Gudang dan Anak Kecil Itu
Pundak Pertama β’ 1,349 kata
Hari kedua penantian selalu lebih berat daripada hari pertama. Di hari pertama, harapan masih baru β berkilau seperti kaca yang baru dilap. Di hari kedua, harapan itu sudah disentuh berkali-kali oleh tangan yang cemas. Dan kepastian masih dua hari jauhnya.
Malam itu aku bermimpi lagi. Gudang yang sama. Pintu kayu yang sama. Nenek muda yang sama, dengan dua gelang berkilau di pergelangannya. Tapi kali ini ada yang berbeda: di dalam mimpi itu, aku kecil. Tanganku kecil, langkahku pendek. Aku menatap pintu itu dari bawah, mendongak β seperti menatap raksasa yang sedang tidur.
Aku terbangun dengan jantung berdebar. Kamar masih gelap. Bude mendengkur pelan di sudut. Ibu tidur memunggungiku, napasnya teratur. Aku berbaring diam, tidak berani bergerak β takut ingatan itu kabur lagi, seperti ikan yang lepas dari genggaman.
Dan perlahan, seperti air yang merembes dari celah dinding, ingatan itu datang.
Aku berumur tujuh tahun. Musim hujan β hujan yang turun berhari-hari sampai halaman menjadi lumpur dan selokan di depan rumah meluap. Ibu sibuk di dapur menanak nasi. Tidak ada yang mengawasiku. Dan anak tujuh tahun yang tidak diawasi adalah makhluk paling berbahaya di dunia.
Aku menyelinap ke sisi rumah. Hujan rintik-rintik membasahi rambutku. Dan di sana β pintu gudang. Hari itu, entah kenapa, pintu itu tidak tertutup rapat. Ada celah β kecil, gelap, mengundang, seperti mata yang mengedip.
Aku mendorongnya. Engsel besi itu berderit β bunyi yang sampai sekarang masih kuingat, bunyi seperti erangan orang tua yang dibangunkan dari tidur. Di dalam gelap. Bau kapur barus menusuk hidung, bercampur bau kayu tua dan sesuatu yang manis β seperti kayu manis, atau seperti kenangan yang disimpan terlalu lama.
Mataku perlahan menyesuaikan diri. Aku melihat tumpukan kursi rusak, sepeda ontel tanpa ban, karung-karung yang tidak kukenal isinya. Dan di sudut paling dalam β sesuatu yang ditutupi kain putih. Bentuknya kotak. Besar. Seperti peti.
Aku melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Lantai papan berderit di bawah kakiku yang kecil β
"Le."
Aku membeku. Bukan karena suaranya keras β justru karena lembut. Aku berbalik perlahan. Di ambang pintu, berdiri Nenek. Bukan Nenek muda dari mimpiku β Nenek yang kukenal: rambut disanggul, kebaya lusuh, punggung sedikit membungkuk. Tapi matanya... matanya sama seperti di foto tahun 1974. Tajam dan jernih.
Aku menunggu dimarahi. Menunggu cubitan di lengan, seperti kalau aku ketahuan mencuri jambu tetangga. Tapi Nenek tidak marah. Beliau masuk, berlutut di depanku β lututnya berbunyi pelan β sampai matanya sejajar dengan mataku.
"Le," katanya pelan, "ini bukan untuk sekarang."
"Isinya apa, Nek?" tanyaku. Anak tujuh tahun tidak mengenal kalimat "bukan urusanmu".
Nenek tersenyum. "Isinya hal-hal yang belum berani Ibu ceritakan, dan belum berani kamu dengar."
"Kenapa?"
"Karena kamu masih kecil." Beliau meletakkan tangannya di pundakku β tangan yang keriput tapi hangat. "Dan hal-hal besar harus menunggu orangnya cukup besar untuk memikulnya."
"Kapan, Nek?"
