β€Ή
24. Tujuh Hari

Tujuh Hari

Pundak Pertama β€’ 1,515 kata

Ilustrasi Tujuh Hari

Aku tidak tidur malam itu. Tidak sedetik pun.

Setelah menutup telepon dengan janji akan menelepon Bude kembali sebelum subuh, aku naik ke kamarku di lantai dua asrama dengan langkah gontai. Kamar berukuran tiga kali empat meter itu berisi kasur lipat tipis, lemari besi kecil yang pintunya susah ditutup, dan meja belajar yang catnya mengelupas di sana-sini. Di dinding, tertempel foto lama yang sudah menguning di tepinya: aku berumur sekitar delapan tahun, berdiri di samping Nenek di depan rumah kayu kami yang dulu. Nenek tersenyum dengan gigi yang sudah ompong sebagian, tangannya yang keriput dan hangat bertengger di bahuku. Di pergelangan tangannya, berkilau samar tertangkap cahaya: gelang itu.

Aku mengambil foto itu dari dinding, menatapnya lama dalam cahaya lampu meja yang redup dan kekuningan.

Aku ingat sore itu dengan jelas, sejelas baru kemarin. Nenek baru saja pulang dari pasar, membawakanku kue cucur yang masih hangat dalam kantong plastik hitam. Aku duduk di pangkuannya β€” waktu itu aku masih cukup kecil untuk duduk di pangkuan Nenek tanpa membuatnya keberatan β€” dan memainkan gelang di tangannya, memutar-mutarnya di pergelangannya yang kurus, mendengarkan bunyi gemerincingnya yang khas.

"Nek, gelangnya bagus," kataku waktu itu dengan polosnya anak delapan tahun.

Nenek tertawa, suara tawanya seperti daun kering yang tertiup angin β€” rapuh tapi hangat, dan selalu membuatku merasa aman. "Ini bukan sekadar gelang, Le. Ini..." ia menatap gelang itu, dan untuk sesaat matanya menerawang jauh ke masa lalu yang tidak kuketahui, "ini saksi. Saksi kalau perempuan di keluarga kita bisa bertahan. Nenekmu dulu, buyutmu dulu, semuanya pernah tidak punya apa-apa. Tapi mereka bertahan."

Aku tidak mengerti waktu itu. Aku baru delapan tahun. Yang kutahu, gelang itu berkilau dan bunyinya lucu kalau digoyang-goyang.

"Kalau Nenek sudah tidak ada, gelang ini buat Ibu," kata Nenek sambil mengusap rambutku. "Dan kalau Ibu sudah tua nanti, buat kamu. Bukan buat dipakai pamer ke orang. Buat diingat."

"Diingat apa, Nek?"

Nenek menatapku dalam-dalam. "Bahwa kita pernah tidak punya apa-apa, tapi kita tidak pernah menjual harga diri kita. Ingat itu, Le."

Aku meletakkan foto itu kembali ke dinding dengan hati-hati, seolah ia bisa pecah. Tanganku gemetar.

Pukul satu dini hari, aku membuka buku catatanku β€” buku kecil bersampul biru yang sudah lusuh, tempat aku mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran sejak pertama kali mulai bekerja tiga tahun lalu. Tulisanku rapi, kolom-kolomnya teratur, setiap rupiah ada catatannya. Anak pertama memang begitu: hidupnya adalah deretan angka yang harus selalu seimbang, karena tidak ada orang lain yang akan menyeimbangkannya untukmu.

Aku membaca ulang angka-angkaku untuk kesekian kalinya malam itu. Pemasukan bulan ini: gaji pokok, uang lembur dua kali, bonus kecil dari mandor karena kejar target. Total yang berhasil kukumpulkan untuk tebusan gelang: satu juta empat ratus ribu. Kurang delapan ratus ribu. Tenggat: dua minggu β€” tidak, sekarang tinggal tiga belas hari.

Aku mulai menghitung ulang dengan pulpen, seperti orang yang berharap angka akan berubah jika dilihat cukup lama dan dihitung cukup sering.

Lembur. Aku bisa meminta lembur tambahan ke mandor. Minggu depan ada proyek kejar target, mandor pernah menyinggung butuh orang. Kalau aku ambil semua shift lembur yang tersedia dan tidak sakit, mungkin dapat tiga ratus ribu. Mungkin. Itu pun kalau badanku kuat β€” lembur berarti pulang jam sebelas malam, bangun jam lima pagi.

