β€Ή
25. Melepas yang Digenggam

Melepas yang Digenggam

Pundak Pertama β€’ 1,826 kata

Ilustrasi Melepas yang Digenggam

Pukul empat pagi, aku sudah berdiri di depan cermin kecil yang retak di kamar mandi umum asrama.

Wajah yang menatapku balik tampak asing: mata sembab dengan kantung hitam, rambut acak-acakan, rahang mengeras menahan sesuatu. Aku mencuci muka dengan air dingin yang menusuk, berharap air itu bisa mencuci bersih kebimbangan di kepalaku. Tidak bisa. Kebimbangan itu sudah mengakar.

Di tanganku, jam tangan Bapak. Tali kulitnya sudah retak-retak dimakan usia, kacanya tergores di beberapa tempat, tapi mesinnya masih berjalan β€” detik demi detik, tanpa lelah, tanpa protes. Seperti Bapak dulu: diam, setia, tidak pernah mengeluh, bahkan di bulan-bulan terakhirnya ketika sakit menggerogoti tubuhnya dan ia tetap memaksakan diri tersenyum di depan kami.

Aku ingat hari Bapak memberikannya padaku dengan jelas. Aku baru lulus SMA, diterima kerja di kota, dan malam sebelum keberangkatanku, Bapak memanggilku ke teras rumah. Dengan tangan yang sudah kurus dan gemetar karena sakit, ia melepaskan jam itu dari pergelangannya dan memakaikannya ke tanganku yang masih canggung dan kikuk.

"Jaga waktu, Le," katanya dengan suara pelan tapi tegas. "Orang yang menghargai waktu, akan dihargai oleh waktu."

Tiga bulan kemudian, Bapak meninggal dalam tidurku β€” maksudku, dalam tidur beliau. Aku bahkan tidak sempat pulang. Aku sedang lembur di kota ketika Ibu menelepon dengan suara yang tidak akan pernah kulupakan.

Sejak hari itu, jam ini tidak pernah lepas dari tanganku. Bukan karena mahal β€” ia tidak mahal, aku tahu persis. Tapi karena setiap kali aku melihatnya, aku ingat siapa yang memberikannya, dan mengapa aku bekerja sejauh ini dari rumah, dan untuk siapa setiap tetes keringatku.

Dan sekarang, aku akan melepaskannya.

Bukan menjual β€” aku mengoreksi diriku sendiri di depan cermin yang retak itu β€” melainkan menggadaikan. Seperti gelang Nenek yang digadaikan. Seperti Ibu yang dulu menggadaikan perhiasan kawinnya satu per satu. Keluarga kami memang punya tradisi menggadaikan hal-hal berharga, pikirku dengan getir. Bedanya, kali ini aku yang memilih dengan sadar, bukan keadaan yang memaksa.

Pukul lima pagi, aku sudah di terminal bus yang masih sepi. Bus pertama ke kota berangkat setengah enam. Di kota, ada toko emas langganan keluarga kami sejak puluhan tahun β€” toko Pak Haji Mahmud, lelaki tua berkacamata tebal yang sudah menjadi saksi bisu siklus menggadaikan dan menebus keluargaku, silih berganti, seperti musim kemarau dan hujan.

Di dalam bus yang masih kosong melompong, aku duduk di dekat jendela. Langit mulai memerah di timur, semburat jingga yang indah β€” keindahan yang terasa kejam pagi itu, karena dunia terlihat begitu damai sementara di dalam dadaku berkecamuk perang. Aku mengeluarkan ponsel, menatap nomor Bude yang tersimpan dengan nama "Bude Sayang". Jam delapan. Aku masih punya tiga jam. Tiga jam untuk mengubah peninggalan Bapak menjadi angka di buku catatanku.

Pikiranku melayang ke sepupuku. Aku membayangkan ia terbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, menggambar pesawat di buku tulisnya dengan tangan yang gemetar menahan sakit. Aku membayangkan Bude duduk di sampingnya semalaman, menggenggam tangannya yang kecil, berdoa dalam hati dengan tasbih yang tidak pernah lepas dari tangannya. Aku membayangkan suami Bude β€” lelaki pendiam yang jarang bicara, yang kukenal sejak kecil β€” berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit dengan tagihan di tangannya dan wajah yang menyembunyikan keputusasaan.

Lalu aku membayangkan Nenek. Sore itu, di pangkuannya yang hangat, gelang yang gemerincing setiap kali kugoyang.

"Bahwa kita pernah tidak punya apa-apa, tapi kita tidak pernah menjual harga diri kita."

Apakah ini menjual harga diri, Nek? Atau justru sebaliknya β€” apakah mempertahankan gelang sementara seorang anak menderita adalah bentuk kesombongan yang dibungkus kesetiaan pada masa lalu?

Aku tidak tahu jawabannya. Dan mungkin, pikirku sambil menatap sawah-sawah yang melintas di luar jendela bus, memang tidak ada jawaban yang benar-benar benar. Hanya ada jawaban yang harus kupilih, lalu kuhidupi akibatnya seumur hidupku.