"Nanti." Nenek menatapku lama, seolah menimbang sesuatu di dalam dirinya. "Nanti, kalau pundakmu sudah cukup kuat untuk banyak orang bersandar β kamu akan mengerti kenapa pintu ini harus tetap tertutup sampai waktunya."
Beliau bangkit, menuntunku keluar dengan lembut, lalu menutup pintu itu perlahan. Dari saku kebayanya, beliau mengeluarkan sebuah kunci kecil β berkarat di ujungnya β dan memutarnya di lubang kunci. Klik. Bunyi yang kecil, tapi terasa final. Seperti titik di akhir kalimat.
"Kuncinya Nenek titipkan pada Ibu," kata Nenek. "Bukan untuk disembunyikan. Untuk dijaga β sampai waktunya tiba."
"Waktunya kapan, Nek?"
Nenek mengelus kepalaku. "Kalau kamu sudah berani, Le. Kamu akan tahu."
Hujan masih rintik-rintik. Nenek menggandeng tanganku kembali ke dalam rumah. Dan aku tidak pernah lagi mencoba membuka pintu itu. Sampai hari ini β dua puluh empat tahun kemudian β aku bahkan lupa pernah mencobanya. Ingatan itu terkubur begitu dalam, sampai mimpi tiga malam ini menggalinya kembali.
Aku membuka mata. Kamar kos masih gelap, tapi di luar jendela langit mulai memucat.
"Bu," bisikku. "Bu, aku ingat."
Ibu menggeliat, lalu berbalik menghadapku. "Ingat apa, Le?"
"Waktu aku tujuh tahun. Hujan-hujan. Aku masuk gudang." Tenggorokanku tercekat. "Nenek bilang... hal-hal besar harus menunggu orangnya cukup besar untuk memikulnya."
Ibu menatapku lama. Lalu ia tersenyum β dan di matanya ada air yang tidak jatuh.
"Jadi kamu ingat," katanya pelan. "Ibu kira kamu sudah lupa. Kamu memang lupa β selama dua puluh empat tahun."
"Nenek juga bilang... kuncinya dititipkan pada Ibu."
Ibu tidak menjawab. Ia bangkit, menyalakan lampu kecil di sudut kamar, lalu berjalan ke tas kainnya yang disandarkan di dinding. Dari lipatan kain di dalamnya, ia mengeluarkan sesuatu β dan kembali duduk di hadapanku.
Di telapak tangannya yang kasar, tergeletak sebuah kunci tua. Kecil. Berkarat di ujungnya. Persis seperti yang kuingat dari tangan Nenek dua puluh empat tahun lalu.
Tanganku gemetar saat menerimanya. Dingin. Berat β lebih berat dari ukurannya.
"Nenek memberikannya pada Ibu seminggu sebelum beliau pergi," kata Ibu. "Katanya: berikan pada Le, saat ia pulang untuk membuka peti."
Aku menggenggam kunci itu erat-erat sampai karatnya menekan telapak tanganku.
"Dua hari lagi, Le," kata Ibu pelan. "Dua hari lagi, kunci ini akan menemukan lubangnya."
Hari itu di kantor, aku bekerja dengan kunci itu di saku celanaku. Setiap kali aku merogoh saku β untuk mengambil ponsel, untuk membayar parkir β ujung jariku menyentuhnya. Dingin. Nyata. Seperti janji yang bisa dipegang.
Saat istirahat makan siang, aku mampir ke toko oleh-oleh di dekat kantor. Dua dus kue kering untuk tetangga yang membersihkan rumah β Ibu meneleponnya kemarin, memintanya membuka jendela-jendela agar rumah tidak pengap. Sebungkus kopi bubuk β untuk siapa, aku belum tahu. Mungkin untukku sendiri, untuk malam-malam di kampung nanti. Penjaga toko membungkus semuanya dengan koran bekas, dan aku tiba-tiba teringat: Nenek dulu juga membungkus segala sesuatu dengan koran bekas. "Koran itu pembungkus paling jujur," katanya waktu itu. "Tidak menyembunyikan apa isinya."