Pinjam. Kepada siapa? Aku menatap kasur-kasur lipat di sekelilingku. Teman-teman sekamarku sama-sama pekerja kasar. Gaji mereka pas-pasan untuk dikirim ke kampung masing-masing, untuk orang tua mereka, untuk adik-adik mereka. Meminjam delapan ratus ribu dari orang yang gajinya tidak jauh beda denganku adalah kejahatan yang dibungkus persahabatan. Aku tidak akan melakukannya.

Jual. Apa yang bisa kujual? Ponselku β€” butuh untuk kerja dan menghubungi Ibu. Sepatu safety β€” butuh untuk kerja, kalau rusak atau hilang aku kena tegur. Satu-satunya barang agak berharga adalah jam tangan pemberian Bapak sebelum beliau meninggal. Jam tangan murahan, tapi... aku menatapnya di pergelangan tanganku. Aku tidak sanggup. Itu satu-satunya benda Bapak yang tersisa di dunia ini.

Aku menutup buku catatan itu dengan keras sampai debunya beterbangan. Delapan ratus ribu. Angka yang kecil bagi orang lain β€” bagi juragan yang membawa empat juta lima ratus ribu dalam amplop, delapan ratus ribu mungkin uang rokok dan bensin sebulan. Tapi bagiku, malam itu, di kamar sempit itu, delapan ratus ribu adalah jurang yang menganga.

Pukul dua dini hari, ponselku bergetar pelan. Pesan dari Ibu.

"Nak, kamu sudah tidur? Ibu tidak bisa tidur. Ibu kepikiran kamu terus. Ibu mau bilang, apa pun yang terjadi dengan gelang itu, Ibu ikhlas. Sungguh. Yang penting kamu dan Bude tidak bertengkar gara-gara benda. Keluarga lebih penting dari benda apa pun, Nak. Ingat itu."

Aku membaca pesan itu berulang-ulang sampai hafal. Ibu ikhlas. Tentu saja ia ikhlas β€” ia selalu ikhlas, sejak dulu, tentang segala hal. Waktu Bapak meninggal dan kami hampir kehilangan rumah kontrakan, Ibu ikhlas menjual perhiasan kawinnya satu per satu tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah mengungkit. Waktu aku harus berhenti les bahasa Inggris kelas dua SMA karena biayanya tidak masuk akal, Ibu ikhlas bilang "tidak apa-apa, Nak, yang penting kamu sehat dan rajin." Keikhlasan Ibu adalah hal yang paling indah dan paling menyakitkan dalam hidupku: ia selalu merelakan segalanya, sehingga aku tidak pernah tahu seberapa besar sebenarnya yang ia korbankan diam-diam.

Aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi, menghapus lagi. Akhirnya kukirim yang paling sederhana:

"Bu, aku lagi usaha. Doakan aku ya."

Terkirim. Beberapa detik kemudian, tiga titik muncul β€” Ibu sedang mengetik. Lalu pesannya masuk, singkat tapi membuat mataku panas:

"Ibu selalu mendoakanmu, Nak. Dari kamu masih dalam kandungan sampai sekarang. Tidak pernah berhenti sedetik pun."

Air mataku jatuh ke layar ponsel, membuat tulisan itu blur. Aku menghapusnya dengan punggung tangan, malu pada diriku sendiri meski tidak ada yang melihat.

Pukul tiga dini hari, aku mengambil sebuah keputusan. Bukan keputusan besar β€” aku belum berani mengambil keputusan besar malam itu. Tapi keputusan kecil yang bisa kulakukan: besok pagi, aku akan bicara dengan mandor tentang lembur tambahan, apa pun risikonya untuk kesehatanku. Aku akan menelepon Bude sebelum subuh seperti janjiku. Dan aku akan jujur β€” jujur bahwa aku belum punya jawabannya, jujur bahwa aku takut, jujur bahwa menjadi anak pertama bukan berarti selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kadang justru berarti menjadi orang yang paling tersesat di ruangan, karena semua orang mengira kamu memegang peta.

