β€Ή
8. Syarat dari Yayasan

Syarat dari Yayasan

Pundak Pertama β€’ 1,470 kata

Ilustrasi Syarat dari Yayasan

“Silakan duduk, Bu,” kata Bagas, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri — terlalu rapi, terlalu kaku, seperti suara orang lain yang sedang meminjam tenggorokannya. Ia menggeser kursi plastik ke hadapan Ratna, lalu berdiri mematung di samping dipan bambu, tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.

Ratna tersenyum — senyum yang dilatih untuk menenangkan, tapi matanya memindai seisi rumah dengan cepat: dinding tripleks yang ditambal kalender bekas, dipan bambu tempat rapor Bagas masih tergeletak, dan empat pasang mata keluarganya yang menatap tanpa berkedip. Ia meletakkan tas selempangnya di pangkuan dan membuka sebuah map tipis.

“Terima kasih. Saya tidak akan lama,” katanya. “Jadi begini, Bagas. Yayasan Cahaya Pendidikan punya program bernama Tukang Las Muda Bersertifikat. Setiap tahun kami memilih dua puluh anak dari sekolah-sekolah malam di wilayah ini — anak-anak yang nilainya bagus tapi tidak punya biaya untuk kursus keahlian. Pak Hendra mengajukan namamu.”

Jantung Bagas berdegup begitu kencang hingga ia yakin Ratna bisa mendengarnya.

“Programnya tiga bulan,” lanjut Ratna. “Pelatihan di Balai Latihan Kerja Cikarang. Senin sampai Sabtu, jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Peserta wajib tinggal di asrama yang kami sediakan — makan tiga kali sehari ditanggung yayasan. Biaya kursus gratis. Lulus, kamu dapat sertifikat kompetensi resmi dari negara. Dengan sertifikat itu...” ia menatap Bagas lurus-lurus, “pintu perusahaan-perusahaan besar terbuka. Gaji tukang las bersertifikat bisa tiga sampai empat kali lipat dari gaji helper biasa.”

Tiga sampai empat kali lipat. Angka itu melayang di udara seperti kunang-kunang. Gaji Bagas sekarang — satu koma dua juta — dikali tiga... dikali empat... Bagas tidak berani menyelesaikan hitungannya, takut angkanya terlalu indah untuk menjadi nyata.

“Syaratnya apa, Bu?” tanya Bagas, suaranya nyaris berbisik.

Ratna mengangguk, seolah sudah menunggu pertanyaan itu. “Empat syarat. Pertama, nilai rapor baik — kamu lolos, Pak Hendra sudah mengirim fotokopinya. Kedua, surat rekomendasi dari sekolah — sedang diurus, minggu ini keluar. Ketiga...” ia berhenti sejenak, “uji praktik. Minggu depan tim kami akan datang ke bengkel tempat kamu bekerja. Kami ingin melihat langsung kamu mengelas — bukan cerita orang, tapi tanganmu sendiri.”

Bagas mengangguk pelan. Itu masih masuk akal. Tangannya tidak pernah berbohong.

“Dan keempat,” kata Ratna, dan senyumnya sedikit meredup, “selama tiga bulan pelatihan, peserta tidak diperbolehkan bekerja di tempat lain. Harus fokus penuh. Tinggal di asrama, tidak boleh pulang-pergi.”

“Kenapa, Bu?”

“Dua alasan. Satu, keselamatan — peserta kami asuransikan, dan asuransi tidak menanggung kecelakaan di luar jam pelatihan. Dua, pengalaman kami: anak yang masih kerja sambil kursus, badannya habis sebelum ilmunya masuk. Tiga bulan ini kami investasi untuk kamu, Bagas. Kami mau investasi itu kembali penuh — bukan setengah.”

