Tiga Puluh Hari
Pundak Pertama β’ 1,484 kata
Tiga puluh hari.
Aku mengulang angka itu dalam kepala sambil menatap langit-langit kamar asrama yang gelap. Tiga puluh hari untuk tiga juta rupiah. Tiga puluh hari untuk sebuah gelang warisan nenek yang bahkan belum pernah kulihat dengan mataku sendiri. Tiga puluh hari β dan aku tidak punya apa-apa selain dua tangan, satu mesin las, dan utang dua setengah juta yang belum lunas.
Jam Bapak di pergelanganku berdetak. Tik, tik, tik. Dulu detaknya menenangkan, seperti jantung kedua yang mengingatkanku bahwa Bapak selalu bersamaku. Malam ini detaknya terdengar seperti palu yang menghitung mundur.
Aku duduk dan menyalakan lampu meja. Dari laci kuambil buku catatan kecil β buku yang biasa kupakai mencatat rumus pengelasan dan posisi elektroda. Malam ini ia kubuka di halaman kosong paling belakang. Kutulis dengan pensil, pelan-pelan, seperti orang yang sedang menyusun strategi perang:
Target: Rp3.000.000 Waktu: 30 hari Punya: Rp0 Utang: Rp2.500.000 (Wahyu + Yoga) Gaji pertama: Rp3.500.000 (nanti, kalau lulus, kalau jadi yang terbaik)
Angka-angka itu menatapku balik. Dingin dan jujur. Tidak ada jalan pintas di sana. Tidak ada keajaiban. Hanya aku, tiga puluh hari, dan tangan yang harus bekerja lebih keras dari biasanya.
"Tiga puluh hari," gumamku. "Bisa."
Aku tidak tahu apakah aku meyakinkan diriku sendiri atau berbohong pada diriku sendiri. Mungkin keduanya. Anak pertama memang ahli dalam keduanya β meyakinkan dan berbohong pada diri sendiri, demi membuat orang lain tenang.
Pagi harinya aku turun ke kantin dengan mata yang masih berat. Wahyu sudah duduk di meja biasa kami, mengaduk tehnya dengan sendok sampai berbunyi. Yoga datang menyusul sambil membawa tiga bungkus nasi uduk.
"Kamu kenapa?" tanya Wahyu langsung. "Mukamu kayak habis digilas gerinda."
Aku menatap mereka berdua β dua orang yang dua bulan lalu tidak kukenal, yang kini meminjamiku dua setengah juta tanpa surat, tanpa bunga, tanpa tenggat. Dua orang yang memanggilku saudara di bawah bintang-bintang.
Lalu aku bercerita. Semua. Telepon Ibu. Anak Bude yang sakit. Tenggat satu bulan. Tiga juta.
Wahyu berhenti mengaduk tehnya. Yoga berhenti mengunyah. Hening beberapa detik β hening yang hanya bisa dibuat oleh kabar yang terlalu berat untuk sarapan.
"Terus rencanamu apa?" tanya Yoga akhirnya.
"Aku belum tahu," kataku jujur. "Tapi aku harus dapat tiga juta dalam sebulan. Tanpa menambah utang."
"Gas!" kata Wahyu tiba-tiba sambil menggebrak meja. Tehnya tumpah sedikit. "Kita bertiga. Las panggilan. Akhir pekan kita terima orderan las keliling β pagar, kanopi, teralis. Aku kenal banyak orang di kampung sebelah. Pasti ada yang butuh."
"Dan aku bisa minta ke Bapak," Yoga menambahkan. "Proyek Bapak selalu butuh tukang las lepas buat kerjaan-kerjaan kecil. Gajinya harian. Lumayan."
Aku menatap mereka. Dadaku sesak β bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang hangat naik dari perut ke tenggorokan.
"Tidak," kataku.
"Apa maksudmu tidak?" Wahyu mengerutkan dahi.
"Aku tidak mau menambah utang budi," kataku pelan. "Kalian sudah meminjamiku dua setengah juta. Itu sudah lebih dari cukup. Ini urusanku. Urusan keluargaku."
"Bagasβ" Yoga mulai bicara, tapi aku mengangkat tangan.
"Dengar. Aku menghargai kalian. Sungguh. Tapi kalau aku terus bergantung pada kalian, kapan aku belajar berdiri? Gelang itu warisan keluargaku. Yang menggadai Ibuku. Yang harus menebus ya aku. Bukan kita bertiga."
