β€Ή
87. Pagi Setelah Surat Dibaca

Pagi Setelah Surat Dibaca

Pundak Pertama β€’ 1,429 kata

Ilustrasi Pagi Setelah Surat Dibaca

Kamis pagi datang dengan cara yang biasa, tetapi dengan suasana yang tidak biasa.

Ayah bangun seperti biasa, latihan pagi di teras seperti biasa, tetapi kali ini, setelah latihan, ia tidak langsung duduk membaca koran. Ia masuk ke dapur, menuangkan air putih untuk Ibu, meletakkannya di samping meja jahit Ibu, dan berkata, dengan nada yang biasa, "Bu, airnya. Nanti kalau sudah setengah jam menjahit, berhenti dulu, minum dulu, baru lanjut."

Ibu menatap gelas itu, lalu menatap Ayah, dan tersenyum, senyum yang kecil tetapi nyata, senyum orang yang baru saja menerima perhatian dalam bentuk yang paling sederhana, tetapi justru karena sederhananya, perhatian itu terasa paling sungguh-sungguh.

Nadia, yang sedang memasak di dapur, menatapku sekilas, dan aku tahu apa arti tatapan itu: bahwa perubahan tidak selalu datang dengan pengumuman besar, kadang-kadang perubahan datang dengan segelas air putih yang diletakkan di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, oleh orang yang selama ini tidak pernah meletakkannya di sana.

Pagi itu, Ibu melanjutkan kemeja Ayah. Kain biru muda itu sudah berbentuk, tinggal bagian-bagian akhir yang membutuhkan ketelitian: kerah, kancing, dan jahitan tepi yang harus rapi. Ibu memasang kacamata bacanya, mengatur kain di bawah jarum mesin, dan mulai menjahit dengan ritme yang baru, ritme yang sudah mulai ia hafal: setengah jam sekali, berhenti, duduk, merentangkan jari-jarinya, mengompres tangannya dengan kain hangat, menatap jauh ke arah jendela untuk mengistirahatkan matanya, lalu lanjut lagi.

Ayah duduk di kursi teras, menonton dari jauh, tetapi kali ini, ia tidak hanya menonton. Setiap kali Ibu berhenti tepat waktu, ia berkata, "Bagus, Bu. Pelan-pelan saja." Dan setiap kali Ibu lupa, karena Ibu memang masih sering lupa, Ayah yang mengingatkan, dengan suara pelan, "Bu, sudah setengah jam." Nadia, yang biasanya mengambil peran itu, tersenyum dari dapur, senyum orang yang merasa tugasnya kini dibagi, bukan diambil, dan dibagi dengan cara yang membuat rumah ini terasa lebih seimbang.

Siang harinya, setelah makan siang dan setelah rumah menjadi tenang, Ayah memanggilku ke ruang tengah. Bukan dengan nada yang serius, bukan pula dengan nada yang tergesa-gesa, melainkan dengan nada orang yang sedang mengajak anaknya melakukan sesuatu yang sudah lama ia rencanakan, tetapi baru hari ini ia merasa siap.

"Gas," kata Ayah, "temani Ayah sebentar. Ayah mau merapikan lemari lama di kamar. Sudah lama tidak dibuka, sudah lama tidak dirapikan. Ayah pikir, sudah waktunya."

Lemari lama itu adalah lemari kayu di sudut kamar orang tuaku, lemari yang sudah ada sejak aku kecil, lemari yang pintunya sudah sedikit seret, dan isinya, aku tahu, adalah tumpukan kain, pola-pola lama, dan barang-barang yang disimpan dengan alasan "nanti masih bisa dipakai", padahal sudah bertahun-tahun tidak dipakai.

Kami membuka lemari itu bersama-sama, pelan-pelan, mengeluarkan isinya satu per satu, memilah mana yang masih bisa dipakai, mana yang sudah waktunya disimpan di tempat lain, mana yang sudah waktunya dilepas. Di antara tumpukan kain itu, Ayah menemukan sebuah foto lama, foto yang kertasnya sudah menguning, seperti amplop semalam. Foto itu menunjukkan Ayah dan Ibu yang masih sangat muda, berdiri di depan sebuah toko kecil, Ibu memegang kain, Ayah memegang sebuah kotak, dan keduanya tersenyum dengan cara yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang baru saja memulai sesuatu bersama-sama.

"Ini waktu Ayah dan Ibu baru beli mesin jahit pertama," kata Ayah, menatap foto itu dengan tatapan yang jauh, tatapan orang yang sedang melihat masa lalunya sendiri dari jarak puluhan tahun. "Waktu itu uang kami pas-pasan. Ibu menabung dari jahitan kecil-kecilan, Ayah menabung dari kerja, dan kami beli mesin itu bersama-sama, dengan uang yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit. Mesin itu yang Ibu pakai bertahun-tahun, sampai akhirnya diganti dengan mesin yang sekarang, mesin yang kemarin baru selesai diservis."

Aku menatap foto itu, dan tiba-tiba, mesin jahit yang selama ini hanya aku kenal sebagai benda di sudut rumah itu memiliki sejarah. Ia bukan sekadar mesin. Ia adalah bukti pertama bahwa Ayah dan Ibu pernah memulai sesuatu dari nol, bersama-sama, dengan cara yang sama seperti mereka sekarang memulai ritme baru, bersama-sama, dengan cara yang pelan tetapi pasti.

"Mesin pertama itu masih ada, Yah?" tanyaku.

Ayah menggeleng, pelan. "Sudah dijual, waktu kita pindah, waktu kamu masih kecil. Tetapi fotonya masih ada. Dan ceritanya masih ada. Itu yang penting."

