Surat-surat yang Dibawa Pagi-pagi
Pundak Pertama β’ 1,330 kata
Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya, bukan karena alarm, melainkan karena janji semalam masih terngiang di telingaku. Bapak memintaku menemaninya, bukan ke puskesmas, melainkan ke tempat orang yang mengurus surat-surat rumah ini. Kalimat itu sederhana, tapi sejak semalam ia terasa berat di dadaku, seperti sesuatu yang selama ini hanya dipikirkan di kepala, kini benar-benar akan dikerjakan dengan tangan.
Di dapur, Ibu sudah menyeduh teh dan menggoreng tempe. Ia tidak banyak bertanya. Ia hanya meletakkan piring di meja dan berkata, pelan, supaya aku sarapan dulu sebelum berangkat. Bapak duduk di kursi dekat jendela, memakai kemeja lengan panjang yang sudah lama tidak kupakai lihat ia kenakan, kemeja yang ia simpan untuk urusan resmi. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, lalu memeriksa kembali sebuah tas kain cokelat yang diletakkan di atas meja.
Di dalam tas itu, semalam Bapak sudah memasukkan semuanya satu per satu, dan pagi ini ia mengeluarkannya lagi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Ada map plastik bening berisi sertifikat tanah dengan sampul hijau yang sudah agak pudar di ujungnya. Ada Akta Jual Beli lama yang kertasnya menguning. Ada fotokopi Kartu Tanda Penduduk Bapak dan Ibu, Kartu Keluarga, dan beberapa lembar Surat Pemberitahuan Pajak Terutang dari tahun-tahun terakhir yang dijepit rapi dengan klip. Ada juga sebuah buku catatan kecil, tempat Bapak dulu menulis tanggal-tanggal pembayaran dengan tulisan tangannya sendiri.
Aku memperhatikan tangannya yang bergerak pelan. Ia tidak terburu-buru. Setiap lembar ia pegang sebentar, ia lihat, lalu ia masukkan kembali. Aku jadi sadar, surat-surat ini bukan sekadar kertas bagi Bapak. Ini adalah jejak hidupnya di rumah ini, dari pertama kali ia dan Ibu menempati rumah ini sampai dinding belakangnya kemarin dicat krem muda bersama-sama.
"Kita naik motor saja, Gas," kata Bapak. "Bapak yang dibonceng. Pelan-pelan saja."
Aku mengangguk. Nadia keluar dari kamar belakang, ruang jahitnya yang baru dicat itu, sambil membawa botol air minum untuk Bapak. Ia tidak ikut, karena Ibu memintanya menjaga rumah dan membantu menyiapkan pesanan jahitan yang harus diambil siang nanti. Tapi sebelum kami berangkat, Nadia sempat berbisik padaku, "Ceritakan nanti ya, apa saja yang ditanyakan. Biar aku juga tahu."
Perjalanan ke kantor kelurahan itu tidak jauh, tapi pagi itu rasanya lebih panjang dari biasanya. Jalanan masih basah sisa hujan kemarin. Bapak duduk di belakangku, tangannya memegang pinggangku dengan ringan, tidak erat, seolah ia tidak mau membebaniku, padahal aku tahu ia hanya menjaga keseimbangannya. Sesekali ia menunjuk ke arah gang yang kami lewati dan bercerita pendek, bahwa dulu gang itu masih tanah, bahwa dulu pagar rumah tetangga belum ada, bahwa dulu ia sering berjalan kaki ke tempat yang sama untuk mengurus surat yang sama.
Tempat yang kami tuju bukanlah gedung besar. Ia adalah sebuah kantor kelurahan yang sederhana, dengan papan nama yang catnya sudah memudar, halaman parkir kecil, dan deretan kursi plastik di ruang tunggu. Di dalam, ada meja-meja kayu, tumpukan berkas, dan bau kertas lama yang bercampur dengan bau kopi dari sudut ruangan. Orang-orang datang silih berganti, sebagian membawa map seperti kami, sebagian hanya membawa satu lembar fotokopi yang dilipat.
Bapak menghampiri meja bagian pertanahan dan menyapa seorang staf yang sudah ia kenal sejak lama, Pak Arman. Lelaki itu berusia sekitar lima puluhan, memakai kemeja batik yang lengannya digulung, dan senyumnya ramah. Ia mempersilakan kami duduk, lalu bertanya dengan nada biasa, seolah ini memang urusan yang sering ia tangani, "Mau mengurus apa hari ini, Pak?"
Bapak meletakkan tas kainnya di atas meja, membukanya pelan, dan mengeluarkan map plastik itu. "Saya mau membereskan surat-surat rumah, Pak," katanya. "Supaya anak saya ini tahu letak segalanya. Sudah waktunya dibereskan, jangan sampai nanti dia bingung."
Pak Arman mengangguk, lalu membuka map itu. Lembar pertama yang ia buka adalah sertifikat tanah. Ia membacanya dengan saksama, jarinya menelusuri baris demi baris, lalu ia bertanya, "Ini luas tanahnya berapa, Pak? Dan batas-batasnya masih sama seperti yang tertulis di sini?"
