β€Ή
4. Sekolah Malam

Sekolah Malam

Pundak Pertama β€’ 1,291 kata

Ilustrasi Sekolah Malam

Jam lima sore, ketika anak-anak lain pulang sekolah sambil tertawa dan melempar tas ke udara, Bagas justru berangkat kerja. Jam tujuh malam, ketika anak-anak lain makan malam bersama keluarga, Bagas baru membuka buku pelajaran.

Tahun 2011. Bagas enam belas tahun. Mandor proyek akhirnya memberinya pekerjaan tetap — bukan di proyek, melainkan di toko bangunan “Sumber Rejeki” milik H. Mahmud. Setiap hari Bagas mengangkat karung semen, mendorong gerobak pasir, membongkar tumpukan batu bata di bawah terik matahari. Upahnya tiga puluh lima ribu rupiah sehari. Tangannya yang dulu halus karena memegang pensil kini kapalan; punggungnya yang dulu tegak karena duduk di bangku sekolah kini sering pegal. Tapi ia tidak pernah mengeluh — setiap gajian, ia menyerahkan hampir semuanya kepada Ibu, dan hanya menyisakan ongkos serta sedikit untuk ditabung.

Dan ia kembali bersekolah. Bukan di pagi hari seperti dulu, melainkan di malam hari — di sebuah SMA swasta kecil di kecamatan yang membuka kelas malam untuk para pekerja. SPP-nya murah, ia bayar sendiri dari gajinya. Ketika Bapak tahu, lelaki tua yang kini hanya bisa duduk di teras itu menangis. “Kamu... masih sekolah?” tanyanya tidak percaya.

“Iya, Pak,” jawab Bagas sambil tersenyum. “Bagas janji. Bapak dulu bilang, Bagas harus sekolah tinggi.”

Bapak memalingkan wajah, tapi Bagas melihat bahunya bergetar. Di rumah itu, janji adalah barang mahal — dan Bagas baru saja membayar salah satunya.

Kondisi rumah perlahan stabil, meski jauh dari kata cukup. Bapak hanya bisa mengerjakan pekerjaan ringan: membetulkan genteng tetangga, memperbaiki pompa air, mengecat pagar. Ibu masih menjahit, kini dengan kacamata baca lima belas ribu rupiah dari pasar — matanya sering berair, dan ia harus berhenti setiap satu jam untuk mengompresnya dengan handuk hangat.

Sinta kini tiga belas tahun, kelas satu SMP. Ia beranjak remaja, dan dengan itu datang kebutuhan-kebutuhan baru yang membuat Bagas mengerutkan kening setiap kali menghitung. Suatu sore, Bagas mendengar isak tangis dari kamar. Sinta duduk di sudut, memegangi sepatunya yang solnya sudah bolong — hari itu temannya mengejeknya di sekolah.

“Kenapa nggak bilang ke kakak?” tanya Bagas lembut.

Sinta menggeleng sambil menangis. “Sinta tahu kakak capek. Sinta nggak mau nambahin beban kakak.”

Dada Bagas sesak. Adiknya yang dulu ia belikan tas dengan mengorbankan bola impiannya, kini sudah cukup dewasa untuk menyembunyikan kesedihannya demi kakaknya. Minggu itu Bagas lembur setiap hari sampai magrib. Ia membelikan Sinta sepatu baru — bukan yang paling mahal, tapi cukup bagus — dan juga uang untuk study tour sekolah yang selama ini Sinta pendam keinginannya.

“Dulu kakak belikan kamu tas,” kata Bagas sambil menyerahkan kantong belanja itu. “Sekarang kakak belikan kamu sepatu. Nanti, kakak belikan kamu masa depan.” Sinta memeluk kakaknya erat-erat, dan untuk sesaat, lelah di tubuh Bagas terasa ringan.

Sementara itu, Dimas — sepuluh tahun — mulai menunjukkan tanda-tanda yang membuat Ibu cemas. Ia sering bolos sekolah, nongkrong di warnet sampai malam, pulang dengan baju berbau asap. Suatu malam ia bahkan membentak Ibu yang memarahinya. Ibu menangis, dan tangis itu sampai ke telinga Bagas yang baru pulang kerja.

Malam berikutnya, Bagas sengaja menunggu. Jam sembilan lewat, Dimas pulang mengendap-endap. Lampu ruang depan dinyalakan, dan Dimas terkejut melihat kakaknya duduk menunggunya.

“Dari mana?” tanya Bagas dingin.

“Main.”

“Main sampai jam segini? Sekolahmu bagaimana? Ibu sampai nangis, kamu tahu?”

Dimas mendengus. “Mas sendiri juga nggak sekolah beneran! Sekolah malam itu buat orang gagal—”

Kata-kata itu seperti tamparan. Tangan Bagas terangkat — dan berhenti di udara. Ia menatap tangannya sendiri yang gemetar, lalu menatap adiknya yang menantang dengan mata berkaca-kaca. Perlahan tangannya turun.

“Duduk,” kata Bagas pelan.

