β€Ή
13. Senin Pukul Enam

Senin Pukul Enam

Pundak Pertama β€’ 1,321 kata

Ilustrasi Senin Pukul Enam

Pukul 05.40, Bagas berlari.

Jalanan Cikarang yang masih sepi bergetar di bawah sepatunya. Tas ransel butut menghantam punggungnya di setiap langkah. Napasnya memburu, keringat membasahi kausnya — tapi matanya hanya tertuju pada satu titik: gerbang kompleks training yang sudah terlihat di ujung jalan, dengan lampu pos satpamnya yang kekuningan.

Busnya terlambat setengah jam. Angkotnya mogok di tengah jalan. Ia sudah menghitung di kepalanya seratus kali: kalau ia tidak sampai sebelum pukul enam, semuanya selesai. Tiga minggu — tidak, dua minggu — semuanya sia-sia. Perintah Bapak dilanggar. Gelang Ibu tidak akan pernah kembali.

Setengah tiga berangkat, katanya pada Bapak di ambang pintu. Waktu berpihak sama kamu.

Ia menerobos gerbang pukul 05.57. Satpam yang mengantuk hanya sempat berseru “Hei!” sebelum Bagas sudah melesat melewati lapangan, menuju asrama. Kamar tujuh. Seragam. Sepatu. Berlari lagi ke lapangan apel.

Peluit panjang berbunyi tepat saat kakinya menginjak barisan paling belakang.

Pukul enam tepat.

Dadanya naik turun seperti pompa air rusak. Keringat menetes dari dagunya ke kerah seragam. Tapi ia berdiri di barisan — ia sampai.

Dari depan barisan, mata Pak Bambang menyapu seluruh peserta — dan berhenti padanya. Satu detik. Dua detik. Lalu — nyaris tidak terlihat — lelaki keras itu mengangguk.

Bagas mengembuskan napas. Bahunya yang tegang sejak Jumat malam akhirnya turun.

Terima kasih, Pak.

Minggu kedua berjalan seperti mesin yang dipercepat. Bagas tertinggal materi teori hari Sabtu — simbol-simbol pengelasan lanjut yang seperti bahasa alien. Di kelas, ia mencatat dengan panik, menatap papan tulis seperti orang tenggelam menatap tali.

Tapi ia tidak sendirian.

Malam-malam di kamar tujuh berubah menjadi kelas tambahan. Wahyu — yang ternyata cukup kuat di teori — mengajarinya dengan sabar, menggambar simbol di buku catatan sampai Bagas hafal. Dan Yoga...

Yoga mengejutkan semua orang.

“Simbol ini artinya sambungan T,” kata Yoga suatu malam, duduk bersila di lantai kamar dengan buku teori terbuka. “Bayangin aja kayak kamu nyambung besi di bengkel. Cuma ini bahasa gambarnya. Kamu ngerti besinya, tinggal ngerti bahasanya.”

Ia menjelaskan dengan analogi-analogi bengkel yang justru lebih mudah dipahami Bagas daripada penjelasan Pak Bambang. Tidak ada nada meremehkan. Tidak ada “gampang” yang diucapkan keras-keras supaya didengar. Hanya... teman yang mengajari teman.

“Yog,” kata Bagas suatu malam, “makasih ya. Buat semuanya. Buat pinjamannya juga.”

Yoga mendengus. “Jangan lebay. Gue cuma nggak mau sekamar sama orang bego. Malu-maluin kamar tujuh.” Tapi telinganya merah — dan Wahyu tertawa sampai terguling dari ranjang.

Siang hari, Bagas berlatih di bengkel sampai tangannya kram. Ia memohon izin pada Pak Bambang untuk memakai bengkel setelah jam pelajaran — dan di luar dugaan, diizinkan. “Bengkel tutup jam sembilan. Jangan bikin kebakaran,” kata Pak Bambang datar. Tapi Bagas melihat Wahyu menyeringai: Pak Bambang sengaja lewat bengkel setiap jam delapan malam — “patroli”, katanya — dan tidak pernah mengusir Bagas.

Api las menyala. Dunia menyempit menjadi lingkaran cahaya biru kecil. Hanya ia, besi, dan kejujuran.

Dan di sela-sela itu — di setiap jeda, di setiap malam sebelum tidur — ada surat gadai di dompetnya. Ada pergelangan tangan Ibu yang kosong. Ada Bapak yang mungkin — saat ini juga — sedang memaksakan diri bekerja di proyek dengan kepala masih diperban.

Ia sudah menelepon rumah sekali, Sabtu sore, dari wartel dekat gerbang — sebelum minggu kedua dimulai. Suara Ibu terdengar lega: Bapak nurut. Tidak jadi kerja. Dimas yang “galak kayak mandor”, kata Ibu sambil tertawa kecil, melarang Bapak keluar rumah.

“Bilang sama Bagas, Bapak nurut!” terdengar suara Bapak dari latar, dan Bagas tertawa sampai matanya basah.

Tapi Bagas tahu — kepatuhan Bapak tidak akan lama. Laki-laki seperti Bapak tidak bisa diam terlalu lama. Cepat atau lambat, rasa bersalah karena “tidak menghasilkan” akan menyeretnya kembali ke proyek. Kecuali...

Kecuali aku yang menghasilkan. Segera.

