Yang Disimpan Ibu
Pundak Pertama β’ 1,444 kata
Kalimat itu tidak keras, tapi ia mengubah seluruh perjalanan pulang kami.
"Nanti di rumah, Ibu mau bicara dengan kalian berdua. Bukan soal Ayah. Soal Ibu sendiri. Ada yang selama ini Ibu simpan, dan Ibu rasa sekarang waktunya kalian tahu."
Ibu mengatakannya di parkiran rumah sakit, pelan, sambil tangannya masih memegang gagang pintu mobil. Ayah sudah duduk di kursi belakang, mengatur napasnya setelah berjalan dari ruang dokter ke tempat parkir. Nadia menoleh ke arahku, dan aku tahu kami memikirkan hal yang sama. Selama berminggu-minggu, semua percakapan kami berputar pada satu poros yang sama: Ayah. Berapa langkahnya hari ini. Apakah kakinya berat. Apakah ia pusing setelah latihan. Apakah obatnya sudah diminum tepat waktu. Kami menghitung, mencatat, mengkhawatirkan, dan merencanakan, sampai kami lupa menanyakan satu hal yang paling sederhana kepada orang yang paling lama berdiri di samping Ayah: bagaimana perasaan Ibu sendiri.
Di dalam mobil, tidak ada yang langsung membahas kalimat itu. Nadia menyetir dengan hati-hati, seperti orang yang takut membangunkan seseorang yang baru tertidur. Aku duduk di depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Ayah nyaman. Ayah memejamkan mata, bukan tidur, hanya menghemat tenaga. Ibu duduk di sampingnya, menatap keluar jendela, diam. Sesekali tangannya merapikan selimut tipis di pangkuan Ayah tanpa diminta, gerakan yang sudah menjadi kebiasaan, gerakan yang bahkan tidak lagi ia sadari sebagai perhatian. Aku memperhatikan gerakan itu dan tiba-tiba merasa bersalah. Betapa mudahnya kami menganggap semua yang dilakukan Ibu sebagai sesuatu yang memang begitu saja ada, seperti air di dapur yang selalu mengalir ketika keran dibuka.
Perjalanan dari rumah sakit ke rumah di Cirebon itu tidak jauh, tetapi terasa panjang karena keheningan yang kami bawa. Nadia sesekali melirikku, seolah bertanya apakah aku sudah punya tebakan tentang apa yang akan dikatakan Ibu. Aku menggeleng pelan, sangat pelan, agar Ayah tidak melihat. Sejujurnya, aku tidak punya tebakan. Justru itu yang membuatku gelisah. Selama ini aku mengira aku cukup dekat dengan keluarga ini, cukup peka untuk membaca kelelahan orang-orang di sekitar Ayah. Ternyata ada satu kelelahan yang sama sekali tidak kubaca, karena ia tidak pernah ditunjukkan dalam bentuk keluhan.
Sesampainya di rumah, rutinitas sore berjalan seperti biasa, dan justru kebiasaan itulah yang membuat suasana terasa ganjil. Ayah dibantu masuk, duduk di kursi favoritnya, diberi air hangat. Ibu langsung ke dapur, menyalakan kompor, menyiapkan makan malam seolah tidak ada kalimat besar yang tadi ia ucapkan di parkiran. Nadia membantu memotong sayur, aku membereskan tas obat dan catatan dokter di meja. Semua orang bergerak pada tempatnya masing-masing, rapi, saling mengerti, dan aku baru sadar betapa rapi itu dibangun oleh tangan Ibu selama puluhan tahun. Rumah ini berjalan karena ia yang menjaga ritmenya, bukan karena kami yang sesekali datang membantu.