Mereka duduk berhadapan di lantai ruang depan yang dingin. Lama tidak ada yang bicara. Akhirnya Bagas berkata, “Kamu tahu nggak, uang buat kamu sekolah itu dari mana? Dari karung semen yang kakak angkat setiap hari. Dari punggung kakak yang rasanya mau patah tiap malam.” Suaranya bergetar. “Kakak nggak minta kamu jadi pintar, Dimas. Kakak cuma minta satu: jangan sia-siakan apa yang kakak pertaruhkan. Karena yang kakak pertaruhkan itu... masa depan kakak sendiri.”

Dimas menangis. Malam itu untuk pertama kalinya ia memeluk kakaknya, dan Bagas menyadari bahwa adiknya yang bandel itu sebenarnya hanya anak kecil yang kehilangan figur ayah yang kuat — dan sedang mencari perhatian dengan cara yang salah.

Di sekolah malam, ada seorang guru yang memperhatikan Bagas. Pak Hendra, guru ekonomi, lima puluhan, berkacamata tebal dan selalu membawa tas kulit usang. Suatu malam ia memergoki Bagas tertidur di kelas — kepala terkulai di atas buku, setelah seharian lembur membongkar semen.

Bagas terbangun dengan panik, mengira akan dihukum. Tapi Pak Hendra hanya berkata, “Ikut Bapak ke kantin. Kantin mau tutup, tapi teh hangatnya masih ada.”

Di kantin yang remang-remang, di depan dua gelas teh hangat, Pak Hendra berkata, “Nak, Bapak perhatikan kamu tiga bulan ini. Kamu pikir hidupmu adalah pengorbanan, ya? Bahwa kamu adalah korban keadaan?”

Bagas diam. Tidak ada yang pernah menanyakan itu padanya.

“Bapak lihat beda,” lanjut Pak Hendra. “Kamu itu fondasi, Gas. Rumah boleh miring, dinding boleh retak — asal fondasinya kuat, rumah itu tetap berdiri. Kamu bukan korban. Kamu fondasi.”

Kata-kata itu menghantam Bagas lebih keras dari karung semen mana pun.

“Tapi fondasi juga bisa hancur kalau terus dihantam tanpa henti,” kata Pak Hendra, menatap Bagas dalam-dalam. “Pundak yang kuat bukan pundak yang tidak pernah lelah. Tapi pundak yang tahu kapan harus berhenti sejenak — supaya bisa mengangkat lebih lama. Jangan habiskan dirimu sampai tidak bersisa, Nak. Keluargamu butuh kamu lama, bukan cuma hari ini.”

Bagas menahan tangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada orang dewasa yang tidak menyuruhnya kuat — melainkan mengajarinya cara bertahan. Malam itu ia pulang dengan langkah lebih ringan, seolah seseorang baru saja mengangkat separuh beban dari pundaknya — bukan dengan tangan, melainkan dengan kata-kata.

Beberapa minggu kemudian, Pak Hendra membawak kabar lain: temannya membutuhkan helper di sebuah bengkel las, dengan gaji bulanan — lebih besar dan lebih pasti daripada upah harian di toko bangunan. “Pikirkan, Gas. Kamu pantas naik satu tangga.”

Bagas menggenggam secarik kertas berisi alamat bengkel itu erat-erat. Satu tangga. Setelah bertahun-tahun menahan atap agar tidak runtuh, seseorang akhirnya menawarinya sebuah tangga untuk naik.

Di toko bangunan, Bagas berteman dengan Kang Udin, kuli senior berusia empat puluhan yang mengajarinya cara mengangkat karung semen tanpa merusak punggung — “kaki ditekuk, Gas, bukan pinggang” — dan cara menawar dengan sopir truk pasir. Kang Udin sering berkata, “Kamu beda, Gas. Anak-anak seumurmu maunya main. Kamu maunya keluargamu makan.” Dari Kang Udin pula Bagas belajar bahwa kerja keras saja tidak cukup; harus kerja cerdas — ia mulai mencatat harga material dan belajar membaca nota, keterampilan yang diam-diam ia syukuri bertahun-tahun kemudian.

Di sekolah malam, teman-teman sekelasnya adalah orang-orang dewasa: buruh pabrik, asisten rumah tangga, tukang ojek. Awalnya Bagas minder — ia yang termuda di kelas. Tapi mereka justru menyayanginya seperti adik sendiri. Mbok Sari, tiga puluh lima tahun, sering membawakannya gorengan. “Makan, Dik. Kamu kurus kayak triplek,” candanya. Di kelas itu Bagas belajar satu hal penting: ia tidak sendirian. Di luar sana, banyak pundak-pundak lain yang juga menahan atapnya masing-masing dalam diam.

Tengah malam itu, HP butut Bagas berdering — memecah keheningan rumah. Nomor Pak RT tertera di layar.

“Mas Bagas? Maaf malam-malam. Ini soal Dimas.”

Jantung Bagas mencelos. “Kenapa, Pak? Dimas kenapa?”

Jeda yang terlalu lama. Lalu suara Pak RT terdengar berat, “Sudah... ke pos ronda saja dulu, ya.”

Sambungan terputus.

Bagas meraih jaketnya dengan tangan gemetar. Di luar, hujan baru saja reda; jalanan becek memantulkan cahaya lampu yang redup. Ia berlari menembus malam — untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bukan menuju pekerjaan, melainkan menuju ketakutan terbesarnya. Dan malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!