β€Ή
42. Ruangan Pak Dharma

Ruangan Pak Dharma

Pundak Pertama β€’ 1,274 kata

Ilustrasi Ruangan Pak Dharma

"Sepuluh tahun lalu," kata Pak Dharma, "aku adalah kamu."

Ia meletakkan foto ibunya di meja, di antara kami β€” seperti meletakkan sesuatu yang terlalu berat untuk dipegang sendirian.

"Aku karyawan terbaik. Itu kata mereka. Datang paling pagi, pulang paling malam. Proyek apa pun selesai di tanganku. Istriku protes, anak-anakku lupa wajahku di siang hari." Ia tersenyum getir. "Ibuku tinggal di kampung, sendirian setelah bapak meninggal. Setiap telepon ia bilang: tidak apa-apa, ibu sehat, kerja saja yang rajin. Dan aku percaya. Atau... aku memilih percaya."

Aku tidak bergerak. Kopi sachet di depanku sudah dingin.

"Suatu Selasa malam, aku sedang merevisi presentasi untuk klien besar. Ponselku bergetar β€” kakakku menelepon. Aku menolaknya. Kupikir: nanti saja, setelah slide ini selesai. Ia menelepon lagi. Kutolak lagi." Pak Dharma menatap foto itu. "Slide itu selesai jam sebelas malam. Baru aku menelepon balik."

Hening di ruangan itu terasa seperti kabin bus tadi malam β€” penuh, tapi sunyi.

"Ibuku jatuh di kamar mandi jam sembilan. Stroke. Tetangga yang menemukan. Kakakku bilang... ia masih sempat memanggil namaku." Suara Pak Dharma pecah di kata terakhir. Ia berdeham, mengambil tisu dari laci, menyeka mata dengan gerakan cepat seperti malu. "Aku pulang Rabu pagi. Rumah sudah sepi. Jenazah sudah dimandikan tetangga. Aku tidak sempat... apa-apa."

Aku menatap tanganku sendiri. Kuku-kuku yang kukigit semalam.

"Sejak hari itu aku bersumpah," lanjutnya, "tidak akan ada lagi anak buahku yang kehilangan ibunya gara-gara slide presentasi." Ia menatapku lurus-lurus. "Jadi dengar baik-baik, Bagas. Kamu tidak perlu meminta izin untuk pulang tepat waktu. Itu hakmu. Kamu tidak perlu meminta izin untuk mengambil cutimu. Itu juga hakmu. Dan kalau ada yang darurat di kampung β€” telepon aku langsung, tidak perlu lewat prosedur. Aku yang akan urus."

Mataku panas. Aku menunduk supaya ia tidak melihat.

"Kantor ini," katanya sambil tertawa kecil, menyeka matanya sendiri, "sudah terlalu banyak air mata minggu ini. Ambil tisunya, jangan malu-malu."

Aku mengambil tisu. Kami tertawa β€” tawa dua orang yang sama-sama pernah berdiri gemetar di depan pintu yang sama.

Sebelum aku keluar, ia berkata: "Bagas. Nenekmu pasti bangga. Tidak banyak anak berani mengetuk pintu seperti yang kamu lakukan tadi malam."

Aku berhenti di ambang pintu. "Bapak tahu saya kirim pesan tadi malam?"

"Notifikasi email masuk ke ponselku, Nak." Ia tersenyum. "Dan aku sudah menunggu pesan seperti itu... tiga tahun."

---

Aku kembali ke mejaku dengan langkah yang terasa lebih ringan β€” seperti habis menurunkan ransel yang kubawa lima tahun. Rian menatapku curiga.

"Gimana? Dimarahi?"

"Dikasih tisu," kataku.

Rian tertawa. "Apaan sih."

Siang itu aku makan di warteg dekat kantor β€” untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, tidak makan di meja kerja sambil menatap spreadsheet. Nasi, sayur asem, tempe orek, telur balado, es teh manis. Tujuh belas ribu rupiah. Ibu wartegnya, Bu Warsih, menatapku heran.

"Lho, Mas Bagas makan di sini? Biasanya dibungkus."

"Biasanya," kataku sambil tersenyum, "besok-besok makan di sini terus, Bu."

Di warteg yang bising itu, di antara tukang ojek yang tertawa keras dan karyawan toko yang mengeluh soal target, aku merasa seperti manusia lagi. Bukan mesin ketik yang bisa lembur. Aku makan pelan-pelan β€” mengunyah, bukan menelan. Di meja sebelah, seorang bapak menelepon anaknya: "Iya, Bapak pulang jam enam. Belikan martabak ya." Kalimat sederhana. Tapi aku mendengarnya seperti mendengar musik.

Sore harinya, tepat jam lima, aku mematikan komputer. Rian melongo.

"Kamu pulang? Jam lima?"

"Jam lima," kataku, mengangkat tas. "Besok lagi."

Di perjalanan pulang naik angkot, aku menatap kota yang mulai menyalakan lampunya. Lima tahun aku tinggal di kota ini β€” dan baru hari ini aku benar-benar melihatnya.

---

Malam itu, di kos, aku mengeluarkan kotak kayu kecil dari bawah kasur. Di dalamnya: surat-surat Nenek yang kubawa dari kampung, foto 1974, buku tabungan bersampul biru pudar, dan kunci tua itu.

