β€Ή
56. Jawaban

Jawaban

Pundak Pertama β€’ 1,377 kata

Ilustrasi Jawaban

Tulisan "Nadia sedang mengetik..." itu hilang.

Satu menit berlalu. Tidak ada pesan masuk. Dua menit. Ponsel di tanganku terasa lebih berat dari biasanya, seolah menampung seluruh kemungkinan jawaban di dunia ini.

Lalu bergetar.

"Hah??"

Itu saja. Satu kata, dua tanda tanya. Aku menatap layar seperti orang bodoh, tidak tahu harus tertawa atau panik duluan.

Sebelum aku sempat membalas, pesan berikutnya masuk: "Mas serius??"

Aku mengetik pelan-pelan, memastikan setiap hurufnya jujur: "Serius. Tapi kalau kamu nggak nyaman, nggak apa-apa. Beneran nggak apa-apa, Nad. Aku nggak mau kamu terpaksa."

Balasannya lama. Cukup lama sampai aku mulai menyusun pidato penghiburan untuk diriku sendiri β€” tidak apa-apa, Gas, tiga puluh tahun tidak pacaran, satu penolakan tidak mengubah apa-apa, besok Senin tetap masuk kerja seperti biasa β€”

"Aku mau, Mas."

Jantungku melompat sampai ke tenggorokan, lalu jatuh lagi ke perut, lalu melompat lagi. Rasanya seperti naik odong-odong.

"Tapi aku harus izin ayahku dulu ya. Anak perempuan, Mas, nggak bisa asal berangkat. Besok aku telepon ayahku, beliau lagi di jalan, susah sinyal."

"Harus," balasku cepat. "Justru aku yang maksa kamu izin. Kalau ayahmu nggak boleh, kita batalin. Nggak pakai drama, nggak pakai ngambek."

"Siap, Mas Pundak."

Aku tertawa sendiri di kos yang sepi. Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala satu per satu, dan untuk pertama kalinya plafon retak kamarku terlihat seperti langit berbintang.

Senin pagi terasa seperti hari pertama masuk sekolah. Aku sampai kantor dua puluh menit lebih awal β€” rekor pribadi β€” dan mendapati Hendra sudah di mejanya, menatapku curiga.

"Gas," katanya, "kamu kenapa? Senyum-senyum dari tadi. Semalam menang lotre?"

"Lebih bagus dari lotre," kataku, duduk dan menyalakan komputer dengan gaya orang yang tidak bisa menyembunyikan apa-apa.

Dari seberang meja, Nadia datang dengan tas ranselnya, dan kami bertukar pandang sekilas β€” pandang yang menyimpan rahasia. Hendra yang jeli langsung menangkap.

"Oke," katanya pelan, "ada yang tidak beres di antara kalian berdua, dan saya tidak suka tidak tahu."

"Kerja, Hen," kata Nadia, tapi telinganya merah.

Makan siang di Warteg Bu Haji hari itu berubah menjadi rapat perencanaan. Di antara sayur asem dan tempe orek, kami menyusun strategi seperti dua jenderal perang.

"Jadi," kata Nadia, mengaduk es teh setengah gulanya, "rencananya gimana, Mas?"

"Berangkat Jumat malam. Bus jam setengah delapan. Sampai kampung sekitar setengah sepuluh malam. Sabtu seharian di sana, Minggu siang kita balik. Senin pagi masuk kerja seperti biasa."

"Ayahku..." Nadia menggigit bibir. "Aku telepon beliau besok malam. Kalau lagi di rest area biasanya sinyalnya lumayan."

"Kamu mau aku yang ngomong sama beliau?" tanyaku. "Biar resmi. Biar ayahmu tahu aku serius, bukan cuma... ya, bukan cuma teman makan siang."

Nadia menatapku lama. "Mas berani?"

"Aku sudah berani kirim WA Jumat kemarin," kataku. "Masa ngomong sama ayahmu nggak berani."

"Calon apa, Mas?" godanya, tapi pipinya merah.

"Calon... penumpang bus yang sama," kataku cepat, dan kami tertawa sampai Bu Haji menoleh.

"Kalian ini," kata Bu Haji sambil mengelap meja sebelah, "kelihatan bahagia. Tambah es tehnya? Gratis, buat orang bahagia."

Kami mengangguk malu-malu, dan hari itu es teh kami terasa lebih manis dari biasanya β€” padahal Nadia pesan yang setengah gula.

Selasa malam, sesuai janji, Nadia menelepon ayahnya dari kosnya. Aku menunggunya di kosku dengan deg-degan yang tidak masuk akal β€” seperti menunggu hasil ujian padahal yang ujian orang lain.

Pukul sembilan, ponselku berdering. "Mas," suara Nadia pelan tapi bersemangat, "ayahku mau ngomong langsung sama Mas. Sekarang bisa?"

"Sekarang?!" Aku spontan berdiri, merapikan kaos oblongku seolah beliau bisa melihat. "Bisa. Bisa banget."

Terdengar suara kresek-kresek, lalu suara berat seorang laki-laki: "Halo? Ini Bagas?"

"Iya, Pak. Saya Bagas."

"Saya Suryo, ayahnya Nadia." Hening sejenak β€” hening khas orang tua yang sedang menakar lawan bicara. "Jadi kamu yang mau bawa anak saya ke kampung?"

"Iya, Pak. Saya mau mengenalkan Nadia ke ibu dan nenek saya. Kalau Bapak mengizinkan."

"Kerja di mana?"

"Di kantor yang sama dengan Nadia, Pak. Bagian administrasi juga."

