β€Ή
89. Kalimat yang Belum Selesai

Kalimat yang Belum Selesai

Pundak Pertama β€’ 1,330 kata

Ilustrasi Kalimat yang Belum Selesai

Sabtu pagi, aku bangun dengan kalimat itu masih menempel di kepala, seperti ujung benang yang belum diikat.

"Untuk rumah ini, yang belum sempat Ayah."

Semalam, Ayah membacanya pelan, lalu menutup buku catatan itu tanpa menambah satu kata pun. Tidak ada yang mendesak. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Tetapi pagi ini, ketika aku melihat Ayah duduk di teras dengan secangkir teh yang sudah setengah dingin, aku tahu, kalimat itu bukan sekadar tulisan yang tertinggal. Kalimat itu adalah sesuatu yang sudah lama ia bawa, dan baru semalam ia berani menunjukkannya.

Aku duduk di sampingnya, tidak langsung bertanya, hanya menemani. Ayah menatap halaman rumah yang masih basah oleh embun, menatap pagar yang catnya mulai mengelupas, menatap atap yang di satu sudutnya sudah agak melengkung, seperti orang yang sedang menatap rumahnya bukan sebagai bangunan, melainkan sebagai cerita yang sudah puluhan tahun ia tinggali.

"Yah," kataku akhirnya, pelan, "kalimat semalam itu, maksudnya apa?"

Ayah tidak langsung menjawab. Ia menyeruput tehnya, meletakkan cangkirnya kembali, lalu mengusap lututnya, gerakan yang akhir-akhir ini sering ia lakukan tanpa sadar, gerakan orang yang mulai merasakan bahwa tubuhnya tidak lagi semudah dulu diajak bekerja.

"Waktu Ayah menulis itu," katanya, "kamu masih kecil, Gas. Masih sekolah dasar, masih sering pulang dengan baju yang kena tanah karena main di halaman. Waktu itu, Ayah baru saja selesai membayar uang sekolahmu, dan Ibu baru saja menerima pesanan yang lumayan besar, pesanan seragam untuk satu rombongan. Kami duduk di ruang tengah, malam-malam, menghitung uang di atas meja, dan Ayah berpikir, kalau uang ini cukup, Ayah mau memperbaiki rumah ini sedikit demi sedikit."

Ia berhenti sebentar, menatap atap itu lagi.

"Yang Ayah pikirkan waktu itu, sederhana saja. Ayah mau membuatkan Ibu satu ruangan untuk menjahit, ruangan yang betul-betul ruangan, bukan sudut ruang tengah yang harus berbagi dengan televisi, dengan tamu, dengan semua orang yang lewat. Ruangan yang jendelanya menghadap ke halaman, supaya Ibu bisa melihat cahaya pagi waktu menjahit. Ruangan yang mejanya tidak perlu dibongkar setiap kali ada tamu datang."

Aku mengangguk, karena aku ingat, selama aku tumbuh besar, meja jahit Ibu memang selalu ada di ruang tengah. Meja itu berpindah-pindah, digeser ke sudut kalau ada tamu, ditarik lagi ke tengah kalau Ibu sedang mengerjakan pesanan besar. Meja itu seperti ikut bernapas bersama rumah ini, menyesuaikan diri dengan siapa pun yang sedang ada di dalamnya.

"Tetapi malam itu juga," lanjut Ayah, "Ayah ingat, uang sekolahmu semester depan sudah harus dibayar, dan ada iuran lain yang belum Ayah hitung. Jadi Ayah menulis kalimat itu, lalu berhenti, karena Ayah tidak tahu, harus menulis apa lagi. Ayah tidak mau menulis janji yang belum tentu bisa Ayah tepati. Jadi Ayah membiarkannya begitu saja, tidak selesai, seperti rumah ini yang juga tidak pernah selesai diperbaiki."

Aku diam. Bukan karena aku tidak punya jawaban, melainkan karena aku baru menyadari sesuatu: selama ini, aku mengira rumah ini sudah selesai, sudah jadi, sudah cukup. Ternyata, di mata Ayah, rumah ini masih punya satu bagian yang belum sempat ia selesaikan, satu janji kecil yang ia simpan selama puluhan tahun, bukan karena ia lupa, melainkan karena hidup selalu datang lebih dulu daripada rencana.

"Yah," kataku, "kalau sekarang, Ayah masih mau menyelesaikannya?"

Ayah menatapku, lalu tersenyum, senyum yang pelan, senyum orang yang sudah lama tidak ditanya tentang keinginannya sendiri, karena selama ini, ia selalu menjadi orang yang ditanya tentang kebutuhan orang lain.

"Ayah sudah tua, Gas," katanya. "Tangan Ayah sudah tidak sekuat dulu. Tetapi kalau kamu mau membantu, Ayah mau. Bukan ruangan yang besar, bukan yang mewah. Cukup ruangan belakang yang selama ini dipakai menyimpan barang, dirapikan, dibersihkan, diberi meja yang layak. Supaya Ibumu, di sisa usianya menjahit, punya tempat yang betul-betul miliknya."

Nadia, yang sejak tadi mendengarkan dari dapur sambil menyiapkan sarapan, datang membawa dua piring, lalu duduk di kursi teras yang lain. Ia tidak langsung bicara, hanya mendengarkan, dengan cara yang sudah menjadi kebiasaannya: hadir dulu, bicara kemudian.

"Mas," katanya setelah sarapan selesai, "kalau ruangan belakang itu mau dipakai, kita lihat dulu kondisinya. Jangan langsung diputuskan. Kita ukur, kita lihat apa yang perlu diperbaiki, kita hitung pelan-pelan. Tidak usah terburu-buru."

Ayah mengangguk. Ia memang selalu lebih suka rencana yang pelan daripada rencana yang besar. Siang itu, setelah Ibu selesai menjahit kemeja pesanan yang kecil, kami bertiga, aku, Ayah, dan Nadia, berjalan ke ruangan belakang. Ruangan itu sudah lama tidak benar-benar dipakai, hanya menjadi tempat menumpuk kardus, kain sisa, dan barang-barang yang disimpan dengan alasan "nanti masih bisa dipakai".

Kami membuka pintunya, dan udara di dalamnya terasa pengap, seperti ruangan yang sudah lama tidak diajak bicara. Cahaya masuk dari satu jendela kecil yang kacanya sudah berdebu, dan di lantai, ada bekas-bekas yang menunjukkan bahwa ruangan ini pernah menjadi kamar, pernah menjadi tempat tidur, pernah menjadi tempat seseorang bermimpi, sebelum akhirnya menjadi gudang.

Ayah berjalan pelan, menyentuh dindingnya, mengetuk-ngetuknya dengan buku jarinya, seperti orang yang sedang memeriksa apakah dinding itu masih kuat, atau sudah lelah menahan beban selama puluhan tahun.

"Dindingnya masih bagus," katanya. "Lantainya perlu dibersihkan, jendelanya perlu dibuka, dan atap di sudut sana, itu yang perlu dilihat. Kalau hujan deras, airnya suka menetes dari sana. Dulu, waktu kamu masih kecil, Ayah pernah menambalnya, tetapi tambalannya sudah lama."

Nadia mengukur ruangan itu dengan langkah kakinya, lalu berkata, "Cukup, Mas. Untuk satu meja jahit, satu lemari kecil, dan satu kursi, ruangan ini cukup. Tidak perlu diperluas. Yang perlu, dibersihkan dan diterangi."

Ayah mengangguk, lalu duduk di kursi lipat yang ada di sudut ruangan itu, kursi yang sudah lama tidak dipakai, tetapi masih kuat. Ia duduk di sana sebentar, menatap jendela yang menghadap ke halaman belakang, ke arah pohon yang daunnya bergoyang pelan, dan aku melihat, di wajahnya, ada sesuatu yang jarang aku lihat: wajah orang yang sedang membayangkan masa depan, bukan masa lalu.

"Kalau Ibu menjahit di sini," katanya pelan, "pagi-pagi, ia bisa melihat halaman. Siang-siang, cahayanya cukup. Sore-siang, ia bisa berhenti, keluar ke teras, minum teh. Tidak perlu lagi menggeser-geser meja kalau ada tamu. Tidak perlu lagi menjahit sambil mendengar televisi."

Aku menatap ruangan itu, dan aku pun mulai membayangkannya: meja jahit Ibu di dekat jendela, kain-kain tersusun rapi di lemari kecil, cahaya pagi masuk tanpa terhalang, dan Ibu duduk di sana dengan punggung yang tegak, bukan lagi membungkuk di sudut ruang tengah yang sempit.

Tetapi sebelum kami sempat membicarakan lebih jauh, Ibu datang ke pintu ruangan itu, membawa segelas air untuk Ayah, dan berdiri di sana, menatap kami bertiga, menatap ruangan yang sudah lama ia anggap sebagai gudang, dengan tatapan yang tidak bisa aku baca dengan mudah.

"Ini lagi apa?" tanyanya, dengan nada yang biasa, tetapi dengan mata yang waspada, mata orang yang merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan untuknya, tanpa ia diminta pendapatnya.

Ayah berdiri, menghampiri Ibu, dan berkata dengan pelan, "Bu, Ayah dan Gas tadi bicara soal kalimat di buku catatan itu. Yang belum selesai. Ayah pikir, sudah waktunya kita selesaikan, pelan-pelan. Ruangan ini, kalau dirapikan, bisa jadi tempat Ibu menjahit. Tempat yang betul-betul milik Ibu."

Ibu diam. Ia menatap ruangan itu, lalu menatap Ayah, lalu menatapku, lalu kembali menatap ruangan itu, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar ruangan.

Lalu ia berkata, dengan suara yang pelan tetapi jelas, suara yang membuat Ayah dan aku sama-sama terdiam, "Yah, Gas, Ibu berterima kasih. Tetapi Ibu tidak mau ruangan ini dipakai untuk Ibu. Uang dan tenaga kalian, lebih baik dipakai untuk yang lain. Untuk Gas dan Nadia, untuk masa depan kalian. Ibu sudah cukup menjahit di ruang tengah selama puluhan tahun. Ibu tidak mau, di usia Ibu yang sudah segini, Ibu malah merepotkan kalian dengan ruangan baru."

Sabtu itu ditutup bukan dengan jawaban, melainkan dengan penolakan yang lembut dari Ibu, di ambang pintu ruangan belakang yang masih pengap, dan dengan satu pertanyaan yang menggantung di antara kami bertiga: kalau orang yang ingin kita bahagiakan justru tidak mau dibahagiakan dengan cara itu, bagaimana kita harus melanjutkannya?

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!