Bagas menelan ludah. Di kepalanya, angka-angka mulai berhitung sendiri — kebiasaan lamanya yang tidak pernah bisa dimatikan. Gaji satu koma dua juta dikali tiga bulan: tiga koma enam juta. Uang saku dari yayasan: enam ratus ribu sebulan — Ratna menyebutkannya sambil lalu, seolah itu kabar baik. Enam ratus ribu dikali tiga: satu koma delapan juta. Selisihnya: satu koma delapan juta. Lubang sebesar itu di anggaran keluarga yang bahkan sekarang saja sudah pas-pasan.

Obat Bapak. Jahitan Ibu yang harus diantar ke konveksi. Ongkos Sinta. Dan Dimas — Dimas yang baru saja mulai berubah, yang masih rapuh seperti las-lasan pertama yang belum dingin benar. Siapa yang mengawasi dia kalau Bagas pergi tiga bulan?

“Boleh... boleh saya pikir-pikir dulu, Bu?” kata Bagas akhirnya. “Dua hari?”

“Tentu,” kata Ratna, berdiri sambil menyerahkan sebuah brosur berwarna dan kartu nama. “Pendaftaran dibuka sampai Jumat depan. Tapi saya jujur saja — kuota dua puluh, pendaftar biasanya lebih dari seratus. Jangan terlalu lama.” Ia menjabat tangan Bagas, mengangguk hormat kepada Bapak dan Ibu, lalu melangkah pergi diantar Pak RT. Derap sandalnya menjauh di gang, lalu hilang ditelan malam.

Di dalam rumah, tidak ada yang bicara. Sinta memeluk lututnya di sudut dipan. Dimas menatap lantai semen. Ibu memegang brosur itu seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.

“Tiga bulan itu lama, Mas,” bisik Sinta akhirnya. “Lama banget.”

Tidak ada yang menanggapi. Malam yang tadi penuh pelukan dan air mata bahagia itu kini terasa seperti kue yang dibiarkan terlalu lama di udara — masih manis, tapi permukaannya mulai mengeras.

Bagas keluar ke teras. Udara malam menusuk kulitnya yang masih basah keringat. Di kejauhan, suara televisi tetangga sayup-sayup menyanyikan dangdut. Ia duduk di anak tangga semen dan menatap langit — bintang-bintangnya masih di sana, sama seperti tadi, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Gas.”

Ibu datang membawa segelas teh hangat. Ia duduk di samping anaknya, dan untuk beberapa saat mereka hanya diam — dua orang yang saling tahu isi kepala masing-masing tanpa perlu bicara.

“Ibu bangga,” kata Ibu akhirnya, pelan. “Bangga sekali. Anak Ibu dilirik yayasan... siapa yang sangka.” Ia menyeruput tehnya sendiri. “Tapi Ibu takut, Nak.”

“Takut apa, Bu?”

“Takut kita nggak kuat.” Ibu menatap ke dalam gelasnya. “Satu koma delapan juta itu... Ibu bisa kurangi jahitan? Ibu malah harus tambah jahitan buat nutupin. Mata Ibu...” ia berhenti, menggosok matanya yang memerah, “...mata Ibu akhir-akhir ini makin sering buram kalau malam. Ibu nggak bilang-bilang karena nggak mau kamu khawatir.”

Bagas menoleh cepat. “Sejak kapan, Bu?”

“Sudah sebulan. Nggak apa-apa, masih bisa lihat. Cuma... kalau Ibu harus lembur jahit tiap malam...” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Dari dalam rumah terdengar suara Bapak batuk — batuk kering yang belum hilang sepenuhnya meski keadaannya membaik. Lalu suara Bapak memanggil, pelan tapi jelas: “Gas. Sini sebentar.”

Bagas masuk dan berjongkok di depan ayahnya yang duduk di kursi goyang bambu — kursi yang sudah berbunyi nyaring setiap kali digoyang, tapi tidak pernah diganti karena “masih bisa dipakai”.

