucapkan: apakah aku sanggup menunggu tanpa mengubah apa-apa? Apakah tiga bulan itu akan kupakai untuk bersiap, atau hanya untuk menunda? Dan yang paling penting β apakah ayahnya benar-benar bisa berjalan tiga bulan lagi, atau kami sedang membangun sebuah harapan di atas lutut yang baru dioperasi?
Pintu berderit. Nadia keluar lagi, kali ini lebih pelan.
"Ayah cuma mau bilang besok pagi ia mau pulang pakai baju sendiri, bukan baju rumah sakit," katanya sambil tertawa kecil. "Katanya malu kalau tetangga lihat pakai baju pasien."
Aku tertawa. "Itu Pak Suryo banget."
Nadia berdiri di sampingku, tidak langsung bicara. Angin malam menggerakkan ujung kerudungnya. Lalu ia berkata, pelan sekali, "Jadi, Mas?"
Aku menoleh padanya. Di bawah lampu teras yang kuning redup, wajahnya tampak lelah β tiga hari nyaris tanpa tidur β tapi matanya jernih. Mata orang yang sudah memutuskan dan hanya menunggu pasangannya menyusul keputusan itu.
"Nad," kataku, "kamu ingat nggak, waktu aku ngelamar kamu, apa yang aku bilang?"
Ia mengangguk. "Mas bilang, aku nggak minta kamu berhenti jadi pundak pertama. Mas cuma minta, kalau capek, sandarannya pindah ke aku."
"Aku masih pegang kalimat itu," kataku. "Dan sekarang aku tambah satu kalimat lagi: tiga bulan itu bukan penantian, Nad. Itu persiapan. Aku nggak menunggu kamu. Aku menyiapkan jalan buat kamu β dan buat ayahmu."
Nadia diam. Lalu air matanya jatuh β bukan tangis keras, hanya air mata yang mengalir seperti orang yang akhirnya boleh bernapas setelah menahan napas terlalu lama.
"Mas yakin?" bisiknya.
"Aku lebih yakin dari apapun yang pernah aku yakini," kataku. "Tiga bulan, tiga tahun, tiga belas tahun β selama kamu jalan ke arah yang sama denganku, aku jalan. Ayahmu mau mengantar kamu? Maka tugasku memastikan ia bisa jalan. Bukan memaksa, bukan menggantikan β memastikan."
Nadia memelukku. Lama. Di teras rumah sakit yang sepi, dengan bau disinfektan samar-samar dari balik pintu, pelukan itu terasa seperti janji yang ditandatangani tanpa kertas.
"Mas," bisiknya di bahuku, "makasih ya, udah nggak pergi."
"Aku nggak ke mana-mana," kataku. "Dari dulu juga di sini."
Kami masuk ke dalam ruangan. Pak Suryo belum tidur. Ia duduk bersandar, menatap kami berdua dengan mata yang β aneh β tampak seperti sedang menahan tawa sekaligus menahan tangis.
"Udah dijawab, Nduk?" tanyanya.
Nadia mengangguk sambil mengusap air mata. "Udah, Yah."
"Jawabannya?"
Nadia melirikku. Aku yang menjawab, "Tiga bulan, Pak. Saya tunggu. Dan saya yang urus latihannya."
Pak Suryo mengangguk pelan. Lalu ia berkata sesuatu yang membuat ruangan itu hening: "Gas, kamu tahu nggak kenapa saya minta Nadia diantar saya?"
"Karena ayah inginβ"
"Bukan cuma itu," potongnya. "Saya mau lihat sendiri, dengan kaki saya sendiri, anak saya diserahkan ke orang yang tepat. Saya udah gagal jaga dia dari cicilan, dari capek, dari semua yang seharusnya nggak dia pikul secepat ini. Satu hal ini β jalan bareng dia ke depan β saya nggak mau gagal juga."
Suara Pak Suryo bergetar di akhir kalimat. Ibunya Nadia menunduk, mengusap matanya dengan ujung kerudung.
"Pak," kataku, "tiga bulan lagi, Bapak jalan. Saya janji saya akan ada di setiap latihannya. Kalau perlu saya yang jadi pegangannya."
"Jangan janji yang nggak bisa kamu tepati, Gas," kata Pak Suryo, tapi senyumnya sudah muncul. "Kamu di Jakarta. Saya di Cirebon."
"Jakarta-Cirebon tiga jam, Pak," kataku. "Buat orang yang tiga belas tahun nggak pernah libur dari jadi pundak, tiga jam itu dekat."
Pak Suryo tertawa β tertawa sungguhan, sampai batuk kecil β dan untuk pertama kalinya sejak operasi, tawanya terdengar seperti tawa orang yang sudah tidak menahan apa-apa lagi.
Malam itu kami pulang ke rumah Nadia larut β maksudku, aku dan Nadia mengantar ibunya dan adiknya pulang, lalu kami kembali ke rumah sakit untuk menemani Pak Suryo sampai pagi. Di perjalanan pulang, Nadia bercerita tentang rencananya: pernikahan sederhana saja, di rumah, tenda di halaman, kursi plastik, masakan ibu-ibu tetangga.
