Lunas
Pundak Pertama β’ 1,407 kata
Subuh itu kami berlima pergi ke makam.
Aku, Ibu, Nenek, Bude β dan Dimas, adikku, yang datang semalam naik motor dari kecamatan begitu kudengar kabar lewat telepon. Ia tiba tengah malam dengan mata merah β bukan mengantuk, katanya, tapi "tidak bisa diam di kos mendengar cerita Mas." Kini ia berjalan di sampingku di jalan setapak yang masih basah oleh embun, membawa sekop kecil dan sapu lidi.
Langit masih biru kehitaman di timur. Di kejauhan, azan subuh baru saja selesai, dan kampung masih terlelap. Hanya kami berlima β dan burung-burung pagi β yang terjaga.
Makam Ayah sederhana saja. Nisan batu kali yang sudah berlumut di tepinya, dikelilingi rumput yang rajin dibersihkan Nenek tiap Jumat. Di sampingnya, makam kakek-nenek yang tidak sempat kukenal. Pohon kamboja tua menaunginya, bunganya yang putih berjatuhan di atas tanah seperti salju kecil.
Nenek duduk di tikar pandan yang digelar Bude. Ibu menabur bunga melati dan mawar yang dipetiknya kemarin sore. Dimas menyapu daun-daun kering. Aku berdiri mematung, amplop cokelat "Untuk Slamet" di tanganku β amplop yang semalam tidak berani kubuka, yang kutatap sampai lewat tengah malam di kamar depan rumah Nenek.
"Tidak dibuka, Gas?" tanya Bude pelan.
Aku menggeleng. "Di sini saja. Di depan Ayah."
Kami duduk melingkar di sekitar makam. Nenek memimpin doa β suaranya pelan tapi tegas, menghafal setiap lafaz seperti menghafal nama-nama orang yang dicintainya. Setelah amin, hening. Hanya angin pagi yang menggerakkan daun kamboja.
Aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada dua benda: selembar surat yang dilipat rapi, dan segepok uang kertas β seratus ribu rupiah, dalam pecahan yang masih berlaku.
Tanganku gemetar. Bukan karena jumlahnya β seratus ribu bukan apa-apa di zaman sekarang. Tapi karena aku tahu persis uang apa ini.
Aku membuka suratnya. Tulisan tangan Yati yang goyah, tapi setiap hurufnya ditekan dengan hati-hati, seperti orang yang tidak mau tulisannya disalahartikan.
Aku membacanya dengan suara keras β untuk Ayah, untuk kami semua, untuk angin pagi dan bunga kamboja yang berjatuhan.
"Met,
Kau bilang, 'Kalau sudah reda, pulang. Aku jemput.'
Hujannya reda, Met. Tiga puluh tahun yang lalu hujannya reda. Tapi aku tidak pulang. Bukan karena kau tidak menjemput β kau sudah menjemputku malam itu juga, dengan motormu yang mogok dua kali di jalan, dengan uang tabunganmu, dengan caramu berkata tidak apa-apa tanpa kata-kata.
Aku tidak pulang karena aku malu. Malu sama kakak, malu sama kampung, malu sama diriku sendiri. Dan malu itu, Met, ternyata lebih awet dari cinta. Cinta bisa mati kalau tidak diberi makan. Malu tidak β malu makan dirinya sendiri dan tetap hidup.
Uangmu tidak kubelanjakan, Met. Tiga puluh tahun kusimpan. Tahun pertama di Sengon, uang itu kum pakai modal jualan jamu gendong. Untung sedikit, kuputar lagi. Jualan gorengan. Jualan apa saja yang halal. Uangmu yang mengajariku berani β setiap kali aku mau menyerah, aku ingat ada laki-laki basah kuyup di terminal yang percaya aku bisa hidup.
Ini kukembalikan. Seratus ribu β jumlah yang sama, tiga puluh tahun kemudian. Lunas, dengan terima kasih yang tidak bisa dihitung pakai angka.
Titip Bagas, Met. Dia sudah memikul cukup lama. Doakan dia berani bahagia.
Yati"
Aku selesai membaca. Tidak ada yang bicara. Nenek menangis diam-diam, air matanya jatuh ke tikar pandan. Ibu memejamkan mata, bibirnya bergerak β berdoa, atau berbicara pada suaminya yang sudah tiada. Bude menyeka matanya dengan ujung kerudung. Dimas menatap nisan Ayah, rahangnya mengeras, matanya merah.
Aku menatap uang di tanganku. Seratus ribu rupiah. Gaji dua bulan Ayah sebagai kuli bangunan tahun 1993 β uang yang seharusnya untuk memperbaiki atap rumah, atau untuk menabung menyambut kelahiranku dua tahun kemudian. Uang yang ia berikan pada perempuan yang malu, di terminal yang hujan, dengan janji yang tidak pernah bisa ia tepati.
Dan perempuan itu menjaganya tiga puluh tahun, memutarnya menjadi keberanian, lalu mengembalikannya β lunas.
"Uang ini tidak bisa kita belanjakan," kata Bude akhirnya, suaranya parau. "Ini amanah."
Ibu mengangguk. "Atap musholla bocor tiap hujan, Bu," katanya pada Nenek. "Pak RT sudah lama minta iuran."
Nenek menatap uang itu lama, lalu menatap nisan anak mantunya. "Biar untuk musholla," katanya pelan. "Atas nama Slamet. Biar jadi amal jariyahnya." Ia menatapku. "Ayahmu tidak pernah sempat sedekah besar, Gas. Biar ini sedekahnya β sedekah yang menunggu tiga puluh tahun untuk sampai."
