Jawaban untuk Hari Sabtu
Pundak Pertama β’ 1,318 kata
Nadia masih menunggu di ujung telepon, dan saya tahu diam yang terlalu lama bisa terdengar seperti ragu. Padahal saya tidak ragu. Saya hanya sedang menghitung dengan cepat di kepala saya: ongkos bus pulang-pergi, pekerjaan yang harus diatur, dan janji yang baru saja saya buat untuk adik saya. Semuanya berkumpul di satu hari yang sama, dan saya tidak mau menjawab "iya" dengan mulut sementara kepala saya belum selesai berhitung.
"Mas datang," kata saya akhirnya, pelan tapi jelas. "Sabtu itu Mas datang ke Cirebon. Kita hadapi evaluasi itu bertiga, seperti maunya Ayah."
Nadia mengembuskan napas, dan saya bisa mendengar lega di dalam napas itu. "Terima kasih, Mas. Ayah pasti senang dengarnya. Nanti aku sampaikan malam ini juga, biar beliau tidur tenang."
Setelah telepon ditutup, saya tidak langsung tidur. Saya membuka buku catatan cokelat itu lagi dan menuliskan satu baris baru di bawah tanda tanya yang tadi saya buat: "Sabtu: datang ke Cirebon. Evaluasi Ayah Nadia. Diputuskan bertiga." Tanda tanya itu saya coret, saya ganti dengan satu kata: datang. Rasanya seperti menutup satu pintu keraguan dan membuka pintu lain yang isinya masih belum saya ketahui seluruhnya, tapi setidaknya saya sudah melangkah masuk.
Pagi harinya, saya menelepon Ibu, seperti yang sudah saya janjikan pada Nadia dan pada diri sendiri. Ibu menjawab dengan suara yang terdengar sedang sibuk di dapur, tapi ia langsung berhenti ketika mendengar nada suara saya yang lebih teratur dari biasanya.
"Bu, aku sudah bicara dengan adik semalam," kata saya. "Aku ceritakan detailnya, ya, supaya Ibu tidak menebak-nebak lagi."
Saya menceritakan semuanya dengan runtut: selisih kos saya bantu selama tiga bulan, uang pangkal tahap pertama saya bantu tutup, tahap kedua adik yang tanggung sendiri sesuai jadwal kampus. Saya juga menceritakan janji adik saya, bahwa dalam tiga bulan itu ia akan mencari jalan supaya bulan keempat ia sudah bisa berdiri sendiri. Saya tidak melebih-lebihkan dan tidak mengecilkan. Saya hanya menyampaikan apa yang sudah disepakati dua orang dewasa di telepon semalam.
Ibu diam sejenak setelah saya selesai. Saya mendengar suara air mendidih di latar, lalu suara Ibu yang terdengar lebih ringan, seperti orang yang baru meletakkan beban yang selama ini ia pikul sendirian.
"Syukurlah, Nak," katanya. "Ibu lega. Bukan karena uangnya, tapi karena kamu dan adikmu sudah bicara langsung. Ibu selama ini takut kalian berdua saling menjaga dengan cara diam, sampai akhirnya malah saling jauh. Sekarang Ibu bisa tidur tenang."
"Terima kasih, Bu," kata saya. "Tapi ada satu hal lagi yang harus Ibu tahu. Aku sudah janji sama Nadia, hari Sabtu aku ke Cirebon. Ayahnya evaluasi, dokternya mau kami bertiga yang memutuskan rencana latihan berikutnya. Jadi Sabtu itu aku tidak di rumah."
Ibu tertawa kecil. "Pergilah, Nak. Ayah mertuamu itu juga orang tuamu sekarang. Ibu di sini baik-baik saja. Kamu jangan membagi dirimu sampai habis, tapi kalau untuk hal seperti itu, Ibu justru senang kamu pergi."
Kalimat itu menenangkan saya dengan cara yang tidak saya duga. Saya selama ini khawatir bahwa setiap kali saya pergi ke Cirebon, Ibu akan merasa dinomorduakan. Ternyata Ibu justru melihatnya sebaliknya: menantu yang memperhatikan ayah mertuanya adalah sesuatu yang patut disyukuri, bukan dikhawatirkan. Saya menutup telepon dengan dada yang lebih lapang, lalu saya duduk sebentar di tepi kasur, membiarkan perasaan lega itu tinggal sejenak sebelum saya beranjak ke urusan berikutnya.
Di saat seperti itulah saya menyadari betapa berlapisnya hidup saya sekarang. Dulu, ketika saya masih sendiri, satu masalah datang, saya selesaikan, lalu selesai. Sekarang masalah datang berlapis: adik saya di satu sisi, ayah mertua saya di sisi lain, pekerjaan di tengah, dan rumah tangga saya sendiri yang harus tetap berdiri di antara semuanya. Orang menyebutnya sandwich generation, dan sebutan itu terdengar berat, tapi yang saya rasakan sehari-hari bukan beban yang menindih, melainkan tarikan dari banyak arah yang masing-masing terasa penting. Kuncinya ternyata bukan menyelesaikan semuanya sekaligus, melainkan memastikan tidak ada satu pun yang saya abaikan diam-diam. Mengabari Ibu, menjawab Nadia, mengatur jadwal kerja β semuanya adalah cara saya memastikan tidak ada yang merasa dilupakan, termasuk diri saya sendiri.
