β€Ή
5. Pos Ronda

Pos Ronda

Pundak Pertama β€’ 1,413 kata

Ilustrasi Pos Ronda

Hujan baru saja reda ketika Bagas berlari menembus malam. Jalanan kampung becek dan licin, genangan air memantulkan cahaya lampu jalan yang redup dan berkedip-kedip seperti napas yang tersengal. Jaket tipisnya basah oleh sisa gerimis, tapi ia tidak peduli. Di kepalanya hanya ada satu kalimat yang berputar-putar, kalimat Pak RT di telepon tadi: Ini soal Dimas. Sudah... ke pos ronda saja dulu, ya.

Pos ronda itu sudah ramai ketika Bagas tiba, napasnya terengah-engah, kaus dalamnya basah oleh keringat dan air hujan. Di bawah lampu neon yang berdengung pelan, ia melihat adiknya. Dimas duduk di bangku kayu panjang, kepala tertunduk, lututnya kotor oleh lumpur. Di sampingnya duduk Jefri, anak tetangga berumur empat belas tahun yang sering mengajak Dimas nongkrong di warnet. Di hadapan mereka berdiri Pak RT dengan sarung dililitkan di pinggang, dan seorang lelaki berjaket kulit yang wajahnya merah padam karena marah: Mas Wawan, pemilik warnet langganan Dimas.

Di atas meja kayu di tengah pos ronda, tergeletak sebuah gembok yang patah dan engsel pintu yang bengkok. Barang bukti.

“Mas...” suara Dimas hampir tidak terdengar. Ia mengangkat wajahnya yang pucat, dan Bagas melihat ada bekas air mata di pipinya yang kotor.

“Ceritakan dari awal, Pak,” kata Bagas, memaksakan suaranya tetap tenang. Tangannya mengepal di dalam saku jaket.

Pak RT menghela napas panjang. “Begini, Gas. Tadi malam, sekitar jam sebelas, Mas Wawan pulang ke warnet karena dompetnya ketinggalan. Dia dengar suara dari dalam. Ternyata...” Pak RT melirik kedua bocah itu. “Pintu belakang warnet dibobol. Gemboknya dirusak pakai linggis. Dua anak ini ketahuan sedang main di dalam, lampu dimatikan, cuma cahaya monitor.”

“Mereka nyolong?!” Bagas menatap Dimas tajam.

“Nggak! Nggak nyolong!” Dimas tiba-tiba berseru, air matanya pecah lagi. “Kita cuma... cuma mau main, Mas. Warnetnya tutup jam sepuluh, kita nggak punya uang buat bayar jam main. Jefri bilang gampang, tinggal congkel gembok belakang, main sampai subuh, terus pergi sebelum buka. Nggak ada yang hilang, Mas, sumpah!”

“Gembok saya rusak! Pintu saya rusak!” Mas Wawan membanting telapak tangannya ke meja hingga gembok patah itu melompat. “Kamu tahu berapa rugi saya kalau begini caranya, hah? Besok-besok semua bocah kampung bisa bobol warnet saya! Ini harus dilaporin ke polisi. Biar kapok!”

Dimas tersentak. Jefri menunduk semakin dalam. Bagas merasakan darahnya naik ke kepala, tapi ia menahannya. Ia sudah enam belas tahun, dan ia sudah belajar satu hal dari mengangkat karung semen setiap hari: beban yang paling berat bukanlah yang ada di pundak, melainkan yang ada di kepala orang-orang yang kita sayangi.

“Mas Wawan,” kata Bagas pelan, melangkah maju. “Boleh saya bicara?”

“Kamu siapa? Kakaknya? Ya sudah, dengar. Adikmu ini maling!”

“Adik saya salah, Mas. Salah besar. Saya nggak akan bela perbuatannya.” Bagas menatap lurus ke mata lelaki itu. “Tapi dia masih sepuluh tahun. Kalau Mas lapor polisi malam ini, masa depannya selesai sebelum sempat mulai. Saya mohon, selesaikan secara kekeluargaan. Berapa kerugiannya, saya yang ganti. Saya kakaknya. Saya yang tanggung jawab.”

Pos ronda mendadak hening. Hanya suara dengung lampu neon dan jangkrik dari kebun di belakang.

Pak RT mengangguk pelan. “Saya setuju musyawarah, Wan. Anak-anak ini masih bisa dibina. Tapi memang harus ada ganti rugi yang jelas, biar ada pelajaran.”

Mas Wawan mendengus, tapi nada suaranya sedikit melunak. “Gembok baru yang bagus tujuh puluh lima ribu. Engsel pintu plus ongkos tukang... total tiga ratus lima puluh ribu. Itu belum termasuk saya tutup setengah hari buat benerin pintu.”

Tiga ratus lima puluh ribu. Angka itu menghantam Bagas seperti karung semen jatuh dari atas truk. Itu sepuluh hari upahnya di toko bangunan. Tabungannya — yang ia sisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli sepatu bot kerja baru karena sepatunya yang sekarang solnya sudah mengelupas — hanya seratus delapan puluh ribu.

“Saya sanggup, Mas,” kata Bagas, dan suaranya tidak bergetar. Ia tidak boleh bergetar. “Tapi saya minta waktu sampai akhir bulan. Gaji saya harian. Saya cicil dua kali, boleh?”

Mas Wawan menatapnya lama, lalu melirik Dimas yang menangis tersedu-sedu di bangku. Akhirnya ia mengangguk kasar. “Akhir bulan. Kalau sampai akhir bulan belum lunas, saya bawa ini ke polisi. Catat, Pak RT, jadi saksi.”