Pukul enam lewat sedikit, bus tiba di terminal kota. Aku berjalan kaki menyusuri jalan yang mulai ramai menuju toko Pak Haji Mahmud β€” ruko tua dengan etalase kaca yang sedikit buram dimakan waktu. Pak Haji sudah buka, sedang menyapu lantai tokonya yang kecil. Ia menatapku, lalu matanya turun ke tanganku β€” ke jam yang kuletakkan perlahan di atas meja kaca etalase.

"Jam bapakmu," katanya pelan. Bukan bertanya. Menyatakan. Ia mengenali jam itu. Tentu saja ia mengenali β€” Bapak pernah menggadaikannya juga, dulu sekali, waktu aku masih kecil dan kami kekurangan uang untuk biaya sekolahku. Lalu menebusnya kembali tiga bulan kemudian dengan wajah berseri-seri seperti orang menang lotre.

"Iya, Pak Haji," kataku. Suaraku stabil. Aku bangga pada diriku sendiri karena suaraku stabil, karena di dalam aku hancur berkeping-keping.

Pak Haji memeriksa jam itu dengan lup tukang emasnya. Lama. Terlalu lama. Ia memutar-mutarnya, mengetuk-ngetuknya pelan, mendengarkan mesinnya. Lalu ia meletakkannya kembali di atas kain beludru dan menatapku lekat-lekat dari balik kacamatanya yang tebal.

"Bagas," katanya dengan suara berat, "kamu tahu jam ini tidak seberapa harganya. Paling..." ia menyebut angka yang membuat dadaku nyeri seperti ditusuk. Tidak sampai separuh dari delapan ratus ribu yang kubutuhkan. Bahkan tidak sampai sepertiganya.

Aku mengangguk pelan. Aku sudah menduga. Jam murahan tetaplah jam murahan, betapa pun berharganya ia di hatiku. Dunia tidak membayar kenangan.

"Tapi," lanjut Pak Haji, dan ia membungkuk membuka laci mejanya yang berderit, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah menguning, "bapakmu dulu pernah titip pesan ke saya. Katanya, kalau suatu hari anak lelakinya datang membawa jam ini untuk digadaikan, berikan amplop ini padanya. Saya simpan sudah bertahun-tahun, Nak."

Tanganku gemetar hebat saat menerima amplop itu. Di dalamnya, selembar surat β€” kertas yang sudah menguning di tepinya β€” dengan tulisan tangan Bapak yang kukenali betul meski sudah bertahun-tahun tidak melihatnya. Tulisan yang miring ke kiri, huruf-hurufnya tegas dan sedikit bergetar β€” ditulis oleh tangan yang sakit, aku sadar.

Aku membacanya di tempat, berdiri di depan etalase toko Pak Haji, dengan cahaya pagi yang masuk miring dari jendela.

"Le, kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sedang sangat membutuhkan, sampai jam ini pun kamu gadaikan. Bapak minta maaf tidak bisa ada di sana bersamamu. Tapi Bapak mau kamu tahu satu hal: jam ini Bapak beli dari gaji pertama Bapak bekerja. Murah, Le. Sangat murah. Tapi Bapak pakai setiap hari selama dua puluh tahun, dan tidak pernah sekalipun Bapak merasa malu memakainya. Karena harga sebuah benda bukan di harganya, Le. Tapi di apa yang rela kita korbankan untuk orang yang kita sayang. Kalau hari ini kamu menggadaikan jam ini, Bapak bangga. Bukan karena jamnya. Tapi karena kamu sudah menjadi lelaki yang mengerti: yang kita genggam erat-erat kadang harus dilepas, supaya tangan kita bebas untuk menolong yang lain. Jaga Ibumu. Jaga adik-adikmu. Bapak selalu bersamamu. β€” Bapak."

Air mataku jatuh ke kertas itu, membasahi tulisan Bapak, membuat tintanya sedikit luntur. Pak Haji diam-diam menggeser kotak tisu ke arahku tanpa berkata apa-apa. Lelaki tua itu sudah terlalu sering melihat air mata di tokonya.

Aku menggadaikan jam itu. Uangnya β€” ditambah seluruh tabunganku β€” masih kurang. Setelah dihitung berulang-ulang di atas meja kaca itu, masih kurang sekitar tiga ratus ribu dari dua juta dua ratus ribu yang kubutuhkan.

Tiga ratus ribu. Begitu dekat, namun tetap jauh. Seperti melihat daratan dari perahu yang bocor.

Aku keluar dari toko Pak Haji dengan amplop berisi uang dan surat Bapak yang kuselipkan hati-hati di saku dada kiriku, dekat jantung. Pukul tujuh lewat seperempat. Aku duduk di bangku taman dekat alun-alun kota yang mulai ramai, menatap surat itu sekali lagi, membacanya untuk ketiga kalinya, lalu dengan tangan yang mantap aku menelepon Bude.

Satu jam lebih awal dari janji jam delapan. Tapi aku tidak bisa menunggu lagi. Keputusan ini sudah terlalu lama menggerogotiku dari dalam.

"Bude," kataku begitu telepon diangkat, tanpa basa-basi, "aku sudah memutuskan."