Urusan berikutnya adalah pekerjaan. Saya tidak bisa begitu saja pergi hari Sabtu tanpa mengatur siapa yang memegang pekerjaan saya. Saya menulis pesan kepada rekan kerja saya, menjelaskan bahwa Sabtu itu saya harus ke Cirebon untuk urusan keluarga, dan bertanya apakah ia bersedia bertukar jadwal untuk satu hari itu. Saya menulis pesan itu dengan hati-hati, tidak memelas dan tidak memerintah, hanya menjelaskan apa adanya. Saya juga menyiapkan catatan singkat tentang pekerjaan yang sedang berjalan, supaya siapa pun yang menggantikan saya tidak perlu menebak-nebak.
Sambil menunggu balasan, saya menghitung ongkos perjalanan. Bus pulang-pergi, ditambah makan di jalan, ditambah sedikit cadangan kalau-kalau ada keperluan mendadak di Cirebon. Angka itu saya tulis di buku catatan, di bawah angka bantuan untuk adik saya, supaya saya melihat gambaran yang utuh: bulan ini kami membantu dua arah, ke keluarga saya dan ke keluarga Nadia, dan keduanya harus muat dalam satu perhitungan yang sama. Saya menggarisbawahi satu kalimat yang sudah saya tulis sejak awal: jangan sampai kami yang roboh. Kalimat itu bukan alasan untuk tidak membantu, melainkan pengingat bahwa bantuan yang baik adalah bantuan yang bisa diulang bulan depan tanpa membuat kami jatuh.
Siang harinya, rekan kerja saya membalas. Ia bersedia bertukar jadwal, dengan satu syarat yang wajar: saya menggantikan jadwalnya minggu depannya, di hari yang nanti kami sepakati bersama. Saya langsung menyetujuinya. Pertukaran seperti itu terasa adil, tidak ada yang merasa dikorbankan, dan saya bersyukur karena di tempat kerja saya masih ada ruang untuk saling menolong dengan cara seperti itu. Saya menuliskan kesepakatan itu di buku catatan juga, supaya tidak ada janji yang menguap hanya karena diucapkan lewat pesan singkat.
Sore harinya, saya menelepon Nadia lagi. Bukan untuk urusan besar, hanya untuk mengatur hal-hal kecil yang justru sering menjadi sumber salah paham: saya berangkat Jumat malam atau Sabtu pagi, saya tiba di Cirebon jam berapa, apakah saya langsung ke rumah atau mampir dulu. Nadia bilang, berangkat Jumat malam lebih baik, supaya Sabtu pagi saya tidak terburu-buru dan bisa sarapan bersama ayahnya sebelum ke dokter. Saya setuju. Perjalanan malam memang melelahkan, tapi tiba dengan tenang lebih penting daripada tiba dengan cepat.
Malam itu saya menyiapkan tas dengan cara yang pelan, bukan terburu-buru. Kemeja yang kerahnya masih bagus, buku catatan cokelat, charger ponsel, dan sedikit uang tunai cadangan. Saya juga menyelipkan selembar kertas berisi angka-angka bantuan untuk adik saya, bukan untuk ditunjukkan kepada siapa pun, melainkan supaya kalau ada yang bertanya, saya menjawab dari catatan, bukan dari ingatan yang bisa berubah. Menyiapkan tas seperti itu membuat perjalanan besok terasa nyata, bukan sekadar rencana di atas kertas. Saya membayangkan rumah di Cirebon, suara langkah Pak Suryo yang sedang belajar berjalan lagi, dan Nadia yang sudah berminggu-minggu menjadi tangan siaga di samping ayahnya. Saya tidak pergi sebagai tamu. Saya pergi sebagai bagian dari keluarga itu, dan itu membuat keberangkatan ini terasa berbeda dari perjalanan-perjalanan saya sebelumnya.
"Kamu sudah bilang ke Ayah?" tanya saya.
"Sudah," jawab Nadia. "Ayah senang. Tapi Mas, ada satu hal lagi. Ayah bilang, sebelum evaluasi besok, beliau mau bicara berdua dulu dengan Mas. Katanya, ada yang mau beliau sampaikan, bukan di depan dokter, tapi sebelum dokter bicara."
Saya terdiam. Bicara berdua dengan Pak Suryo, sebelum evaluasi, tanpa Nadia di tengah-tengahnya. Saya belum tahu apa yang mau beliau sampaikan. Mungkin soal latihan, mungkin soal pindah bertahap, mungkin soal sesuatu yang selama ini beliau simpan sendiri. Yang saya tahu, permintaan seperti itu tidak datang dari orang yang sekadar ingin berbasa-basi.
"Baik," kata saya. "Mas dengarkan."
Setelah telepon ditutup, saya duduk lama di sudut kamar yang sudah saya rapikan untuk Nadia. Gelas kosong itu masih di sana, buku catatan cokelat itu masih terbuka. Besok malam saya akan berangkat ke Cirebon, dan Sabtu pagi, sebelum dokter membuka berkas evaluasi, ayah mertua saya mau bicara berdua dengan saya. Saya belum tahu sama sekali apa yang akan beliau katakan, dan justru karena itu, malam ini terasa lebih panjang dari biasanya.