β€Ή
98. Daftar yang Lebih Panjang dari Dugaan

Daftar yang Lebih Panjang dari Dugaan

Pundak Pertama β€’ 1,463 kata

Ilustrasi Daftar yang Lebih Panjang dari Dugaan

Pagi itu aku bangun sebelum alarm berbunyi, seperti seseorang yang sudah berjanji pada dirinya sendiri semalam dan tidak mau mengingkarinya begitu mata terbuka. Tas kain cokelat itu sudah berdiri di dekat pintu sejak semalam, buku catatan Nadia dan pulpen sudah ada di dalamnya, dan tiga pertanyaan kecil yang kutulis semalam masih terbaca jelas di halaman pertama, tintanya sedikit belepotan di ujung karena tanganku menulis sambil mengantuk. Surat keterangan ahli waris, fotokopi yang diperlukan, urutan langkah yang harus ditempuh. Tiga pertanyaan sederhana yang semalam terasa cukup, tapi pagi ini, entah kenapa, terasa seperti tiga anak tangga pertama dari sebuah tangga yang belum kelihatan ujungnya.

Di dapur, Ibu sudah menyeduh teh dan menggoreng tempe, seperti biasa, tapi pagi ini ia menambahkan sebutir telur rebus di piring Bapak, tanpa penjelasan, seperti seseorang yang tahu bahwa hari ini Bapak akan butuh tenaga lebih. Bapak duduk di kursi dekat jendela, memakai kemeja lengan panjang yang sama seperti kunjungan pertama kami, kemeja yang ia simpan untuk urusan resmi, dan menyisir rambutnya dengan rapi di depan cermin kecil yang digantung di dinding dapur. Ia tampak tenang, tapi aku melihat ia memeriksa tas kain itu dua kali, membuka dan menutupnya, memastikan map plastik dan buku catatan sudah ada di dalam, seolah ia takut ada yang tertinggal di saat yang paling tidak tepat.

Nadia keluar dari kamar belakang dengan membawa botol air minum dan selembar kertas yang sudah ia tulis semalam. "Ini daftar yang kemarin kita tulis di meja makan," katanya sambil menyelipkan kertas itu ke dalam buku catatan. "Biar tidak ada yang terlewat saat Pak Arman menjelaskan." Ia menatapku sebentar, lalu menambahkan dengan suara pelan, "Ceritakan semuanya nanti ya, Gas. Jangan ada yang disimpan sendiri." Aku mengangguk, dan entah kenapa kalimat itu terasa lebih berat pagi ini daripada kemarin, mungkin karena hari ini kami benar-benar akan menerima jawabannya, bukan lagi sekadar membicarakannya di antara kami sendiri.

Kami berangkat naik motor, seperti kemarin, dengan Bapak dibonceng di belakang. Jalanan masih basah sisa hujan semalam, dan udara pagi terasa dingin di lengan. Bapak memegang pinggangku dengan ringan, sama seperti kemarin, tidak erat, seolah ia tidak mau membebaniku, padahal aku tahu ia hanya menjaga keseimbangannya. Sesekali ia menunjuk ke arah gang yang kami lewati dan bercerita pendek, bahwa dulu gang itu masih tanah, bahwa dulu ia sering berjalan kaki ke tempat yang sama, dan aku mendengarkan sambil mengangguk, karena aku tahu cerita-cerita itu adalah caranya menenangkan dirinya sendiri sebelum menghadapi urusan resmi.

Kantor kelurahan itu tampak sama seperti kemarin, dengan papan nama yang catnya sudah memudar dan deretan kursi plastik di ruang tunggu, tapi pagi ini suasananya terasa berbeda bagiku. Kemarin kami datang sebagai orang yang baru bertanya-tanya. Hari ini kami datang sebagai orang yang sudah memutuskan untuk memulai, dan keputusan itu membuat setiap langkah di halaman parkir terasa lebih pasti, sekaligus lebih berat. Bapak menyapa satpam yang berjaga dengan anggukan, lalu kami masuk dan langsung menuju meja bagian pertanahan, tempat Pak Arman sudah duduk dengan tumpukan berkas di depannya.