Aku mengangguk, mataku panas. Aku meletakkan uang itu di atas nisan Ayah sebentar β seolah menunjukkannya padanya β lalu menyimpannya kembali. Besok aku akan menyerahkannya ke Pak RT. Biar atap musholla diperbaiki sebelum musim hujan tiba. Biar tiap tetes hujan yang tidak lagi bocor menjadi doa untuk Slamet.
Dimas tiba-tiba meletakkan tangannya di bahuku. Genggamannya kuat β tangan adikku yang dulu kecil, yang dulu kutuntun menyeberang jalan, yang dulu kutemukan di pos ronda dengan lutut kotor oleh lumpur.
"Mas," katanya pelan, "pundak pertama boleh capek. Ada pundak kedua."
Aku menoleh. Dimas menatapku β bukan lagi bocah pos ronda, tapi laki-laki dewasa dengan mata yang mengerti. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terkunci. Aku hanya menepuk tangannya yang ada di bahuku, dan ia mengangguk β kami tidak perlu kata-kata. Kami tidak pernah perlu.
Kami pulang saat matahari mulai naik. Nenek berjalan paling depan β langkahnya pelan tapi tegak, seperti perempuan yang baru saja meletakkan beban tiga puluh tahun dari pundaknya. Ibu menggandengnya. Bude dan Dimas bercakap pelan di belakang. Aku berjalan paling akhir, menatap punggung mereka berempat β keluargaku β dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sedang berjalan di belakang, bukan di depan.
Rasanya aneh. Rasanya... ringan.
Siang itu aku berkemas. Bus ke kota berangkat pukul tiga sore. Nenek memasukkan bekal ke tasku β nasi, ayam goreng sisa kemarin, sambal dalam plastik, dan tiga buah salak. "Buat di jalan," katanya, ritual yang tidak pernah berubah sejak aku pertama kali merantau. Bude menyelipkan amplop kecil β "buat jaga-jaga" β dan aku tidak menolak, karena menolak hanya akan membuatnya sedih. Ibu memelukku lama di teras.
"Jaga kesehatan, Gas. Jangan telat makan."
"Iya, Bu."
"Dan..." Ibu ragu-ragu, lalu tersenyum β senyum yang sudah lama tidak kulihat, senyum ibuku yang muda. "Nenek tanya... kapan kau bawa calon istrimu ke kampung? Nenek mau lihat kau bahagia."
Aku tertawa β tawa yang keluar begitu saja, tawa yang ringan. "Ibu..."
"Umurmu tiga puluh, Gas." Ibu menepuk pipiku. "Tiga puluh tahun kau memikul kami. Ibu tidak mau kau memikul sendirian terus."
Dimas mengantarku ke pangkalan ojek dengan motornya. Di perjalanan, ia bercerita tentang rencananya β ia mau ikut pelatihan las di kecamatan, "biar bisa bantu lebih banyak, Mas." Aku mendengarkan, dan dadaku hangat. Pundak kedua sedang tumbuh. Mungkin sebentar lagi ada pundak ketiga.
Bus berjalan meninggalkan kampung saat langit berwarna jingga. Aku duduk di dekat jendela, menatap sawah, rumah-rumah, musholla dengan atap yang sebentar lagi diperbaiki β semuanya mengecil, lalu hilang di tikungan.
Di kos, semuanya sama seperti kutinggalkan tiga hari lalu: kasur lipat tipis, kipas angin yang berderit, suara dangdut dari kontrakan sebelah. Tapi aku yang kembali bukan aku yang pergi. Aku yang pergi membawa pertanyaan. Aku yang pulang membawa jawaban β dan satu surat yang sudah kubacakan di makam ayahku.
Aku duduk di tepi kasur, menatap langit-langit plafon yang retak. Di saku jaketku yang kugantung, tidak ada lagi amplop. Saku itu kosong untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Surat-surat sudah sampai ke pemiliknya β yang hidup maupun yang sudah mati.
Ponselku berdering. Ibu.
"Gas, sudah sampai?"
"Sudah, Bu. Baru masuk kos."
"Nenek sudah tidur. Kecapekan, tapi senyum-senyum sendiri." Ibu tertawa kecil. "Katanya mimpi Yati datang mengetuk pintu."
Aku tersenyum. "Biarin, Bu. Mimpi bagus."
"Gas..." Suara Ibu melembut. "Terima kasih ya. Untuk semuanya. Untuk... untuk jadi pundak pertama."
Aku menatap langit-langit retak itu lama. "Bu," kataku akhirnya, "Bagas yang terima kasih. Karena Ibu akhirnya mau berbagi pikulannya."
Telepon ditutup. Aku berbaring, menatap plafon. Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti doa-doa kecil yang dikabulkan bergantian.
Tiga belas tahun aku mengira tugasku adalah memastikan tidak ada yang kelaparan, tidak ada atap yang bocor, tidak ada biaya berobat yang menunggak. Tugasku adalah transfer, amplop, angka.
Lalu tiga hari ini mengajariku: tugasku juga memastikan tidak ada yang terlupakan. Tidak ada surat yang tidak dibacakan. Tidak ada nama yang tidak disebut dalam doa. Tidak ada adik yang menunggu tiga puluh tahun tanpa pernah dikunjungi kakaknya.
Pundak pertama bukan cuma soal memikul uang. Pundak pertama adalah soal memikul cerita β supaya keluarga tidak kehilangan dirinya sendiri.
Dan mungkin β pikirku, menatap lampu-lampu kota yang terus menyala β mungkin sudah waktunya pundak pertama ini memikul satu hal lagi.
Hidupnya sendiri.