“Bapak dengar semua tadi,” kata Bapak. “Tiga bulan. Cikarang. Nggak boleh kerja.”

“Iya, Pak.”

Bapak diam lama. Tangannya yang kurus mengelus lututnya sendiri — lutut yang dulu bengkak dan membuatnya tidak bisa jalan, yang kini sudah bisa membawanya sampai warung ujung gang.

“Bapak mau cerita sesuatu,” katanya akhirnya. “Dulu, waktu kamu masih kecil — kamu umur empat tahun, Sinta belum lahir — Bapak dapat tawaran kerja proyek di Kalimantan. Gajinya... besar, Gas. Besar sekali untuk ukuran kita waktu itu. Bapak ambil. Bapak pergi dua tahun.”

Bagas mengangguk. Ia tahu cerita ini sepotong-sepotong, tapi tidak pernah mendengar langsung dari mulut Bapak.

“Waktu Bapak pulang,” suara Bapak bergetar, “kamu sudah bisa baca. Kamu sudah tidak mau digendong lagi. Kamu manggil Bapak... ‘Om’. Dua tahun, Gas. Bapak tukar dua tahun masa kecilmu dengan uang yang habis dalam delapan bulan.” Air mata lelaki tua itu jatuh lagi — kedua kalinya malam ini. “Bapak pilih uang waktu itu. Dan Bapak nyesel sampai sekarang.”

Bagas merasakan dadanya sesak.

“Makanya waktu kamu tolak proyek luar kota kemarin, Bapak... Bapak bangga sekali. Kamu lebih bijak dari Bapak di umur segitu.” Bapak menggenggam tangan anaknya. “Tapi ini beda, Gas. Ini bukan proyek kejar uang. Ini sekolah. Ini tangga yang beneran. Bapak nggak mau kamu tolak ini cuma karena takut.”

“Tapi keluarga, Pak. Satu koma delapan juta—”

“Kita cari jalan,” potong Bapak. “Keluarga itu bukan alasan buat berhenti jalan, Gas. Keluarga itu alasan buat jalan terus. Keputusan ada di kamu. Tapi jangan pilih karena takut. Pilih karena yakin.”

Dari ambang pintu kamar, sebuah suara kecil terdengar: “Mas.”

Dimas berdiri di sana dengan sarung dililit di pinggang, rambutnya acak-acakan. Wajahnya pucat — ia pasti sudah berdiri di sana cukup lama, mendengar semuanya.

“Kalau Mas pergi tiga bulan...” Dimas menelan ludah, “...aku bisa gantiin Mas di bengkel. Jadi helper. Aku... aku serius, Mas. Kasih aku kesempatan buktiin kalau aku beneran berubah.”

Ruanga itu hening. Ibu menutup mulutnya dengan tangan. Sinta menatap kakak keduanya dengan mata membelalak — seolah baru pertama kali melihatnya.

Bagas menatap adiknya — adik yang dulu pernah membuatnya malu setengah mati di depan sekampung, yang kini berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca, menawarkan pundaknya yang masih kurus untuk memikul beban kakaknya. Tenggorokannya tercekat. Kata-kata tidak mau keluar.

Tapi sebelum ia sempat menjawab, pikirannya melompat ke tempat lain: ke bengkel yang besok pagi harus ia datangi, ke lelaki berkumis tebal yang kemarin baru saja menaikkan gajinya dan mempercayakan map gambar teknik — map yang sekarang tergeletak di kamarnya seperti sebuah kepercayaan yang belum lunas dibayar.

Bagaimana cara memberitahu Pak Kardi bahwa ia akan pergi — tiga bulan, tepat di saat ia baru dipercaya?

Malam itu Bagas tidak tidur. Di atas dipan bambu, map lusuh dari Pak Kardi tergeletak di samping bantalnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia menerimanya, garis-garis dan angka-angka di dalamnya tidak terlihat seperti jalan. Melainkan seperti jeruji.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!