β€Ή
99. Satu Huruf yang Berbeda

Satu Huruf yang Berbeda

Pundak Pertama β€’ 1,348 kata

Ilustrasi Satu Huruf yang Berbeda

Keesokan paginya, aku bangun dengan kalimat Pak Arman semalam yang masih terngiang di telingaku, tentang nama di surat kematian kakek yang ejaannya mungkin berbeda dengan nama di sertifikat. Kalimat itu terdengar kecil ketika diucapkan di kantor kelurahan, di antara tumpukan berkas dan bau kopi, tapi di pagi yang sepi ini ia terasa seperti sebuah pintu yang sengaja dibiarkan setengah terbuka, dan aku tidak bisa tenang sebelum membukanya dan melihat apa yang ada di baliknya. Aku sarapan dengan cepat, lalu membuka map sertifikat di meja makan, sementara Ibu masih mencuci piring dan Nadia menyiapkan ruang jahitnya.

Bapak duduk di sampingku, dengan segelas teh di tangannya, dan kami meletakkan dua lembar itu bersebelahan, sertifikat tanah dan fotokopi surat kematian kakek yang sudah menguning. Pada awalnya, semuanya tampak cocok. Nama kakek tertulis dengan huruf yang sama di kedua lembar itu, atau setidaknya itulah yang kupikirkan pada pandangan pertama. Tapi ketika aku membaca lagi, perlahan, huruf demi huruf, seperti yang dilakukan Pak Arman kemarin ketika ia memeriksa sertifikat, aku melihatnya. Di sertifikat, nama kakek tertulis dengan satu huruf yang berbeda dari surat kematian. Satu huruf saja, di tengah nama, yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain, tapi bagi urusan surat-menyurat, satu huruf itu adalah dinding yang harus diruntuhkan sebelum kami bisa melangkah lebih jauh.

Aku membacanya dua kali, memastikan aku tidak salah lihat, lalu menunjukkannya kepada Bapak. Bapak mendekatkan wajahnya ke lembaran itu, matanya menyipit, lalu ia menghela napas panjang, napas orang yang sudah lama menduga sesuatu tetapi baru hari ini benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri. "Iya, Gas," katanya pelan. "Dulu, waktu Mbahmu masih hidup, namanya memang sering ditulis berbeda-beda. Di KTP satu ejaan, di surat lain ejaan lain. Dulu orang tidak terlalu memperhatikan, yang penting orangnya jelas. Sekarang, ternyata satu huruf itu bisa jadi masalah."

Ruangan itu mendadak terasa lebih hening, bukan hening yang tegang, melainkan hening orang-orang yang sedang memahami bahwa pekerjaan mereka baru saja bertambah satu langkah lagi. Ibu yang mendengar dari dapur datang dan ikut melihat, lalu berkata dengan suara lembut, "Waktu itu memang begitu, Gas. Nama orang tua dulu sering ditulis sesuai dengar-dengaran. Yang menulis di kantor dulu mendengar satu bunyi, yang menulis di tempat lain mendengar bunyi lain. Tidak ada yang salah, hanya saja tidak ada yang menyamakan."

Aku mencatat perbedaan itu di buku catatan Nadia, dengan hati-hati, menulis kedua ejaan itu bersebelahan, supaya kami tidak tertukar lagi. Nadia datang dan membaca catatanku, lalu ia berkata, "Kalau begitu, kita harus minta surat keterangan yang menyatakan bahwa kedua nama itu adalah orang yang sama. Pak Arman pasti tahu caranya." Ia mengatakannya dengan nada yang yakin, bukan karena ia tahu persis caranya, melainkan karena ia sudah belajar bahwa setiap masalah surat selalu ada jalan keluarnya, asal ditanyakan kepada orang yang tepat dan tidak disimpan sendiri.

Siang itu, kami membagi tugas, untuk pertama kalinya dengan cara yang benar-benar terasa seperti sebuah tim. Nadia duduk di meja makan dengan laptop pinjamannya, mengetik surat pengantar dan daftar dokumen yang sudah kami kumpulkan, menyusunnya dalam map baru yang ia beri label dengan tulisan tangannya yang rapi. Ibu memeriksa kembali lembar-lembar PBB dan memisahkan mana yang sudah lunas dan mana yang perlu dicari fotokopinya. Bapak, yang biasanya ingin mengerjakan semuanya sendiri, kali ini duduk di teras dan menelepon adiknya, Pakde Darman, yang tinggal di kota sebelah, dengan suara yang ia jaga agar tetap tenang dan sopan.

Aku mendengarkan dari dalam rumah, sambil membantu Nadia menyusun fotokopi, dan aku bisa mendengar Bapak menjelaskan dengan pelan, bahwa sertifikat rumah masih atas nama almarhum kakek, bahwa kami sedang membereskannya, dan bahwa ia membutuhkan tanda tangan Pakde sebagai salah satu ahli waris. Bapak tidak mendesak, ia tidak membicarakan soal harta atau pembagian, ia hanya menjelaskan bahwa ini soal merapikan nama di surat, supaya kelak tidak ada yang repot. Di ujung telepon, Pakde Darman menjawab dengan suara yang hangat, ia berkata ia bersedia, ia hanya meminta waktu, karena Kartu Tanda Penduduknya baru saja hilang dan ia sedang mengurus penggantinya di kelurahan tempat tinggalnya.

