β€Ή
65. Langkah yang Dijemput

Langkah yang Dijemput

Pundak Pertama β€’ 1,298 kata

Ilustrasi Langkah yang Dijemput

Kakiku menjejak tanah halaman sebelum pikiranku sempat menyusul. Batik yang kupakai terasa sempit di bahu, sandal yang kupakai nyaris terlepas, tapi aku tidak berhenti. Di depanku, di tengah halaman yang dipenuhi kursi plastik dan tatapan tamu, Nadia masih mencengkeram lengan ayahnya dengan kedua tangan, dan Pak Suryo masih berdiri dengan satu kaki yang bergetar β€” bergetar seperti dahan yang menahan angin terlalu lama.

Aku sampai di sisi kanannya β€” sisi yang berlawanan dengan Nadia β€” tepat ketika lututnya menekuk sedikit lagi. Tanpa kata, aku menyelipkan bahuku di bawah lengannya, sama seperti yang kulakukan setiap sore latihan selama tiga bulan ini, hanya saja kali ini bukan di halaman kosong. Kali ini di depan semua orang.

"Pak," bisikku, pelan tapi cukup jelas untuk didengar Nadia, "saya di sini. Jangan lawan lututnya. Bagi beratnya ke saya."

Pak Suryo menoleh sekilas. Matanya basah, tapi rahangnya keras. "Gas... malu, Gas. Di depan orang banyak..."

"Yang malu itu kalau Bapak jatuh, Pak," kataku, menahan suaraku agar tetap tenang. "Kalau Bapak jalan pelan-pelan sampai depan, itu bukan malu. Itu menang."

Nadia, dari sisi kiri ayahnya, mengangguk sambil menahan tangis. "Ayah, dengar Mas Bagas, Yah. Kita jalan bertiga."

Dan kami berjalan bertiga.

Langkah ketiga puluh dua terasa lebih berat dari tiga puluh langkah sebelumnya. Bukan karena Pak Suryo lebih berat β€” tapi karena semua orang kini menonton dengan cara yang berbeda. Bukan lagi menonton prosesi. Mereka menonton perjuangan. Ibunya Nadia berdiri di dekat teras, kedua tangannya menutupi mulut, air matanya mengalir tanpa ia sadari. Adik Nadia berjalan setengah langkah di belakang kami, memegangi ujung kebaya kakaknya agar tidak tersangkut kursi.

Satu langkah. Satu langkah lagi. Kakiku menyesuaikan ritme mereka β€” bukan ritme laki-laki yang terburu-buru menyelesaikan tugas, melainkan ritme seorang ayah yang sedang belajar percaya pada lututnya sendiri, dan pada dua orang yang memeganginya.

"Bagus, Pak," bisikku setiap dua langkah, seperti yang selalu kulakukan saat latihan sore. "Bagus. Lurus. Pelan. Bagus."

Pak Suryo tidak menjawab dengan kata. Ia menjawab dengan napasnya yang mulai teratur kembali, dengan genggamannya pada lenganku yang tidak lagi mencengkeram panik melainkan bertumpu β€” bertumpu dengan percaya.

Tiga puluh lima langkah. Tiga puluh delapan. Teras sudah dekat. Aku bisa melihat kursi pelaminan, kain putih yang melambai pelan, dan penghulu yang berdiri menunggu dengan senyum yang sabar β€” senyum orang yang sudah melihat banyak pernikahan, tapi mungkin belum pernah melihat yang seperti ini.

Empat puluh langkah.

Kami sampai di teras. Tepat di depan kursi, Pak Suryo berhenti. Ia melepaskan lenganku perlahan, lalu melepaskan lengan Nadia β€” bukan karena ia tidak butuh pegangan lagi, melainkan karena ia tahu, dari titik ini, tugasnya berubah. Ia menatapku, menarik napas panjang, dan dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia meletakkan tangan Nadia ke dalam tanganku.

"Gas," katanya, suaranya parau tapi jelas, didengar oleh semua orang yang cukup dekat, "saya antar dia sampai sini. Selebihnya... kamu yang antar dia. Sampai kapan pun."

Aku menggenggam tangan Nadia. Tangan itu dingin, gemetar, tapi menggenggam balik dengan kuat. Di saat itu aku teringat kalimat yang kuucapkan tiga bulan lalu di teras rumah sakit: tiga bulan itu bukan penantian, itu persiapan. Dan kini persiapan itu berdiri di depanku dalam bentuk yang paling nyata β€” seorang ayah yang berhasil berjalan empat puluh langkah, seorang perempuan yang tidak pernah berhenti percaya, dan diriku yang akhirnya boleh menggenggam tangan itu secara sah.

Akad berjalan dengan cara yang paling sederhana dan paling khidmat. Penghulu membacakan, saksi mengangguk, dan ketika tiba giliranku mengucap ijab kabul, suaraku β€” yang sudah kubayangkan akan bergetar β€” justru keluar dengan jernih. Satu tarikan napas, satu kalimat, dan semua orang mengucap sah bersamaan. Ibunya Nadia menangis keras untuk pertama kalinya hari itu. Adik Nadia memeluk ibunya. Pak Suryo, yang duduk di kursi di samping pelaminan dengan lutut yang kini disangga bantal kecil yang diam-diam disiapkan adik Nadia, menutup wajahnya dengan kedua tangan β€” dan bahunya bergetar.

