β€Ή
84. Senin yang Dijaga Diam-Diam

Senin yang Dijaga Diam-Diam

Pundak Pertama β€’ 1,282 kata

Ilustrasi Senin yang Dijaga Diam-Diam

Senin pagi datang dengan cara yang biasa, tetapi dengan rencana yang tidak biasa.

Ayah bangun seperti biasa, latihan pagi di teras seperti biasa, menyeruput air putih seperti biasa, dan bertanya, seperti biasa, apakah Ibu sudah sarapan. Ibu menjawab seperti biasa, sudah, sambil menyembunyikan senyum kecil yang hanya aku dan Nadia yang mengerti artinya: bahwa pagi ini, di balik jawaban yang biasa itu, ada sebuah rencana yang sedang berjalan dengan hati-hati.

Kami pergi setelah Ayah selesai latihan dan duduk membaca koran di teras. Nadia sudah menyiapkan alasan yang sederhana dan tidak dibuat-buat: Ibu mau ke toko kain lagi, aku kebetulan searah, kami pulang sebelum makan siang. Ayah mengangguk tanpa curiga, karena alasan itu sudah pernah dipakai sebelumnya, dan karena Ayah memang sedang belajar percaya, bukan sedang belajar mengawasi.

Di perjalanan, Ibu duduk di sampingku di dalam mobil, tas kecilnya di pangkuan, tangannya sesekali meremas jemarinya sendiri, gerakan yang sudah menjadi kebiasaannya setiap kali ia gugup. Aku tidak menegurnya. Aku hanya menyalakan radio dengan volume pelan, lagu lama yang biasa diputar di rumah, dan membiarkan keheningan di antara kami menjadi keheningan yang nyaman, bukan keheningan yang menekan.

"Mas," kata Ibu di tengah jalan, suaranya pelan, "kalau ternyata hasilnya tidak bagus bagaimana?"

Aku meliriknya sebentar, lalu kembali menatap jalan. "Bu, kita belum tahu hasilnya. Jangan meminjam ketakutan yang belum tentu datang. Kalau hasilnya bagus, kita syukuri. Kalau hasilnya perlu kacamata, kita buatkan kacamata. Kalau hasilnya perlu yang lain, kita pikirkan sama-sama. Tidak ada hasil yang harus Ibu hadapi sendirian. Itu saja yang pasti."

Ibu mengangguk, lalu diam lagi, tetapi diamnya kali ini lebih ringan, seperti orang yang baru saja diingatkan bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian.

Tempat pemeriksaan mata itu tidak besar. Sebuah klinik kecil di deretan ruko, dengan papan nama yang sederhana, antrean yang tidak panjang, dan petugas yang ramah. Ibu diperiksa dengan alat yang aku tidak mengerti namanya, diminta membaca huruf-huruf di papan yang semakin lama semakin kecil, diminta menatap cahaya, diminta mengedipkan mata dan menahan pandangannya pada satu titik.

Aku menunggu di kursi tunggu, dan selama menunggu itu, aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan: bahwa menemani orang tua periksa itu bukan sekadar duduk dan menunggu. Itu adalah latihan kesabaran, latihan untuk tidak membayangkan yang terburuk, latihan untuk percaya bahwa jawaban yang akan keluar dari ruangan itu, apa pun bentuknya, masih bisa dihadapi.

Ketika Ibu keluar, wajahnya tidak tegang seperti ketika masuk. Dokter itu, seorang perempuan paruh baya dengan suara yang tenang, menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, tanpa istilah yang menakutkan.

"Mata Ibu lelah," katanya. "Bukan penyakit berat. Bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Ini yang biasa terjadi pada usia Ibu, apalagi kalau pekerjaannya membaca pola-pola kecil berjam-jam. Mata Ibu butuh bantuan untuk melihat dekat. Jadi Ibu perlu kacamata baca. Dipakai waktu menjahit, waktu membaca pola, waktu melakukan pekerjaan dekat. Selebihnya, mata Ibu sehat. Tidak ada yang perlu dioperasi, tidak ada yang perlu diobati dengan obat khusus. Yang perlu hanya kacamata, cahaya yang cukup, dan istirahat mata setiap setengah jam, sama seperti ritme tangan Ibu."

Aku menghela napas, napas yang baru kusadari sejak tadi kutahan. Ibu tertawa, tawa yang lega, tawa yang seperti orang yang baru saja meletakkan satu lagi beban yang selama ini ia pikul sendirian.

Sebelum pulang, petugas klinik itu mempersilakan Ibu mencoba beberapa bingkai kacamata baca. Ibu memilih yang paling ringan, yang paling sederhana, yang tidak membuat wajahnya terasa berbeda. Ketika ia memakainya dan membaca deretan huruf kecil di kartu contoh, ia tersenyum, senyum yang pelan tetapi penuh, seperti orang yang baru saja menemukan kembali sesuatu yang ia kira sudah hilang.

"Enak, Mas," katanya, sambil menatap kartu itu sekali lagi, seolah memastikan garis-garisnya tidak akan kabur lagi. "Rasanya seperti lampunya tiba-tiba dinyalakan lebih terang, padahal lampunya sama saja."

