Surat Penerimaan yang Dilipat
Pundak Pertama β’ 1,291 kata
Kabar buruk selalu datang di saat yang paling tidak tepat. Hari itu, kabar buruk datang pada jam pelajaran ketiga — saat Bagas sedang mengerjakan ulangan matematika, soal nomor tujuh, tentang luas lingkaran.
Tahun 2009. Bagas tiga belas tahun, kelas dua SMP. Pagi itu ia datang ke sekolah dengan perut kenyang — Ibu sempat menggoreng tempe untuk sarapan, sesuatu yang sudah jarang terjadi. Bagas mengerjakan ulangannya dengan tenang, bahkan sempat tersenyum karena soal nomor tujuh persis seperti yang ia pelajari semalam. Lalu pintu kelas diketuk.
Bu Lastri — yang kini mengajar di SMP yang sama — berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang. “Bagas, ke ruang guru sekarang. Ada telepon penting.”
Di ruang guru yang pengap, gagang telepon terasa dingin di tangan Bagas. Suara mandor proyek terdengar samar di seberang: “Bagas? Ini Pak Mandor. Bapakmu... Bapakmu jatuh dari perancah lantai dua. Sekarang dibawa ke RSUD. Kamu suruh ibumu ke sana cepat.”
Dunia Bagas berhenti berputar. Soal nomor tujuh tentang luas lingkaran tiba-tiba terasa seperti lelucon yang kejam — hidupnya baru saja digambar ulang menjadi lingkaran yang jauh lebih kecil dan gelap.
Di RSUD, bau karbol menusuk hidung. Bapak terbaring dengan selang infus di lengannya, wajahnya pucat, matanya terpejam. Ibu duduk di samping dipan, menggenggam tangan suaminya erat-erat, bibirnya komat-kamit berdoa. Sinta dan Dimas menunggu di koridor, ketakutan, tidak mengerti apa yang terjadi.
Dokter berkata dua tulang rusuk Bapak retak. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah paru-parunya — sudah lama bermasalah, flek yang tidak pernah diobati karena Bapak selalu berkata “sayang uang, nanti sembuh sendiri”. Kini tubuhnya menyerah sekaligus. Dokter memerintahkan istirahat total berbulan-bulan. Tidak boleh mengangkat beban. Tidak boleh bekerja.
Biaya rumah sakit membengkak setiap hari. Pada hari kelima, Bagas melihat sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan: Ibu melepaskan cincin kawin tipis dari jari manisnya — satu-satunya emas yang ia punya, yang tidak pernah ia lepas sejak menikah — dengan tangan gemetar, di depan loket pembayaran. Bagas berdiri agak jauh, dan rasanya seperti melihat ibunya melepaskan sebagian dari dirinya sendiri.
Bapak akhirnya pulang, tapi hanya untuk terbaring di dipan bambu. Lelaki yang dulu mengangkat karung semen lima puluh kilo kini tidak sanggup mengangkat gayung air. Ia sering menatap langit-langit dengan mata kosong, dan Bagas tahu Bapak sedang bertarung dengan rasa bersalahnya sendiri.
Ibu mengambil jahitan lebih banyak lagi, tapi matanya yang makin rabun mulai mengkhianatinya. Dua kali hasil jahitannya ditolak konveksi karena tidak rapi. Malam itu Ibu menangis di depan mesin Singer — untuk pertama kalinya Bagas melihat ibunya menangis terang-terangan. Sinta memeluk Ibu dari samping, Dimas yang berumur delapan tahun hanya diam, tidak mengerti.
SPP Bagas menunggak tiga bulan. Surat peringatan datang dari sekolah. Suatu malam, Ibu berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Gas... mungkin kamu berhenti dulu setahun. Bantu Ibu. Nanti kalau keadaan membaik, kamu lanjut lagi.”
Bagas menatap ibunya lama. Kata-kata itu menggantung di udara seperti asap. Ia hampir mengangguk — hampir.
Lalu datanglah titik terang yang tidak terduga. Pengumuman di papan sekolah: Bagas meraih juara pertama olimpiade matematika tingkat kabupaten. Hadiahnya bukan piala — melainkan sesuatu yang jauh lebih besar: beasiswa penuh ke SMA Unggulan di kota, termasuk asrama dan biaya hidup selama tiga tahun.
Rumah mereka gempar. Tetangga berdatangan memberi selamat. Bapak memaksakan diri duduk di dipan, wajahnya berseri untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. “Pergi, Gas,” katanya dengan suara bergetar. “Ini jalanmu keluar dari hidup seperti Bapak. Jangan sia-siakan.” Ibu hanya diam, meremas ujung kainnya.
Malam itu Bagas tidak bisa tidur. Ia berbaring mendengarkan napas keluarganya: dengkuran halus Bapak yang masih sesak, gumaman Ibu dalam tidur yang gelisah. Lalu ia bangun dan melihat sekeliling rumahnya yang gelap: seragam Sinta yang sudah kekecilan, lengannya menggantung di atas siku; Dimas yang makan malam tadi dengan lahap seolah takut besok tidak ada makanan; Ibu yang bahkan dalam tidur pun tangannya mengepal seperti masih memegang jarum.