"Gaji cukup buat makan?"

Aku tertawa kecil β€” pertanyaan paling jujur yang pernah kudengar dari orang tua. "Cukup, Pak. Malah lebih. Saya kirim ke ibu tiap tanggal lima."

"Tanggal lima," ulang Pak Suryo. Terdengar seperti anggukan. "Nadia kirim tanggal satu. Kalian ini... kalender berjalan."

"Pak," kataku, memberanikan diri, "saya janji jaga Nadia. Berangkat bareng, pulang bareng. Kalau ada apa-apa, saya yang tanggung jawab."

Hening lagi. Lalu: "Bagas."

"Iya, Pak?"

"Kalau anak saya nangis, saya susul kamu ke mana pun. Paham?"

"Paham, Pak."

Beliau tertawa β€” tawa berat supir truk yang biasa tertawa di jalan tol sendirian. "Boleh. Tapi ingat, jaga dia baik-baik. Dia anak saya yang paling... ya, yang paling ngerti ayahnya."

Telepon kembali ke Nadia. "Lolos, Mas!" serunya. "Ayahku bilang boleh!"

Malam itu aku tidak bisa tidur. Bukan karena cemas β€” untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak bisa tidur karena bahagia. Rasanya aneh, seperti memakai baju baru yang belum pas di badan.

Kamis siang, aku memberanikan diri melakukan hal yang belum pernah kulakukan selama tiga tahun bekerja: mengajukan cuti.

Pak Dharma menatap form cutiku seperti menatap UFO. "Cuti? Kamu? Gas, jatah cutimu tiga tahun ini bisa dipakai buat umroh."

"Jumat, Pak. Satu hari."

"Sakit?" selidiknya.

"Sehat, Pak."

"Ada urusan keluarga?"

Aku ragu sejenak, lalu memutuskan jujur β€” setengah jujur. "Mau pulang kampung, Pak. Bawa... teman."

Pak Dharma menyipitkan mata, lalu senyumnya melebar seperti orang yang baru memenangkan arisan. "Teman. TEMAN." Ia menandatangani form itu dengan penuh gaya. "Disetujui. Dan Gas β€” kalau temanmu itu yang saya pikir, traktir saya kopi."

Dari seberang ruangan, Nadia pura-pura tidak dengar, tapi bahunya berguncang.

Seminggu itu ponselku tidak pernah sepi. Ibu menelepon tiap malam dengan laporan persiapan yang semakin dramatis.

"Bude sudah beli ayam kampung tiga ekor, Gas. Katanya buat opor."

"Dimas beneran cuci motor, Bu?"

"Beneran! Sampai mengkilap. Tetangga sampai nanya motor siapa."

"Nenek gimana, Bu?"

Suara Ibu melembut. "Nenek nangis terus dari kemarin, Gas. Katanya... katanya akhirnya."

Kata "akhirnya" itu menempel di dadaku seperti perangko. Akhirnya apa? Akhirnya cucunya berani? Akhirnya kain batik itu ada gunanya? Akhirnya doa-doa subuh Nenek terkabul?

Jumat siang, sebelum pulang kerja, aku mampir ke rumah sakit. Menjenguk Yati.

Ia tertidur β€” wajahnya tenang, selang infus masih di tangannya. Perawat bilang kondisinya stabil, tinggal pemulihan. Aku meletakkan sekantong jeruk di meja samping tempat tidurnya, lalu berbisik pelan, takut membangunkannya:

"Bu Yati... aku berani. Doanya sampai."

Kelopak matanya bergerak sedikit β€” mungkin mimpi, mungkin mendengar. Aku tersenyum dan pergi sebelum sempat menangis di ruang visit yang dingin itu.

Sore harinya aku mengepak tas. Baju dua stel, sarung, obat-obatan, dan β€” dengan hati-hati seperti membungkus bayi β€” kain batik Nenek yang kulipat rapi.

Aku membawanya pulang. Sudah waktunya kain itu kembali ke pemiliknya β€” atau mungkin, sudah waktunya aku bertanya pada Nenek: untuk hari apa sebenarnya kain ini disimpan?

Terminal bus jam tujuh kurang seperempat. Hujan rintik-rintik, bau solar dan gorengan bercampur di udara. Aku berdiri di bawah kanopi dengan dua tiket di tangan, menatap setiap ojek yang berhenti, setiap taksi yang melambat.

Aku mengecek ponsel tiap sepuluh detik β€” kebiasaan baru yang memalukan. Di kepalaku berputar semua skenario: bagaimana kalau laporannya lama? Bagaimana kalau Pak Dharma menahannya lembur? Bagaimana kalau β€”

"Jangan mikir macem-macem, Gas," kataku pada diri sendiri. "Dia pasti datang."

Pukul tujuh lewat lima, ponselku bergetar. Nadia: "Mas, aku masih di kantor. Ada laporan mendadak dari Pak Dharma. Sebentar lagi selesai."

"Santai," balasku. "Busnya jam setengah delapan."

Pukul tujuh lewat dua puluh. Kondektur mulai berteriak: "Terakhir! Terakhir berangkat!"

Pukul tujuh lewat dua puluh delapan. Mesin bus menyala dengan batuk-batuk khasnya. Asap solar mengepul. Kondektur menatapku β€” penumpang dengan dua tiket yang sendirian.

"Mas! Jadi berangkat nggak?!"

Ponselku bergetar. Bukan dari Nadia β€” dari nomor tidak dikenal.

Jantungku berhenti. Tanganku gemetar menekan tombol hijau.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!