Aku membayar di kasir, menyimpan resep dan kuitansi di dalam tas kecil Ibu, dan kami berjalan keluar ke arah parkir dengan langkah yang lebih ringan daripada ketika kami datang. Di perjalanan pulang, Ibu beberapa kali membuka resep itu, membacanya lagi, lalu melipatnya kembali, gerakan kecil yang menunjukkan bahwa ia sedang membiasakan diri dengan kabar baik, sesuatu yang ternyata juga butuh waktu, sama seperti membiasakan diri dengan kabar buruk.

"Kacamata baca saja, Mas," kata Ibu di perjalanan pulang, sambil memegang resep kacamata itu seperti memegang surat yang baik. "Bukan apa-apa. Ibu sempat takut macam-macam, ternyata cuma kacamata baca."

"Kacamata baca itu bukan cuma, Bu," kataku, tersenyum. "Itu jawaban. Dan jawaban itu yang membuat kita bisa cerita ke Ayah dengan tenang minggu depan. Kita tidak membawa kekhawatiran, kita membawa kabar yang sudah jelas: tangan ada caranya, mata ada kacamatanya. Semuanya ada jalan keluarnya."

Ibu mengangguk, lalu menatap keluar jendela, ke arah jalan yang pelan-pelan kami lewati, dan aku tahu, dari cara ia memegang resep itu dengan erat, bahwa ia sedang membayangkan hari Rabu, hari ketika mesin diambil, hari ketika ia akhirnya bisa menjahit lagi dengan cara baru, dan hari ketika ia akhirnya bisa bercerita kepada Ayah tanpa rasa takut yang menggantung.

Sementara itu, di rumah, Nadia menjaga semuanya dengan cara yang tidak terlihat tetapi terasa. Ia memasak dengan tenang, menyapu teras, dan ketika Ayah bertanya ke mana Ibu dan aku pergi, ia menjawab dengan kalimat yang sama seperti yang sudah kami sepakati, tanpa tergesa-gesa, tanpa menambah-nambah. Ayah mengangguk, lalu kembali ke korannya, tetapi Nadia sempat melihat sesuatu yang tidak ia ceritakan kepadaku sampai kami pulang: bahwa Ayah, setelah bertanya itu, sempat diam sebentar, menatap ke arah pintu, seperti orang yang sedang menghitung sudah berapa kali pertanyaan yang sama ia ajukan dan dijawab dengan jawaban yang sama.

Ketika kami pulang sebelum makan siang, Nadia sudah menyiapkan makan siang, rumah sudah rapi, dan Ayah masih duduk di teras, membaca koran, tanpa curiga apa-apa. Atau, begitulah yang kami kira.

Karena sore harinya, ketika aku sedang membantu Nadia di dapur, Ayah datang, duduk di kursi dapur, dan berkata dengan nada yang biasa, tetapi dengan isi yang tidak biasa.

"Bagas," katanya, "Ibu belakangan ini sering pergi, ya?"

Aku berhenti sebentar, sendok di tanganku berhenti di tengah udara. Nadia menatapku sekilas, lalu kembali mengaduk sayur, pura-pura sibuk, padahal aku tahu ia sedang mendengarkan dengan seluruh perhatiannya.

"Ke toko kain, Yah," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap biasa. "Ibu kan sedang menyiapkan pola baru."

Ayah mengangguk, tetapi anggukan itu bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban. Itu anggukan orang yang sedang menyimpan jawaban itu, menimbangnya, lalu menyimpannya untuk ditanyakan lagi nanti, dengan cara yang berbeda.

"Iya," kata Ayah, pelan. "Toko kain. Cuma, Ayah perhatikan, Ibu pulangnya selalu bareng kamu. Dua kali, tiga kali, selalu bareng kamu. Dulu, Ibu pergi sendiri, pulang sendiri. Sekarang, selalu ada kamu."

Ia tidak marah. Ia tidak menuduh. Ia hanya memperhatikan, dengan cara yang sama seperti ketika ia memperhatikan Ibu merentangkan jari-jarinya di meja makan Minggu pagi, dengan cara yang sama seperti ketika ia bertanya apakah Ibu sudah sarapan. Ayah memang sedang belajar memperhatikan, dan latihan memperhatikan itu, aku sadar, tidak bisa dihentikan hanya karena kami belum siap dengan jawabannya.

Ayah berdiri, menepuk bahuku sekali, tepukan yang ringan tetapi terasa, lalu kembali ke teras, meninggalkan aku dan Nadia di dapur dengan pertanyaan yang menggantung di antara kami: berapa lama lagi kami bisa menjaga rahasia ini, sebelum Ayah yang sedang belajar memperhatikan itu akhirnya menyadari sendiri bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, dan memutuskan untuk bertanya dengan cara yang tidak bisa lagi dijawab dengan toko kain?

Senin itu ditutup bukan dengan jawaban, melainkan dengan kesadaran yang pelan-pelan tumbuh di kepala aku: bahwa rencana kami untuk bercerita minggu depan, setelah mesin diambil, mungkin harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak kami perhitungkan, yaitu Ayah yang tidak lagi menunggu untuk diceritai, melainkan sudah mulai mencari tahu sendiri.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!