Jam Setengah Sebelas Malam
Pundak Pertama β’ 1,754 kata
Jam tangan di pergelangan Bagas terus berdetak — tik, tik, tik — dan untuk pertama kalinya sejak Bapak memasangkannya di teras rumah, setiap detak terdengar seperti hitungan mundur.
“Halo? Dimas?”
“Mas...” Suara adiknya pecah di seberang sana, seperti kaca yang retak. “Mas... Bapak... Bapak jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah, Mas. Berdarah banyak...”
Bagas duduk tegak di ranjang bawah. Kegelapan kamar tujuh tiba-tiba terasa menghimpit dinding-dindingnya. Dari ranjang atas terdengar dengkuran halus Yoga. Wahyu meringkuk memeluk bantal di ranjang sebelah, napasnya teratur.
“Jatuh gimana? Kapan? Bapak sekarang di mana?”
“Tadi... habis Isya. Bapak mau wudu, terus kepleset. Kepalanya kena bibir bak mandi, Mas.” Napas Dimas tersengal-sengal, seperti habis berlari. “Ibu teriak, terus Pak RT sama tetangga pada datang. Bapak dibawa ke puskesmas pakai mobil baknya Pak RT. Bapak sempat pingsan, Mas. Sebentar, tapi...”
“Terus sekarang? Bapak sadar?”
“Sadar. Tapi... tapi darahnya banyak banget, Mas. Di lantai kamar mandi...” Suara Dimas pecah lagi, dan Bagas bisa mendengar adik laki-lakinya yang tujuh belas tahun itu menahan tangis seperti anak kecil. “Mas pulang ya? Pulang ya, Mas?”
Bagas memejamkan mata. Tangan yang memegang ponsel bergetar — bukan karena dingin. “Iya. Mas pulang. Kamu jaga Ibu sama Sinta ya. Jangan nangis. Mas pulang.”
Sambungan terputus.
Bagas menatap layar ponsel yang perlahan meredup. Dadanya sesak seperti diikat tali tambang. Ia menelepon balik — tidak tersambung. Sekali lagi — nada sibuk, lalu mati. Pulsa Dimas habis, atau sinyal di kampung memang seperti itu kalau malam: hilang timbul seperti harapan.
Ia bangkit dan berjalan ke jendela. Di luar, lapangan training gelap dan sepi, hanya diterangi satu lampu tiang yang kekuningan. Angin malam Cikarang membawa bau besi dan tanah basah. Bagas menempelkan dahinya ke kusen jendela yang dingin.
Bapak jatuh. Kepala berdarah. Pingsan.
Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti kipas angin rusak di langit-langit kamar. Ia baru seminggu pergi. Baru seminggu ia mengejar masa depannya sendiri — dan di rumah, Bapak tergeletak dengan kepala berdarah.
Ia melirik jam tangan di pergelangannya. Pukul setengah sebelas malam lewat sedikit. Tik, tik, tik — detiknya masih berjalan, setia seperti janji.
“Biar kamu ingat waktu,” kata Bapak malam itu di teras, memasangkan jam digital murahan bertali plastik retak-retak ke pergelangan tangannya yang kebesaran. “Jangan kayak Bapak — yang baru sadar waktu itu berharga setelah waktunya habis.”
Waktu. Bapak selalu bicara soal waktu akhir-akhir ini, dan Bagas baru mengerti malam ini: Bapak bicara soal waktu karena Bapak merasa waktunya tidak banyak.
“Bagas?”
Bagas menoleh. Wahyu duduk di ranjangnya, rambutnya acak-acakan, mata setengah terpejam. “Kamu ngomong sama siapa jam segini? Muka kamu pucat kayak mayat.”
Bagas menelan ludah. “Bapakku... jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah. Dibawa ke puskesmas.”
Wahyu terdiam dua detik, lalu bangun sepenuhnya — seolah ada saklar yang dinyalakan di dalam dirinya. “Kamu harus pulang.”
“Aku nggak punya ongkos.” Kata-kata itu keluar begitu saja, telanjang dan memalukan. Uang saku tujuh belas ribu lima ratus dari celengan Sinta sudah lama habis untuk kebutuhan asrama. Di dompetnya tersisa dua puluh ribu — tidak cukup bahkan untuk bus ke terminal.
Wahyu tidak berkomentar. Ia merogoh saku celananya yang tergantung di ranjang, mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan yang lecek. “Nih. Ongkos gue. Gue masih bisa minta kiriman ke Semarang. Ambil.”
“Yu, aku nggak bisa—”
“Ambil, Gas.” Wahyu menyodorkan uang itu lebih dekat. “Bapak lo lagi berdarah. Gue masih bisa makan di kantin pakai bon. Ambil.”
