β€Ή
27. Malam Operasi

Malam Operasi

Pundak Pertama β€’ 1,409 kata

Ilustrasi Malam Operasi

Aku tidak tidur malam itu. Bukan karena kasur kosku yang tipis, bukan karena suara motor yang sesekali lewat di gang, tapi karena setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Nenek tersenyum melambaikan tangan β€” sama seperti dalam mimpiku di bus kemarin. Bedanya, kali ini beliau memegang tanganku erat, dan bibirnya bergerak seolah mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kudengar.

Pukul empat pagi aku menyerah untuk tidur. Aku bangun, mengambil air wudu, dan shalat tahajud di sudut kamarku yang sempit. Dalam sujud yang panjang, aku berdoa untuk satu hal saja: lancarkan operasi anak Bude hari ini. Tidak ada doa untuk diriku sendiri. Rasanya tidak pantas meminta sesuatu untuk diri sendiri di saat seperti ini.

Jam lima pagi aku sudah mandi dan berpakaian rapi β€” kemeja putih yang biasa kupakai ke kantor, meskipun hari ini aku mengambil cuti. Di meja kecil di sudut kamar, kertas janji dari Pak Tomo tergeletak di samping surat Nenek yang semalam kusalin ulang ke buku catatanku agar aslinya tidak rusak. Aku membaca ulang tulisan Nenek sekali lagi, dan untuk kesekian kalinya dadaku terasa hangat sekaligus perih.

"Yang ikhlas melepas, akan diberi ganti yang lebih baik."

Aku melipat kertas janji itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dompet, di tempat yang dulu biasa kutaruh foto Bapak. Lalu aku berangkat ke rumah sakit naik ojek, menembus udara pagi kota yang masih sepi dan dingin.

Rumah sakit daerah itu sudah ramai ketika aku tiba pukul setengah enam. Di lobi, Bude sudah menunggu bersama anaknya β€” sepupuku yang baru berusia sembilan belas tahun. Wajahnya pucat, tapi ia berusaha tersenyum ketika melihatku datang.

"Mas Bagas," sapanya lemah.

"Pagi, Le," kataku, duduk di sampingnya. "Sudah sarapan?"

Ia menggeleng. "Kata suster tidak boleh makan dulu sebelum operasi."

Aku mengangguk, lalu menoleh ke Bude yang duduk di sisi lain dengan mata sembab. Pasti beliau juga tidak tidur semalam. "Bude sudah makan?" tanyaku.

"Nanti saja, Le," jawab Bude pelan. "Bude tidak nafsu."

Aku tidak memaksa. Aku hanya pergi ke kantin rumah sakit dan membelikan dua bungkus bubur ayam serta teh hangat. "Tetap harus makan, Bude. Bude harus kuat. Kalau Bude tumbang, siapa yang menemani dia di dalam nanti?" kataku sambil menyerahkan bungkus itu.

Bude menerimanya dengan tangan bergetar. "Kamu ini... sejak kecil memang paling bisa menenangkan orang," katanya dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Pukul tujuh, seorang perawat datang memanggil nama sepupuku. Saatnya persiapan operasi. Bude menggenggam tangan anaknya erat-erat, membisikkan doa-doa di telinganya. Aku melihat mata sepupuku berkaca-kaca, tapi ia mengangguk berani.

"Mas," katanya padaku sebelum dibawa masuk, "nanti kalau aku sudah sembuh... aku mau main bola lagi. Boleh ya?"

Tenggorokanku tercekat. "Boleh. Nanti Mas yang jadi kipernya."

Ia tersenyum, lalu ranjangnya didorong masuk ke ruang persiapan. Bude dan aku ditinggalkan di ruang tunggu yang dingin, duduk berdampingan di kursi plastik yang keras, menatap pintu yang tertutup rapat.

Jam dinding di ruang tunggu berdetak pelan. Tik. Tik. Tik.

