β€Ή
51. Ketukan Pelan-pelan

Ketukan Pelan-pelan

Pundak Pertama β€’ 1,676 kata

Ilustrasi Ketukan Pelan-pelan

Nenek memakai kebaya terbaiknya.

Kebaya encim biru tua dengan bordir bunga melati di dadanya β€” kebaya yang hanya ia keluarkan saat Lebaran, atau saat ada hajatan besar di kampung. Pagi ini, di subuh yang masih gelap, ia memakainya untuk perjalanan terjauh dalam hidupnya. Bude menyisir sanggulnya dengan hati-hati, memasang tusuk konde berkilau yang setiap pagi kukagumi waktu kecil. Di tas kain kecilnya, terbungkus kain batik, ada sepasang tusuk konde perak β€” miliknya dan milik Yati β€” yang semalam ia bungkus sendiri, melipatnya seperti melipat sesuatu yang tidak boleh lecet.

"Jangan dipisah lagi," katanya waktu membungkusnya. Tidak jelas ia bicara pada siapa β€” pada tusuk konde itu, atau pada dirinya sendiri.

Kami berangkat sebelum azan subuh selesai berkumandang. Bude ikut β€” ia bersikeras, dengan alasan rantang dan bekal, tapi aku tahu alasan sebenarnya: lima belas tahun ia menjadi kurir rahasia antara dua bersaudara ini, dan ia ingin melihat sendiri akhir dari tugasnya. Ibu menggandeng lengan Nenek di sisi satunya. Aku berjalan di depan, membawa tas Nenek dan kotak kayu berisi surat-surat Yati. Ya β€” aku membawa kotak itu. Biar Yati melihat sendiri: surat-suratnya disimpan, dibaca, dijaga. Tidak ada yang terbuang.

Di pangkalan angkot, sopir yang mengenalku melambaikan tangan. "Pagi-pagi, Gas. Mau ke mana rombongan?"

"Terminal, Pak."

Nenek duduk di antara Ibu dan aku di bangku angkot. Sepanjang jalan ia diam, menatap ke luar jendela β€” sawah yang masih berkabut, rumah-rumah yang lampunya satu per satu padam. Tangannya yang keriput menggenggam tas kainnya erat-erat. Aku tahu ia takut. Perempuan tujuh puluh delapan tahun, menempuh perjalanan yang tiga puluh tahun ia tunda. Tapi ketakutan itu kalah oleh sesuatu yang lebih besar β€” sesuatu yang kemarin kulihat di matanya dan pagi ini masih ada: tekad.

Di terminal, kami naik bus jurusan Sengon. Bus tua berwarna hijau β€” mungkin bus yang sama dengan yang kunaiki kemarin, atau saudaranya. Nenek duduk di dekat jendela, Ibu di sampingnya, Bude dan aku di belakang mereka. Begitu bus berjalan, Nenek memejamkan mata, bibirnya bergerak pelan β€” berdoa, atau mungkin berbicara pada dirinya sendiri.

Di tengah perjalanan, seorang ibu setengah baya di seberang lorong menatap rombongan kami β€” Nenek berkebaya, Bude menenteng rantang, wajah-wajah tegang β€” lalu bertanya dengan ramah, "Mau ke mana, Bu? Rombongan hajatan?"

Nenek membuka matanya. "Mau ketemu adik," katanya. "Sudah tiga puluh tahun tidak ketemu."

Ibu itu terdiam. Lalu matanya berkaca-kaca β€” entah kenapa, mungkin ia punya adik juga, mungkin ia mengerti. "Semoga lancar, Bu. Semoga adiknya sehat."

"Semoga," kata Nenek pelan.

Aku menatap keluar jendela. Jalan yang tiga hari lalu kutempuh sendirian dengan pertanyaan-pertanyaan, kini kutempuh beramai-ramai dengan jawaban-jawaban. Lucu bagaimana hidup bekerja: kemarin aku pergi mencari, hari ini aku mengantar yang mencari untuk pulang β€” bukan pulang ke rumah, tapi pulang ke pelukan.

Sepanjang perjalanan, pikiranku tidak bisa lepas dari telepon Bu Ratna semalam. "Yati pingsan di dapur. Sudah sadar, tapi lemas." Aku melirik Nenek yang tertidur dengan kepala bersandar di bahu Ibu. Jangan sampai kami terlambat. Jangan sampai.

Menjelang siang, bus memasuki Sengon. Jantungku berdebar semakin kencang setiap menitnya. Aku mengenali jalanan ini sekarang β€” warung di tikungan, pohon beringin besar, gang kecil menuju rumah berdinding anyaman bambu dengan foto 1974 di dinding ruang tamunya.

Bu Ratna sudah menunggu di pangkalan ojek, wajahnya cemas. Begitu melihat kami turun, ia bergegas menghampiri.

"Bu Ratna," sapaku. "Bagaimana Yati?"

"Sudah sadar, Nak. Tadi pagi cuma makan bubur sedikit. Lemas, tapi sadar." Bu Ratna menatap Nenek, lalu membungkuk dalam-dalam. "Ini... kakaknya?"

Nenek mengangguk. "Saya kakaknya."

Bu Ratna menatap Nenek lama, lalu β€” tanpa diduga β€” ia memeluk Nenek erat. "Tiga puluh tahun Yati cerita tentang kakaknya," bisiknya. "Tiap malam, Bu. Tiap malam."

Nenek memejamkan mata. "Antar kami, Bu."

Kami berjalan beriringan menyusuri gang. Langkah Nenek pelan tapi pasti. Ibu menopangnya. Bude menenteng rantang. Aku di belakang, membawa kotak kayu, jantungku berdetak di telinga.

Rumah itu tampak sama seperti tiga hari lalu β€” dinding anyaman bambu, atap seng, pot-pot bunga di teras. Tapi hari ini terasa berbeda. Hari ini rumah ini bukan tujuan pencarianku. Hari ini rumah ini adalah pintu yang akan diketuk.

Kami berhenti di depan pintu. Aku mengangkat tanganku untuk mengetuk.

"Jangan."

Nenek menahan tanganku. Ia maju selangkah, berdiri tepat di depan pintu kayu itu. Tiga puluh tahun ia menunggu di balik pintu yang lain β€” pintu rumahnya di kampung, pintu harapannya. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia berdiri di sisi yang mengetuk.

"Biar kakak yang mengetuk pintu pelan-pelan," katanya.

Dan ia mengetuk. Pelan. Tiga kali. Tok... tok... tok.

Hening. Di dalam terdengar suara gerakan pelan β€” langkah diseret, batuk kecil. Lalu pintu terbuka.

Yati berdiri di sana.

Ia lebih kecil dari yang kubayangkan β€” atau mungkin ingatanku tentangnya dari foto 1974 menipuku. Kebayanya yang pudar tergantung longgar di tubuhnya yang kurus. Wajahnya tirus, matanya cekung, tapi matanya β€” matanya masih sama seperti di foto: tajam, waspada, dan kini... tidak percaya.

Ia menatap Nenek. Nenek menatapnya.

Tiga puluh tahun runtuh dalam satu tatapan.

Tidak ada jeritan. Tidak ada pelukan dramatis seperti di sinetron. Keluarga ini tidak mengenal cara seperti itu. Yang terjadi jauh lebih sederhana, dan justru karena itu menghancurkan hatiku:

Nenek mengulurkan tangannya. Yati menatap tangan itu β€” tangan kakaknya yang dulu menggandengnya ke pasar, yang dulu mengepang rambutnya, yang tiga puluh tahun lalu mengucapkan kata-kata yang mengusirnya.

Lalu Nenek membuka bungkusan kain batiknya. Sepasang tusuk konde perak berkilau di telapak tangannya yang keriput. Ia mengambil tangan Yati β€” tangan yang gemetar hebat β€” dan meletakkan sepasang tusuk konde itu di telapaknya, lalu menutup jari-jari Yati di atasnya.

"Sepasang lagi," kata Nenek, suaranya parau. "Jangan dipisah lagi."

Yati menatap genggamannya. Air matanya jatuh satu per satu ke punggung tangannya sendiri. Ia tidak bersuara β€” hanya bahunya yang berguncang pelan.

Nenek mengangkat tangannya yang bebas, dan dengan ibu jarinya, ia menyeka air mata adiknya. Gerakan yang sama seperti lima puluh tahun lalu, waktu Yati kecil menangis karena layangannya putus.

"Seperti dulu," bisik Bude di belakangku, suaranya pecah.

"Masuk," kata Yati akhirnya, suaranya serak. "Masuk... Kak."

Kami masuk. Ruang tamu kecil itu β€” dengan foto 1974 di dindingnya β€” kini terasa penuh sesak oleh sesuatu yang tidak terlihat: tiga puluh tahun yang akhirnya menemukan jalannya pulang.

Bu Ratna menyeduh teh. Bude membongkar rantangnya β€” nasi, ayam goreng, sambal, lalapan β€” menatanya di meja seperti menyiapkan hajatan kecil. Ibu duduk di samping Yati, menggenggam tangannya tanpa melepas, seperti takut perempuan ini menghilang kalau dilepas.

Nenek duduk berhadapan dengan Yati. Lama mereka hanya saling menatap β€” menghafal ulang wajah yang tiga puluh tahun hanya ada dalam ingatan dan foto.

"Maafkan kakak," kata Nenek akhirnya.

Yati menggeleng cepat. "Kakak tidak salah." Air matanya mengalir lagi. "Aku yang malu terlalu lama. Malu itu..." Ia menatapku sekilas. "Malu itu ternyata lebih awet dari rindu, Gas. Tiga puluh tahun aku memelihara malu seperti memelihara anak β€” diberi makan tiap hari, tidak pernah kubiarkan mati."

"Yatiβ€”" Ibu mulai bicara, tapi Yati menepuk tangannya pelan.

Lalu aku maju, meletakkan kotak kayu di pangkuan Yati. "Bik," kataku, "surat-surat Bibi... semuanya dibaca. Nenek minta dibacakan satu per satu."

Yati menatap kotak itu, lalu membukanya dengan tangan gemetar. Ia menyentuh tumpukan surat berikat rafia β€” surat-suratnya sendiri, yang ditulisnya dalam sepi Sengon selama puluhan tahun. "Dibaca semua?" bisiknya.

"Semua, Bik," kataku. "Sampai yang terakhir. Yang tentang Bagas."

Yati menatapku lama. Lalu ia tersenyum β€” senyum tipis yang membuat wajah tuanya tiba-tiba mirip foto 1974. "Kau anak yang baik, Gas. Slamet pasti bangga."

Ia meraih ke bawah bantal kursi tempatnya duduk β€” gerakan yang sudah dihafalnya β€” dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah lemas dan menguning. Amplop itu usang, tepinya mengelupas, seperti sudah terlalu lama menunggu di tempat persembunyiannya.

"Ini," katanya, menyerahkannya padaku, "untuk ayahmu."

Aku menerimanya dengan kedua tangan. Di depannya tertulis, dengan tulisan tangan yang sama goyahnya seperti surat untuk Ibu: "Untuk Slamet."

"Tapi..." suaraku tercekat. "Ayah sudah tidak ada, Bik Yati."

"Aku tahu." Yati menggenggam tanganku. Tangannya kecil, dingin, tapi genggamannya kuat β€” seperti Nenek. "Makanya aku titip padamu. Kau yang paling mirip dia." Ia menatapku dalam-dalam. "Bukan wajahnya, Gas. Caranya memikul."

Dadaku sesak. Aku memasukkan amplop itu ke saku dalam jaketku β€” ke tempat yang sama dengan amplop "Untuk Minah" kemarin. Saku ini, rupanya, ditakdirkan menjadi tempat surat-surat yang menunggu tiga puluh tahun.

Waktu berjalan tanpa terasa. Di luar, matahari mulai condong ke barat. Bu Ratna berbisik padaku bahwa Yati harus istirahat β€” ia masih lemah, dan orang puskesmas bilang tidak boleh terlalu lelah. Nenek pun terlihat pucat; perjalanan jauh menguras tenaganya.

Kami harus pulang sebelum gelap. Perpisahan kedua β€” setelah pertemuan yang menunggu tiga puluh tahun β€” terasa kejam. Tapi Yati tersenyum, menggenggam tangan Nenek.

"Kak," katanya, "beri aku waktu sampai kuat. Nanti aku yang datang ke kampung." Ia menatap pintu rumahnya, lalu menatap Nenek. "Tiga puluh tahun aku pergi tanpa mengetuk. Biar pulangnya aku mengetuk β€” pelan-pelan, seperti kakak tadi."

Nenek mengangguk, air matanya jatuh lagi. "Kakak tunggu. Kali ini kakak yang membukakan pintu."

Di ambang pintu, Yati memelukku. Tubuhnya ringan seperti burung. "Tiap bulan ke sini, Gas. Janji?"

"Janji, Bik."

"Titip kakakku," bisiknya. "Dia keras kepala, tapi hatinya tipis."

"Sama seperti bibinya," kataku, dan Yati tertawa kecil β€” tawa pertama yang kudengar darinya, renyah seperti kaca kecil beradu.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Nenek tertidur di bahu Ibu, wajahnya damai seperti bayi β€” untuk pertama kalinya kulihat ia tidur tanpa mengerutkan kening. Bude menatap ke luar jendela sambil tersenyum-senyum sendiri. Ibu mengelus rambut Nenek pelan-pelan, seperti mengelus anaknya.

Dan aku β€” aku duduk dengan amplop "Untuk Slamet" di saku dalam jaketku.

Amplop itu terasa berat. Lebih berat dari kotak kayu kemarin. Karena kotak kayu berisi surat-surat untuk orang hidup β€” dan amplop ini berisi surat untuk orang yang sudah mati.

Aku menatap langit senja yang berubah ungu di luar jendela bus, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, aku merasa takut membuka sebuah amplop.

Bukan takut isinya. Takut air mataku sendiri.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!