β€Ή
10. Api di Cikarang

Api di Cikarang

Pundak Pertama β€’ 1,324 kata

Ilustrasi Api di Cikarang

Asrama itu berbau cat baru dan keringat lama — bau yang menurut Wahyu, teman sekamarnya, adalah “bau resmi semua asrama di Indonesia”.

Kamar tujuh dihuni enam orang. Ranjang susun tiga tingkat, lemari besi yang pintunya tidak bisa dikunci, dan satu kipas angin gantung yang berputar dengan bunyi berdecit seperti tikus kejepit. Bagas mendapat ranjang bawah di sudut — dekat jendela, jauh dari pintu. Posisi yang ia pilih bukan karena nyaman, tapi karena dari sana ia bisa melihat langit kalau tidak bisa tidur.

“Wahyu. Semarang,” kata pemuda berkulit sawo matang yang langsung mengulurkan tangan begitu Bagas masuk. Senyumnya lebar dan tulus. “Kamu yang terakhir datang ya? Dengar-dengar kamu dari sekolah malam juga. Sama kayak aku.”

Yoga tidak mengulurkan tangan. Ia duduk di ranjang atas — ranjang yang ia klaim — sambil memainkan ponselnya. “Bapakku kontraktor,” katanya tanpa ditanya, seolah itu jawaban atas pertanyaan yang tidak diajukan. “Aku ikut program ini biar punya sertifikat resmi. Biar perusahaan Bapakku bisa ikut tender.”

“Oh,” kata Bagas.

“Kamu?” Yoga melirik tas ransel butut yang kini tergeletak di lantai.

“Bagas. Helper bengkel.”

Yoga mengangguk pelan, lalu kembali ke ponselnya. Tidak ada ejekan lanjutan — tapi Bagas hafal betul nada seperti itu. Nada orang yang sudah memutuskan nilaimu sebelum mengenalmu.

Hari pertama dimulai dengan apel pagi di lapangan. Pak Bambang — lelaki berwajah keras yang mengujinya di bengkel — berdiri di depan dua puluh peserta dengan tangan di belakang punggung.

“Dengar baik-baik,” katanya, suaranya berat dan tidak memakai pengeras suara tapi terdengar sampai barisan belakang. “Di sini tidak ada anak emas. Tidak ada anak kontraktor, tidak ada anak siapa-siapa. Yang ada hanya tiga hal: api, besi, dan kejujuran. Api tidak peduli kamu anak siapa. Besi tidak bisa dibohongi. Kalau las-lasanmu jelek, saya bilang jelek — di depan semua orang. Kalau bagus, saya juga bilang bagus. Paham?”

“Paham, Pak!” sahut dua puluh suara.

“Bagus. Karena minggu depan, dua orang dengan nilai terendah akan dipulangkan.”

Keheningan jatuh seperti palu. Bagas merasakan tengkuknya dingin. Dua puluh orang, dua gugur. Ia jauh dari rumah, keluarganya bertaruh segalanya — dan ia bisa dipulangkan minggu depan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti mesin. Teori di pagi hari: simbol-simbol pengelasan, prosedur keselamatan kerja, membaca standar — istilah-istilah asing yang membuat kepala Bagas pening. Ia yang terbiasa belajar dari tangan langsung kini harus belajar dari papan tulis, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa bodoh.

Yoga — tentu saja — bersinar di kelas teori. Ia menjawab semua pertanyaan dengan cepat, kadang sebelum Pak Bambang selesai bertanya.

“Gampang,” katanya suatu siang di kantin, cukup keras untuk didengar Bagas. “Yang susah itu praktik. Eh, tapi ada juga yang teori saja sudah keringatan.”

Beberapa peserta tertawa kecil. Wahyu menyikut Bagas pelan: “Biarin, Gas. Anjing menggonggong—”

“Kafilah berlalu,” Bagas menyelesaikan peribahasa itu sambil tersenyum tipis. Ia tidak marah. Ia terlalu sibuk menghafal simbol las untuk marah.

Tapi pada hari ketiga, giliran praktik membaca gambar teknik tiba — dan keadaan berbalik.

Pak Bambang menempelkan lima lembar gambar teknik di papan: denah kusen, potongan sambungan, simbol-simbol. “Siapa bisa jelaskan gambar nomor tiga? Maju.”

Tidak ada yang maju. Yoga menatap gambar itu dengan kening berkerut — teori di kepalanya ternyata tidak otomatis menerjemahkan garis-garis itu.

Bagas mengangkat tangan. Jantungnya berdegup, tapi tangannya tidak gemetar. Seminggu digembleng Pak Kardi di bengkel — setiap istirahat, setiap sore — telah mengubah garis-garis itu menjadi bahasa ibunya yang kedua.

Ia menjelaskan semuanya: jenis sambungan, ukuran, urutan pengerjaan, bahkan potensi kesalahan kalau salah baca skala. Kelas hening. Pak Bambang menatapnya lama, lalu mengangguk sekali — anggukan yang sama seperti di bengkel dulu.

“Duduk,” katanya. Lalu, kepada seluruh kelas: “Itu namanya baca gambar. Bukan hafalan — pemahaman.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Yoga menyapanya tanpa sindiran. “Eh,” katanya dari ranjang atas, “simbol yang segitiga kebalik tadi maksudnya apa sih?”

