β€Ή
91. Dinding yang Basah

Dinding yang Basah

Pundak Pertama β€’ 1,327 kata

Ilustrasi Dinding yang Basah

Senin pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya, karena dinding yang basah itu tidak mau pergi dari pikiranku.

Semalam, setelah kami menemukan rembesan itu, Ayah tidak banyak bicara. Ia hanya menatap dinding itu lama, lalu menutup pintu ruangan belakang dengan pelan, seperti orang yang sedang menutup sesuatu yang belum siap ia hadapi malam itu juga. Ibu pun tidak banyak bicara, hanya berkata, "Besok saja kita lihat lagi, dengan cahaya yang terang." Dan Nadia, seperti biasa, menenangkan kami berdua dengan cara yang paling sederhana: membuatkan teh, menyuruh kami tidur, dan berkata bahwa masalah yang dilihat dengan kepala dingin di pagi hari selalu terasa lebih kecil daripada masalah yang dilihat dengan kepala lelah di malam hari.

Pagi ini, dengan cahaya yang terang, kami kembali ke ruangan belakang, dan dinding itu memang masih basah, tetapi kini kami bisa melihatnya dengan lebih jelas: bercaknya tidak terlalu besar, hanya selebar kira-kira dua telapak tangan, di sudut atas, dekat dengan atap, dan cat yang mengelupas itu hanya di permukaannya saja, belum sampai merusak dinding bagian dalam.

Ayah mengetuk dinding itu, mendengarkan bunyinya, lalu berkata, "Masih kuat. Ini belum parah. Airnya datang dari atap, dari genteng yang bergeser, atau dari talang yang mampet. Kalau atapnya dibetulkan, dindingnya bisa dikeringkan, dicat ulang, dan selesai. Tidak perlu membongkar dinding."

Aku mengangguk, lega, tetapi juga sadar bahwa kelegaan itu tidak boleh membuat kami meremehkan. Karena air yang merembes pelan-pelan selama bertahun-tahun, kalau dibiarkan, bisa menjadi parah, sama seperti capek yang disimpan sendirian selama berbulan-bulan, yang kalau dibiarkan, bisa menjadi sakit yang sesungguhnya.

"Yah," kataku, "kita panggil tukang langganan saja, yang dulu pernah memperbaiki atap dapur. Biar ia lihat, biar ia yang bilang, apa yang perlu diperbaiki, dan berapa biayanya. Kita tidak usah menebak-nebak sendiri."

Ayah mengangguk, tetapi aku melihat, di wajahnya, ada keraguan yang kecil, keraguan yang aku kenali: keraguan orang yang selama ini selalu memperbaiki rumahnya sendiri, dengan tangannya sendiri, dan kini harus mengakui bahwa ada pekerjaan yang sudah tidak bisa ia lakukan sendiri lagi, karena tubuhnya sudah tidak sekuat dulu, dan karena atap itu tinggi, dan naik ke atap itu bukan lagi pekerjaan untuk orang seusianya.

Nadia, yang peka terhadap keraguan itu, berkata dengan pelan, "Yah, tukang itu cuma memeriksa, bukan mengambil alih. Ayah yang tetap memutuskan, Ayah yang tetap mengawasi. Kita cuma butuh orang yang bisa naik ke atap, karena Ayah tidak boleh naik lagi."

Ayah diam sebentar, lalu mengangguk, mengangguk yang pelan, tetapi sungguh-sungguh, anggukan orang yang sedang belajar, lagi dan lagi, bahwa meminta tolong itu bukan mengakui kalah, melainkan cara lain untuk tetap menjaga rumahnya, dengan cara yang lebih aman.

Siang itu, tukang langganan itu datang, seorang bapak yang sudah lama kami kenal, yang dulu pernah memperbaiki atap dapur, dan yang cara bicaranya lugas, tidak berbelit-belit. Ia naik ke atap, memeriksa gentengnya, memeriksa talangnya, lalu turun, mengelap tangannya, dan berkata dengan nada yang biasa, seperti orang yang sedang menyampaikan kabar yang tidak perlu ditakuti.

"Gentengnya ada tiga yang bergeser, Pak, dan talangnya mampet oleh daun-daun kering. Airnya jadi meluber, lalu merembes ke dinding. Tidak parah. Kalau gentengnya dibetulkan dan talangnya dibersihkan, beres. Biayanya tidak besar, pekerjaannya sehari selesai, dan dindingnya, setelah kering, tinggal dicat ulang."

Ayah mendengarkan dengan saksama, bertanya tentang gentengnya, tentang talangnya, tentang apakah ada lagi yang perlu diperiksa, dan tukang itu menjawab semuanya dengan sabar, tanpa membuat Ayah merasa tidak tahu apa-apa. Setelah tukang itu pulang, Ayah duduk di teras, dan wajahnya terlihat lebih ringan, seperti orang yang baru saja mendengar bahwa masalah yang ia takutkan ternyata lebih kecil daripada yang ia bayangkan.

"Kita kerjakan bertahap, Gas," kata Ayah. "Pertama, atap dan talang, supaya airnya berhenti. Kedua, dinding dikeringkan, dicat ulang. Ketiga, baru ruangan itu dirapikan untuk Ibumu, dengan meja lama yang diperbaiki, dengan lemari kecil yang dicat ulang. Tidak sekaligus. Satu per satu, seperti dulu, waktu kami membangun rumah ini, satu baris demi satu baris."