Setiap dentingnya membawaku kembali ke malam itu β€” malam sebelum aku berangkat ke kota setelah lulus SMA. Bapak duduk di beranda rumah kami yang sederhana, bulan separuh menggantung di langit. Beliau melepas jam tangan dari pergelangan tangannya yang sudah kurus dimakan sakit, lalu memasangkannya ke tanganku dengan gerakan yang pelan dan hati-hati.

"Jaga waktu, Le," kata Bapak. "Orang yang menghargai waktu, akan dihargai oleh waktu."

Aku ingat aroma minyak kayu putih dari tangan Bapak. Aku ingat bagaimana beliau tersenyum β€” senyum yang mencoba menyembunyikan rasa sakit. Tiga bulan kemudian Bapak meninggal, dan aku tidak ada di sana. Aku sedang lembur di kota, mengejar target kerjaan, mengejar uang yang kukira bisa menggantikan kehadiranku. Telepon dari Ibu datang tengah malam, dan dunia seakan berhenti berputar.

"Bapakmu sudah tidak ada, Le."

Lima kata yang menghancurkan duniaku. Aku pulang keesokan paginya dengan bus pertama, tapi yang kutemui hanya jenazah yang sudah dikafani. Aku tidak sempat menggenggam tangannya untuk terakhir kali. Aku tidak sempat meminta maaf karena tidak pulang lebih sering. Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih untuk jam itu, untuk semua nasihatnya, untuk seluruh hidupnya yang dihabiskan bekerja demi kami.

"Le?" suara Bude membuyarkan lamunanku. "Kamu menangis?"

Aku buru-buru menyeka pipiku. "Tidak, Bude. Cuma... kena angin AC."

Bude tersenyum pahit. "Kamu itu dari kecil tidak bisa berbohong. Persis Bapakmu." Beliau menghela napas panjang. "Le... Bude mau bilang sesuatu. Uang dari gelang itu... setelah dipotong biaya operasi, masih ada sisa. Bude simpan baik-baik. Nanti kalau kamu butuh menebus jam Bapakmu, pakai uang itu. Jangan ditolak."

Aku menatap Bude. "Bude, itu uang untuk kesembuhan anak Bude. Untuk biaya rawat inap, obat, kontrol. Jangan dipikirkan untuk saya."

"Tapi jam itu peninggalan Bapakmu, Le. Satu-satunya."

"Dan anak Bude adalah satu-satunya anak Bude," jawabku. "Bapak pasti lebih senang jamnya dipakai menyelamatkan nyawa daripada tergantung di dinding sebagai pajangan."

Bude tidak menjawab. Beliau hanya menggenggam tanganku erat, dan kami duduk dalam diam yang panjang, ditemani detak jam dinding yang tak pernah berhenti.

Pukul sembilan, ponselku bergetar. Nama Ibu muncul di layar. Aku bangkit dan berjalan ke koridor yang lebih sepi sebelum mengangkatnya.

"Halo, Bu."

"Le? Kamu di mana? Suaramu seperti di tempat ramai."

Aku ragu sejenak. Ibu belum tahu apa-apa β€” belum tahu tentang jam yang kugadai, belum tahu tentang gelang yang kujual, belum tahu tentang sepupu yang sedang dioperasi. Semua ini terjadi begitu cepat dalam dua hari terakhir.

"Gas di rumah sakit, Bu. Menemani Bude. Anak Bude dioperasi hari ini."

"Ya Allah... operasi apa, Le?" Suara Ibu terdengar panik.

Aku menjelaskan sebisaku dengan tenang β€” bahwa ini operasi yang sudah direncanakan, bahwa dokternya bagus, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ibu terdiam cukup lama di seberang sana.

"Le," kata Ibu akhirnya, suaranya pelan, "kamu... kamu baik-baik saja? Ibu merasa ada yang kamu sembunyikan."

