Gelang yang Tak Kembali
Pundak Pertama β’ 1,417 kata
Malam itu kamar tujuh tidur lebih cepat dari biasanya.
Wahyu sudah mendengkur sambil memeluk bantal, Yoga tertidur dengan ponsel masih menyala di dadanya — Bagas mematikannya pelan-pelan agar baterainya tidak habis — dan tiga penghuni lainnya terlelap dalam posisi masing-masing. Hanya Bagas yang terjaga, menatap langit-langit yang bernoda rembesan, mendengarkan jam tangan Bapak berdetak di pergelangan tangannya.
Tik, tik, tik.
Ia mengangkat tangannya ke depan wajah, memperhatikan jam tua itu dalam cahaya bulan yang masuk lewat retakan kaca jendela. Tali plastiknya retak-retak, layarnya tergores, tetapi detiknya masih berjalan — setia seperti janji. Lalu pandangannya bergeser, seolah menembus dinding asrama, menembus gelap malam Cikarang, menembus ratusan kilometer jalan tol, sampai ke sebuah dapur kecil di kampungnya.
Ke pergelangan tangan yang lain. Yang kosong.
Dan malam itu, bendungan yang selama sembilan hari ia tahan akhirnya jebol.
Dua minggu yang lalu, telepon Dimas datang seperti petir di malam yang cerah.
“Mas... Bapak... Bapak jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah, Mas. Berdarah banyak...”
Bagas tidak ingat bagaimana ia bisa tertidur malam itu. Yang ia ingat: subuh-subuh ia sudah berdiri di depan pintu kantor Pak Bambang, dengan mata merah dan suara parau, memohon izin pulang sehari. Pak Bambang menatapnya lama — lalu mengangguk dan berkata, “Bus pertama berangkat jam lima. Kembali sebelum apel Senin.”
Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidupnya. Di setiap tikungan, ia membayangkan yang terburuk: Bapak tergeletak, Bapak tidak sadarkan diri, Bapak...
Ia tidak berani menyelesaikan kalimat itu, bahkan di dalam kepalanya sendiri.
Di rumah, Ibu menyambutnya dengan mata bengkak. Bapak sudah dibawa ke puskesmas malam itu juga — kepalanya diperban tebal, wajahnya pucat. Kata mantri: gegar ringan, perlu observasi semalam dan obat jalan seminggu. Tidak boleh kerja berat selama sebulan.
Sebulan. Bagi keluarga mereka, sebulan tanpa Bapak bekerja sama artinya dengan sebulan tanpa napas.
Lalu datanglah bagian yang paling menakutkan: biaya. Uang muka observasi dan obat — hampir delapan ratus ribu rupiah. Lebih besar dari seluruh tabungan keluarga. Gaji Dimas di bengkel Pak Kardi baru berjalan setengah bulan. Jahitan Ibu sudah dikurangi karena kataraknya. Sinta masih SMP, belum bisa apa-apa.
Bagas duduk di beranda puskesmas sampai tengah malam, menghitung angka-angka yang tidak kunjung ketemu. Saat itulah ia melihat ibunya berjalan melewatinya — berdandan sedikit lebih rapi dari biasanya, membawa tas kain kecil — menuju arah pasar.
“Ibu mau ke mana?” tanya Bagas.
“Ada perlu sebentar,” jawab Ibu, dan senyumnya terlalu cepat untuk meyakinkan siapa pun.
Ibu pulang dua jam kemudian. Langkahnya ringan, tetapi wajahnya seperti topeng. Dan Bagas langsung tahu — tahu sebelum otaknya sempat merangkai penjelasan — karena seumur hidupnya, pergelangan tangan kanan ibunya tidak pernah kosong.
Di sana selalu ada gelang emas tipis berukir bunga — warisan dari nenek, ibu dari ibunya, satu-satunya perhiasan yang dimiliki keluarga itu. Ibu memakainya saat memasak, saat mencuci, bahkan saat tidur. “Supaya nenek selalu dekat,” kata Ibu dulu ketika Bagas kecil bertanya kenapa gelangnya tidak pernah dilepas.