Baru setelah Ayah beristirahat di kamar dan makan malam selesai, Ibu meminta kami duduk di ruang tengah. Bukan dengan nada memerintah. Ia hanya berkata, "Duduk dulu, Nak. Sebentar saja," sambil menuang teh untuk kami bertiga. Tangannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang akan membuka sesuatu yang lama disimpan. Nadia menggenggam cangkirnya dengan kedua tangan, seperti menahan sesuatu agar tidak jatuh. Aku duduk tegak, berusaha tidak terlihat tegang, padahal dadaku sudah terasa sesak sejak di parkiran.
Ibu memulai bukan dengan permintaan, melainkan dengan pengakuan. Ia bilang, ia lelah. Bukan lelah satu hari yang bisa hilang dengan tidur semalam. Lelah yang menumpuk pelan-pelan, seperti debu di atas lemari yang tidak terlihat sampai seseorang naik dan menyentuhnya. Selama Ayah sakit dan menjalani pemulihan, ia bangun lebih pagi, tidur lebih larut, mendengarkan setiap bunyi langkah Ayah di malam hari, dan belajar membedakan mana batuk biasa dan mana batuk yang perlu dikhawatirkan. Ia melakukannya dengan ikhlas, katanya, dan ia tidak menyesal. Tetapi ada malam-malam ketika ia duduk sendiri di dapur setelah semua orang tidur, menatap kompor yang sudah dingin, dan menangis tanpa suara karena ia merasa tidak boleh lelah. Ia merasa, kalau ia mengaku lelah, maka ia mengkhianati suaminya sendiri.
Di bagian itu, suara Ibu berhenti sebentar. Nadia menunduk. Aku menahan napas. Ibu melanjutkan dengan jujur yang membuatku malu sebagai menantu yang merasa sudah cukup membantu. Pernah, katanya, pada minggu-minggu paling berat ketika Ayah belum bisa berjalan jauh dan hampir semua hal harus dibantu, ia sempat berpikir, di dalam hati saja, "Sampai kapan Ibu kuat?" Pikiran itu datang sekali, lalu ia merasa sangat bersalah karena memikirkannya. Ia berdoa minta ampun, lalu keesokan paginya bangun seperti biasa, memasak, mendampingi, tersenyum. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bertanya. Dan karena tidak ada yang bertanya, pikiran itu tinggal bersamanya sendirian, semakin lama semakin berat, bukan karena pikirannya buruk, melainkan karena ia tidak punya tempat untuk meletakkannya.
Aku ingin menyela, ingin berkata bahwa kami ada, bahwa kami bisa membantu lebih banyak, tetapi Nadia menyentuh lenganku pelan di bawah meja. Isyarat itu jelas: dengarkan dulu sampai selesai. Jangan buru-buru memperbaiki sesuatu yang baru saja berani diucapkan. Aku mengangguk kecil dan kembali mendengarkan, dan justru karena aku tidak menyela, Ibu berani melanjutkan ke bagian yang selama ini paling ia simpan.
Ternyata, di balik kelelahannya, ada satu keinginan yang tertunda puluhan tahun. Sebelum menikah dengan Ayah, Ibu pandai menjahit. Bukan sekadar bisa, tetapi benar-benar senang. Ia pernah membantu penjahit di dekat rumahnya, belajar membuat pola, mengukur, memotong kain dengan hati-hati, dan melihat selembar kain berubah menjadi baju yang dipakai orang dengan bangga. Ketika ia menikah dan kemudian Nadia lahir, mesin jahit itu semakin jarang dipakai. Bukan karena dilarang, bukan karena Ayah melarang. Hidup saja yang berjalan ke arah lain: anak, rumah, dapur, sekolah, sakit, sembuh, sakit lagi. Mesin jahit tua itu akhirnya disimpan di kamar belakang, ditutupi kain, dan pola-pola bajunya dimasukkan ke dalam map plastik yang sudah menguning di pinggirnya.