Ia menghitung dengan kepala dinginnya yang biasa dipakai mengerjakan soal matematika. Beasiswa menanggung sekolah dan asrama — tapi siapa yang akan mengantar jahitan Ibu ke konveksi? Siapa yang akan membawa Bapak kontrol ke rumah sakit setiap bulan? Dari mana uang jajan Sinta dan Dimas? Dari mana beras di dapur?
Matematika tidak pernah berbohong. Jawabannya jelas, dan jawaban itu menyakitkan.
Selama Bapak dirawat, Bagas bergantian dengan Ibu menjaganya di rumah sakit. Malam-malam ia tidur di kursi plastik koridor, mengerjakan PR dengan penerangan lampu lorong yang redup. Seorang perawat yang kasihan kadang memberinya teh hangat. Suatu malam Bapak terbangun dan mendapati anaknya tertidur dengan buku matematika terbuka di dada. Keesokan paginya, dengan suara serak, Bapak berkata, “Maafkan Bapak, Nak. Bapak... Bapak gagal jadi pundak yang kuat.” Bagas menggenggam tangan ayahnya yang kurus dan dingin. “Bapak nggak gagal. Bapak cuma... istirahat. Sekarang gantian Bagas yang jaga.”
Untuk mengikuti olimpiade, Bagas belajar setiap malam setelah menjaga Bapak — dengan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah dan lampu minyak yang asapnya membuat matanya pedih. Ia tidak punya uang untuk membeli buku latihan; ia menyalin soal-soal dari papan tulis sepulang sekolah ke buku tulis bekas. Ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama, satu sekolah bertepuk tangan. Bu Lastri menangis di barisan guru. Tapi di tengah tepuk tangan itu, Bagas hanya memikirkan satu hal: biaya kontrol Bapak bulan depan.
Kabar beasiswa menyebar ke seluruh kampung. Tetangga berdatangan — ada yang tulus memberi selamat, ada yang berbisik sinis bahwa “anak kuli kok dapat beasiswa ke kota”. Pak Lurah bahkan datang membawa amplop berisi uang saku. “Buat bekalmu di asrama, Le,” katanya. Ibu menerima amplop itu dengan kedua tangan gemetar, dan malam harinya ia menangis — bukan karena sedih, melainkan karena untuk pertama kalinya ada orang yang percaya bahwa anaknya bisa pergi jauh.
Keesokan harinya, Bagas pergi ke sekolah dan menemui kepala sekolah. Dengan suara bergetar namun mantap, ia menolak beasiswa itu. “Terima kasih, Pak. Tapi keluarga saya membutuhkan saya di sini.”
Kepala sekolah menatapnya tidak percaya. “Bagas, kamu tahu apa artinya ini? Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”
“Saya tahu, Pak.” Bagas menunduk. “Waktu kecil, saya pernah bilang ke adik saya: kakak itu tugasnya menjaga. Saya tidak bisa menarik kata-kata itu sekarang.”
Kepala sekolah menghela napas panjang, lalu berdiri dan menjabat tangan Bagas dengan kedua tangannya. “Sekolah ini bangga pernah punya murid sepertimu, Nak. Pintu sekolah ini tidak akan pernah tertutup untukmu.” Bagas membungkuk dalam-dalam, menahan air mata yang mendesak keluar. Ia berjalan pulang di bawah matahari yang terik, surat beasiswa terlipat rapi di sakunya — terasa berat seperti batu, namun juga hangat seperti bara.
Siang itu ia berdiri lama di depan papan pengumuman. Namanya terpampang di sana, dicetak tebal: BAGAS — JUARA I. Ia mengeluarkan surat penerimaan beasiswa dari tasnya, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya ke saku kemeja — dekat jantungnya. Disimpan, bukan dibuang. Mungkin suatu hari ia akan membukanya lagi, sebagai pengingat harga dari sebuah pilihan.
Lalu ia berjalan kaki ke proyek ruko tempat Bapak dulu bekerja, dan menemui mandor yang sama yang dulu meneleponnya dengan kabar buruk. “Pak,” kata Bagas, “saya butuh kerja.”
Mandor itu tertawa — tawa yang keluar begitu saja sebelum ia sempat menahannya. “Kamu masih bocah, Gas. Sekolah saja yang benar. Proyek bukan tempat anak-anak.”
Bagas menatapnya lurus-lurus, tanpa berkedip. “Saya memang masih bocah, Pak,” katanya pelan. “Tapi keluarga saya sudah tidak punya waktu untuk menunggu saya dewasa.”
Tawa mandor itu mati perlahan di tenggorokannya.
Keesokan paginya, Bagas tidak berangkat ke sekolah. Ia memakai helm proyek milik bapaknya — kebesaran di kepalanya yang baru empat belas tahun, talinya harus dikencangkan dua kali. Ibu berdiri di ambang pintu, menutup mulut dengan tangan. Sinta menangis. Dimas bertanya kenapa Mas Bagas pakai helm Bapak.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu, apakah anak itu akan pernah kembali lagi ke bangku sekolah.