Pak Arman menyambut kami dengan senyum yang sama ramahnya seperti kemarin. "Wah, pagi-pagi sudah datang, Pak," katanya sambil mempersilakan kami duduk. "Berarti kemarin pulang langsung dibahas di rumah, ya?" Bapak tertawa kecil dan menjawab, "Iya, Pak. Kami sudah sepakat, mau dibereskan. Makanya hari ini saya minta daftarnya yang tertulis, supaya kami bisa mengerjakannya satu per satu di rumah." Pak Arman mengangguk, lalu membuka sebuah laci dan mengeluarkan selembar formulir kosong dan sebuah buku catatan tebal yang sampulnya sudah lusuh.

"Inilah gunanya datang berdua, Pak," kata Pak Arman sambil menatapku. "Biar anaknya juga dengar langsung, tidak cuma dengar cerita dari Bapaknya di rumah." Ia kemudian mulai menjelaskan, pelan-pelan, sambil menulis, dan aku membuka buku catatan Nadia, bersiap mencatat setiap kata yang ia ucapkan. Pada awalnya, daftar itu terdengar seperti yang sudah kami duga. Surat keterangan ahli waris dari kelurahan, fotokopi Kartu Tanda Penduduk semua ahli waris, fotokopi Kartu Keluarga, dan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang tahun terakhir yang sudah lunas.

Tapi Pak Arman tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan, masih dengan suara yang tenang, seolah ia sedang membacakan daftar belanjaan biasa, padahal setiap butir yang ia sebutkan terasa seperti satu anak tangga lagi yang muncul di hadapanku. Surat kematian almarhum kakekku, yang harus dicari salinannya di arsip kelurahan, karena yang kami punya di rumah hanya fotokopi lama yang sudah menguning. Surat pernyataan persetujuan dari semua ahli waris, yang harus ditandatangani di atas materai dan diketahui oleh kepala desa atau lurah. Fotokopi sertifikat dan Akta Jual Beli lama, masing-masing rangkap tiga, yang harus dilegalisasi. Dan yang paling membuatku menelan ludah, pengukuran ulang batas tanah, karena patok di sebelah kiri sudah bergeser setelah rumah Pak RT direnovasi tahun lalu, dan selokan kecil di sebelah kanan sudah ditutup dengan beton oleh tetangga.

Aku menulis semuanya dengan tangan yang mulai terasa pegal, halaman demi halaman, sampai buku catatan Nadia terisi tiga halaman penuh, dan aku masih belum selesai. Bapak di sampingku mendengarkan dengan diam, sesekali mengangguk, sesekali menatap ke arah jendela, dan aku tidak tahu apakah ia sedang menghitung biaya di kepalanya atau sedang menghitung berapa kali lagi ia harus datang ke tempat ini. Pak Arman menyadari keheningan itu dan tersenyum menenangkan. "Jangan kaget, Pak," katanya. "Memang daftarnya panjang kalau ditulis semuanya. Tapi bukan berarti harus dikerjakan sekaligus. Satu per satu saja, seperti makan, sesuap demi sesuap. Yang penting ada daftarnya, jadi tidak ada yang terlupa."

Ia kemudian menyerahkan selembar kertas kepada Bapak, daftar itu sudah ia tulis dengan rapi, dalam huruf cetak yang mudah dibaca, dengan nomor urut dari satu sampai sebelas. Sebelas langkah. Aku membacanya sekali, lalu membacanya lagi, dan untuk pertama kalinya sejak keputusan di meja makan kemarin, aku benar-benar merasakan beratnya pekerjaan ini. Bukan berat yang membuatku ingin menyerah, melainkan berat yang membuatku sadar bahwa janji semalam, bahwa kami akan mengerjakannya satu per satu, ternyata jauh lebih besar dari yang kubayangkan.