Ibu tidak bercerita dengan nada menyesali hidupnya. Ia justru menegaskan, berkali-kali, bahwa ia tidak menyesal menikah, tidak menyesal membesarkan Nadia, tidak menyesal mendampingi Ayah. Yang ia sesali, kalau boleh disebut sesal, adalah ia membiarkan satu bagian dirinya tertinggal begitu lama sampai ia sendiri hampir lupa bahwa bagian itu pernah ada. Diam-diam, dari uang belanja yang ia sisihkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun, ia menyimpan tabungan kecil di dalam kaleng biskuit di lemari dapur. Bukan untuk keadaan darurat. Bukan untuk hadiah siapa-siapa. Tabungan itu ia simpan untuk memperbaiki mesin jahitnya suatu hari nanti, kalau ia sudah berani berkata bahwa ia masih ingin menjahit, bukan hanya untuk menambal baju yang robek, tetapi untuk dirinya sendiri.
Nadia menutup mulutnya dengan tangan. Aku melihat matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih saja, tetapi karena kaget. Selama ini Nadia mengenal ibunya sebagai Ibu, sebagai istri Ayah, sebagai penjaga rumah. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami mendengar Ibu berbicara sebagai dirinya sendiri, seorang perempuan yang punya nama, punya masa lalu, punya kelelahan, dan punya keinginan yang tidak ada hubungannya dengan jadwal obat atau latihan jalan.
Ibu lalu berkata, dengan suara yang lebih ringan tetapi tetap sungguh-sungguh, bahwa ia tidak meminta kami membatalkan apa pun. Ia tidak meminta Nadia berhenti pulang bertahap. Ia tidak meminta Ayah berhenti berlatih. Ia hanya meminta satu hal kecil: satu sore dalam seminggu, mungkin hari Rabu, untuk dirinya sendiri. Sore ketika ia boleh pergi ke tukang servis mesin jahit, atau duduk di kamar belakang membuka pola-pola lamanya, tanpa merasa bersalah karena meninggalkan dapur sebentar. Ia tidak ingin pergi jauh. Ia tidak ingin berhenti mendampingi Ayah. Ia hanya ingin tetap menjadi dirinya sendiri sambil tetap menjadi istri dan ibu.
Ruang tengah menjadi hening setelah kalimat itu. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh. Nadia menatap ibunya lama, seperti sedang melihat seseorang yang baru dikenalnya kembali. Aku menatap cangkir tehku yang sudah dingin, dan aku sadar satu hal yang memalukan: selama ini kami mengatur hidup Ibu sebagai bagian dari rencana pemulihan Ayah, bukan sebagai hidupnya sendiri. Kami menempatkannya di jadwal latihan pagi, di daftar pendamping, di catatan dinding dapur, tanpa pernah menulis satu baris pun tentang dirinya.
Ibu kemudian berdiri, berjalan ke kamar belakang, dan kembali dengan sebuah map plastik yang sudah kusam. Ia meletakkannya di atas meja, di antara cangkir-cangkir teh kami, dan membukanya perlahan. Di dalamnya ada pola-pola kertas yang sudah menguning, garis-garis pensil yang masih rapi, dan satu potong kain kecil berwarna biru muda yang belum sempat menjadi apa-apa. Ibu menyentuh kain itu dengan ujung jarinya, seperti menyentuh sesuatu yang masih hidup, lalu menatap kami berdua dan berkata pelan, "Besok, Ibu mau bilang sendiri ke Ayah. Tapi malam ini, Ibu minta satu hal dulu dari kalian. Jangan dulu mengatur sore Rabu Ibu. Dengarkan dulu, ya?"
Nadia mengangguk, air matanya jatuh tanpa ia seka. Aku mengangguk juga, dan di dalam hati aku tahu, percakapan malam itu belum selesai. Besok, ketika Ibu bicara kepada Ayah, dan ketika kami harus menata ulang jadwal pendampingan sebulan ke depan, semua yang selama ini kami anggap sudah rapi akan diuji. Bukan karena Ibu meminta banyak, tetapi karena untuk pertama kalinya, ia meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.