"Aku nggak mau gedung, Mas," katanya. "Aku mau ayahku jalan di tanah halaman rumahnya sendiri. Di tempat truknya dulu parkir."
Aku mengangguk. "Di bawah pohon mangga."
"Di bawah pohon mangga," ulangnya, tersenyum.
Di kamar rumah sakit yang sudah gelap, sebelum tidur, Pak Suryo memanggilku pelan. "Gas."
"Ya, Pak."
Ia menatap langit-langit. "Kalau tiga bulan lagi saya belum bisa jalan... kamu tetap nikahin anak saya, kan? Jangan nunggu saya sampai..."
"Pak," potongku cepat, "jangan ngomong begitu."
"Aku cuma mau kamu janji," katanya. "Janji, kalau saya gagal, kamu tetap jalan. Bawa Nadia ke depan, walau saya cuma bisa lihat dari kursi roda."
Aku menggenggam tangannya β tangan kasar sopir truk tiga puluh tahun, yang sekarang terasa lebih ringan dari yang kukira.
"Saya janji, Pak," kataku. "Tapi janji saya yang kedua: saya akan usaha supaya janji pertama itu nggak perlu dipakai."
Pak Suryo mengangguk, memejamkan mata. "Bagus. Kamu memang keras kepala. Sama kayak anak saya."
Pagi harinya β hari kepulangan Pak Suryo β semuanya berjalan seperti rencana. Dokter visit terakhir, obat dibungkus rapi, surat kontrol dua minggu lagi diserahkan ke adik Nadia yang mencatatnya di ponsel dengan teliti, seperti calon perawat yang sedang praktik pertamanya. Ibunya Nadia sudah menyiapkan baju sendiri untuk suaminya: kemeja batik yang sudah lama tidak dipakai, celana bahan, sandal kulit.
"Pakai ini, Yah," katanya. "Biar tetangga tahu kamu pulang sebagai bapak, bukan sebagai pasien."
Pak Suryo menurut β dan saat ia keluar dari rumah sakit dengan tongkat, memakai batik, didampingi istri dan dua anaknya, aku melihat sesuatu yang tidak kulihat selama tiga hari ini: ia berjalan bukan sebagai orang sakit. Ia berjalan sebagai kepala keluarga yang sedang pulang.
Aku sendiri harus kembali ke Jakarta siang itu. Tiga hari izin kerja sudah habis. Di terminal, Nadia mengantarku sampai ke bus.
"Mas, hati-hati," katanya. "Nanti kabarin kalau udah sampai."
"Nad," kataku sebelum naik, "tiga bulan ini kita bagi tugas. Kamu urus ayahmu, aku urus Jakarta β dan tiap akhir pekan aku ke sini. Latihan jalan pertama ayahmu, aku yang pegangin."
"Janji?"
"Janji."
Bus berjalan. Dari jendela, aku melihat Nadia melambaikan tangan sampai sosoknya mengecil di antara warung-warung terminal. Aku bersandar, memejamkan mata, dan baru sadar betapa lelahnya tiga hari ini β lelah yang aneh, karena di tengah lelah itu ada rasa yang belum pernah kurasakan: rasa punya rumah kedua yang menunggu.
Baru setengah perjalanan ke Jakarta, ponselku bergetar. Nama yang muncul membuatku langsung duduk tegak: Ibu.
Aku mengangkat. "Halo, Bu?"
Suara ibu di seberang terdengar pelan β terlalu pelan untuk ukuran ibu yang biasanya langsung bercerita panjang lebar.
"Gas," katanya, "kamu di mana?"
"Di bus, Bu. Baru dari Cirebon, balik ke Jakarta."
Hening sejenak. Lalu ibu berkata, dengan suara yang ditahan-tahan agar tidak bergetar, "Gas, kalau kamu sampai Jakarta... langsung telepon ibu ya. Ada yang harus kamu tahu. Soal rumah. Soal adikmu."
Jantungku berdegup. "Bu, ada apa? Bilang sekarang aja."
"Nggak bisa di telepon, Nak," kata ibu. "Pokoknya... kamu telepon ibu begitu sampai. Jangan lupa."
Telepon terputus. Bus terus melaju ke arah Jakarta, tapi pikiranku tertinggal di suatu tempat antara Cirebon dan rumah β di antara dua keluarga yang sama-sama bersandar di pundakku, dan satu kabar yang belum sempat diucapkan.
Aku menatap keluar jendela, ke sawah-sawah yang berlari mundur, dan untuk pertama kalinya sejak menjawab pertanyaan Nadia semalam, aku bertanya pada diriku sendiri: kalau tiga bulan ini ternyata bukan hanya soal menunggu ayah Nadia bisa berjalan β melainkan juga soal sesuatu yang sedang terjadi di rumahku sendiri β sanggupkah pundak ini menahan keduanya sekaligus?