Ibu, yang mendengarkan dari ruang tengah, datang membawa teh, lalu berkata, "Dan Ibu yang akan memilih warna catnya. Bukan warna yang mahal, bukan warna yang aneh-aneh. Warna yang terang, supaya ruangan itu terasa lapang, supaya Ibu betah duduk di sana lama-lama."

Kami semua tertawa, karena Ibu, yang kemarin menolak ruangan itu, kini sudah ikut memilih warna catnya, dan itu, bagi kami, adalah tanda yang paling jelas bahwa ia sudah menerima rencana itu, bukan karena dipaksa, melainkan karena ia sudah yakin bahwa rencana itu tidak akan menjadi beban bagi siapa pun.

Sore itu, setelah daftar itu ditulis, aku dan Nadia duduk sebentar di teras belakang, sementara Ayah dan Ibu masih di ruang tengah, membicarakan warna cat dengan cara yang pelan, seperti dua orang yang sedang merencanakan sesuatu yang menyenangkan, bukan sesuatu yang memberatkan.

"Mas," kata Nadia pelan, "Mas sadar tidak, minggu ini, kita tidak cuma memperbaiki ruangan. Kita memperbaiki cara keluarga ini bicara. Dulu, semua disimpan. Sekarang, semua diceritakan, pelan-pelan, satu per satu."

Aku mengangguk, karena ia benar. Aku teringat pada diriku sendiri, pada beban-beban yang selama ini aku pikul sebagai anak pertama, pada saat-saat ketika aku merasa harus kuat sendirian, harus bisa sendirian, harus menyelesaikan semuanya sendirian. Minggu ini, aku belajar, dari Ayah dan Ibu yang sudah tua, bahwa kuat itu bukan berarti sendirian. Kuat itu berarti berani berkata, "aku butuh bantuan," dan berani menerima bantuan itu tanpa merasa kalah.

"Dan Mas tidak sendirian," lanjut Nadia, menggenggam tanganku. "Ada aku, ada Ayah, ada Ibu. Kita mengerjakannya bersama-sama, sama seperti kalimat di buku itu. Satu baris demi satu baris."

Sore itu, kami membuat daftar kecil, daftar yang ditulis Ayah di buku catatan yang sama, buku yang semalam masih menyimpan kalimat yang belum selesai. Ayah membuka halaman baru, menulis dengan tangannya yang pelan tetapi mantap, daftar pekerjaan itu satu per satu, dengan biayanya yang sudah diperkirakan, dengan urutannya yang sudah disepakati, dan di bawah daftar itu, ia menulis sesuatu yang membuatku terdiam.

Ia menulis kelanjutan dari kalimat yang semalam belum selesai, kalimat yang sudah puluhan tahun menggantung di halaman terakhir buku itu. Ia menulis, dengan tulisan yang sama, tetapi dengan tangan yang kini lebih tenang, "'Untuk rumah ini, yang belum sempat Ayah selesaikan sendirian, sekarang kita lanjutkan bersama-sama.'"

Ia menutup buku itu, menatap kami bertiga, dan berkata, "Kalimat itu, akhirnya selesai. Bukan karena Ayah yang menyelesaikannya sendiri, melainkan karena kita menyelesaikannya bersama-sama. Dan itulah yang selama ini tidak Ayah mengerti waktu muda: bahwa rumah ini tidak pernah dibangun oleh satu orang. Rumah ini dibangun oleh semua orang yang tinggal di dalamnya, satu per satu, satu baris demi satu baris."

Nadia menggenggam tanganku, dan aku menggenggam tangan Ibu, dan untuk beberapa saat, kami duduk di teras dengan cara yang sederhana, tanpa perayaan yang besar, tanpa kata-kata yang berlebihan, hanya dengan perasaan bahwa sesuatu yang sudah lama menggantung, akhirnya menemukan tempatnya untuk beristirahat.

Malam itu, setelah makan malam, Ayah memanggilku ke teras belakang, bukan dengan nada yang serius, melainkan dengan nada yang biasa, nada orang yang sedang mengajak anaknya bicara sebentar sebelum tidur. Ia duduk di kursi teras, menatap halaman yang sudah gelap, dan berkata dengan pelan, seolah ia baru saja teringat sesuatu yang sudah lama ia tunda, sama seperti ia dulu menunda kalimat di buku itu.

"Gas," katanya, "besok, temani Ayah ke puskesmas. Bukan karena Ayah sakit. Tetapi karena Ayah pikir, sudah waktunya Ayah diperiksa juga, seperti Ibu kemarin. Selama ini, Ayah selalu menemani Ibu, selalu mengantar Ibu, tetapi Ayah sendiri belum pernah benar-benar diperiksa. Dan Ayah tidak mau, setelah semua yang kita pelajari minggu ini, Ayah malah menjadi orang yang menyimpan sendiri lagi."

Senin itu ditutup bukan dengan jawaban, melainkan dengan ajakan Ayah yang menggantung di udara malam, di teras belakang yang sudah gelap, dan dengan satu kesadaran yang membuat dadaku terasa hangat sekaligus berdebar: bahwa giliran Ayah untuk diperiksa itu, besok, akan menjadi bab berikutnya dari cerita keluarga ini, dan aku, sebagai anak pertama, akan berada di sampingnya, sama seperti ia selalu berada di samping kami selama ini.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!