Wahyu menatapku lama. Lalu ia menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kamu keras kepala seperti Bapakku," katanya. "Bapakku juga begitu. Waktu bengkelnya hampir bangkrut, dia tidak mau pinjam ke siapa-siapa. Katanya: malu itu boleh, tapi jangan sampai malu membuatmu berhenti bergerak."
"Terus Bapakmu bagaimana?" tanya Yoga.
"Dia kerja tiga kali lipat. Tidur empat jam sehari. Setahun kemudian bengkelnya lunas utang." Wahyu menatapku. "Kamu mau jadi seperti Bapakku?"
"Aku mau jadi seperti diriku sendiri," kataku. "Yang tidak menambah beban orang lain."
Hari itu juga, setelah kelas selesai, aku memberanikan diri mengetuk pintu ruang Pak Bambang.
Ruangan itu kecil dan penuh asap rokok β Pak Bambang merokok seperti cerobong, meski setiap hari ia memarahi kami soal keselamatan kerja. Ia menatapku dari balik meja yang penuh gambar teknik.
"Ada apa, Bagas? Biasanya kamu tidak ke sini kecuali disuruh."
Aku menarik napas. "Pak, saya mau bertanya. Apakah... apakah ada kerjaan las tambahan? Di luar jam program. Yang dibayar."
Pak Bambang meletakkan rokoknya. Ia menatapku lama β tatapan yang sama seperti saat ia memeriksa hasil las kami, mencari retakan yang tidak terlihat.
"Kamu butuh uang," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Saya mengangguk. Lalu saya bercerita β singkat saja, tanpa drama. Tentang gelang nenek. Tentang tenggat satu bulan. Tentang tiga juta.
Pak Bambang diam. Ia mengambil rokoknya lagi, mengisap dalam-dalam, mengembuskan asap ke langit-langit.
"Dengar, Bagas," katanya akhirnya. "Aku tidak bisa meminjamkanmu uang. Bukan karena aku tidak mau. Tapi karena uang pinjaman tidak pernah menyelesaikan masalah orang sepertimu. Orang sepertimu hanya bisa diselamatkan oleh tangannya sendiri."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap lapangan tempat bilik-bilik las berderet.
"Tapi aku bisa memberimu sesuatu yang lebih berharga dari uang." Ia berbalik. "Akses. Setiap malam setelah jam program selesai, bilik nomor tujuh boleh kamu pakai sampai jam sepuluh. Listrik, elektroda, mesin β pakai. Gratis. Asal kamu yang bertanggung jawab kalau ada yang rusak."
Aku hampir tidak percaya. "Pakβ"
"Belum selesai." Ia mengangkat jari. "Tetangga kakakku butuh pagar besi untuk rumahnya. Panjang dua belas meter. Desain sederhana. Dia mau bayar satu juta dua ratus kalau selesai dalam dua minggu. Aku sudah bilang ke dia: ada anak didikku yang bisa. Anak yang hasil lasnya paling rapi di angkatan ini."
Satu juta dua ratus. Dalam dua minggu. Tanganku mulai berkeringat.
"Tapi ingat," kata Pak Bambang, suaranya berubah serius. "Evaluasi bulan kedua tinggal sepuluh hari. Kalau nilaumu turun karena kamu kelelahan kerja malam, aku tarik kembali aksesmu. Paham? Tanganmu itu untuk masa depanmu dulu, baru untuk masalahmu."
"Paham, Pak," kataku. "Terima kasih, Pak. Sungguhβ"
"Jangan berterima kasih dulu." Ia sudah duduk kembali, mengambil gambar teknik. "Berterima kasihlah setelah pagar itu berdiri dan gelang nenekmu kembali. Sekarang keluar. Kamu bau keringat."
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah yang ringan β untuk pertama kalinya sejak telepon Ibu tadi malam.
Malam itu ritual tangga asrama tetap berjalan. Kami duduk bertiga dengan satu bungkus kacang rebus. Aku bercerita tentang tawaran Pak Bambang. Wahyu bersiul panjang.
"Satu koma dua dalam dua minggu," katanya. "Ditambah kerjaan-kerjaan kecil lain... bisa kekejar, Gas. Bisa."