Aku duduk di lantai β€” meja kerjaku terlalu formal untuk pekerjaan ini β€” membuka laptop, dan mulai menulis. Bukan catatan. Bukan draf. Bab pertama.

"Nenekku menjaga sebuah kunci selama lima puluh dua tahun β€” dan aku baru mengerti kenapa, di umur tiga puluh satu."

Kalimat itu sudah kutulis di bus. Sekarang aku meneruskannya. Tentang Nenek yang kukenal: perempuan pendiam yang selalu menyisakan potongan ayam terbesar untukku, yang menumbuk sambal dengan ritme seperti detak jantung, yang menyimpan surat-surat dalam peti seperti menyimpan luka. Tentang kunci yang tidak mengunci apa-apa. Tentang gelang yang akhirnya kembali ke pergelangan cucunya β€” pergelanganku.

Aku menulis empat ratus kata tanpa berhenti. Jari-jariku bergerak sendiri. Untuk pertama kalinya, menulis tidak terasa seperti tugas. Terasa seperti... menimba air sumur. Makin kutimba, makin jernih.

Setelah selesai, aku membaca ulang. Jelek, tentu saja β€” kalimatnya kaku, ritmenya tersendat. Tapi di bawah semua itu ada sesuatu yang hidup. Sesuatu yang benar.

Lalu aku membuka ikatan tali rafia pada tumpukan surat yang paling bawah β€” surat-surat yang kembali. Surat-surat yang Nenek kirim ke Yati, ke alamat lama, dan semuanya kembali dengan cap merah: KEMBALI KE PENGIRIM.

Ada tujuh amplop. Tujuh kali Nenek mencoba. Tujuh kali gagal.

Aku membuka salah satunya β€” bukan yang paling atas, tapi yang kertasnya paling lecek, yang sepertinya paling sering dibuka dan dibaca ulang. Di dalamnya, surat Nenek β€” tulisan tangannya yang rapi dan miring sedikit ke kanan:

"Yati, maafkan aku. Aku tidak tahu harus mulai dari mana, jadi aku mulai dari yang paling jujur: aku merindukanmu. Lima puluh tahun aku menyimpan marah yang bahkan aku sudah lupa apa sebabnya. Kalau kamu masih ingat, tolong tuliskan kepadaku β€” supaya aku bisa meminta maaf untuk hal yang benar. Kalau kamu sudah lupa, lebih baik lagi. Datanglah ke rumah. Teh manis masih sama rasanya. β€” S."

Aku membaca surat itu tiga kali. Tenggorokanku tercekat. Lima puluh tahun menyimpan marah yang bahkan sudah lupa apa sebabnya. Betapa banyak dari kita yang seperti itu β€” memegang kunci dari pintu yang bahkan sudah tidak ada.

Aku melipat surat itu kembali dengan hati-hati, seolah melipat sesuatu yang hidup. Lalu aku mengambil amplop yang paling atas. Amplopnya sudah menguning, perangkonya ditempeli ulang dengan selotip. Di sudut kiri, tulisan tangan Nenek yang kukenali β€” rapi, miring sedikit ke kanan:

"Yati β€” Jl. Kenanga No. 14"

Jantungku berhenti.

Jl. Kenanga. Itu... di kota ini. Di kotaku.

Tanganku gemetar membuka aplikasi peta di ponsel. Mengetik: Jalan Kenanga.

Hasilnya muncul seketika: 2,1 kilometer dari kosku. Dua puluh menit jalan kaki. Lima menit naik ojek.

Aku menatap amplop itu lama. Di balik cap merah KEMBALI KE PENGIRIM, alamatnya masih jelas terbaca β€” ditulis Nenek dengan harapan, dikembalikan oleh waktu.

Yati β€” sahabat Nenek yang hilang lima puluh dua tahun, yang belum sempat dimaafkan β€” ternyata tidak hilang di kota yang jauh. Ia ada di kota ini. Di jalan yang mungkin sudah seribu kali kulewati tanpa tahu.

Aku meraih ponsel. Membuka kontak Ibu. Jari-jariku berhenti di tombol panggil.

Tidak. Belum malam ini. Malam ini aku hanya ingin duduk dengan penemuan ini β€” seperti duduk di tepi sumur, menatap air yang tiba-tiba jernih dan menunjukkan sesuatu di dasarnya.

Di luar jendela kos, gang sudah sepi. Dari kejauhan terdengar suara penjual bakso memukul mangkoknya: tok-tok-tok. Aku memegang amplop itu erat-erat, seolah ia bisa terbang.

Sebelum tidur, aku mengambil foto 1974 dari kotak kayu β€” dua perempuan muda yang tertawa, tidak tahu bahwa lima puluh dua tahun kemudian tawa itu akan menjadi penyesalan. Aku menatap wajah Yati yang muda. Mencoba membayangkannya sekarang: rambut putih, tangan yang melayani soto, tawa yang β€” kata Bude nanti β€” masih sama. Di mana pun ia berada malam ini, di jalan yang hanya dua kilometer dari sini, ia tidak tahu bahwa surat-surat itu akhirnya sampai juga β€” bukan ke tangannya, tapi ke tangan cucu sahabatnya.

Lima puluh dua tahun Nenek mencari. Dan jawabannya selama ini... hanya dua kilometer dari tempat cucunya tidur.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!