Dari ranjang atas, terdengar bunyi pegas berderit. Yoga turun — rambutnya berantakan, wajahnya masam seperti biasa. Bagas mengira ia akan protes karena ribut. Tapi Yoga hanya berdiri sebentar, menatap mereka, lalu merogoh dompetnya.
Selembar seratus ribuan yang terlipat rapi melayang turun ke tangan Bagas.
“Pinjam,” kata Yoga singkat. “Jangan cengeng. Balik kalau udah kerja.”
Bagas menatap lembaran itu, lalu menatap Yoga. Tenggorokannya tercekat. Anak kontraktor yang seminggu lalu memandangnya seperti menilai harga ransel butut — kini meminjaminya uang tanpa banyak tanya.
“Yog, aku—”
“Udah. Sana siap-siap.” Yoga naik kembali ke ranjang atas dan menarik selimut. Tapi sebelum berbalik, ia menambahkan dengan suara pelan, “Semoga bapak lo nggak apa-apa.”
Bagas mengangguk, tidak sanggup bicara. Ia melipat uang itu baik-baik dan memasukkannya ke dompet — di samping surat gadai yang belum ada, di samping foto keluarga yang sudah lusuh.
Masalah berikutnya: izin.
Peraturan asrama jelas — tidak boleh keluar malam tanpa izin tertulis, dan izin keluar kota harus lewat Pak Bambang langsung. Melanggar berarti... Bagas tidak mau membayangkan. Dua orang dengan nilai terendah dipulangkan tiap minggu. Ia tidak mau menjadi orang ketiga yang pulang dengan cara memalukan.
Subuh itu, setelah salat dan sarapan seadanya, Bagas berjalan ke kantor Pak Bambang dengan langkah berat. Setiap langkah terasa seperti berjalan menuju ruang sidang. Di tangannya, jam tangan Bapak berdetak — tik, tik, tik — seolah menghitung mundur keberaniannya.
Ia mengetuk pintu. “Masuk.”
Pak Bambang duduk di balik meja kayu yang penuh berkas, masih bersarung dan berkaus oblong — jauh dari wibawa apel pagi. Di depannya, segelas kopi hitam mengepul. Untuk sesaat, ia tampak seperti... manusia biasa.
“Pak...” Suara Bagas bergetar. “Semalam saya dapat telepon dari adik saya. Bapak saya jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah, dibawa ke puskesmas. Saya... saya mohon izin pulang, Pak. Dua hari saja.”
Pak Bambang menatapnya lama. Wajah keras itu tidak berubah — tapi ada sesuatu yang bergerak di matanya, seperti riak di air tenang.
“Kardi telepon saya tadi malam,” katanya akhirnya.
Bagas mengerjap. “Pak Kardi?”
“Ibumu datang ke bengkel semalam. Pinjam uang untuk biaya puskesmas.” Pak Bambang menyeruput kopinya pelan. “Kardi bilang, kamu pasti mau pulang. Dia titip pesan: suruh saya jangan memecat kamu.”
Tenggorokan Bagas tercekat. Ibu — berjalan ke bengkel Pak Kardi malam-malam, mengetuk pintu, meminjam uang dengan tangan gemetar. Bayangan itu menghantam dadanya lebih keras daripada kabar Bapak jatuh.
“Dua hari,” kata Pak Bambang. “Senin jam enam pagi, apel. Telat satu menit, saya anggap kamu mengundurkan diri. Dan jangan harap ada dispensasi nilai — Jumat depan penilaian tetap jalan. Kamu sudah ketinggalan materi hari Sabtu.”
“Siap, Pak. Terima kasih, Pak.” Bagas membungkuk dalam-dalam, matanya panas.
Ia berbalik menuju pintu. Baru tiga langkah, suara Pak Bambang menghentikannya.
“Bagas.”
“Ya, Pak?”
Untuk pertama kalinya sejak Bagas mengenalnya, sudut bibir lelaki keras itu bergerak — hampir seperti senyum. “Jangan kecewakan dia. Dua-duanya.”
Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan terjauh dalam hidup Bagas. Bus Cikarang yang berderit, angkot yang berdesakan, ojek yang melintasi jalan berlubang, lalu jalan kaki menyusuri jalan tanah yang becek — jalan yang sama yang ia lalui setiap hari semasa kecil, yang kini terasa asing dan akrab sekaligus.
Di setiap guncangan kendaraan, ia memeriksa jam tangannya. Tik, tik, tik. Waktu masih berpihak sama kita, katanya pada Dimas di telepon minggu lalu, waktu Dimas bertanya apakah jam Bapak masih jalan. Sekarang kalimat itu terasa seperti doa yang belum terjawab.
