Malam Terpanjang
Pundak Pertama β’ 1,455 kata
Jam di pergelangan tangan Bagas berdetak pelan β tik, tik, tik β seolah menghitung mundur menuju pagi yang harus ia pilih.
Di luar jendela kamar nomor tujuh, kompleks pelatihan terlelap dalam kegelapan. Lampu-lampu jalan berbaris redup seperti penjaga yang mengantuk. Di dalam kamar, lima ranjang terisi tubuh-tubuh yang terlelap β kecuali satu.
Bagas duduk di tepi ranjangnya, menatap kedua telapak tangannya yang kapalan. Tangan yang disebut Pak Bambang jujur. Tangan yang dua jam lalu memegang ponsel dengan jemari memutih, mendengar suara ibunya berkata: biayanya dua setengah juta, Nak.
Dua setengah juta. Hampir persis sebesar gaji sebulan di pabrik Cikande.
"Pabrik β atau program. Tidak ada jalan ketiga."
Suara Pak Bambang masih menggema di kepalanya, padahal lelaki itu sudah pergi hampir satu jam lalu.
Bagas berdiri, berjalan ke jendela. Kaca jendela dingin di dahinya. Di kejauhan, di balik gerbang kompleks, jalan tol membentang β dan jauh di ujung jalan tol itu, ada kampungnya. Ada rumah berdinding bata yang belum dicat. Ada Bapak yang tidur dengan sakit kepala yang tidak hilang-hilang. Ada Ibu yang pasti belum tidur juga malam ini.
"Belum tidur, Gas?"
Bagas menoleh. Wahyu duduk di ranjangnya, mengucek mata. Rambutnya berdiri ke segala arah seperti ijuk.
"Maaf, aku bangunin?" tanya Bagas.
"Aku juga belum tidur. Dari tadi bolak-balik." Wahyu mengambil botol air di kolong ranjang, meneguknya. "Kamu kenapa? Dari pengumuman peringkat, mukamu kayak orang kehilangan dompet."
Bagas kembali duduk di tepi ranjang. Sejenak ia ragu β lalu ia menceritakan semuanya. Pabrik di Cikande. Dua koma delapan juta. Kontrak dua tahun. Syaratnya: keluar dari program, kehilangan sertifikat nasional. Dan telepon dari Ibu: Bapak, CT scan, dua setengah juta.
Wahyu mendengarkan tanpa menyela β hal yang jarang sekali ia lakukan. Ketika Bagas selesai, ia bersiul pelan.
"Berat, Gas," katanya. "Berat beneran."
"Makanya aku nggak bisa tidur."
"Yoga juga dipanggil tadi sore," kata Wahyu tiba-tiba. "Dia yang kedua. Setelah kamu."
Bagas mengangkat wajah. "Yoga?"
"Dia cerita ke aku pas antre mandi. Katanya dia... nolak."
"Nolak?"
Wahyu mengangguk. "Katanya keluarganya nggak butuh uang itu sekarang. Dia di sini mau sertifikatnya β biar nanti kalau dia kerja di perusahaan bapaknya, dia datang sebagai juru las, bukan sebagai anak bos."
Bagas terdiam. Untuk Yoga, tawaran pabrik itu soal harga diri. Untuk Bagas, tawaran itu soal kepala Bapaknya. Pilihan yang sama, beban yang berbeda β seperti dua orang memikul karung yang sama beratnya, padahal yang satu baru makan dan yang satu belum makan tiga hari.
"Terus yang ketiga siapa?" tanya Bagas.
"Anak peringkat satu. Aku nggak kenal dekat. Katanya dia ambil β keluarganya butuh banget."
Jadi besok pagi, satu kursi di kelas akan kosong. Bagas membayangkan anak itu berkemas malam ini juga, seperti dua nama yang dipulangkan kemarin. Bedanya: yang ini pergi karena memilih, bukan karena gagal. Bagas tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
"Gas," kata Wahyu pelan. "Soal CT scan bapakmu..."
"Jangan," potong Bagas cepat. "Aku tahu kamu mau bilang apa. Jangan."
"Kamu belum dengar aku bilang apa."
"Aku tahu. Dan jawabannya jangan."
Wahyu menatapnya lama. Lalu ia bangkit, membuka lemarinya, mengeluarkan sebuah amplop lusuh dari balik tumpukan kaus.