Setelah akad, ada jeda yang aneh: jeda antara sah secara agama dan sah secara perasaan. Tamu-tamu mulai bersalaman, musik mengalun lagi, ibu-ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan hidangan. Nadia dan aku duduk berdampingan di pelaminan, menerima ucapan selamat satu per satu, dan setiap kali seseorang berkata "selamat, semoga langgeng," aku mengangguk sambil berpikir: langgeng itu bukan doa yang selesai diucapkan hari ini. Langgeng itu pekerjaan setiap hari setelah ini.

Di tengah keramaian itu, Pak Suryo memanggilku dengan isyarat tangan. Aku mendekat, berjongkok di samping kursinya.

"Gas," katanya pelan, sambil melirik lututnya yang kini tidak lagi ia tutupi, "tadi, di langkah tiga puluh satu, saya kira... saya kira saya gagal."

"Bapak tidak gagal, Pak," kataku. "Bapak sampai."

Ia tersenyum β€” senyum yang lelah tapi utuh. "Kamu tahu kenapa saya bisa sampai? Karena waktu lutut saya bergetar, saya dengar dua suara. Satu suara Nadia yang bilang jangan berhenti. Satu suara kamu yang bilang bagi beratnya. Dulu, Gas, waktu saya masih nyetir truk tiga puluh tahun, saya pikir pundak itu harus kuat sendiri. Hari ini saya belajar..." Ia berhenti, menelan ludah. "Hari ini saya belajar, pundak yang dibagi itu bukan pundak yang lemah. Itu pundak yang... dijaga."

Aku tidak sempat menjawab, karena ibunya Nadia datang membawa segelas teh hangat untuk suaminya, dan adik Nadia datang membawa kamera ponsel untuk foto keluarga. Foto itu diambil di pelaminan: Pak Suryo duduk di tengah, ibunya Nadia di sampingnya, Nadia dan aku berdiri di belakang mereka, dan adik Nadia di ujung sambil berusaha tidak menghalangi siapa pun. Ketika foto itu dijepret, aku sempat berpikir β€” inilah foto pertama kami sebagai satu keluarga. Bukan keluarga yang sempurna. Keluarga yang lututnya pernah bergetar, atapnya pernah bocor, truknya pernah pergi β€” tapi keluarga yang tetap berdiri.

Siang berganti sore. Tamu mulai pulang satu per satu, tenda mulai dilipat sebagian, kursi plastik ditumpuk di sudut halaman. Aku membantu mengangkat meja, mengembalikan piring-piring ke dapur, dan memastikan tidak ada kabel yang masih melintang. Nadia, yang masih memakai kebayanya, ikut membantu di dapur bersama ibunya β€” kebaya krem itu kini bernoda sedikit di ujungnya, dan ia tidak peduli sama sekali.

Di sela-sela itu, ponselku bergetar. Pesan dari ibu: selamat, doa panjang yang ia ketik dengan huruf besar semua, dan satu kalimat yang membuat mataku panas β€” ibu bilang, ia bangga karena anak pertamanya akhirnya tidak lagi memikul sendirian. Aku membalas singkat, sebab di hari seperti ini, kata-kata yang terlalu panjang justru terasa tidak cukup. Nadia melihatku mengusap mata, dan ia hanya mengangguk, seolah ia mengerti bahwa ada dua keluarga yang hari ini sama-sama belajar melepas dan menerima.

Menjelang magrib, ketika halaman sudah hampir sepi, Pak Suryo memanggilku lagi. Kali ini ia berdiri β€” berdiri sendiri, tanpa tongkat, di dekat pohon mangga, tempat tadi pagi ia hampir jatuh.

"Gas, temani saya berdiri di sini sebentar," katanya.

Aku berdiri di sampingnya. Kami berdua menatap halaman yang kosong, tenda yang setengah terlipat, dan jejak kursi di tanah.

"Bagus ya," katanya. "Tadi pagi, di tempat ini, saya hampir gagal. Sekarang tempat ini jadi saksi saya sampai."

"Besok, Pak, Bapak istirahat total lagi," kataku, setengah bercanda setengah serius. "Dokter bilang dua hari. Ini hari pertama setelah acara."

Pak Suryo tertawa kecil. Lalu tawanya berhenti. Ia memegangi lutut kanannya β€” bukan dengan panik, melainkan dengan cara orang yang mendengarkan tubuhnya sendiri. Wajahnya berubah. Ia menatapku, dan di matanya ada sesuatu yang membuat jantungku langsung dingin, karena aku sudah melihat tatapan itu sebelumnya: di kamar, malam sebelum tenda dipasang, saat ia berkata lututnya seperti ada yang salah.

"Gas," katanya pelan, sambil menahan napas, "lutut saya... bunyi lagi. Dan kali ini... rasanya beda. Bukan cuma getar. Kayak ada yang... bergeser."

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika tubuhnya condong sedikit ke arahku β€” dan tanganku sudah bergerak, menangkap lengannya, sebelum ia sempat jatuh di tempat yang sama, di bawah pohon mangga yang sama, tempat pagi tadi ia hampir gagal mengantar anaknya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!