Hasil di Balik Map
Pundak Pertama β’ 1,579 kata
Ruangan dokter itu kecil β hanya ada meja, dua kursi plastik, dan bau disinfektan yang lebih pekat daripada di koridor. Dokter menutup pintu pelan, lalu duduk dan membuka map di tangannya. Nadia duduk di sebelahku, tangannya masih menggenggam tanganku, dingin dan sedikit gemetar.
"Bapak Suryo," dokter memulai, menatap kami bergantian, "selain robekan ligamen di lutut kanan, hasil pemeriksaan darah menunjukkan dua hal yang perlu saya sampaikan."
Jantungku berdebar. Nadia menahan napas.
"Pertama, gula darah puasa beliau tinggi β dua ratus delapan puluh. Itu jauh di atas normal." Dokter menatap Nadia. "Apakah Bapak punya riwayat diabetes?"
Nadia menggeleng pelan. "Setahu saya nggak, Dok. Ayah saya nggak pernah... beliau nggak pernah cek."
"Nah, itu masalahnya," kata dokter. "Kemungkinan besar beliau sudah lama punya diabetes tapi tidak pernah terdiagnosis. Kedua, tekanan darahnya juga tinggi β seratus tujuh puluh per seratus sepuluh."
Sunyi. Aku bisa mendengar bunyi AC ruangan itu mendengung pelan.
"Terus operasinya gimana, Dok?" tanyaku akhirnya. "Masih bisa besok pagi?"
Dokter mengangguk pelan. "Bisa. Tapi dengan catatan." Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Operasi pada pasien dengan gula darah tidak terkontrol risikonya lebih tinggi β perdarahan lebih sulit berhenti, luka lebih lambat sembuh, risiko infeksi naik. Jadi besok pagi, sebelum operasi, tim penyakit dalam akan menurunkan dulu gula darahnya dan memantau ketat selama operasi."
"Berapa lama rawat inapnya, Dok?" tanya Nadia, suaranya kecil.
"Normalnya tiga hari. Untuk kasus Bapak..." dokter berhenti sejenak, "lima sampai tujuh hari. Kami harus pastikan lukanya sembuh dengan baik dan gulanya stabil sebelum pulang."
Lima sampai tujuh hari. Aku langsung menghitung di kepala β biaya kamar, obat, tindakan. Tabunganku yang sudah terkuras untuk uang muka tadi siang masih cukup, tapi makin tipis. Seperti spons yang diperas dua kali.
"Biayanya..." Nadia memulai, lalu berhenti. Ia menatapku.
"Nanti kita urus, Nad," kataku pelan. "Satu-satu."
Dokter menutup mapnya. "Satu hal lagi." Ia menatap kami dengan tatapan yang lebih lembut. "Diabetes ini bukan vonis, ya. Bisa dikontrol β obat rutin, jaga makan, kontrol berkala. Tapi Bapak harus mau." Ia mencari kata yang tepat. "Banyak pasien seusia beliau yang merasa baik-baik saja, jadi tidak mau diobati."
Aku dan Nadia saling pandang. Kami sama-sama tahu: Pak Suryo adalah tipe orang yang persis seperti itu.
Keluar dari ruangan, Nadia diam. Kami berjalan menyusuri koridor kembali ke ruang observasi, dan baru di depan pintu ia bicara.
"Ayahku takut, Mas," katanya pelan.
"Takut operasi?"
"Takut tahu." Ia menatapku. "Dulu waktu Ibu nyuruh cek gula di puskesmas β gratis, Mas, cuma tusuk jari β ayahku nggak mau. Katanya, ngapain cek-cek, orang ayah sehat." Suaranya pecah. "Padahal beliau sering kesemutan. Sering haus tengah malam. Aku kira itu biasa. Ternyata..."
Aku merangkul bahunya. "Nad, kamu nggak salah. Nggak ada yang tahu."
"Tapi aku anaknya, Mas." Air matanya jatuh. "Harusnya aku yang maksa."
"Nad," kataku, menatapnya lurus-lurus, "ayahmu itu supir truk yang tiga puluh tahun nggak pernah absen di wisudamu. Orang kayak gitu nggak bisa dipaksa β cuma bisa ditemenin. Dan sekarang kamu nemenin. Itu cukup."