Bagas menjelaskan. Yoga mendengarkan. Tidak ada terima kasih — tapi juga tidak ada ejekan. Di asrama laki-laki, itu sudah cukup sebagai perdamaian.

Hari Minggu adalah hari telepon. Bagas antre di telepon umum asrama — ponselnya ia hemat baterainya untuk keadaan darurat — dan menelepon rumah dengan kartu perdana murah yang ia beli di kios depan gerbang.

Suara Ibu terdengar lebih cerah dari yang ia kira. “Ibu baik, Nak. Jahitan Ibu kurangi, kata bu bidan nggak boleh capek. Mbok Sari tiap sore mampir, bawain sayur.”

Lalu Dimas merebut telepon. “Mas! Aku kemarin ngelas bead pertamaku! Lurus! Pak Kardi bilang...” ia berhenti, lalu melanjutkan dengan bangga yang dibuat-buat, “...bilang ‘lumayan, untuk anak kemarin sore’. Terus aku dimarahin karena nggak pakai sarung tangan lengkap. Terus... terus Sinta ngambek karena aku pakai sepedanya.”

Bagas tertawa sampai matanya basah. Dimas yang dulu hanya membawa masalah kini bercerita tentang teguran Pak Kardi seperti bercerita tentang medali.

Sinta: “Mas, aku dapat delapan lima matematika! Bu guru bilang aku pinter kayak Mas Bagas!”

Terakhir, Bapak. Suaranya terdengar lelah — lebih lelah dari biasanya — tapi ia tertawa kecil. “Bapak baik, Gas. Kemarin Bapak jalan sampai musala sendiri. Nggak usah khawatir. Kamu... kamu makan yang cukup di sana.”

“Iya, Pak.”

“Jam Bapak... masih jalan?”

Bagas melirik pergelangan tangannya. “Masih, Pak. Detiknya masih jalan.”

“Bagus. Berarti waktu masih berpihak sama kita.”

Jumat minggu pertama adalah hari penilaian. Dua puluh peserta, satu tugas: membaca gambar kerja, memotong besi sesuai ukuran, lalu mengelas sambungan sudut. Hasilnya diukur dengan siku-siku dan kaliper — toleransi dua milimeter.

Bagas bekerja seperti ia bekerja di bengkel Pak Kardi: tidak terburu-buru, tidak pamer. Ukur dua kali, potong sekali. Tandai titik. Atur ampere. Dan ketika api las menyala, dunia menyempit menjadi lingkaran cahaya biru kecil — hanya ia, besi, dan kejujuran, seperti kata Pak Bambang.

Pengumuman hasil dibacakan sore itu di aula. Pak Bambang berdiri dengan daftar nilai, wajahnya datar seperti biasa.

“Nilai praktik tertinggi minggu ini...” ia berhenti, melirik ke arah barisan, “...Bagas. Presisi satu milimeter. Bersih.”

Tepuk tangan. Wahyu bersorak paling keras. Yoga bertepuk tangan juga — pelan, tapi sungguhan.

Setelah apel bubar, Pak Bambang memanggil Bagas. “Siapa yang mengajari kamu baca gambar?”

“Pak Kardi, Pak. Bos bengkel tempat saya kerja.”

Pak Bambang diam sejenak. “Kardi... bengkel las di gang sebelah pasar itu?”

Bagas mengangguk, heran.

“Dulu dia satu angkatan dengan saya,” kata Pak Bambang pelan, menatap jauh. “Lasnya bagus. Kepalanya... batu.” Untuk pertama kalinya, sudut bibir lelaki keras itu bergerak — hampir seperti senyum. “Kamu beruntung punya guru seperti dia. Jangan kecewakan dia.”

“Siap, Pak.”

Malam itu Bagas berbaring di ranjang bawah, menatap langit-langit asrama yang bernoda rembesan. Dari ranjang atas terdengar dengkuran Yoga — halus, hampir tidak terdengar, seperti anak kecil. Wahyu sudah tertidur sambil memeluk bantal.

Bagas mengeluarkan buku catatan kecil dari bawah bantal — buku yang diselipkan Sinta ke tasnya tanpa ia tahu, halaman pertamanya bertuliskan dengan huruf besar-besar: BUAT NULIS SURAT BUAT KAMI YA MAS! Ia menulis beberapa baris tentang minggu pertamanya — surat yang tidak akan ia kirim, karena perangko mahal dan ceritanya terlalu panjang.

Lalu ia melirik jam tangan Bapak di pergelangan tangannya. Pukul setengah sebelas malam. Tik, tik, tik — detiknya masih berjalan, setia seperti janji.

Ia memejamkan mata.

Ponselnya bergetar di bawah bantal.

Bagas meraihnya dengan jantung berdegup — nama Dimas menyala di layar. Dimas tidak pernah menelepon selarut ini. Dimas bahkan jarang menelepon.

Jari-jarinya yang kapalan menekan tombol hijau dengan susah payah.

“Halo? Dimas?”

“Mas...” Suara adiknya pecah di seberang sana, seperti kaca yang retak. “Mas... Bapak... Bapak jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah, Mas. Berdarah banyak...”

Jam tangan tua di pergelangan Bagas terus berdetak — tik, tik, tik — dan untuk pertama kalinya sejak ia memakainya, setiap detaknya terdengar seperti hitungan mundur.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!