Di perjalanan pulang, Bapak memegang daftar itu di pangkuannya, dilipat dengan rapi, seperti memegang sesuatu yang berharga sekaligus menakutkan. Ia tidak banyak bicara, sama seperti kemarin, dan aku tidak memaksanya. Aku hanya mengendarai motor pelan-pelan, membiarkan udara pagi menyentuh wajah kami, dan memikirkan sebelas langkah itu, satu per satu, sambil mencoba membayangkan dari mana kami harus memulai. Sesampainya di rumah, Ibu dan Nadia sudah menunggu di teras, dan Bapak meletakkan daftar itu di atas meja makan, di tempat yang sama seperti map sertifikat kemarin.

Nadia membacanya dengan saksama, bibirnya bergerak pelan mengikuti setiap baris, lalu ia menatapku dan berkata, "Banyak, ya." Aku mengangguk, tidak menyangkal, karena memang banyak, dan tidak ada gunanya berpura-pura bahwa ini pekerjaan kecil. Tapi kemudian Nadia menambahkan, dengan suara yang sama tenangnya seperti Pak Arman tadi, "Tapi sekarang jelas. Dulu kita tidak tahu harus mulai dari mana. Sekarang kita tahu, ada sebelas langkah, dan kita bisa mencoretnya satu per satu." Ia mengambil pulpen dan menggambar sebuah kotak kecil di samping setiap nomor, kotak yang bisa kami centang nanti, satu per satu, setiap kali satu langkah selesai.

Sore harinya, setelah makan siang, aku duduk di teras belakang bersama Bapak, memandang daftar itu yang kini sudah ditempel Nadia di dinding dekat meja makan, dengan selotip di keempat sudutnya, supaya semua orang di rumah bisa melihatnya. Bapak memandang daftar itu lama, lalu berkata, "Bapak kira dulu cuma tiga empat surat, Gas. Ternyata sebelas." Ia tertawa kecil, tawa orang tua yang tidak sedang mengeluh, melainkan sedang mengakui bahwa dugaannya salah, dan itu tidak apa-apa. "Tapi bagus, sekarang tertulis. Bapak tidak perlu mengingat semuanya di kepala lagi."

Aku mengangguk, dan untuk pertama kalinya hari itu aku merasa sedikit lega. Daftar itu memang panjang, tapi ia tertulis, ia ada di dinding, dan ia bisa kami kerjakan bersama. Aku menulis di buku catatanku sendiri malam itu, bahwa langkah pertama sudah selesai, bahwa kami sudah punya daftarnya, dan bahwa sebelas langkah itu tidak akan kami kerjakan sekaligus, melainkan satu per satu, seperti yang dikatakan Pak Arman, sesuap demi sesuap. Aku juga menulis bahwa mulai besok, kami akan memulai dari yang paling mudah, yaitu mengumpulkan fotokopi dan memeriksa surat kematian kakek, karena itu bisa kami kerjakan di rumah, tanpa harus datang ke mana-mana.

Tapi sebelum aku menutup buku itu, aku teringat satu hal yang dikatakan Pak Arman sesaat sebelum kami pulang, ketika ia sedang merapikan berkas-berkas di mejanya dan berkata dengan nada yang hampir seperti gumaman, "Oh iya, Mas. Nanti kalau sudah sampai di rumah, coba cocokkan dulu nama di surat kematian kakekmu dengan nama di sertifikat. Kadang, nama lama itu ejaannya suka berbeda satu dua huruf. Kalau berbeda, itu harus dibetulkan dulu, sebelum yang lain." Ia mengatakannya dengan santai, seolah itu hanya catatan kecil, tapi malam itu kalimat itu terus terngiang di telingaku, seperti sebuah pintu kecil yang belum dibuka, dan aku tidak tahu apa yang ada di baliknya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!