Surat-surat yang Tak Pernah Dikirim
Pundak Pertama β’ 1,246 kata
Sarapan pagi itu terasa seperti sarapan terakhir sebelum ujian β nasi hangat, tempe goreng, sambal, dan teh manis yang dibuat Ibu dengan takaran yang pas seperti biasa. Tapi tidak ada yang benar-benar makan. Di tengah meja bambu, tumpukan amplop itu menunggu β cokelat, menua, dengan tali rafia yang sudah kulepas dan kuikat lagi tiga kali karena tanganku tidak bisa diam.
'Ibu dulu,' kata Bude. Ibu menggeleng. 'Kamu saja dulu. Ibu... Ibu butuh napas.' Bude tertawa kecil, mengambil amplopnya β lalu tawanya berhenti di tengah jalan ketika ia membaca baris pertama. Ia membaca dalam diam β bibirnya bergerak tanpa suara β dan di tengah surat, ia tertawa terbahak-bahak sambil menangis. 'Nenek ingat!' katanya di sela tangis. 'Nenek ingat aku mencuri jambu Pak Lurah waktu umur sembilan tahun! Ia yang menutup-nutupiku!'
Bude membacakan satu bagian dengan suara bergetar: 'Untuk adikku yang paling pandai tertawa β kamu yang mengajariku bahwa rumah yang tidak pernah tertawa bukanlah rumah, hanya bangunan. Jangan berhenti tertawa, bahkan setelah aku pergi. Terutama setelah aku pergi.' Bude memeluk surat itu ke dadanya seperti memeluk Nenek sendiri.
Sepupuku membuka amplopnya tanpa banyak bicara. Ia membaca lama β lebih lama dari Bude. Wajahnya yang biasanya datar perlahan berubah. Di akhir, ia menutup surat itu, menatap kosong ke pohon jambu, dan berkata pelan: 'Nenek tahu.' β 'Tahu apa?' tanyaku. Ia tersenyum miring, mata berkaca-kaca. 'Tentang tahun aku pergi tanpa pamit. Tentang rasa bersalah yang kubawa ke mana-mana. Nenek menulis...' ia berhenti, menelan ludah, '...bahwa maaf sudah diberikan sebelum diminta. Bahwa anak yang pergi bukanlah anak yang hilang β hanya anak yang sedang mencari jalan pulang.'
Aku meletakkan tanganku di pundaknya. Ia tidak menepis β malah bersandar sedikit, seperti dulu waktu kami kecil dan ia kalah berantem dengan anak kampung sebelah. Pundakku β lagi-lagi menjadi tempat bersandar. Dan lagi-lagi, tidak terasa seperti beban.
Ibu membuka amplopnya terakhir. Ia membacanya pelan β sangat pelan β seolah setiap kata adalah anak tangga yang harus dinaiki hati-hati. Di tengah surat, air matanya jatuh ke kertas, dan ia buru-buru mengusapnya β 'jangan, nanti tintanya luntur,' katanya sambil tertawa kecil yang patah. Ia tidak membacakan semuanya β hanya satu kalimat, di akhir, dengan suara yang nyaris berbisik: 'Terima kasih sudah menjaga kunci itu, Nak. Kamu lebih kuat dari yang pernah kamu kira β dan Nenek tahu, karena kamulah yang paling mirip denganku.'
Kami menangis β berempat, di teras itu, di pagi yang terang. Tapi tangis yang aneh: di sela-selanya ada tawa. Bude menirukan suara Nenek mengomel. Sepupuku bercerita tentang kenakalannya yang ternyata diketahui Nenek semua. Ibu β Ibu hanya tersenyum sambil mengusap air mata, seperti orang yang akhirnya menerima surat yang ditunggu dua puluh empat tahun.
'Sekarang,' kata sepupuku setelah tangis mereda, menatap pergelangan tanganku, 'gelang.' Ibu terdiam sejenak β lalu mengangguk pelan. 'Ada yang harus Ibu ceritakan dulu,' katanya. 'Tiga hari lalu β sebelum kita berangkat β Ibu ke tempat gadai.'
Kami menatapnya. Ibu melanjutkan, menatap cangkir tehnya: 'Ibu menebusnya sementara. Dengan tabungan Ibu. Supaya...' ia menatap gelang di pergelanganku, '...supaya ia hadir saat peti dibuka. Nenek berpesan β kunci dan gelang harus bertemu di depan peti. Tapi itu baru sementara.' Ia menatap kami bergantian. 'Pelunasannya harus bareng-bareng. Seperti janji.'
Sepupuku mengangguk pelan β lalu tertawa pendek. 'Ibu ini... dramawan juga ternyata.' Ibu tersenyum β senyum yang menyimpan rahasia itu lagi. 'Ibu anak Nenek,' katanya ringan. Dan kami semua tertawa β tawa yang hangat, yang membuat dada terasa lapang.
Siang itu kami ke kota kecamatan β berempat, naik ojek seperti berangkat perang kecil-kecilan. Tempat gadai itu kecil, di ruko tua di pinggir jalan β papan namanya pudar, tapi di dalamnya rapi dan sejuk. Bapak penjaganya β lelaki tua berkacamata β mengenali Ibu langsung. 'Sudah lunas separuh, Bu,' katanya sambil membuka buku besar. 'Tinggal sisanya.'
