Surat-surat yang Tak Pernah Terkirim
Pundak Pertama β’ 1,803 kata
Malam turun di Kampung Sengon seperti selimut yang ditarik pelan-pelan.
Hujan sudah reda menjadi gerimis, lalu menjadi sunyi. Dari dapur terdengar Bu Ratna menanak nasi β suara yang anehnya menenangkan, seperti detak jantung rumah. Aku duduk di ruang tamu dengan kotak kayu di pangkuan, tumpukan surat berikat rafia di hadapanku, dan perasaan seperti murid yang akan menghadapi ujian yang tidak pernah dipelajarinya.
"Kau baca saja dulu, Nak," kata Bu Ratna, meletakkan piring singkong rebus dan segelas teh baru di meja. "Ibu menulis itu untuk dibaca. Bukan untuk disimpan."
Aku membuka ikatan rafia dengan hati-hati. Simpulnya kukenal β simpul yang sama dengan surat-surat Nenek. Tanganku sempat berhenti, seolah membuka ikatan ini berarti membuka sesuatu yang tidak bisa ditutup lagi.
Surat pertama. Kertasnya sudah kecokelatan di tepinya. Tidak ada tanggal lengkap, hanya tertulis: "1994".
"Kak, ini Yati.
Aku tidak pulang bukan karena benci. Catat itu baik-baik, karena aku tahu kakak pasti mengira begitu. Aku tidak pulang karena aku tidak tahu cara pulang tanpa membawa malu.
Suamiku sudah tidak ada, Kak. Sakitnya cepat. Satu bulan dari batuk menjadi tidak ada. Ratna sudah besar, sudah bisa jaga diri. Aku kerja cuci dan setrika dari rumah ke rumah. Tanganku kasar sekarang. Kakak pasti sedih kalau lihat.
Kalau aku pulang begini β janda, miskin, tidak membawa apa-apa β apa kata orang kampung tentang kakak? 'Itu adiknya, yang dulu sombong menolak dijodohkan, sekarang pulang melarat.' Aku tidak mau kakak menanggung malu karena aku. Biarlah aku jauh. Jauh itu caraku menyayangimu.
Jangan cari aku. Aku baik-baik saja. Bohong. Tapi biarlah.
Yati."
Aku berhenti membaca. Tenggorokanku sakit.
Sombong menolak dijodohkan. Jadi itu awalnya β jauh sebelum malam yang Nenek sesali, sudah ada luka yang lebih tua. Yati menolak perjodohan, memilih laki-laki pilihannya sendiri, dan keluarga β atau Nenek β tidak merestuinya. Aku teringat Nenek pernah berkata, waktu aku kecil, "Perempuan itu harus tahu diri." Waktu itu kukira itu nasihat biasa. Sekarang aku bertanya-tanya: kepada siapa kalimat itu sebenarnya ditujukan?
Surat kedua. "2001".
"Kak,
Ratna menikah kemarin. Sederhana saja, di rumah ini. Tenda dari terpal tetangga, masakan dari gotong royong. Aku menangis waktu ijab kabul β bukan sedih, Kak. Aku ingat waktu kakak menikah dulu. Aku yang memegangi ekor kebayamu supaya tidak terseret tanah. Aku yang paling ribut, aku yang paling nangis. Ibu bilang, 'Yati, malu-maluin.' Tapi kakak tertawa. Kakak selalu tertawa kalau aku ribut.
Sekarang aku tua, Kak. Rambutku sudah banyak yang putih. Kadang aku lupa wajah Ibu kita. Aku takut, Kak. Takut kalau suatu hari aku lupa wajah kakak juga. Jadi aku menatap foto 1974 itu setiap pagi. Itu caraku mengingat.
Ratna bertanya kenapa aku tidak pernah pulang kampung. Aku bilang kampungku sudah tidak ada. Bohong lagi. Kampungku ada. Kakakku ada. Cuma aku yang tidak berani pulang.
Yati."
Bu Ratna duduk di hadapanku, memeluk lututnya. "Waktu Ibu menulis itu, saya yang menikah," katanya pelan. "Saya tanya kenapa Mbah β saya memanggil kakaknya Ibu dengan sebutan Mbah β tidak diundang. Ibu cuma bilang, 'Mbahmu sibuk.' Saya percaya. Saya masih muda. Sekarang saya tahu: Ibu takut. Takut Mbah datang dan melihat rumah ini, lalu kecewa."
"Bu Ratna tidak marah? Tidak pernah menyuruh Ibu pulang?"
"Marah?" Ia tersenyum pahit. "Saya ini anaknya, Nak. Saya tahu Ibu saya bukan orang jahat. Saya tahu dia menangis setiap malam Jumat β saya dengar dari kamar saya. Tapi saya juga tahu: ada pintu yang kalau sudah ditutup dari dalam oleh rasa malu, tidak bisa dibuka dari luar oleh siapa pun. Termasuk oleh anaknya sendiri."
Surat ketiga. "2011". Kertasnya lebih putih, lebih baru.