Ibu selalu bisa membaca anaknya, bahkan dari jarak ratusan kilometer, bahkan hanya lewat suara. Tenggorokanku tercekat. Kata-kata itu sudah di ujung lidahku β€” tentang jam Bapak, tentang gelang Nenek, tentang surat di dalam pengait, tentang janji Pak Tomo. Tapi aku menahannya.

Belum saatnya. Ibu tidak perlu menanggung beban ini dari jauh, sendirian di kampung, tanpa bisa berbuat apa-apa selain khawatir. Nanti, kalau aku pulang, aku akan menceritakan semuanya sambil memegang tangannya. Bertatap muka. Seperti seharusnya.

"Gas baik-baik saja, Bu," kataku akhirnya. "Doakan saja operasinya lancar. Nanti kalau Gas pulang kampung, Gas cerita semuanya."

"Ibu doakan, Le. Ibu selalu doakan kamu."

Setelah telepon ditutup, aku berdiri cukup lama di koridor, menatap jendela yang menghadap ke parkiran. Di kaca jendela itu, aku melihat bayanganku sendiri β€” seorang laki-laki berusia hampir tiga puluh satu tahun, dengan kantung mata yang dalam dan kemeja yang mulai kusut. Pundakku terasa berat, seperti selalu. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban itu terasa... bermakna.

Pukul sebelas lewat dua puluh menit, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan masker yang masih tergantung di lehernya. Bude dan aku langsung berdiri, berlari kecil menghampirinya.

"Keluarga pasien?" tanya dokter itu.

"Iya, Dok. Saya ibunya. Ini keponakan saya," jawab Bude dengan suara bergetar.

Dokter itu tersenyum β€” senyum yang langsung membuat lututku lemas karena lega. "Operasinya berhasil dengan baik. Pasien dalam kondisi stabil. Sekarang sedang dipindahkan ke ruang pemulihan. Nanti setelah sadar penuh, boleh dijenguk."

Bude langsung sujud syukur di lantai ruang tunggu yang dingin itu, menangis sejadi-jadinya. Aku memeluk bahu beliau yang bergetar, dan air mataku sendiri jatuh tanpa bisa kutahan. Di langit-langit yang putih dan steril itu, aku berbisik pelan, "Terima kasih, Nek. Terima kasih, Pak."

Sore harinya, sepupuku sudah sadar. Wajahnya masih pucat dan ia meringis menahan nyeri, tapi matanya jernih dan ia tersenyum ketika melihatku masuk ke ruang rawat.

"Mas..." katanya lemah.

"Jangan banyak bicara dulu," kataku, duduk di kursi di samping ranjangnya dan menggenggam tangannya. Tangannya dingin. "Istirahat. Nanti kalau sudah sembuh, kita main bola. Mas sudah janji jadi kiper."

Ia mengangguk pelan, lalu matanya terpejam lagi β€” tertidur dengan damai. Bude duduk di sisi lain ranjang, menatap anaknya dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Tatapan seorang ibu yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang hampir hilang.

Malam itu aku pulang ke kos dengan perasaan yang aneh β€” lelah sampai ke tulang, tapi ringan di dada. Aku duduk di tepi kasur, membuka buku catatanku, dan menulis satu kalimat di halaman yang kosong:

"Hari ini aku belajar: melepas kadang adalah bentuk menjaga yang paling dalam."

Aku menatap kalimat itu cukup lama. Lalu ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bude:

"Le, Bude baru saja ditelepon juragan yang membeli gelang kemarin. Katanya ada yang harus kamu tahu. Katanya... gelang Nenek itu tidak sendirian, Le. Katanya ada pasangannya."

Tanganku berhenti di atas layar ponsel. Jantungku berdegup kencang. Di luar jendela kos, hujan kembali turun β€” dan di kepalaku, pertanyaan semalam kembali menyala, lebih terang dari sebelumnya: rahasia apa lagi yang disembunyikan Nenek selama ini?

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!