β€Ή
69. Sudut untuk Nadia

Sudut untuk Nadia

Pundak Pertama β€’ 1,475 kata

Ilustrasi Sudut untuk Nadia

Senin pagi pertama saya sebagai suami dimulai dengan bunyi alarm yang sama, di kamar kos yang sama, tapi dengan perasaan yang sama sekali berbeda.

Saya bangun, menyeduh kopi, dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya tidak langsung berpikir tentang diri saya sendiri. Saya berpikir tentang Nadia yang bangun di Cirebon tanpa saya di sampingnya, tentang Pak Suryo yang pagi ini harus latihan lagi, dan tentang satu sudut kamar kos ini yang sejak kemarin sore terasa seperti menunggu sesuatu. Sudut itu ada di dekat jendela: meja kecil yang selama ini saya pakai menumpuk tagihan dan kabel charger. Kemarin, sebelum tidur, saya memandangi sudut itu lama sekali, dan saya tahu apa yang harus saya lakukan.

Minggu pertama sebagai suami di Jakarta ternyata bukan tentang hal-hal besar. Ia tentang hal-hal kecil yang tiba-tiba punya arti baru. Saya bekerja seperti biasa β€” berangkat pagi, pulang sore, mengerjakan laporan yang sama β€” tapi di sela-selanya saya menelepon Nadia setiap malam, dan telepon itu menjadi jangkar hari saya.

"Lutut ayah hari ini bagaimana?" tanya saya pada malam pertama, sambil duduk di tepi kasur dengan semangkuk mi instan yang sudah setengah dingin.

"Tadi pagi 46 langkah, Mas," jawab Nadia, dan saya bisa mendengar senyumnya. "Naik enam langkah dari kemarin. Tapi siang tadi beliau maksa mau jalan sampai gerbang, terus lututnya protes. Sorenya beliau manyun di kursi, tidak mau ngomong."

Saya tertawa. "Itu namanya hari mundur, ya?"

"Iya. Bu dokter bilang itu normal. Pemulihan itu bukan garis lurus. Ada hari naik, ada hari mundur. Yang penting trennya naik."

Kalimat itu β€” trennya naik β€” menjadi semacam mantra kami sepanjang minggu. Setiap malam Nadia melaporkan angka: 46, lalu 43 di hari mundur, lalu 50, lalu 48. Bukan angka yang dramatis. Tidak ada keajaiban. Tapi ada kejujuran di dalamnya, dan kejujuran itu menenangkan. Pak Suryo tidak lagi berjalan untuk membuktikan apa-apa. Ia berjalan karena ada target yang masuk akal: warung depan. Kadang ia sampai, kadang tidak. Dan ketika tidak sampai, ia tidak lagi marah pada dirinya sendiri sebesar dulu. Itu kemajuan yang tidak bisa diukur dengan langkah, tapi terasa di suara Nadia saat bercerita.

Di tengah minggu, saya mulai merapikan sudut kamar itu. Saya membeli taplak meja kecil dari warung dekat kos β€” warna krem, polos, dua puluh ribu rupiah. Saya memindahkan tagihan ke map plastik, menggulung kabel charger, dan menaruh satu gelas kosong di atas meja itu. Gelas untuk Nadia, kalau ia minum air putih sambil duduk di sana nanti. Lalu saya menaruh buku catatan kecil yang saya beli di toko buku: sampulnya cokelat, isinya kosong. Saya menulis di halaman pertama, dengan huruf yang saya usahakan rapi: "Untuk Nadia β€” sudut ini menunggu kamu. β€” Gas."

Saya tahu ini terdengar sentimentil. Tapi saya tidak peduli. Selama ini kamar kos saya adalah tempat saya pulang untuk tidur. Sekarang saya ingin ia menjadi tempat yang juga menunggu seseorang. Perbedaannya kecil, tapi rasanya besar: meja yang tadinya tempat menumpuk tagihan, sekarang menjadi tempat yang sengaja saya siapkan.

Rabu siang, di sela jam kerja, seorang rekan kantor bertanya sambil lalu, "Gimana rasanya sudah nikah, Gas?" Saya menjawab singkat, "Enak, tapi kos saya jadi sempit." Ia tertawa, mengira saya bercanda. Padahal saya setengah serius: kos itu memang terasa sempit, bukan karena barangnya bertambah, melainkan karena harapan saya tentang kamar itu bertambah. Dulu, pulang kerja berarti menutup pintu dan berhenti berurusan dengan siapa pun. Sekarang, pulang kerja berarti membuka ponsel dan menunggu laporan langkah Pak Suryo, berarti mengingat bahwa di meja dekat jendela ada gelas kosong yang menunggu pemiliknya. Sempitnya bukan kekurangan ruang, melainkan karena hidup saya tiba-tiba punya lebih banyak penghuni β€” meski penghuni itu masih berada di kota lain.

Jumat sore, telepon malam kami lebih panjang dari biasanya. Nadia bercerita bahwa ibunya mulai mengajarinya resep bubur sumsum yang biasa dibuat Pak Suryo waktu masih sehat β€” bubur yang dulu selalu habis sebelum sempat dingin. "Ibu bilang, kalau ayah sudah bisa jalan ke warung depan, beliau yang masak buburnya sendiri," kata Nadia. "Jadi targetnya sekarang bukan cuma langkah, Mas. Targetnya bubur."

Saya membayangkan dapur di Cirebon, uap bubur, Pak Suryo yang duduk di kursi sambil mengaduk santan. Saya membayangkan diri saya di sana, bukan sebagai tamu yang harus membuktikan diri, tapi sebagai menantu yang memang tinggal di sana. Perasaan itu aneh dan hangat sekaligus.

"Besok aku pulang," kata saya. "Bus pagi. Sampai Cirebon sebelum Zuhur."