“Dicatat,” kata Pak RT sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari saku sarungnya.

Sebagai tambahan, Pak RT memutuskan Dimas dan Jefri harus menjalani “hukuman sosial”: membersihkan halaman musala dan pos ronda setiap sore selama sebulan, di bawah pengawasan langsung Pak RT. “Biar keringatmu keluar buat hal yang benar,” katanya.

Dalam perjalanan pulang, Dimas berjalan di samping kakaknya tanpa suara. Gerimis mulai turun lagi, halus seperti debu air. Di tengah jalan yang sepi, Dimas tiba-tiba berhenti.

“Mas... kenapa Mas nggak marah? Kenapa Mas nggak mukul Dimas kayak bapak-bapak lain?” suaranya pecah. “Dimas pantas dipukul, Mas.”

Bagas berhenti juga. Ia menatap adiknya lama — anak sepuluh tahun dengan kaus kebesaran dan sandal jepit putus sebelah, menggigil kedinginan di tengah jalan becek. Tangan Bagas terangkat, dan Dimas memejamkan mata, menunggu.

Tapi tangan itu jatuh dengan lembut di atas kepala Dimas, mengusap rambutnya yang basah.

“Mas marah, Dimas. Marah sekali,” kata Bagas pelan. “Tapi marah nggak akan bayar tiga ratus lima puluh ribu ke Mas Wawan. Marah nggak akan bikin kamu ngerti. Jadi Mas simpan marahnya, Mas pakai tenaganya buat kerja.”

Dimas menangis sejadi-jadinya di tengah jalan itu, memeluk pinggang kakaknya. “Maaf, Mas... maafin Dimas...”

“Kamu tahu nggak kenapa kamu berani bobol warnet?” Bagas berjongkok hingga matanya sejajar dengan mata adiknya. “Karena Jefri bilang kamu penakut kalau nggak ikut, ya?”

Dimas mengangguk sambil terisak. “Dia bilang... dia bilang Dimas cuma anak miskin yang numpang main. Dia bilang kalau Dimas berani, dia traktir main seminggu gratis.”

Dada Bagas sesak. Ia mengenali racun itu — racun gengsi yang dulu juga pernah ditawarkan kepadanya di proyek, racun yang membuat orang miskin melakukan hal bodoh demi terlihat berani di depan orang lain.

“Dengerin Mas,” kata Bagas, menggenggam kedua bahu adiknya. “Orang berani itu bukan yang berani ngerusak barang orang. Orang berani itu yang berani bilang nggak waktu diajak berbuat salah. Itu jauh lebih susah. Mas tahu, karena Mas juga pernah digoda kayak gitu.”

“Terus Mas bilang apa?”

“Mas bilang nggak. Terus Mas pulang. Terus mereka ketawain Mas seminggu.” Bagas tersenyum tipis. “Tapi sekarang Mas yang bayar sekolahmu, bukan mereka.”

Dimas menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang berubah di wajah anak itu — bukan takut lagi, melainkan malu yang sehat. Malu yang menyembuhkan.

Di rumah, Ibu sudah menunggu di ambang pintu dengan mata sembab. Ia langsung memeluk Dimas erat-erat, bergantian menangis dan memarahi dengan suara bergetar. Dari dalam, terdengar Bapak terbatuk-batuk di dipannya — ia tidak keluar, dan Bagas tahu kenapa. Rasa malu lelaki tua itu terlalu besar untuk ditunjukkan di depan Pak RT dan orang-orang.

Malam itu, setelah semua tidur, Bagas duduk di teras dengan secarik kertas lusuh di tangannya: alamat bengkel las pemberian Pak Hendra, yang sudah agak lecek karena sering ia genggam. Tiga ratus lima puluh ribu. Upah hariannya tiga puluh lima ribu. Matematikanya sederhana dan kejam: ia tidak akan sanggup melunasinya tepat waktu tanpa mengorbankan uang belanja Ibu dan SPP sekolah malamnya sendiri.

Kecuali ia naik satu tangga, seperti kata Pak Hendra.

Langkah kaki terdengar di belakangnya. Pak RT ternyata mengikutinya sampai rumah, dan kini berdiri di ujung teras dengan wajah serius.

“Gas,” kata Pak RT pelan, “Bapak mau bilang sesuatu. Jangan tersinggung, ya. Ini bukan pertama kalinya Jefri berbuat begini. Tahun lalu, dia dan kakaknya nyongkel kios rokok di ujung jalan. Keluarganya bayar damai tujuh ratus ribu. Kalau adikmu tadi ikut-ikutan sampai kelewat batas... lain kali mungkin nggak semurah ini penyelesaiannya.”

Bagas menatap Pak RT, tenggorokannya kering.

“Jaga adikmu baik-baik, Gas. Kamu satu-satunya pagar yang dia punya sekarang.” Pak RT menepuk bahunya, lalu melangkah pergi ke dalam gelap.

Bagas duduk lama di teras yang dingin. Di tangannya, kertas alamat bengkel las itu terasa semakin nyata — bukan lagi sekadar tawaran, melainkan satu-satunya jalan keluar. Di dalam rumah, dengkuran Bapak yang sesak terdengar samar, bercampur isak tangis Ibu yang masih belum berhenti.

Satu tangga, bisiknya pada malam itu. Mas harus naik. Nggak ada pilihan lain.

Dan di kejauhan, dari arah warnet yang pintunya masih rusak itu, anjing menggonggong panjang — seolah mengingatkan bahwa masalah malam ini baru saja dimulai, bukan selesai.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!