Pergelangan itu kini kosong. Putih. Telanjang.
“Bu,” suara Bagas tercekat. “Gelang Ibu... mana?”
Ibu duduk di sampingnya, meletakkan tas kainnya. Tangannya — tangan yang kini telanjang itu — menggenggam tangan Bagas.
“Ibu jual, Nak,” katanya pelan. “Tadi, di toko emas pasar.”
“Dijual? Bukan digadai?”
“Bukan digadai.” Ibu menatapnya lurus. “Kalau digadai, ada batas waktunya, ada bunganya, ada utang yang menunggu. Ibu tidak mau keluarga ini punya utang baru selagi Bapak sakit. Toko emasnya bayar lunas. Uang puskesmas sudah Ibu bayar.”
Bagas tidak bisa bernapas. “Bu, itu warisan Nenek. Itu satu-satunya... Ibu pakai itu seumur hidup...”
“Dengar Ibu.” Genggaman ibunya mengerat. “Ibu tidak menjual gelang supaya kamu pulang, Nak. Ibu menjualnya supaya kamu tidak perlu pulang.”
Bagas menatap ibunya, tidak mengerti.
“Bapakmu pasti menyuruhmu berhenti dari pelatihan,” kata Ibu. “Ibu kenal dia. Dan Ibu tahu kamu — kamu pasti bingung, pasti merasa bersalah, pasti ingin pulang untuk menggantikan Bapak. Makanya Ibu jual gelang ini duluan. Supaya tidak ada alasan uang yang memaksamu berhenti. Supaya kamu bisa memilih dengan hati yang bersih, bukan dengan hati yang berutang.”
Air mata Bagas jatuh ke punggung tangan ibunya — tangan yang kini kosong, yang terasa lebih ringan dan lebih berat pada saat yang sama.
“Aku akan belikan yang baru, Bu,” bisiknya. “Aku janji. Yang lebih bagus dari yang hilang.”
Ibu tersenyum — senyum yang berusaha tidak gemetar. “Boleh. Tapi dengar: yang hilang itu warisan nenekmu. Tidak akan pernah kembali. Yang bisa kamu belikan nanti hanyalah gelang baru — bukan gelang itu. Ibu ikhlas. Kamu juga harus ikhlas. Yang penting bukan gelangnya, Nak. Yang penting apa yang gelang itu belikan.”
Malamnya, Bapak pulang dari puskesmas dengan kepala diperban. Ia berbaring di dipan ruang tengah, dan seluruh keluarga berkumpul di sekelilingnya seperti sidang darurat. Saat itulah Bapak mengatakannya — dengan suara lemah tetapi tegas, suara orang yang sudah memutuskan sebelum bicara:
“Bagas. Berhenti dari pelatihan. Pulang. Kerja.”
Hening.
“Keluarga ini butuh tanganmu sekarang, bukan sertifikatmu tiga bulan lagi,” lanjut Bapak. “Dimas masih belajar. Ibumu tidak boleh capek. Sinta masih sekolah. Kamu anak pertama. Pundakmu... pundakmu bukan cuma milikmu.”
Bagas merasakan seluruh ruangan menatapnya. Ibu menunduk. Dimas meremas jemarinya sendiri. Sinta menahan napas.
Dan Bagas — untuk pertama kalinya dalam hidupnya — melanggar perintah Bapaknya.
“Tidak, Pak,” katanya. Suaranya gemetar, tetapi tidak mundur. “Kalau aku berhenti sekarang, gelang Ibu sia-sia. Ibu menjual warisan nenek supaya aku bisa selesai. Kalau aku pulang sekarang, pengorbanan itu tidak ada artinya.”