"Kak,
Hari ini Bude datang.
Ya Tuhan, Kak. Terakhir kulihat dia, dia masih anak ingusan yang suka mengintip dari dapur waktu kita bertengkar. Sekarang dia sudah besar, sudah beranak β eh, belum beranak, tapi sudah dewasa. Dia membawakanku surat kakak. Yang asli. Bukan yang kukhayalkan selama ini.
Tanganku gemetar sampai tidak bisa membuka amplopnya. Ratna yang membukakan. Isinya pendek saja: 'Yati, ini kakak. Jangan lupa makan. Kakak kirim foto kita. Biar kamu ingat.'
Aku menangis sampai Ratna ketakutan. Tiga puluh tahun aku menunggu kabar, Kak. Ternyata kabar itu menungguku juga. Kakak masih menulis setiap Jumat. Ya Tuhan. Ya Tuhan.
Bude bilang kakak menulis ke alamat lama β rumah nomor 14. Bude yang mengantar surat-surat itu ke sini, sebulan sekali, diam-diam. 'Jangan bilang siapa-siapa, Bu Yati,' katanya. 'Nenek biar tetap berharap. Ibu β maksud saya, Bu Minah β juga jangan sampai tahu. Nanti dia sedih.'
Kak, aku titip Bude. Dia anak baik. Dia memikul rahasia ini sendirian selama bertahun-tahun, demi kita berdua. Suruh dia istirahat. Bilang padanya... terima kasih.
Yati."
Aku menatap Bu Ratna. "Bude tidak pernah cerita ke siapa pun. Bahkan ke saya."
"Karena kau sudah memikul terlalu banyak, Nak," katanya lembut. "Itu yang selalu Ibu katakan tentangmu, padahal dia belum pernah bertemu denganmu. 'Anak Minah yang paling besar itu memikul semuanya. Jangan tambah bebannya.'"
Surat keempat. Yang terakhir. Kertasnya masih putih bersih. Di atasnya tertulis dengan huruf besar yang goyah: "2022 β tolong bacakan untuk kakak".
"Kak,
Ini surat terakhirku. Ratna yang menuliskan, tanganku sudah tidak bisa. Jadi kalau ada kata-kata yang aneh, salahkan Ratna, jangan aku.
Bude bercerita tentang cucumu. Anak pertama. Namanya Bagas, lahir September 1995. Katanya dia tulang punggung keluarga β kirim uang setiap bulan, tidak pernah telat, seperti kakak dulu waktu masih muda. Katanya dia jarang pulang, tapi setiap pulang dia mencium tangan kakak lama sekali.
Kak... aku bangga padanya, padahal aku belum pernah melihat wajahnya sekalipun. Titip dia, Kak. Itu wasiatku. Jangan biarkan dia memikul semuanya sendirian, seperti kita dulu. Kita ini pandai memikul, Kak, tapi tidak pandai meminta tolong. Kita lebih rela punggung kita patah daripada mulut kita bilang 'aku lelah'. Jangan wariskan itu padanya.
Kalau suatu hari dia datang membawa foto 1974 β dan Bude bilang dia pasti datang, anak itu keras kepala seperti kakak β peluk dia untukku. Bilang padanya: ada buyut... eh, ada bude jauh... ada seseorang di Sengon yang mendoakannya setiap malam, meski tidak pernah melihat wajahnya.
Aku pergi dulu, Kak. Kakak jangan sedih. Kita cuma... gantian menunggu. Dulu kakak yang menunggu. Sekarang aku yang menunggu. Di tempat yang lebih baik, tidak ada rasa malu. Nanti kalau kakak datang, aku yang memegangi ekor kebayamu lagi.
Adikmu, Yati."
Aku tidak bisa melanjutkan. Huruf-huruf itu berenang di hadapanku.
Seseorang yang tidak pernah kutemui β buyut jauhku, adik nenekku β mendoakanku setiap malam. Mengkhawatirkanku. Mewasiatkan aku kepada nenekku. Sementara aku, selama tiga belas tahun, tidak pernah tahu dia ada.
"Bu..." Suaraku pecah. "Kenapa tidak ada yang cerita ke saya?"
Bu Ratna menggeser duduknya, menggenggam tanganku. Tangannya hangat dan kasar.
"Karena kau anak pertama, Nak. Anak pertama itu seperti atap, kata Ibuku. Semua orang berlindung di bawahnya, tapi tidak ada yang bertanya apakah atap itu bocor. Bude melindungimu dari cerita ini supaya atapmu tidak bocor. Ibumu melindungimu supaya kau tidak membenci nenekmu. Nenekmu melindungimu supaya kau tidak tahu keluargamu pernah retak."
"Semua orang melindungiku," bisikku, "dengan cara membuatku tidak tahu apa-apa."
"Itu cara orang tua menyayangi, Nak. Salah, tapi sayang."