Ibu mengeluarkan amplop dari tasnya β amplop berisi uang tabungan Nenek dari peti, ditambah patungan kami berempat yang diam-diam sudah disiapkan sejak semalam. 'Uang Nenek ikut menebusnya,' kata Ibu pelan, mengelus amplop-amplop kecil bertuliskan 'Untuk tebus gelang' itu. 'Ia menabung bertahun-tahun untuk hari ini β dan tidak tahu bahwa hari ini ia tidak ada.'
Bapak tua itu menghitung, mencatat, lalu mencap buku itu dengan stempel merah: LUNAS. Bunyinya β buk β terdengar sederhana. Tapi di telingaku, bunyi itu sekeras klek kunci gudang tadi pagi. Tujuh tahun. Tujuh tahun gelang ini menunggu untuk pulang.
Ia masuk ke belakang dan kembali dengan kotak beludru kecil. Membukanya β dan di sana, gelang emas Nenek itu berkilau di bawah lampu, seperti tidak pernah pergi. Ibu mengangkatnya dengan kedua tangan β hati-hati, seperti mengangkat bayi β lalu menatapku. 'Sini,' katanya.
Ia melepaskan dulu gelang yang kupakai tiga hari ini β 'yang sementara,' katanya β lalu memasangkan yang asli ke pergelangan tanganku. Dingin sesaat β lalu hangat. Sangat hangat. Seperti genggaman yang kukenali.
'Sekarang resmi,' kata Ibu. 'Tidak ada lagi kata sementara.' Sepupuku menepuk pundakku. Bude mengusap air mata β lagi. Dan aku β aku hanya menatap gelang itu, yang berkilau di pergelangan tanganku, yang terasa seperti... seperti Nenek sendiri yang akhirnya, setelah tujuh tahun, pulang ke tempatnya.
Sore harinya kami pulang ke kampung dengan hati yang ringan β seringan yang pernah kurasakan. Di teras, di bawah langit yang mulai keemasan, Ibu menyeduh teh. Bude mengupas jambu. Sepupuku bersandar di tiang, memejamkan mata. Dan aku β aku mengeluarkan amplop bersegel lilin merah itu dari saku.
'Sudah ditebus,' kataku pelan β entah kepada siapa. Mungkin kepada Nenek. Aku memecahkan segel lilin itu dengan ibu jari. Kertas di dalamnya tipis, dilipat tiga kali. Tulisan tangan Nenek β miring, tegas, familiar seperti bau minyak telon.
'Untuk Bagas,' surat itu dimulai. 'Cucuku yang lahir di bulan September, yang menangis paling keras di antara semua bayi yang pernah Nenek timang β dan yang pundaknya paling lebar, bahkan sebelum ia tahu untuk apa pundak itu.'
Aku membaca pelan β tentang kunci yang dijaganya lima puluh dua tahun, tentang malam-malam ia duduk di depan peti dan berbicara padanya seperti pada teman lama, tentang keyakinannya bahwa 'peti ini bukan untuk menyimpan harta β peti ini untuk menyimpan keberanian, supaya tidak hilang sebelum waktunya.'
Lalu tentang Yati β tentang terminal tengah malam tahun 1974, tentang sahabat yang diantar pergi dan tidak pernah kembali, tentang kata-kata yang tidak sempat diucapkan. 'Nenek tidak sempat minta maaf, Le. Dan itu β itu satu-satunya yang Nenek sesali. Bukan kemiskinan. Bukan lelah. Hanya kata yang tidak terucap.'
Dan di akhir surat β dengan huruf yang lebih besar, seolah ditulis dengan seluruh sisa tenaga β kalimat yang membuat tanganku berhenti gemetar dan dadaku berhenti bernapas sesaat:
'Le, Nenek sudah selesai menjaga. Ibumu sudah selesai menjaga. Kunci ini sekarang milikmu β bukan untuk dikunci, tapi untuk dibuka. Dan Nenek hanya punya satu pertanyaan terakhir untukmu β bukan sebagai nenekmu, tapi sebagai perempuan yang pernah berdiri gemetar di terminal tengah malam: setelah semua pintu terbuka... kamu mau jadi apa? Bukan untuk kami. Untuk kamu.'
Aku menatap kalimat itu lama. Di sekelilingku, suara keluarga berlanjut β Bude tertawa, Ibu menuang teh, sepupuku bersenandung pelan. Dunia berjalan seperti biasa. Tapi di dalam dadaku, pertanyaan itu bergema β seperti klek kunci, seperti stempel LUNAS β mengetuk pintu yang bahkan tidak kutahu masih tertutup.
Malam itu aku berbaring di kamar depan dengan surat Nenek di dada. Bintang-bintang bertaburan di luar jendela β bintang yang sama seperti semalam. Tapi semalam aku bertanya 'bagaimana kalau aku tidak cukup?' β dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu tahun, aku tidak punya jawaban. Dan anehnya β untuk pertama kalinya juga β tidak punya jawaban tidak membuatku takut.