Ia menangis di bahuku, di depan ruang observasi, tidak peduli suster lewat. Aku membiarkannya. Kadang pundak memang gunanya cuma itu: diam dan kuat.
Sore menjelang magrib, aku ke bagian administrasi lagi. Perkiraan biaya dihitung ulang β rawat inap lebih lama, konsultasi penyakit dalam, obat diabetes. Petugasnya menyebutkan angka dengan wajah datar, seolah tidak sadar angka itu bisa bikin orang pingsan berdiri.
Aku menggesek kartu lagi. Kali ini tanganku sedikit gemetar β tidak seperti tadi siang. Mungkin karena tadi siang aku belum tahu akan ada "tadi sore" juga.
Di koridor aku duduk sebentar, membuka aplikasi bank di ponsel. Sisa tabungan darurat tiga tahun: tinggal sepertiganya. Tiga tahun menabung sedikit demi sedikit β menyisihkan dari gaji, menahan beli sepatu baru, bawa bekal tiap hari β dan habis sepertiganya dalam dua hari.
Anehnya, aku tidak panik. Malah ada rasa lega yang aneh, seperti habis menurunkan karung beras dari pundak β berat, tapi pundaknya jadi bisa napas.
"Mas." Nadia duduk di sebelahku, menyodorkan teh kotak yang dibelinya di kantin. "Masih cukup?"
"Cukup," kataku. "Buat sekarang cukup."
"Mas bohongnya jelek."
Aku tertawa kecil. "Iya. Maaf."
Ia menyandarkan kepala di bahuku. "Nanti kita cari jalan bareng, ya? Aku juga kerja. Gajiku lumayan. Kita cicil balikin."
"Nadβ"
"Jangan nolak," potongnya, meniru gaya Bude semalam. Kami berdua tertawa β tawa kecil yang terasa seperti oksigen.
"Mas," katanya setelah tawa itu reda, "makasih ya. Bukan cuma soal uang. Soal... Mas nggak pergi. Dari semalam Mas nggak pergi-pergi."
"Kemana lagi aku mau pergi?" kataku. "Kamu di sini."
Magrib lewat, Slamet datang. Kenek truk Pak Suryo itu masih muda β mungkin dua puluh lima β dengan wajah lelah dan kaus yang sama seperti kemarin. Ia membawa kabar: truk sudah diparkir aman di halaman rumah, kunci dititipkan ke ibunya Nadia.
"Terus orderan yang besok gimana, Met?" tanya ibunya Nadia.
Slamet menunduk. "Udah saya batalin, Bu. Saya bilang supirnya sakit. Orangnya ngerti, katanya doain cepet sembuh."
Pak Suryo yang sejak tadi diam di ranjangnya tiba-tiba bicara. "Orderan CirebonβSemarang itu langganan, Met. Jangan dibatalin. Kamu yang bawa."
Semua menoleh. Slamet menggeleng cepat. "Nggak bisa, Pak. SIM saya B1, truk bapak B2. Ketangkep polisi tamat saya."
"Terus gimana?" Pak Suryo setengah duduk, wajahnya memerah. "Cicilan jalan terus! Truk diem juga bayar!"
"Yah, istirahat," kata Nadia tegas, menahan bahu ayahnya. "Itu urusan nanti."
"Nanti-nanti!" Pak Suryo menggebrak kasur β lalu meringis menahan nyeri lututnya. "Kalian nggak ngerti! Truk itu kaki saya! Kalau truk berhenti, semua berhenti!"
Ruangan itu sunyi. Ibunya Nadia mengusap air mata diam-diam. Slamet menatap lantai.
Aku berjongkok di sisi ranjang, sejajar dengan wajah Pak Suryo. "Pak," kataku pelan, "kaki Bapak lagi diperbaiki dokter. Truknya biar kami yang pikirin. Bapak fokus sembuh. Itu perintah."
"Perintah siapa?"
"Perintah calon mantu." Aku tersenyum. "Berlaku mulai sekarang."
Pak Suryo menatapku lama. Lalu β untuk pertama kalinya sejak aku kenal beliau β ia tertawa kecil. Tawa yang patah, tapi tawa.
"Calon mantu kok ngatur," gumamnya, lalu berbaring lagi. "Ya udah. Tapi jangan dijual. Denger? Jangan dijual."
"Iya, Pak. Nggak dijual." Aku melirik Nadia. Kami sama-sama tahu kalimat itu belum final β tapi malam ini bukan waktunya debat.
Malam makin larut. Ibunya Nadia pulang sebentar untuk mengambil baju ganti β diantar Slamet. Tinggal aku, Nadia, dan Pak Suryo yang akhirnya tertidur setelah disuntik obat.
Kami duduk di koridor lagi, berbagi sisa rantang Ibu yang sudah dingin. Nadia makan pelan, matanya sayu.
"Mas inget nggak," katanya tiba-tiba, "waktu Mas cerita soal bapaknya Mas? Yang jualan di pasar?"
Aku mengangguk. Ayahku β sudah lama meninggal, waktu aku kuliah. Serangan jantung di los pasar, di antara tumpukan cabai.
"Waktu itu Mas bilang," Nadia melanjutkan, "Mas nyesel nggak pernah maksa bapaknya Mas cek kesehatan."
"Iya."
"Sekarang aku ngerti rasanya." Ia menatap kosong ke ujung koridor. "Bedanya, ayahku masih ada. Masih bisa dipaksa." Ia menoleh padaku, matanya berkaca tapi tegas. "Besok setelah operasi, aku yang atur jadwal obatnya. Aku yang temenin kontrol. Nggak ada tawar-menawar."
"Itu namanya pundak pertama," kataku.
"Iya." Ia tersenyum tipis. "Ternyata berat. Pantes Mas kelihatan tua."
"Heh!"
Kami tertawa pelan, takut membangunkan pasien lain. Lalu Nadia bersandar di bahuku β dan tidak lama, napasnya berubah pelan dan teratur. Tertidur. Di koridor rumah sakit, dengan kepala di bahuku, seperti dua malam lalu di bus.
Aku tidak bergerak. Kubiarkan ponselku bergetar dua kali di saku β mungkin Ibu, mungkin Dimas β kubiarkan saja. Ada hal yang lebih penting dari membalas pesan: menjadi sandaran yang tidak goyang.
Sekitar jam sebelas malam, suster keluar dari ruang observasi dan menghampiriku.
"Mas, Bapak Suryo bangun. Katanya mau bicara sama Mas. Sendirian."
Aku melirik Nadia yang masih tertidur. Kuselipkan jaketku sebagai bantal di bahunya, lalu masuk pelan-pelan.
Pak Suryo terbaring menatap plafon. Begitu aku duduk di kursi beside ranjang, ia menoleh. Wajahnya β wajah supir truk tiga puluh tahun yang tidak pernah menunjukkan takut β kini terlihat... kecil.
"Gas," bisiknya. "Ayah takut."
Tenggorokanku tercekat. "Takut apa, Pak?"
"Operasi." Ia menatapku. "Tiga puluh tahun nyetir, nggak pernah takut apa-apa. Kecelakaan pernah, begal pernah. Tapi ini..." ia menunjuk lututnya yang dibebat, "ini ayah nggak bisa kontrol. Di jalan, setirnya di tangan ayah. Di sini..." suaranya bergetar, "di sini ayah cuma bisa tiduran."
Aku menggenggam tangannya yang kasar. "Pak, dokter bilang ini operasi kecil. Satu jam. Besok pagi Bapak bangun, lututnya udah dibenerin."
"Kalau gagal?"
"Nggak gagal."
"Gas." Ia menatapku dalam-dalam. "Jangan kasih tahu Nadia kalau ayahnya takut. Dia udah cukup mikirin banyak hal."
Aku mengangguk, mataku panas. "Iya, Pak. Rahasia kita."
Beliau memejamkan mata, bernapas pelan. "Kamu... kamu pundak yang bagus, Gas. Nadia beruntung."
Aku keluar dari ruangan itu dengan dada sesak β dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis. Diam-diam, di koridor yang sepi, supaya tidak ada yang tahu.
Karena ternyata, bahkan pundak pun kadang perlu menangis. Asal tidak ada yang lihat.