"Keputusan apa, Gas? Kamu di mana? Kok ramai?"

"Aku di kota, Bude. Dengarkan aku baik-baik." Aku menarik napas dalam. Langit pagi cerah membiru. Burung-burung gereja berterbangan di antara pohon trembesi. Di seberang sana, aku bisa mendengar suara televisi kecil di rumah Bude, suara sendok beradu dengan gelas, kehidupan yang berjalan normal.

"Bude jual saja gelangnya ke juragan itu."

Hening. Hening yang panjang.

"Gas... kamu yakin? Kamu tidak... kamu tidak akan menyesal?"

"Tidak," kataku, dan kali ini aku jujur sepenuhnya, "aku tidak yakin, Bude. Mungkin aku akan menyesal. Mungkin seumur hidup aku akan bertanya-tanya. Tapi Bude, aku sudah berpikir semalaman sampai kepalaku mau pecah. Gelang itu amanah Nenek, iya, benar. Tapi Nenek juga yang mengajariku bahwa keluarga lebih penting dari benda. Dan Bapak..." suaraku bergetar, "Bapak baru saja mengajariku dari alam sana, bahwa yang kita genggam erat-erat kadang harus dilepas, supaya tangan kita bisa menolong yang lain."

Aku menceritakan tentang surat Bapak dengan singkat. Bude terisak pelan di seberang.

"Dengarkan aku, Bude. Uang empat juta lima ratus ribu itu lebih dari cukup untuk operasi. Sisanya bisa untuk biaya rawat inap, untuk obat, untuk ongkos bolak-balik rumah sakit. Anak Bude harus sembuh. Dia mau jadi pilot, Bude. Biarkan dia terbang. Biarkan dia melihat awan dari atas, seperti yang selalu ia gambar."

"Tapi janji kamu ke Ibu... janji menebus gelang itu... Ibu pasti kecewa, Gas."

Aku menatap langit yang biru itu. "Aku akan menebus janjiku dengan cara lain, Bude. Aku akan kerja lebih keras. Aku akan lembur setiap ada kesempatan. Aku akan pastikan Ibu tidak kekurangan apa-apa sampai kapan pun. Gelang itu..." aku berhenti, menelan ludah, "gelang itu sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menjaga keluarga kita selama puluhan tahun. Sekarang giliran ia menjaga sepupuku. Itu bukan kehilangan, Bude. Itu... itu ia naik pangkat."

Bude tertawa kecil di tengah tangisnya mendengar leluconku yang payah itu. "Kamu ini... persis Bapakmu kalau sudah bicara."

"Terima kasih, Gas," lanjut Bude setelah tenang. "Bude tidak tahu harus bilang apa. Bude janji, kalau suatu hari Bude punya rezeki lebih, Bude akan mengganti semuanya. Bude akan..."

"Tidak perlu janji apa-apa, Bude. Sembuhkan anak Bude. Itu saja. Itu sudah lebih dari cukup."

Aku menutup telepon. Pukul 07.31. Matahari sudah naik sepenuhnya, hangat di kulitku. Di taman, seorang penjual balon lewat, balon-balon warna-warni bergoyang tertiup angin pagi, anak-anak kecil berlarian mengejarnya sambil tertawa.

Aku merasa ringan. Dan kosong β€” seperti seseorang yang baru saja mendonorkan darah: lega karena bisa menolong, pusing karena ada bagian dari dirinya yang pergi.

Aku berjalan kembali ke terminal dengan langkah lambat. Di bus perjalanan pulang, aku tertidur β€” tidur pertama setelah hampir dua hari terjaga. Dalam tidurku, aku bermimpi Nenek. Ia duduk di teras rumah kayu kami yang dulu, gelang di tangannya berkilau tertimpa cahaya sore. Ia tersenyum padaku dan melambaikan tangan perlahan, seolah berkata: tidak apa-apa, Le. Kamu sudah benar. Tidak apa-apa.

Aku terbangun saat bus memasuki terminal. Pukul sepuluh pagi. Ponselku bergetar β€” pesan dari Bude.

"Gas, juragan sudah datang. Uang sudah Bude terima tunai, Bude hitung tiga kali. Besok anak Bude masuk rumah sakit untuk persiapan operasi. Terima kasih, Nak. Kamu anak yang baik. Ibu pasti bangga padamu."

Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua hari, aku tersenyum sungguhan β€” senyum yang sampai ke mata.

Lalu pesan kedua masuk. Dari nomor yang tidak kukenal sama sekali.

"Mas Bagas? Ini saya, juragan yang membeli gelang Bude tadi pagi. Boleh saya bertemu sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan tentang gelang itu. Sesuatu yang... Bude dan Ibu Mas mungkin belum tahu."

Tanganku berhenti di tengah mengetik balasan untuk Bude.

Sesuatu yang belum diketahui. Tentang gelang itu.

Jantungku yang baru saja tenang kembali berdegup kencang. Apa lagi sekarang? Gelang itu sudah terjual. Uangnya sudah di tangan Bude. Anak Bude akan dioperasi. Semuanya seharusnya selesai.

Seharusnya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!