"Kambing ibuku laku empat juta," katanya, menyodorkan amplop itu. "Ongkosku ke sini delapan ratus ribu. Sisanya Ibu suruh aku simpan buat jaga-jaga. Dua setengah juta masih ada di sini, Gas. Persis."
Bagas menatap amplop itu seperti menatap bara api.
"Aku nggak bisa, Yu."
"Bisa."
"Aku anak pertama, Yu." Suara Bagas bergetar. "Dari kecil, aku yang disuruh menopang. Bapak bilang: kamu anak pertama, kamu yang kuat. Bukan aku yang ditopang."
Wahyu duduk di sampingnya. Ranjang berderit pelan.
"Kamu pikir pundak itu cuma buat menopang?" katanya. "Pundak juga boleh disandari, Gas. Itu bukan lemah. Itu... itu gunanya punya teman."
Sebelum Bagas sempat menjawab, terdengar suara dari ranjang seberang.
"Dinding asrama ini tipis kayak kertas, ya."
Yoga duduk di ranjangnya, bersandar ke dinding. Entah sejak kapan ia bangun β atau mungkin ia memang belum tidur juga.
"Maaf, aku dengar semuanya," kata Yoga. Ia bangkit, berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di depan mereka. Anak kontraktor yang dulu tidak mau duduk di lantai asrama β kini duduk bersila di lantai semen yang dingin tanpa ragu.
"Aku juga mau ikut," katanya.
"Ikut apa?" tanya Bagas.
"Patungan." Yoga tersenyum tipis. "Aku utang budi sama kamu, Gas. Utang contekan simbol itu. Bakso nggak cukup buat bayar utang sebesar ini."
"Yogaβ"
"Dengar dulu." Yoga mengangkat tangan. "Aku transfer sekarang juga. Anggap utang. Bunganya ringan: nanti kalau kamu sudah jadi juru las bersertifikat nasional, kamu lasin pagar rumahku. Gratis."
"Tawaran yang buruk," kata Wahyu. "Pagar rumahnya segede lapangan bola."
Mereka tertawa β tawa kecil yang pecah di tengah malam, tawa yang tidak seharusnya ada di tengah masalah sebesar ini, tetapi justru karena itulah ia terasa seperti udara segar.
Tawa itu reda. Bagas menatap kedua temannya bergantian. Wahyu dengan amplop lusuhnya. Yoga dengan ponsel di tangannya, siap transfer.
Dan tiba-tiba, kalimat ibunya muncul di kepalanya β kalimat dari dua minggu lalu, yang selama ini ia kira hanya soal gelang:
"Yang penting bukan gelangnya, Nak β yang penting apa yang gelang itu belikan."
Selama ini Bagas mengira gelang warisan neneknya dibelikan tempat di program ini. Baris di kelas. Bilik las nomor tujuh.
Tetapi malam ini, di kamar nomor tujuh yang gelap, ia mengerti maksud ibunya yang sebenarnya.
Gelang itu membelikannya mereka. Dua orang yang duduk di depannya malam ini, menawarkan uang yang bukan milik Bagas, tanpa diminta, tanpa syarat selain persaudaraan.
Matanya panas. Ia menunduk cepat-cepat, pura-pura menggosok wajahnya yang lelah.
"Pinjam," katanya akhirnya, suaranya serak. "Bukan dikasih. Pinjam. Aku catat."
Ia mengambil buku catatan kecil dari kolong bantal β buku yang biasa ia pakai mencatat rumus pengelasan β membuka halaman kosong, dan menulis dengan tangan yang mantap:
"Utang Bagas: Rp2.500.000 β untuk CT scan Bapak. Kepada Wahyu dan Yoga. Lunas sebelum wisuda."
Ia menandatangani di bawahnya, merobek halaman itu menjadi dua β satu untuk Wahyu, satu untuk Yoga.
"Kalau aku nggak lunas sebelum wisuda," katanya, "tagih ke Pak Bambang. Suruh potong dari gajiku nanti."
"Siap, rentenir cilik," kata Wahyu, melipat kertasnya dengan hati-hati seperti melipat sesuatu yang berharga.
Yoga memasukkan kertasnya ke dompet. "Aku simpan baik-baik. Biar kamu ingat kamu punya saudara."
Pukul empat pagi, Bagas menelepon ibunya. Ibu pasti sudah bangun untuk subuh β dan benar, telepon diangkat pada dering kedua.
"Nak? Kenapa menelepon pagi-pagi? Kamu kenapa?" Suara ibunya langsung panik.
"Bu, Bagas nggak apa-apa. Bu, dengar dulu." Bagas menarik napas. "Uang untuk CT scan Bapak... sudah ada, Bu. Hari ini Bagas kirim. Bapak harus CT scan minggu ini. Jangan ditunda lagi."
Hening panjang. Lalu terdengar isak tertahan β isak lega yang ditahan-tahan.
"Ya Allah... Ya Allah, Nak..."
"Bu, satu lagi. Bapak... Bapak titip apa-apa?"
Ibunya terdiam sebentar. "Semalam, waktu Ibu cerita kamu peringkat dua, Bapakmu nangis, Nak. Beliau bilang..." Suara ibunya bergetar. "Beliau bilang: sampaikan ke Bagas, jangan pulang. Selesaikan."
Bagas memejamkan mata. Di kejauhan, azan subuh mulai berkumandang dari musala kompleks.
"Iya, Bu. Sampaikan ke Bapak: Bagas selesaikan."
Pukul tujuh pagi, Bagas berdiri di depan pintu kantor Pak Bambang. Tangannya β tangan yang semalam gemetar memegang ponsel β kini mantap mengetuk pintu.
"Masuk."
Pak Bambang duduk di balik mejanya, map pabrik Cikande masih tergeletak di atasnya.
"Duduk," katanya.
Bagas tetap berdiri. "Saya tetap di program, Pak."
Pak Bambang menatapnya lama. Wajahnya β yang tidak pernah memberi petunjuk apa pun β kali ini terlihat lelah. Atau lega. Bagas tidak bisa memastikan.
"Tadi malam saya dengar telepon ibumu," kata Pak Bambang pelan. "Saya di ambang pintu kamarmu. Maaf β saya tidak sengaja menguping, tetapi saya mendengar cukup banyak."
Bagas menunduk. "Sayaβ"
"Saya kira kamu akan ambil pabrik itu." Pak Bambang membuka laci, mengeluarkan selembar surat yang sudah ditandatangani. "Surat pengantarnya sudah saya siapkan tadi malam. Saya yakin... sembilan puluh persen yakin kamu akan ambil."
Ia meletakkan surat itu di atas meja. Sejenak ia menatapnya β lalu merobeknya menjadi dua, dengan gerakan pelan dan pasti.
"Ternyata saya salah menilaimu, Bagas."
"Pak, sayaβ"
"Keputusan yang sulit biasanya keputusan yang benar." Pak Bambang berdiri, berjalan mengitari meja, dan β untuk pertama kalinya sejak Bagas mengenalnya β meletakkan tangan di bahu Bagas. Berat. Hangat. "Jangan sia-siakan. Dan satu lagi: pabrik itu titip pesan. Mereka selalu butuh lulusan terbaik program ini. Dengan sertifikat nasional di tangan, gajinya bukan dua koma delapan lagi."
Bagas menatap lelaki itu. "Terima kasih, Pak."
"Jadilah lulusan terbaik itu." Pak Bambang kembali ke kursinya. "Sekarang kembali ke bilik lasmu. Api tidak menunggu orang yang habis menangis semalaman."
Bagas keluar dari kantor dengan langkah ringan β seringan yang ia rasakan sejak... ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali.
Di koridor, ponselnya bergetar. Pesan dari Ibu:
"Nak, uangnya sudah sampai. Bapak dijadwalkan CT scan lusa pagi. Terima kasih, Nak. Ibu tidak tahu harus bilang apa."
Bagas tersenyum. Lalu pesan kedua masuk:
"Nak... sebelum CT scan, Bapak mau bicara denganmu. Beliau bilang ada yang harus beliau katakan dulu. Bukan lewat Ibu β beliau sendiri yang mau bicara."
Bagas berhenti di tengah koridor. Di pergelangan tangannya, jam Bapak berdetak β tik, tik, tik β dan untuk pertama kalinya sejak ia memakainya, detaknya terdengar seperti sebuah pertanyaan yang belum terjawab.