“Bagas—”
“Sertifikat ini satu-satunya tangga kita, Pak. Satu-satunya. Kalau aku berhenti, kita tetap di tempat yang sama — selamanya. Bapak sembuh, aku kerja serabutan, Dimas di bengkel, begitu terus sampai...” Ia tidak melanjutkan. “Aku mohon, Pak. Biarkan aku selesai. Dua bulan setengah lagi. Setelah itu, aku yang tanggung semuanya.”
Bapak menatapnya lama. Sangat lama. Lalu ia memalingkan wajah ke dinding — dan tidak berkata apa-apa lagi malam itu.
Diam yang lebih berat dari bentakan. Dulu, Bapak selalu mendukungnya — mengantarnya sampai gerbang terminal, memberinya jam tangan ini. Kali ini, untuk pertama kalinya, Bapak tidak merestuinya.
Subuh hari keberangkatan kedua, suasana rumah berbeda dari keberangkatan pertama. Tidak ada Bapak yang berjalan sampai gerbang terminal. Bapak tetap di dalam kamar — atau mungkin pura-pura tidur. Bagas berdiri lama di depan pintu kamar itu, tas di punggung, ingin mengetuk, ingin pamit, ingin mendengar satu kalimat saja.
Yang terdengar hanya napas Bapak yang berat.
“Titip Bapak,” bisik Bagas pada Ibu di ujung gang.
“Titip dirimu,” jawab Ibu, dan suaranya pecah.
Sinta memeluknya erat-erat lalu melepaskannya dengan paksa, seperti melepas layang-layang. Dimas — Dimas memeluk kakaknya paling lama, dan berbisik dengan suara parau: “Mas... pundakmu sekarang yang di sana. Yang di sini, biar aku.”
Kalimat itu — kebalikan dari kalimat Bagas sendiri dua minggu lalu — membuat air mata Bagas tumpah di dalam bus yang berguncang.
Di dalam bus, menatap gang rumahnya yang hilang di tikungan, Bagas akhirnya mengerti dengan cara yang menyakitkan — seperti mengerti bahwa api itu panas bukan dari cerita orang, melainkan karena tanganmu sendiri yang terbakar.
Bapak tidak membencinya. Bapak hanya takut. Takut anak sulungnya gagal — karena di keluarga seperti mereka, kegagalan anak sulung bukan miliknya sendiri. Kalau Bagas gagal, yang lapar bukan cuma Bagas. Bapak melarang bukan karena tidak sayang, melainkan karena sayangnya terlalu takut untuk berharap. Dan Bagas melanggar bukan karena tidak hormat, melainkan karena hormatnya terlalu besar untuk membiarkan pengorbanan ibunya sia-sia.
Dua-duanya benar. Itu yang paling menyakitkan: dua-duanya benar.
Bel asrama meraung — dan Bagas tersentak kembali ke kamar tujuh, pipinya basah. Di ranjang atas, Wahyu sudah bangun dan menatapnya dengan mata bertanya-tanya.
“Kamu kenapa, Gas?” bisik Wahyu.
Bagas menyeka wajahnya cepat-cepat. “Tidak apa-apa. Kangen rumah.”
Itu bukan kebohongan. Hanya saja bukan seluruh kebenaran.
Apel pagi itu berjalan seperti biasa — sampai pengeras suara kompleks berderak setelah barisan bubar, dan suara operator terdengar tegang:
“Perhatian untuk seluruh peserta. Evaluasi bulan pertama akan dilaksanakan dua minggu dari sekarang. Dua peserta dengan nilai terendah akan dipulangkan.”
Di samping Bagas, Wahyu berbisik dengan wajah pucat, “Dua minggu? Kukira masih lama.”
Bagas menatap papan pengumuman yang baru ditempel di dinding aula — daftar materi ujian, tertulis rapi dan dingin. Di pergelangan tangannya, jam Bapak berdetak. Di kepalanya, pergelangan tangan ibunya yang kosong.
Untuk gelang Ibu. Untuk Bapak. Untuk semuanya.
Dua minggu. Ia punya dua minggu untuk membuktikan bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia.