Memikul Bersama, Bukan Sendirian
Pundak Pertama β’ 1,561 kata
Pagi itu aku bangun dengan pesan Pakde Darman semalam yang masih terngiang di telingaku, tentang sesuatu yang belum ia ceritakan mengenai tanah di belakang rumah, sesuatu yang harus kami ketahui sebelum pengukuran ulang dilakukan. Pesan itu singkat, tetapi ia cukup membuatku terjaga lebih lama semalam, memikirkan segala kemungkinan, dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, dan pagi ini aku memutuskan untuk tidak membiarkan pikiran itu berputar sendirian di kepalaku. Saat sarapan, aku menunjukkan pesan itu kepada Bapak dan Nadia, membacakannya dengan suara pelan, supaya kami bertiga memikirkannya bersama, bukan aku seorang diri.
Bapak membaca pesan itu sekali, lalu membacanya lagi, dan ia mengangguk pelan, seperti seseorang yang sudah menduga bahwa akan ada satu hal lagi yang muncul di tengah jalan. "Tidak apa-apa," katanya. "Memang begitu kalau mengurus tanah lama. Selalu ada satu hal yang baru ketahuan di tengah jalan. Yang penting kita datang, kita dengarkan, baru kita putuskan." Ia mengatakannya dengan tenang, dan aku melihat bahwa ketenangan itu bukan lagi ketenangan orang yang menahan beban sendirian, melainkan ketenangan orang yang tahu bahwa ia tidak sendirian lagi, karena pagi ini Nadia sudah menyiapkan map baru, Ibu sudah menyiapkan bekal, dan aku sudah menyiapkan motor.
Tapi sebelum kami berangkat ke rumah Pakde, kami harus menyelesaikan satu urusan yang sudah terjadwal hari ini, yaitu membawa surat permohonan keterangan beda nama ke kelurahan. Kali ini Nadia ikut, seperti yang ia janjikan semalam, dan Bapak duduk di belakang motor dengan lebih santai, karena ia tidak perlu lagi memegang tas kain itu sendirian, Nadia yang membawanya di pangkuannya, dengan map berisi surat-surat yang sudah ia susun rapi semalam. Di kantor kelurahan, Pak Arman menyambut kami dengan senyum, membaca surat permohonan itu, lalu mengangguk dan berkata bahwa surat keterangan seperti itu memang sering ia buat, dan bahwa kami hanya perlu menunggu beberapa hari, sambil melengkapi fotokopi surat kematian dan sertifikat sebagai lampirannya.
"Lihat, Mas," kata Pak Arman sambil menatapku dan Nadia bergantian. "Kalau datang berdua atau bertiga seperti ini, urusan jadi lebih cepat. Yang satu bertanya, yang satu mencatat, yang satu menyiapkan berkasnya. Dulu Bapakmu datang sendiri, semuanya ia pikul sendiri. Sekarang sudah ada yang membantu, jadi bebannya terbagi." Kalimat itu sederhana, tapi ia membuatku menatap Nadia sejenak, dan Nadia tersenyum kecil, senyum orang yang baru saja mendengar pekerjaannya diakui oleh orang lain, bukan hanya oleh suaminya sendiri di rumah.
Siang itu, setelah pulang dari kelurahan, kami bersiap untuk pergi ke rumah Pakde Darman. Perjalanan ke kota sebelah memakan waktu hampir satu jam, melewati jalan raya yang ramai dan gang-gang kecil yang sudah mulai kukenal dari cerita Bapak, tentang masa kecilnya yang ia habiskan di rumah itu, bersama adik-adiknya, sebelum ia menikah dan pindah ke rumah kami sekarang. Bapak duduk di belakangku, sama seperti biasa, tapi kali ini ia lebih banyak bercerita, tentang Pakde yang dulu sering membantunya memperbaiki atap, tentang tanah di belakang rumah yang dulu pernah ditanami singkong oleh kakek, dan tentang bagaimana kakek dulu selalu berkata bahwa tanah itu harus dijaga, bukan karena nilainya, melainkan karena ia adalah tempat keluarga itu berkumpul.
Sesampainya di rumah Pakde, kami disambut dengan hangat, dengan teh manis dan pisang goreng yang sudah disiapkan di atas meja, seperti sambutan keluarga yang sudah lama tidak bertemu, bukan seperti pertemuan untuk membicarakan urusan surat. Pakde Darman, lelaki berusia enam puluhan dengan rambut yang sudah memutih di pelipisnya, duduk di hadapan kami dengan senyum yang ramah, tetapi aku bisa melihat ada sesuatu yang ia simpan di balik senyum itu, sesuatu yang ia ingin sampaikan, tetapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Bapak, yang mengenal adiknya lebih lama dari siapa pun, tidak mendesaknya. Ia hanya menyeruput tehnya dan berkata, "Ceritakan saja, Darman. Pelan-pelan saja. Kami datang untuk mendengarkan, bukan untuk menuntut."
Pakde menarik napas panjang, lalu bercerita bahwa tanah di belakang rumah kami, bagian yang berbatasan dengan selokan kecil itu, dulu pernah dijanjikan oleh kakek kepada seorang tetangga lama, bukan dijual, bukan diberikan secara resmi, melainkan dijanjikan secara lisan, sebagai tempat untuk menaruh barang-barang, karena tetangga itu tidak punya halaman yang cukup luas. Janji itu tidak pernah ditulis, tidak pernah masuk ke dalam surat apa pun, tetapi tetangga itu masih mengingatnya, dan keluarganya masih menganggap bahwa bagian tanah itu boleh mereka gunakan, meskipun secara surat ia tetap milik keluarga kami. "Aku baru ingat kemarin, waktu Bapakmu menelepon," kata Pakde. "Kalau pengukuran ulang nanti dilakukan tanpa memberitahu mereka, bisa jadi salah paham. Lebih baik kita datang bersama-sama, kita jelaskan baik-baik, supaya tidak ada yang merasa dirugikan."
Mendengar cerita itu, aku sempat terdiam, bukan karena marah, melainkan karena aku baru memahami betapa banyaknya hal-hal tak tertulis yang tersimpan di dalam sebuah rumah tua. Ada janji lisan yang tidak tercatat di mana pun, ada kesepakatan lama yang hanya diingat oleh orang-orang yang sudah menua, dan semua itu kini menjadi bagian dari pekerjaan kami, bukan karena kami yang membuatnya, melainkan karena kami yang sekarang bertanggung jawab untuk membereskannya dengan cara yang baik. Bapak mengangguk dan berkata bahwa ia setuju, bahwa kami akan datang bersama-sama ke tetangga itu, menjelaskan maksud pengukuran ulang, dan memastikan tidak ada yang merasa dirugikan, karena yang kami inginkan bukan menang atas siapa pun, melainkan merapikan surat tanpa merusak hubungan dengan siapa pun.
Di perjalanan pulang, sore itu, Bapak tampak lebih lelah dari biasanya. Ia tidak banyak bercerita seperti tadi pagi, ia hanya duduk di belakangku dengan diam, dan sekali atau dua kali aku merasakan genggamannya di pinggangku mengendur, seolah ia hampir tertidur di atas motor. Aku memperlambat laju motor dan berhenti sebentar di sebuah warung di pinggir jalan, membelikannya air minum dan membiarkannya duduk beristirahat, sementara aku menelepon Nadia untuk memberitahu bahwa kami akan pulang sedikit terlambat. Bapak tersenyum dan berkata, "Bapak tidak apa-apa, Gas. Hanya sedikit lelah saja. Umur memang tidak bisa dibohongi." Ia mengatakannya dengan ringan, tetapi aku mendengarnya dengan jelas, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan bahwa Bapak memang sudah menua, dan bahwa tugas memikul ini, sedikit demi sedikit, memang sedang berpindah ke pundakku, bukan karena Bapak menyerah, melainkan karena itulah yang seharusnya terjadi.
Sesampainya di rumah, Nadia sudah menunggu di teras, dan ia langsung menyiapkan air hangat untuk Bapak, tanpa banyak bertanya, seolah ia sudah tahu dari suaraku di telepon bahwa Bapak butuh istirahat. Malam itu, kami tidak membahas surat-surat itu lebih jauh. Kami makan malam bersama, dengan lauk yang sederhana, dan membicarakan hal-hal biasa, tentang pesanan jahitan Nadia, tentang tanaman Bapak yang mulai berbunga, dan tentang rencana membersihkan gudang akhir pekan nanti. Aku menyadari, hari-hari seperti inilah yang membuat pekerjaan besar itu terasa ringan, bukan karena pekerjaannya menjadi kecil, melainkan karena di antara langkah-langkah yang berat, selalu ada malam-malam yang biasa saja, di mana kami bisa duduk bersama dan beristirahat tanpa merasa bersalah.
Sebelum tidur, aku berdiri sebentar di depan daftar sebelas langkah itu, yang kini sudah ditempel Nadia di dinding dekat meja makan, dan aku melihat dua kotak kecil yang sudah ia centang dengan pulpen merah, langkah pertama dan kedua, kunjungan pertama dan daftar tertulis. Kotak-kotak yang lain masih kosong, menunggu gilirannya, tetapi kini mereka tidak lagi terasa menakutkan seperti kemarin, karena di samping daftar itu Nadia sudah menempelkan jadwal kecil, dengan nama di setiap langkahnya, siapa yang mengerjakan apa, dan kapan. Ada namaku, ada nama Nadia, ada nama Bapak, dan bahkan ada nama Ibu di satu langkah, memeriksa lembar PBB, dan aku merasa daftar itu kini bukan lagi daftar Bapak seorang diri, melainkan daftar keluarga, yang setiap barisnya sudah ada yang bertanggung jawab.
Aku menulis di buku catatanku sendiri malam itu, bahwa hari ini kami belajar tiga hal sekaligus. Pertama, bahwa surat keterangan beda nama itu bisa diurus, dan bahwa datang bertiga memang lebih cepat daripada datang sendirian. Kedua, bahwa ada janji lama yang tidak tertulis di atas tanah kami, dan bahwa cara terbaik menghadapinya bukanlah dengan bersikeras, melainkan dengan datang bersama dan menjelaskannya baik-baik. Ketiga, dan yang paling penting, bahwa Bapak sudah mulai lelah, dan bahwa aku harus mulai memikul lebih banyak, bukan dengan mengambil semua pekerjaannya, melainkan dengan memastikan ia tidak pernah lagi mengerjakan apa pun sendirian, seperti dulu.
Sebelum aku menutup buku itu, aku mendengar suara langkah kaki di ruang tengah, dan ketika aku keluar, aku melihat Bapak sedang berdiri di depan daftar itu, memandang kotak-kotak yang sudah dicentang itu dengan senyum yang tenang. Ia menoleh ke arahku dan berkata, "Ternyata kalau dikerjakan bersama, sebelas langkah itu tidak terasa sebanyak yang Bapak kira, ya, Gas." Aku mengangguk, dan ia menepuk pundakku sekali, lalu berjalan ke kamarnya dengan langkah yang pelan tetapi mantap. Aku tetap berdiri di sana sebentar, memandang daftar itu, dan di dalam hati aku membuat janji yang sama seperti malam-malam sebelumnya, hanya kini lebih jelas bentuknya.
Tapi ketika aku hendak mematikan lampu ruang tengah, telepon genggamku bergetar lagi. Sebuah pesan masuk, kali ini dari Pak Arman, dan isinya singkat, tetapi cukup untuk membuatku membaca pesan itu dua kali, seperti pesan Pakde semalam. Pak Arman menulis bahwa jadwal pengukuran ulang sudah bisa diatur minggu depan, dan bahwa ia sudah menyiapkan petugasnya, tetapi ada satu syarat yang harus kami penuhi dulu, yaitu bahwa kami harus membawa serta surat asli Akta Jual Beli, bukan hanya fotokopinya, karena petugas pengukuran harus melihat aslinya sebelum mengukur. Aku menatap pesan itu lama, karena aku tahu, Akta Jual Beli yang asli itu tidak ada di rumah kami, yang ada di map kami hanyalah fotokopinya, dan aku tidak tahu di mana aslinya berada, atau siapa yang terakhir kali memegangnya.