Aku merebahkan diri di kasur lipat yang tipis itu. Di luar jendela kecil berkusen kayu, langit masih hitam pekat. Tapi di ufuk timur, samar-samar, sudah ada garis tipis berwarna kelabu keperakan. Matahari akan terbit. Juragan akan datang. Dan Bude menunggu teleponku.

Aku memejamkan mata dan membayangkan wajah sepupuku β€” anak lelaki kurus berusia dua belas tahun dengan mata besar yang selalu berbinar kalau bercerita tentang pesawat. Terakhir kali aku menemuinya, tiga bulan lalu, ia menunjukkan gambar pesawat tempur buatannya di buku tulis yang sudah lusuh, penuh coretan dan revisi. "Mas Bagas," katanya waktu itu dengan bangga, "nanti kalau aku sudah sembuh, aku mau jadi pilot. Aku mau terbang tinggi, Mas, sampai awannya kelihatan kecil."

Pilot. Anak itu ingin terbang. Dan di lemari Bude, dalam bungkusan kain yang sudah usang, ada empat juta lima ratus ribu rupiah yang bisa membantunya terbang β€” dengan harga sebuah gelang tua.

Ponselku bergetar lagi, mengagetkanku. Pukul 03.40. Nomor Bude menyala di layar.

Jantungku berdegup kencang sampai terasa di tenggorokan. Kenapa Bude menelepon duluan? Bukankah aku yang berjanji menelepon sebelum subuh? Apa yang terjadi?

Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Bude? Ada apa?"

Suara Bude di seberang terdengar berbeda dari tadi malam. Bukan sedih. Bukan panik. Melainkan... datar. Terlalu datar, seperti orang yang sudah menangis terlalu lama sampai tidak ada air mata tersisa.

"Bagas," katanya pelan. "Dokter telepon tadi malam, setelah Bude tutup telepon sama kamu. Operasi anak Bude dimajukan lagi. Bukan dua minggu. Minggu depan. Katanya kondisinya tidak bisa menunggu. Bude cuma punya tujuh hari untuk melunasi semuanya."

Tujuh hari.

Delapan ratus ribu dalam tiga belas hari tadinya sudah mustahil. Sekarang, waktunya terpotong hampir setengah. Dan kebutuhan Bude justru semakin mendesak.

"Bude..." suaraku tercekat di tenggorokan.

"Juragan itu datang jam enam pagi, Gas. Bude harus kasih jawaban. Bude... Bude tidak bisa menunggu kamu punya uang. Anak Bude tidak bisa menunggu. Kamu mengerti kan, Nak?"

Aku terdiam. Di luar jendela, garis kelabu di ufuk timur semakin terang, semakin lebar. Matahari hampir terbit. Dan aku β€” anak pertama, tulang punggung keluarga, orang yang selalu diharapkan punya jawaban untuk segalanya β€” tidak punya apa-apa selain doa Ibu, foto lama Nenek di dinding, dan buku catatan berisi angka-angka yang tidak mau seimbang.

Kecuali... satu hal. Satu hal terakhir yang belum kucoba. Satu hal yang membuat tanganku berkeringat dingin hanya dengan memikirkannya.

"Bude," kataku pelan tapi tegas, "dengarkan aku. Jangan jawab apa-apa dulu ke juragan itu. Tahan sampai jam delapan pagi. Suruh beliau menunggu, atau suruh datang lagi jam delapan. Aku... aku akan telepon lagi jam delapan pagi. Aku punya satu jalan terakhir."

"Jalan apa, Gas? Kamu mau apa?"

Aku menatap jam tangan Bapak yang melingkar di pergelangan tanganku, jarum detiknya bergerak tanpa lelah dalam cahaya kelabu fajar.

"Aku belum bisa bilang sekarang, Bude. Tapi percayakan ini sama aku. Sekali ini saja. Sampai jam delapan."

Hening panjang di seberang. Aku mendengar Bude menarik napas dalam-dalam, seperti orang yang memutuskan untuk melompat.

"Baik," katanya akhirnya. "Sampai jam delapan pagi. Tidak lebih, Gas. Bude mohon."

Telepon terputus. Pukul 03.44. Aku punya waktu empat jam lebih sedikit untuk melakukan hal yang paling berat dalam hidupku β€” melepaskan satu-satunya peninggalan Bapak.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!