"Tapi kamu harus jaga badan," kata Yoga. "Jangan sampai evaluasi anjlok. Pak Bambang tidak main-main soal itu."
"Aku tahu," kataku, mengupas kacang. "Aku akan atur. Pagi sampai sore fokus program. Malam kerja pagar. Tidur... ya dikurangi sedikit."
"Jangan dikurangi banyak-banyak," kata Wahyu. "Nanti kamu las pagar miring, yang ada malah disuruh bongkar."
Kami tertawa. Tawa yang malam ini terasa berbeda β bukan tawa orang-orang yang bermimpi tentang masa depan yang jauh, tapi tawa orang-orang yang sedang memanggul masa kini bersama-sama.
Sebelum tidur, aku menelepon Ibu.
"Bu, Bagas sudah punya rencana," kataku. "Pak Bambang kasih kerjaan tambahan. Satu juta dua ratus dalam dua minggu. Sisanya Bagas cari lagi. Satu bulan cukup, Bu. Percaya sama Bagas."
Di seberang, Ibu diam sebentar. Lalu kudengar ia menarik napas β napas lega yang ditahan-tahan.
"Nak..." suaranya bergetar. "Ibu tidak tahu harus bilang apa. Ibu yang menggadai, kamu yang menebus. Seharusnya tidak begini."
"Bu," kataku, menatap jam di pergelanganku dalam gelap. "Ibu menggadai gelang supaya Bagas bisa ikut program. Uang gadai itu yang membayar jalanku ke sini. Sekarang jalanku yang harus membayar gelang itu kembali. Itu adil, Bu. Itu namanya pulang."
Ibu menangis pelan di seberang. Bukan tangis sedih. Tangis orang yang akhirnya bisa meletakkan beban β walau hanya sedikit β di pundak anaknya, dan menemukan bahwa pundak itu ternyata sudah cukup kuat.
"Jaga kesehatan, Nak," katanya. "Jangan sampai kamu sakit. Gelang bisa dicari lagi. Kamu tidak."
Setelah telepon ditutup, aku berbaring dalam gelap. Di kepalaku, tiga puluh hari terbentang seperti tiga puluh bilik las yang harus kulalui satu per satu.
Tiga puluh hari. Tiga juta. Nol rupiah di tangan.
Aku memejamkan mata. Di kegelapan itu, aku melihat gelang nenek β yang belum pernah kulihat β melingkar di pergelangan tangan Ibu, berkilau seperti api las yang stabil.
Ponselku bergetar. Nomor tak dikenal.
Aku mengangkatnya dengan jantung berdebar. "Halo?"
"Bagas? Ini Bude." Suara di seberang terdengar lelah dan bersalah. "Nak, Bude menelepon langsung karena Bude tidak sanggup menitip pesan lewat Ibumu lagi."
"Iya, Bude. Ada apa?"
"Bude mau jujur sama kamu." Ia menarik napas. "Sudah ada yang menawar gelang itu, Nak. Juragan emas di kota. Dia menawar empat setengah juta. Lebih besar dari uang gadai Ibumu."
Darahku berhenti mengalir.
"Dia bilang... dia bisa ambil kapan saja. Bude menahannya, Nak. Bude bilang tunggu sebulan. Tapi..." suaranya pecah, "tapi anak Bude butuh operasi, Nak. Biayanya besar. Bude tidak tahu sampai kapan bisa menahan."
Aku menggenggam ponsel erat-erat sampai buku-buku jariku memutih.
"Bude," kataku, suaraku bergetar tapi jelas. "Tolong tahan satu bulan. Bagas janji β dalam satu bulan, gelang itu Bagas tebus. Tiga juta. Tunai."
Hening panjang di seberang.
"Satu bulan, Nak," kata Bude akhirnya, pelan. "Bude pegang janjimu. Tapi kalau lewat dari itu... maafkan Bude."
Sambungan terputus.
Aku duduk di tepi ranjang dalam gelap. Di pergelanganku, jam Bapak berdetak β tik, tik, tik.
Tiga puluh hari. Bukan lagi sekadar hitungan di buku catatan. Sekarang ia punya suara: suara Bude yang menahan tangis, suara seorang ibu yang harus memilih antara warisan kakaknya dan nyawa anaknya sendiri.
Dan aku β aku harus memastikan beliau tidak perlu memilih.