Ibu, yang mendengar percakapan kami dari ruang tengah, datang mendekat, membawa segelas air untuk Ayah, dan ketika ia melihat foto itu, ia tersenyum, senyum yang langsung mengenali masa lalu, tanpa perlu berpikir lama.

"Ibu ingat foto ini," kata Ibu, sambil menatap foto itu dengan lembut. "Waktu itu, mesinnya diantar pakai becak, karena kami tidak punya kendaraan. Ayah yang mengangkatnya ke dalam rumah, pelan-pelan, seperti mengangkat barang yang paling berharga, padahal itu cuma mesin jahit bekas, yang kami beli dari tetangga yang pindah. Tetapi bagi kami, mesin itu bukan bekas. Mesin itu adalah awal."

"Pesanan pertama Ibu apa, Bu?" tanyaku, karena aku sadar, aku tidak pernah bertanya hal itu sebelumnya, dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, kalau tidak ditanyakan sekarang, bisa hilang begitu saja, bersama dengan orang-orang yang tahu jawabannya.

Ibu berpikir sebentar, matanya menatap ke arah jendela, seperti sedang mencari ingatan yang sudah lama ia simpan di tempat yang sama seperti ia menyimpan pola-pola lamanya.

"Permak celana," katanya, akhirnya, sambil tertawa kecil. "Celana tetangga sebelah, yang kepanjangan. Upahnya tidak seberapa, tetapi Ibu ingat, waktu itu Ibu menjahitnya dengan sangat hati-hati, karena Ibu takut, kalau hasilnya tidak bagus, tetangga itu tidak akan kembali lagi. Ternyata, ia kembali, membawa celana yang lain, lalu membawa temannya, lalu temannya membawa temannya lagi. Dari situlah semuanya mulai. Dari satu celana yang dipermak dengan hati-hati."

Ayah mengangguk, menambahkan, "Dan dari upah permak celana itulah, kami bisa beli kain pertama untuk dijual, lalu dari kain itu, kami bisa beli benang yang lebih bagus, lalu dari benang yang lebih bagus, kami bisa terima pesanan yang lebih besar. Semua dari satu celana. Makanya Ayah bilang, rumah ini dibangun dari baris-baris kecil."

Kami bertiga diam sebentar, menatap foto itu, dan aku merasa seperti sedang berdiri di antara dua waktu: waktu ketika Ayah dan Ibu masih muda dan memulai semuanya dari satu celana yang dipermak, dan waktu sekarang, ketika mereka sudah tua dan memulai ritme baru dari satu kemeja yang dijahit pelan-pelan. Caranya sama, polanya sama, hanya usianya yang berbeda, dan beban yang dibawa yang berbeda.

Lalu Ibu kembali ke ruang tengah, ke meja jahitnya, ke kemeja yang sedang ia selesaikan, dan aku dan Ayah melanjutkan merapikan lemari itu, dengan perasaan yang lebih ringan, karena lemari itu kini bukan lagi sekadar lemari yang berantakan, melainkan lemari yang menyimpan cerita, dan cerita itu, satu per satu, mulai kami buka kembali.

Kami melanjutkan merapikan lemari itu, dan di dasar lemari, di bawah tumpukan kain yang paling bawah, Ayah menemukan sebuah kotak kayu kecil, kotak yang ukurannya tidak besar, tetapi kayunya sudah tua, dan tutupnya sudah sedikit longgar. Ayah mengambil kotak itu, menatapnya sebentar, lalu meletakkannya kembali, dengan gerakan yang hati-hati, seperti orang yang sedang menunda sesuatu bukan karena takut, melainkan karena ingin memilih waktu yang tepat.

"Kotak ini," kata Ayah, "isinya catatan-catatan lama. Catatan jahitan Ibu, waktu masih muda. Ayah yang menuliskan, Ibu yang menjahit. Dulu, setiap pesanan, Ayah catat. Tanggalnya, namanya, harganya, semuanya. Supaya kami tahu, dari mana uang kami datang, dan ke mana uang kami pergi."

Aku menatap kotak itu, dan aku sadar, kotak itu bukan sekadar kotak. Kotak itu adalah buku harian keluarga kami, yang ditulis bukan dengan kata-kata yang indah, melainkan dengan angka-angka dan nama-nama, dengan pesanan-pesanan kecil yang, satu per satu, membesarkanku, menyekolahkanku, dan membawa keluarga ini sampai ke hari ini.

"Kenapa Ayah simpan terus, Yah?" tanyaku.

Ayah tersenyum, senyum yang pelan, senyum orang yang sedang menjawab pertanyaan yang sudah lama ia jawab untuk dirinya sendiri. "Karena dulu, waktu kami masih susah, catatan itu yang membuat kami merasa bahwa kami sedang maju, sedikit demi sedikit. Setiap baris yang Ayah tulis, itu artinya ada satu pesanan yang selesai, ada satu keluarga yang dibantu, ada satu langkah kecil yang kami ambil. Dan Ayah pikir, suatu hari nanti, kalau kamu sudah besar, kamu perlu tahu bahwa rumah ini tidak dibangun dalam satu hari. Rumah ini dibangun dari baris-baris kecil seperti itu."

Sore itu ditutup bukan dengan jawaban, melainkan dengan kotak kayu kecil yang masih tertutup di dasar lemari yang sudah setengah rapi, dan dengan satu kalimat Ayah yang masih menggantung di kepalaku, ketika ia menatap kotak itu sekali lagi, lalu berkata pelan, seolah sedang membuat janji kepada dirinya sendiri, "Kotak ini, besok saja kita buka, Gas. Malam ini, biarlah ia tetap di sana dulu, supaya kita punya sesuatu yang ditunggu, bukan sesuatu yang terburu-buru."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!