Menjelang sore, ia tiba di ujung gang. Rumah papan beratap seng itu tampak sama seperti seminggu lalu — tapi ada yang berbeda. Jemuran kosong. Pintu kamar mandi di samping rumah terbuka. Dan di lantai semennya, Bagas bisa melihat samar-samar bercak gelap yang sudah disiram tapi belum hilang.
Darah Bapak.
“Mas Bagas!”
Sinta berlari dari dalam rumah, bertelanjang kaki, langsung menubruk pinggang kakaknya. Tubuh kecil empat belas tahun itu bergetar. “Mas pulang... Mas beneran pulang...”
Bagas memeluk adiknya erat-erat. Di teras, Dimas duduk dengan kepala tertunduk. Dan di ambang pintu, Ibu berdiri — matanya bengkak, wajahnya pucat, tapi ia tersenyum. Senyum yang dipaksakan agar anaknya tidak khawatir, dan justru karena itulah membuat Bagas ingin menangis.
“Bapak...?”
“Di kamar, Mas,” kata Ibu lirih. “Sudah sadar. Cuma... lemah.”
Bagas masuk. Kamar orang tuanya sempit dan remang — hanya diterangi cahaya jendela kecil. Bapak terbaring di dipan kayu, kepalanya dibalut perban putih yang sudah sedikit menguning. Wajahnya pucat. Tapi matanya terbuka — dan ketika melihat Bagas, mata itu berbinar.
“Kamu pulang...” Suara Bapak serak. “Padahal Bapak cuma jatuh...”
Bagas berlutut di sisi dipan. Ia menggenggam tangan Bapak — tangan yang kasar dan kapalan, tangan yang dulu mengajarinya naik sepeda, tangan yang memasangkan jam ke pergelangannya seminggu lalu. Tangan itu kini terasa dingin.
“Maaf ya, Le,” bisik Bapak. “Malah nyusahin. Kamu sampai pulang...”
“Bapak jangan ngomong gitu.” Bagas menunduk, menyembunyikan matanya yang panas. “Bapak istirahat aja. Jangan mikir apa-apa.”
Bapak tersenyum tipis. “Dasar anak pertama. Dari kecil kalau khawatir, mukanya kayak gitu.”
Malam itu, setelah Bapak tertidur — napasnya pelan tapi teratur — Ibu memanggil Bagas ke dapur. Dapur kecil itu hanya diterangi lampu minyak, karena listrik sengaja dimatikan untuk hemat. Ibu duduk di dingklik bambu, tangannya meremas-remas ujung kain.
“Mas...” Suaranya rendah, hampir berbisik. “Ada yang harus Ibu omongin. Soal biaya kemarin.”
Jantung Bagas berdebar. “Berapa, Bu? Nanti Mas yang—”
Ibu membuka kaleng biskuit tua di rak dapur. Dari dalamnya ia mengeluarkan selembar kertas — surat gadai dari kantor gadai di pasar, stempelnya masih jelas.
“Gelang kawin Ibu...” Ibu menatap pergelangan tangannya yang kini kosong — hanya menyisakan bekas lingkaran kulit yang lebih putih. “Ibu gadaikan. Tiga ratus ribu. Buat bayar puskesmas sama obat Bapak.”
Bagas menatap kertas itu, lalu menatap pergelangan tangan ibunya. Gelang itu — ia ingat. Gelang emas tipis yang selalu dipakai Ibu, bahkan saat mencuci, bahkan saat ke sawah. Bapak membelikannya dulu, kata Ibu, setelah menabung berbulan-bulan. Bukti kalau kerja keras itu ada hasilnya, kata Bapak waktu itu.
“Dua puluh enam tahun, Mas,” bisik Ibu. “Ibu pakai gelang itu dua puluh enam tahun.”
Bagas mengambil surat gadai itu dengan tangan bergetar. Ia melipatnya baik-baik — dua kali, rapi — lalu memasukkannya ke dompet, di samping uang pinjaman Wahyu dan Yoga.
“Nanti Mas yang tebus, Bu,” katanya pelan.
“Mas tidak usah—”
“Mas janji.” Bagas menatap ibunya. “Sebelum gelang itu lelang, Mas pasti tebus.”
Di luar, jangkrik mulai berbunyi. Jam tangan di pergelangan Bagas berdetak — tik, tik, tik — dan malam itu, untuk pertama kalinya, Bagas mengerti kenapa Bapak memberinya jam itu.
Bukan supaya ia ingat waktu.
Tapi supaya ia ingat: waktu tidak menunggu siapa pun. Dan mulai malam ini, ia tidak lagi kursus untuk dirinya sendiri.