Bapak menjawab pelan tapi jelas. Ia menyebutkan luasnya, menyebutkan patok di sebelah kiri yang berbatasan dengan rumah Pak RT, dan selokan kecil di sebelah kanan yang dulu menjadi batas dengan kebun tetangga. Aku mendengarkan dan mencatat dalam hati, karena selama ini aku hanya tahu rumah ini sebagai tempat tinggal, bukan sebagai sebidang tanah dengan ukuran dan batas yang tertulis resmi.
Pak Arman kemudian membuka Akta Jual Beli lama itu dan bertanya lagi, "Tahun berapa Bapak membeli rumah ini? Dan apakah ada perubahan sejak itu, misalnya penambahan bangunan atau pemecahan tanah?"
Bapak berpikir sebentar, lalu menjawab dengan bantuan ingatannya yang masih tajam untuk hal-hal lama. Ia bercerita bahwa rumah ini dibeli puluhan tahun lalu, ketika aku masih kecil, dan sejak itu tidak pernah dipecah, hanya diperbaiki bagian demi bagian, atapnya diperbaiki, dinding belakangnya diperbaiki, kamarnya ditambah satu di belakang untuk keperluan keluarga. Pak Arman mencatat semuanya di sebuah formulir, sambil sesekali mengangguk.
Aku ikut mendengarkan, tapi di dalam hati ada rasa yang sulit kujelaskan. Selama ini aku mengira mengurus surat rumah adalah pekerjaan sekali datang, sekali selesai, seperti membayar tagihan. Ternyata tidak. Ia adalah pekerjaan membuka kembali sejarah rumah, satu lembar demi satu lembar, dan memastikan setiap lembar itu masih cocok dengan keadaan rumah yang sebenarnya.
Setelah itu, Pak Arman membuka lembar PBB dan memeriksa apakah pajaknya sudah dibayar sampai tahun terakhir. Ia menumpuk lembar-lembar itu dengan rapi, lalu berkata, "Bagus, Pak. Sebagian besar sudah lengkap. Tinggal nanti kita cocokkan satu per satu, mana yang masih atas nama lama, mana yang perlu diperbarui, dan mana yang perlu dilengkapi fotokopinya."
Mendengar kalimat itu, Bapak tampak lega, tapi juga tampak sadar bahwa pekerjaan ini tidak akan selesai dalam satu kunjungan. Ia mengangguk dan berkata, "Tidak apa-apa, Pak. Pelan-pelan saja, asal dibereskan. Saya bawa anak saya supaya dia tahu jalannya."
Pak Arman tersenyum ke arahku. "Bagus itu, Mas. Banyak orang tua yang menunda urusan seperti ini, lalu anaknya yang repot belakangan. Bapakmu ini justru mau membereskannya selagi masih bisa datang sendiri."
Kalimat itu membuat tenggorokanku agak tercekat. Aku menatap Bapak, dan Bapak menatapku sebentar, lalu kembali menatap berkas-berkas di meja, seolah ia tidak mau membuat suasana menjadi berat. Ia hanya mengangguk kecil, tanda ia setuju, dan tanda ia memang sengaja melakukan ini untukku.
Sebelum kami pulang, Pak Arman memberikan selembar catatan kecil berisi daftar apa saja yang perlu kami bawa pada kunjungan berikutnya dan apa saja yang perlu kami periksa di rumah. Ia menekankan satu hal dengan suara yang tetap tenang, "Di rumah nanti, coba dibuka lagi semua map-nya, Pak. Kadang ada surat lama yang terselip di antara berkas lain. Itu yang sering membuat urusan tertunda."
Di perjalanan pulang, Bapak memegang tas kain itu di pangkuannya. Ia tidak banyak bicara. Sesekali ia melihat ke arah rumah-rumah yang kami lewati, seolah ia sedang membandingkan rumah kami dengan rumah orang lain, atau seolah ia sedang memikirkan daftar yang baru saja kami terima. Aku tidak memaksanya bercerita. Aku hanya mengendarai motor pelan-pelan, seperti yang ia minta pagi tadi.
Sesampainya di rumah, Ibu sudah menunggu di teras dengan teh hangat. Nadia keluar dan bertanya, "Bagaimana, Pak? Apa saja yang ditanyakan?"
Bapak duduk, menyeruput tehnya, lalu menjawab dengan ringkas, "Semuanya baik. Tinggal dibereskan satu per satu di rumah. Besok kita buka lagi semua map-nya, Gas. Kita lihat bersama, mana yang lengkap, mana yang kurang."
Aku mengangguk, dan di dalam hati aku membuat janji yang sama seperti semalam, hanya kali ini lebih jelas bentuknya. Aku akan menemani Bapak membereskan ini, bukan sekali, tapi sampai selesai, seberapa lama pun itu. Karena hari ini aku belajar, surat-surat rumah bukan hanya soal kertas, melainkan soal keberanian untuk membuka apa yang selama ini disimpan, dan menunjukkannya kepada anaknya sendiri.
Malam itu, sebelum tidur, aku melihat tas kain cokelat itu diletakkan Bapak di atas lemari, dengan map plastik di dalamnya yang sudah kembali rapi. Aku tahu, besok pagi, tas itu akan dibuka lagi, dan kami akan mulai dari lembar pertama. Dan aku tidak tahu lembar mana yang akan membuatku berhenti sejenak dan berpikir lebih lama, tapi aku tahu aku tidak akan menghadapinya sendirian, karena Bapak sudah memintaku duduk di sampingnya sejak awal.