Sore harinya, sepupuku menelepon.
"Assalamualaikum, Le."
"Waalaikumsalam."
"Jadi, lusa?"
"Jadi. Aku berangkat besok pagi-pagi. Kamu?"
"Aku juga. Ketemu di rumah." Ia jeda sejenak. "Le... gelang itu. Setelah peti, kita urus bareng ya. Seperti janjimu."
"Bareng," kataku. "Seperti janji."
Sederhana. Tidak banyak kata. Tapi setelah menutup telepon, aku duduk diam cukup lama di mejaku. Janji. Hidupku β hidup kami β ternyata dibangun dari janji-janji kecil yang diucapkan pelan dan ditepati diam-diam. Nenek berjanji menjaga Ratna dengan menjual mesin jahitnya. Ratna berjanji tidak kembali β dan menepatinya lima puluh dua tahun. Ibu berjanji menjaga kunci β dan menjaganya sampai hari ini. Dan aku... aku berjanji menjadi pundak.
Malam harinya, setelah Ibu dan Bude tidur, aku duduk di tangga depan kos. Udara malam dingin menusuk. Dari kejauhan terdengar suara motor dan sesekali gonggongan anjing. Aku memutar kunci tua itu di antara jari-jariku, memikirkan pertanyaan yang sama selama tiga hari: pintu apa yang paling kutakuti?
Pintu gudang? Tidak. Aku tidak takut padanya. Aku penasaran β dan penasaran bukanlah takut.
Pintu ruang atasan? Setiap kali aku dipanggil menghadap, jantungku berdebar. Bukan karena aku bersalah β tapi karena aku tahu: sebagai tulang punggung, pekerjaanku bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah nasi di meja Ibu, biaya sekolah adik-adikku, obat kalau ada yang sakit. Kehilangan pekerjaan bagiku bukan kehilangan gaji β tapi kehilangan kemampuan menjadi pundak. Ya. Aku takut pada pintu itu.
Pintu rumah sakit? Aku takut β suatu hari nanti, Ibu akan masuk lewat pintu itu dan tidak keluar lagi. Setiap kali Ibu batuk terlalu lama, pikiran itu datang tanpa diundang, dan aku mengusirnya dengan doa yang terbata-bata.
Tapi kemudian aku sadar: ada satu pintu yang tidak pernah kusebutkan. Bahkan pada diriku sendiri.
Pintu di dalam dadaku.
Di baliknya, ada anak kecil berumur tujuh tahun yang masih berdiri di depan gudang dengan tangan gemetar. Yang masih bertanya dengan suara kecil, suara yang tidak pernah didengar siapa pun: bagaimana kalau aku tidak cukup? Bagaimana kalau pundakku patah sebelum semua orang selesai bersandar? Bagaimana kalau β setelah semua janji ini β ternyata aku hanyalah anak pertama yang kebetulan lahir lebih dulu, bukan yang terpilih?
Aku menatap kunci di tanganku. Berkarat. Tua. Dijaga dua puluh empat tahun oleh dua generasi perempuan sebelum akhirnya sampai di tanganku.
Nenek tidak memberikannya padaku waktu aku tujuh tahun. Beliau menungguku menjadi tiga puluh satu tahun. Menungguku menjadi pundak. Menunggu sampai aku β mungkin β berani.
Aku memasukkan kunci itu kembali ke saku, dalam-dalam. Lalu aku menengadah ke langit malam yang tidak berbintang β tertutup awan, seperti biasa di musim hujan.
"Pundak pertama bukan yang tidak pernah takut," bisikku pada diriku sendiri, mencoba mempercayainya. "Tapi yang tetap berdiri β meski takut."
Dari dalam kos, terdengar Bude mengigau pelan, memanggil nama seseorang yang tidak kukenal. Aku tersenyum, bangkit, dan masuk ke dalam.
Dua hari lagi.
Dua hari menuju pintu yang β akhirnya β akan kubuka.