Kalimat itu membuat Bapak terdiam sejenak, lalu ia mengangguk dan berkata, "Tidak apa-apa, tidak usah terburu-buru. Kita kerjakan pelan-pelan saja, yang penting jalannya sudah dimulai." Setelah telepon itu selesai, Bapak duduk lebih lama di teras, memandang halaman dengan tatapan yang jauh, dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kuperhatikan sebelumnya, atau mungkin baru hari ini aku berani memperhatikannya. Bapak tampak lelah. Bukan lelah karena satu hari yang berat, melainkan lelah yang menumpuk, lelah orang tua yang selama ini selalu tampak kuat, tetapi kini bahunya mulai turun sedikit ketika ia duduk sendiri, dan tangannya sedikit gemetar ketika ia mengangkat gelas tehnya.

Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya, tanpa langsung bertanya apa-apa. Kami duduk diam sebentar, mendengarkan suara burung sore dan suara Nadia yang sedang mengetik di dalam rumah. Lalu Bapak berkata, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, "Bapak tidak menyangka ternyata sebanyak ini, Gas. Dulu Bapak pikir, tinggal datang, tanda tangan, selesai. Ternyata ada surat yang namanya berbeda satu huruf, ada KTP Pakdemu yang hilang, ada patok yang bergeser. Bapak jadi merasa, jangan-jangan Bapak terlalu lama menunda."

Aku tidak langsung menjawab, karena aku tahu kalimat itu bukan kalimat yang butuh jawaban cepat, melainkan kalimat yang butuh didengarkan. Setelah sejenak, aku berkata, "Tidak apa-apa, Pak. Yang penting sekarang sudah mulai. Satu huruf itu bisa dibetulkan, KTP Pakde bisa diurus lagi, patok bisa diukur ulang. Kita tidak harus menyelesaikan semuanya minggu ini. Kita kerjakan satu per satu, seperti yang tertulis di daftar itu." Bapak menatapku, lalu mengangguk, dan aku melihat matanya berkaca-kaca sebentar, sebelum ia tersenyum dan menepuk pundakku, seperti yang ia lakukan semalam di ruang tengah.

Sore harinya, Nadia menunjukkan hasil kerjanya kepadaku dan Bapak, sebuah map baru yang berisi semua fotokopi yang sudah kami kumpulkan, tersusun berdasarkan nomor di daftar, dengan label di setiap sekatnya. Ia juga sudah mengetik surat permohonan keterangan beda nama, yang tinggal kami bawa ke kelurahan besok, dan ia sudah menulis jadwal kecil di papan tulis dapur, hari apa kami harus ke kelurahan, hari apa kami menunggu kabar dari Pakde, dan hari apa kami harus mengukur ulang batas tanah. Melihat semua itu, aku merasa ada sesuatu yang berubah di rumah ini, bukan hanya soal surat, melainkan soal cara kami bekerja. Dulu, Bapak mengerjakan semuanya sendirian, diam-diam, dan kami baru tahu setelah semuanya selesai atau setelah semuanya tertunda. Sekarang, semua orang punya bagiannya, dan semua bagian itu terlihat, di atas meja, di dinding, di papan tulis dapur.

Malam itu, sebelum tidur, aku menulis di buku catatanku sendiri, bahwa hari ini kami menemukan satu huruf yang berbeda, dan bahwa satu huruf itu mengajariku sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh siapa pun dengan kata-kata. Bahwa kesalahan kecil yang dibiarkan selama puluhan tahun bisa menjadi penghalang besar, bukan karena kesalahannya besar, melainkan karena ia dibiarkan terlalu lama tanpa dibetulkan. Aku juga menulis bahwa Bapak hari ini tampak lelah, dan bahwa aku harus lebih memperhatikan, bukan dengan cara mengambil semua pekerjaannya, melainkan dengan cara memastikan ia tidak harus mengerjakannya sendirian lagi.

Sebelum aku menutup buku itu, Nadia masuk ke kamar dengan membawa segelas air hangat dan berkata, "Besok kita ke kelurahan lagi, ya, untuk surat keterangan beda nama itu. Aku ikut, biar Bapak tidak terlalu lelah naik motor dua kali." Aku mengangguk, dan ia tersenyum, lalu keluar dengan langkah yang ringan, seperti seseorang yang baru saja menemukan tempatnya sendiri di dalam sebuah pekerjaan besar. Aku duduk sebentar di tepi tempat tidur, memandang daftar sebelas langkah itu yang kini sudah ditempel di dinding, dan aku membayangkan kotak kecil di samping nomor pertama dan kedua, yang sebentar lagi akan kami centang bersama.

Tapi ketika aku hendak mematikan lampu, telepon genggamku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan, dan isinya singkat, hanya beberapa baris, tetapi cukup untuk membuatku duduk kembali dan membaca pesan itu dua kali. Pesan itu dari Pakde Darman, dan ia menulis bahwa ada satu hal yang belum ia ceritakan tadi siang di telepon, sesuatu tentang tanah di belakang rumah, sesuatu yang menurutnya harus kami ketahui sebelum pengukuran ulang dilakukan, dan ia meminta kami datang ke rumahnya akhir pekan ini, supaya ia bisa menjelaskannya langsung, tidak lewat telepon.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!