Kamis malam, Bagas hampir menyerah. Di hadapannya, tabel simbol pengelasan berputar-putar seperti semut berbaris. Ia menutup buku dengan kasar — dan pandangannya jatuh pada gambar crayon Sinta yang ia tempel di dalam pintu loker: lima orang bergandengan tangan di depan rumah papan, dirinya digambar paling besar dengan topeng las seperti robot.

Mas kayak robot keren.

Ia membuka kembali bukunya. Robot tidak menyerah. Robot terus berjalan — tik, tik, tik — seperti jam tangan Bapak di pergelangannya. Dari ranjang sebelah, Wahyu yang melihat hanya menyeringai. “Nah, gitu dong. Semangat, robot.” Dan malam itu, untuk pertama kalinya, simbol-simbol alien itu mulai masuk akal.

Jumat minggu kedua adalah hari penilaian. Dua puluh peserta — tinggal delapan belas, karena dua sudah dipulangkan minggu lalu — menghadapi ujian gabungan: teori tertulis di pagi hari, praktik di siang hari. Tugas praktik: membaca gambar kerja, memotong besi, mengelas sambungan T. Toleransi tetap dua milimeter.

Teori membuat keringat dingin membasahi punggung Bagas. Beberapa soal simbol masih mengecohnya. Tapi ia mengerjakan dengan tenang — mengingat cara Yoga menjelaskannya, mengingat gambar-gambar Wahyu di buku catatan.

Praktik adalah rumahnya. Ukur dua kali, potong sekali. Tandai titik. Atur ampere. Api menyala — dan tangannya bergerak dengan keyakinan yang tidak ia miliki dua minggu lalu.

Pengumuman dibacakan sore itu di aula. Pak Bambang berdiri dengan daftar nilai, wajahnya datar seperti biasa.

“Nilai gabungan tertinggi minggu ini... Yoga. disusul Bagas di peringkat empat.”

Tepuk tangan. Wahyu bersorak — ia selamat di peringkat sebelas. Yoga menepuk bahu Bagas, keras. “Lumayan, helper.”

Lalu wajah Pak Bambang mengeras. “Dua nilai terendah: Rian. Topan. Kemasi barang kalian malam ini. Besok pagi, pulang.”

Keheningan jatuh seperti palu. Rian — anak Cirebon yang selalu berbagi kerupuk — menunduk. Topan menatap lantai. Tidak ada protes. Tidak ada air mata — setidaknya tidak di aula.

Bagas menatap punggung mereka yang berjalan keluar. Perutnya mulas. Itu bisa saja aku, pikirnya. Kalau aku telat Senin kemarin. Kalau aku menyerah.

Malam itu, dari jendela kamar tujuh, ia melihat Rian dan Topan menyeret tas mereka menuju gerbang — dua siluet kecil di bawah lampu tiang. Ia tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Dan justru itulah yang paling menyedihkan: mereka pergi tanpa sempat dikenal.

Sebelum apel bubar Jumat sore itu, Pak Bambang memberi pengumuman yang membuat seluruh aula riuh.

“Minggu depan ada tamu,” katanya, menunggu riuh reda. “PT Nusantara Steel. Perusahaan konstruksi baja. Mereka mencari lima orang — lima lulusan terbaik — untuk kontrak kerja langsung. Penempatan di luar Jawa. Ada uang tanda jadi.”

Uang tanda jadi.

Kata-kata itu menyambar Bagas seperti sengatan listrik. Uang tanda jadi berarti uang muka. Uang muka berarti... gelang Ibu. Obat Bapak. Utang ke Pak Kardi.

Setelah apel bubar, Pak Bambang memanggilnya ke kantor.

“Duduk.”

Bagas duduk, jantungnya berdebar.

“Kardi cerita,” kata Pak Bambang tanpa basa-basi. “Ibumu sampai menggadaikan barang untuk biaya berobat bapakmu.”

Bagas menunduk. Ia tidak tahu harus malu atau lega karena seseorang tahu.

“Lima orang, Bagas,” lanjut Pak Bambang. “Nilai gabungan tertinggi. Kamu sekarang peringkat empat. Uang tanda jadinya...” Ia berhenti sejenak. “Cukup untuk menebus gelang ibumu. Mungkin lebih.”

Bagas mendongak. “Berapa— berapa syaratnya, Pak?”

“Bertahan di lima besar sampai akhir kursus. Dan lulus semua penilaian.” Pak Bambang menatapnya lurus-lurus. “Kamu bisa. Tapi kamu harus berhenti goyah di teori. Peringkat empat itu belum aman — selisih nilaimu dengan peringkat enam cuma sedikit.”

“Siap, Pak.”

“Satu lagi.” Pak Bambang bersandar. “Penempatan di luar Jawa. Jauh dari rumah. Pikirkan baik-baik — ini bukan keputusan seminggu. Ini keputusan dua tahun.”

Malam itu Bagas berbaring di ranjang bawah, menatap langit-langit asrama yang bernoda rembesan. Di tangannya, surat gadai itu sudah lecek karena terlalu sering dibuka-tutup. Tiga ratus ribu. Batas waktu lelang: empat bulan.

Ia melirik jam tangan Bapak. Tik, tik, tik.

Lima kursi. Satu di antaranya harus menjadi miliknya. Demi gelang Ibu. Demi obat Bapak. Demi janji yang ia buat di dapur remang-remang itu.

Dari ranjang atas, terdengar suara kertas berbalik — Yoga masih belajar, menghafal simbol pengelasan dengan suara pelan, seperti doa.

Karena Yoga juga mengincar kursi itu.

Dan Yoga tidak pernah kalah dalam teori.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!