"Iya," jawab Nadia. "Ayah sudah tanya dari tadi siang: 'Bagas jadi pulang kan?' Beliau tanya tiga kali. Aku jawab iya tiga kali juga."

Sabtu pagi, saya naik bus dengan tas yang lebih ringan dari biasanya. Tidak ada lagi rasa gugup seperti dulu, ketika setiap pulang ke Cirebon terasa seperti ujian. Dulu saya datang dengan niat membuktikan bahwa saya layak. Sekarang saya datang karena ini memang bagian dari hidup saya: akhir pekan, Cirebon, rumah yang di dalamnya ada istri saya dan ayahnya yang sedang belajar berjalan lagi.

Di dalam bus, saya duduk di dekat jendela dan sempat menghitung dalam hati: ongkos pulang-pergi minggu ini, ditambah uang makan selama di Cirebon, masih masuk akal kalau saya masak sendiri di kos sepanjang minggu depan. Perhitungan kecil seperti ini dulu terasa membebani; sekarang terasa seperti cara saya menjaga agar perjalanan ini bisa terus berlanjut. Saya tidak ingin pulang ke Cirebon menjadi sesuatu yang saya hitung dengan rasa berat. Saya ingin ia menjadi sesuatu yang saya rencanakan dengan tenang, minggu demi minggu, seperti orang merawat tanaman: disiram sedikit, tapi rutin.

Perbedaannya langsung terasa begitu saya sampai. Ibu Nadia menyambut saya di depan pintu dengan kalimat yang sederhana tapi mengubah segalanya: "Masuk, Gas. Kamar kalian sudah dibereskan."

Kamar kalian. Bukan kamar tamu. Bukan kamar Nadia. Kamar kalian.

Di dalam, tidak ada lagi tumpukan sarung tamu atau handuk baru yang dilipat kaku seperti dulu. Ada dua bantal di kasur. Ada gelas saya di meja β€” gelas yang sama yang saya pakai waktu menginap sebelum menikah, yang ternyata tidak pernah mereka simpan. Nadia sedang melipat baju di sudut kamar, dan ketika ia melihat saya, ia tersenyum seperti orang yang menyambut seseorang yang memang sudah seharusnya ada di sana.

"Capai?" tanyanya.

"Lumayan," kata saya, meletakkan tas. "Tapi enak. Pulang itu rasanya beda sekarang."

Sore itu, saya menemani Pak Suryo latihan. Ia berjalan dari teras menuju gerbang, pelan, dengan tongkat di satu tangan dan tangan saya di tangan lainnya. Ia mencapai 52 langkah sebelum berhenti, menarik napas, dan tertawa kecil.

"Warung depan masih jauh, Gas," katanya.

"Iya, Pak," kata saya. "Tapi minggu lalu 40. Sekarang 52. Trennya naik."

Pak Suryo menatap saya, lalu mengangguk. Ia tidak menjawab dengan kalimat besar. Ia hanya menepuk punggung tangan saya sekali, lalu melanjutkan langkahnya. Di belakang kami, Nadia berdiri di pintu sambil memegang dua gelas air putih. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum, dan senyum itu cukup.

Malamnya, setelah semua tidur, saya dan Nadia duduk di teras. Angin Cirebon dingin. Nadia bersandar di bahu saya, dan kami tidak banyak bicara. Kami membicarakan hal-hal kecil: ongkos bus yang naik seribu rupiah, taplak meja krem yang saya beli, bubur sumsum yang akan dimasak Pak Suryo kalau sudah sampai warung depan.

"Mas," kata Nadia pelan, "aku senang kamu pulang bukan karena merasa wajib."

"Aku juga," kata saya. "Dulu aku pulang untuk membuktikan diri. Sekarang aku pulang karena di sini ada kamu. Itu beda sekali rasanya."

Nadia diam sejenak. "Ayah pernah bilang, rumah itu bukan tempat kita membuktikan apa-apa. Rumah itu tempat kita pulang meski tidak membuktikan apa-apa."

Saya teringat surat di laci meja kos saya. Saya teringat kalimat tentang menunda pulang. Dan saya sadar, tanpa Pak Suryo bermaksud mengajari saya apa-apa, ia sudah mengajari saya: pulang bukan hadiah untuk orang yang sudah berhasil. Pulang adalah tempat orang kembali, apa pun keadaannya.

Sebelum tidur, saya duduk di teras itu lebih lama, mendengarkan suara malam Cirebon, dan merasa untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, bahwa saya tidak sedang menahan beban sendirian. Saya sedang memikulnya bersama seseorang. Dan itu membuat pundak saya terasa lebih ringan, bukan lebih berat.

Minggu pagi, sebelum bus kembali ke Jakarta, ibu Nadia membungkuskan bekal untuk saya: nasi, ayam suwir, dan sambal dalam wadah plastik yang ia ikat dengan karet gelang. "Buat di jalan, Gas," katanya. "Jangan jajan sembarangan." Saya menerima bekal itu dengan kedua tangan, dan tiba-tiba saya merasa seperti anak yang diantar ibunya sendiri. Di terminal, Nadia mengantar saya sampai ke pintu bus, seperti dulu, tapi kali ini ia tidak melambaikan tangan sampai bus berbelok. Ia hanya berdiri di sana, tersenyum, seperti orang yang tahu bahwa perpisahan ini hanya seminggu, dan seminggu itu bisa dilewati. Di dalam bus, saya membuka bekal itu pelan-pelan dan makan sambil memandangi sawah. Rasanya aneh: saya pergi, tapi saya tidak merasa meninggalkan apa-apa. Saya merasa sedang menuju setengah hidup saya yang lain, yang menunggu di kos dengan taplak krem dan gelas kosongnya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!