Ia berdiri, berjalan ke dapur, kembali dengan teko teh yang baru. Lalu ia duduk lagi, dan wajahnya berubah β menjadi serius, menjadi seperti orang yang akan membuka pintu yang sudah lama dikunci.
"Sekarang," katanya, "tentang malam itu. Tentang ibumu."
Aku menegakkan duduk. Kotak kayu di pangkuanku terasa berat.
"Tahun 1993," Bu Ratna memulai. "Ibu datang ke kampung. Malam-malam. Suamiku β bapak saya β baru meninggal setahun. Ibu tidak punya apa-apa. Dia datang untuk minta tolong pada kakaknya. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua puluh tahun, dia pulang."
Aku menahan napas.
"Mbahmu... Nenekmu... marah. Bukan marah benci, Nak. Marah takut. Takut omongan orang. Takut dianggap gagal mendidik adik. Kata-katanya keras β terlalu keras. Ibu tidak menjawab. Dia cuma berdiri, lalu berjalan ke pintu belakang."
Bu Ratna menatapku lekat-lekat.
"Di pintu belakang, ada ibumu. Bu Minah. Masih muda sekali waktu itu β baru menikah setahun, kalau tidak salah. Dia menyelipkan uang ke tangan Ibu β tidak banyak, uang belanja seminggu β dan melepas selendangnya sendiri, dikalungkan ke bahu Ibu. Lalu dia berbisik: 'Pergi yang jauh, Bu... sampai semua reda. Nanti kalau sudah reda, pulang. Saya tunggu.'"
Air mataku jatuh tanpa aba-aba.
"Ibumu mengira dia berbuat baik, Nak. Dia mengira 'sampai semua reda' itu artinya seminggu, sebulan. Dia tidak tahu 'reda' itu butuh tiga puluh tahun. Dia tidak tahu Ibu saya tidak pernah pulang lagi."
"Dan Bude..." bisikku.
"Bude melihat semuanya dari dapur. Dia masih kecil β tiga belas tahun. Dia tidak cerita ke siapa-siapa. Dia menyimpan itu sendirian, sampai dia besar, sampai dia menemukan Ibu saya lima belas tahun lalu." Bu Ratna tersenyum sedih. "Itu yang disembunyikan Budemu, Nak. Bukan cuma alamat. Tapi rasa bersalah ibumu β yang dia pikul sendirian supaya ibumu tidak hancur."
Aku menunduk. Ibuku. Ibuku yang setiap telepon hanya bertanya "sudah makan?" β ternyata menyimpan malam seperti itu selama tiga puluh tahun. Tidak pernah cerita. Tidak pernah minta maaf β karena tidak tahu kepada siapa harus minta maaf.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Waktu aku kecil, Ibu punya selendang kesayangan β selendang batik cokelat. Suatu hari selendang itu hilang, dan Ibu mencarinya sampai menangis. Aku mengira itu cuma selendang. Ternyata itu selendang yang dikalungkannya ke bahu Yati malam itu. Dia tidak kehilangan selendang β dia memberikannya. Dan dia menangis bukan karena kehilangan barang, tapi karena kehilangan orang.
Bu Ratna berdiri, berjalan ke arah pintu, dan mengambil sesuatu dari atas kusen pintu β tempat orang kampung biasa menyimpan barang penting. Sebuah amplop. Kuning dimakan usia. Di atasnya, dengan tulisan tangan Yati yang goyah: "Untuk Minah."
"Ibu titip ini," katanya, kembali duduk di hadapanku. "Katanya: kalau keluarga kakak datang, berikan pada menantunya. Tapi..." Ia menatapku dalam-dalam. "Ibu juga bilang: jangan berikan kalau yang datang cuma karena penasaran. Berikan kalau yang datang karena sayang."
Ia mengulurkan amplop itu. Tanganku terulur sendiri, gemetar.
"Kau datang karena yang mana, Nak Bagas?"
Aku menatap amplop itu. Nama ibuku β "Minah" β ditulis dengan huruf-huruf yang bergetar, oleh tangan perempuan yang didoakannya setiap malam.
Tadi pagi, di bus, aku bertanya pada diriku sendiri: kapan terakhir kali aku melakukan sesuatu bukan karena kewajiban, tapi karena hati?
"Karena sayang, Bu," kataku. Suaraku pecah, tapi jelas. "Saya baru sadar... tadi pagi di bus, saya bertanya kapan terakhir kali saya melakukan sesuatu bukan karena kewajiban. Mungkin..." Aku menggenggam amplop itu. "Mungkin ini jawabannya."
Bu Ratna meletakkan amplop itu di tanganku, lalu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.
"Kau yang mengantar, Nak. Tangan yang membawa foto ini, tangan yang sama."
Aku menatap nama ibuku dalam tulisan tangan Yati yang goyah.
Tiga belas tahun aku merantau membawa uang untuk keluarga. Amplop demi amplop, transfer demi transfer. Malam ini aku membawa pulang sesuatu yang bukan uang β dan tanganku gemetar lebih hebat daripada saat memegang amplop gajian pertamaku.